Reuni angkatan 90, khusus, tidak boleh ada angkatan lainnya. Setelah sepuluh tahun berpisah dengan pakaian putih-abu.
Begitu meriah, hiasan, makanan, tidak ketinggalan dengan grup band yang sedang naik daun di datangkan sebagai hiburan.
Para pelayan berseragam yang cantik dan tampan, memanjakan pandangan mata.
Dari pagi, para tamu mulai berdatangan. Gelak canda mulai terdengar dari setiap kawasan.
Ajang pamer mulai merebak, pamer istri, pamer suami, pamer anak, pamer kekayaan dan pamer kekuasaan.
Mulai mencari bahan yang akan di buly, seperti dulu masa-masa putih-abu.
Yang masih jomblo, janda maupun duda. Yang miskin, dan yang sakit, mulai memisahkan diri.
Dennis Ketua OSIS dulu sewaktu masa sekolah, berjalan kesana-kemari, menyapa teman-teman dengan hangat. Bertukar kabar dan bertukar nomor ponsel.
Tiba-tiba musik terhenti, dari arah panggung muncul seorang perempuan cantik. Rambut panjang terurai, jaket hitam dipadu dengan celana hitam. Senyum merekah di bibir tipis merah jambu.
"Apa kabar kawan semua, baik tentunya, " suara lembut menyapa.
Warga reuni menjadi hening, berbisik, bertanya siapa gerangan yang berada di atas panggung.
Denis Ketua OSIS merasa terpanggil, dengan gagah ia maju dan naik ke atas panggung.
"Hai Ketua, bagaimana kabarmu? " Perempuan itu tersenyum menyambut sang Ketua.
"Siapa anda? reuni ini khusus untuk Angkatan 90, sepertinya anda tamu tidak diundang, " Denis balik bertanya dengan pandangan tetap ke wajah perempuan cantik itu.
"Saya, Lala Azka, penyandang dana tunggal di acara reuni ini, " Senyum tetap terukir semakin menawan.
"Lala Azka, penata rias dan fotografer handal yang memiliki banyak salon dan butik kelas atas? " Denis terkejut.
Warga reuni 90 menjadi riuh, banyak celotehan receh terdengar di seantero kawasan.
"Tidak."
"Tidak? "
"Tidak salah Ketua, saya Lala Azka, "
"Tapi bukan warga 90 ? " Denis masih menanyakan hal yang paling penting.
"Apa Ketua sudah memeriksa buku tamu? apa masih ada undangan yang belum hadir? " Lala Azka bertanya serius.
Denis menatap warga reuni yang saling bersitatap, melihat kanan dan kiri, siapa teman mereka dahulu yang belum hadir
Joe mengangkat tangannya.
"Azka Purnama, belum hadir ketua. "
Seketika warga reuni kembali bergumam.
"Oh, si anak hilang yang tak dianggap itu. "
"Wah si banci itu? "
"Aku tidak kenal, siapa ya? "
Banyak ungkapan tentang nama yang dikatakan oleh Joe, keberadaan Joe sendiri seperti tidak ada artinya.
"Azka Purnama, itu saya, " Senyum memukau menyilaukan.
Warga reuni mendadak geger, Denis seketika menyalami teman lama yang berubah menjadi kupu-kupu cantik.
"Wah, hebat Azka salut dengan keberhasilanmu, boleh nanti berbagi kisah perjalanan menuju sukses, biar kita semua bisa tercerahkan, "
Denis mengembangkan tangannya untuk memeluk teman lamanya itu, tetapi, terhenti.
"Tidak boleh Ketua, bukan muhrim. "
"Jangan kegatelan Ketua, turun, turun. "
Teriakan warga reuni perempuan yang merasa panas dingin.
Azka turun panggung, musik kembali bergemuruh semakin panas. Suasana reuni dibuat semakin bergejolak membara.
Banyak teman yang mendatangi Azka, sekedar menyapa dan bersalaman.
Hingga akhirnya Azka menjauh dari kerumunan, mengambil segelas sirup berwarna merah. Harusnya Wine atau apalah, tetapi karena acaranya juga membawa ana-anak, hingga minuman ditukar dengan sirup warna merah.
Azka mulai memandang ke sekeliling, mencari dan mencari.
Akhirnya, ia menemukan seseorang yang menatapnya di sudut seberang kawasan.
Azka melenggang penuh percaya diri, melewati banyak kawan yang mulai menjilat.
Menatap satu tujuan yang diam tak bergeming.
"Sendirian Mas? " Azka menyapa mengerling genit.
"I-iya," gagap yang ditegur dengan wajah memerah seperti udang rebus.
"Ha.. ha.. ha.., Joe, jangan tegang gitu, ini gue, Azka. "
"Lo, Azka apa Lala? "
"Terserah lo, mau Azka boleh, mau Lala boleh, mau panggil sayang juga boleh banget, " nyengir bagai kuda memamerkan gigi putih terawat rapi.
Joe bergidik, menatap takjub pada sahabat lama, yang berubah total, sejuta persen. Bahkan gigi yang dulu kuning, terletak maju mundur sekarang berubah begitu indah.
"Kelamaan lo, yuk cabut, " Azka berubah dengan suara basnya yang dikenal Joe.
Mereka berdua menjauh meninggalkan kawasan reuni, yang masih bergejolak penuh canda tawa tiada henti.
"Gue belum makan, sayang sekali tadi makanannya begitu menggiurkan, " Joe mengelus perutnya yang berdemo minta diisi.
"Ntar gue siapkan makanan spesial untuk lo, jauh lebih enak dari yang tadi, " Jawab Azka sambil terus mengendarai mobil mewahnya membelah ibu kota.
"Wajah lo berubah jadi cewek, apa yang di bawah juga berobah? "
" Ntar lo boleh periksa sendiri. "
" Anjrit, nih kita mau ke mana? "
"Ke hotel, kan lo mau periksa punya gue. "
"Ah nggak asik lo."
"Gue sengaja ngadain reuni untuk mencari lo Joe. "
"Untuk apa? "
"Mau ucapin terimakasih, dulu lo selalu kasih semangat ke gue. Lo juga tetap setia di samping gue, disaat yang lain menolak gue. "
"Ya, gue senang sekarang lo meroket bagai meteor garden, sedangkan gue tetap di bumi yang berlumpur. "
"Mau meroket bareng gue? "
"Caranya? "
"Menikahlah dengan gue, dampingi gue. "
"Uek, gue pengen muntah, main anggar dong. "
"Ha.. ha.. ha.. "
Azka tak henti tertawa melihat sahabatnya memerah bagai tomat busuk.
Sepuluh tahun, waktu yang cukup untuk memberikan bukti bahwa diri bukanlah sampah masyarakat.
Melalui acara Reuni, sekaligus menjemput sahabat lama yang memenuhi ruang tersendiri di relung hati. Seperti pepatah negeri tetangga, Menyelam Sambil Minum Fanta.
Tamat.