#Thriller
"LARA! " teriak seseorang yang membuatku seketika tersadar dari lamunanku. Aku menoleh sebentar, ternyata Madam Freya memanggilku dengan mata berapi-api siap memarahiku.
"Dasar! Anak tidak tahu diuntung, sudah kuberikan pekerjaan malah kabur, " katanya sambil menjambak rambutku yang tidak terikat.
Aku hanya diam menunduk saja tanpa perlawanan sedikit pun, terlalu takut untuk sekedar mendongak.
"Tuan James, sangat kecewa dengan pelayananmu kemarin, kau harus mengulangi lagi hingga dia puas. Kau dengar, Lara? " tanyanya dengan mata memicing.
Masih belum berani menatap Madam Freya, aku pun hanya mengangguk lemah saja. Malam itu memanglah salahku, seharusnya diriku bisa melayani Tuan James dengan baik karena itu memang tertulis dalam kertas perjanjian. Bahwasanya tubuhku sudah ku jual pada Tuan James dengan harga lima milliar, semua uang itu akan aku gunakan untuk membayar hutang ayahku pada Madam Freya.
"Ingat, Lara, bahwa kau harus membayar hutang-hutang ayahmu. Jadi, jangan mencoba kabur lagi. " Madam Freya pergi begitu saja setelah mengatakan itu. Ia bahkan tidak tahu jika seseorang sedang mengintainya dari balik pintu.
"Kau baik-baik saja, kan? Apa ada yang sakit? " tanyanya beruntun sembari mengangkat wajah sedihku.
Aku mengangguk pelan lalu tersenyum lembut. Dia adalah anak laki-laki Tuan James, namanya Aston. Pria itu membantuku kabur dari Tuan James saat hendak dikurung di kamarnya. Meski sudah ku tolak bantuannya, namun ia tetap memaksa untuk membawaku pergi dari tempat itu.
"Maaf, jika diriku membuatmu sulit, aku hanya tidak bisa melihat ... gadis muda sepertimu diperlukan seperti itu, " ungkapnya seraya memegang kedua telapak tanganku, terasa hangat.
"Tidak apa, ' kataku singkat.
" Kau ingin makan sesuatu? " tanya Aston.
"Tidak, " jawabku sambil tersenyum tipis.
Aston mengangguk mengerti, ia pun bangkit dan merogoh saku celananya, kemudian memberikan beberapa lembar uang padaku. Aku mengernyit bingung, apa dia menyuruhku untuk membelikannya sesuatu?
"Untukmu, Lara. " selepas mengatakan itu, Aston pergi begitu saja melompati jendela kamarku, ia tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Jadi, uang ini untukku? Aku masih belum mengerti, mengapa Aston baik kepadaku, padahal kami baru bertemu kemarin dan sangat mendadak sekali terlebih lagi aku adalah jalang dari ayahnya. Mencoba berpikir positif dengan kebaikan Aston, aku pun berniat membuat sebuah cemilan untuknya dengan adanya uang ini aku bisa pergi berbelanja bahan membuat kue.
Segera aku merapikan diri, memakai hoodie hitamku, lalu pergi keluar. Tidak ada tanda keberadaan Madam Freya di sana, aku merasa lega sekarang karena aku sangat takut jika harus berhadapan dengannya lagi.
Setelah keluar dari pemukiman rumah mewah milik Madam, aku bergegas ke pasar hanya berjalan kaki saja, kupikir akan sedikit menghemat biaya. Dalam perjalanan, aku bisa merasakan tatapan nakal dari beberapa sudut tempat. Tubuhku memang termasuk ideal dimata lelaki, namun aku tidak merasa jika itu adalah sebuah keberuntungan justru itu membuatku merasa tidak nyaman.
Seperti beberapa hari yang lalu, saat sedang mencabut rumput di halaman rumah Madam, aku di datangi sekelompok Ibu-ibu yang marah padaku. Katanya aku menggoda suami mereka dengan tubuhku, padahal aku sendiri kenal pun tidak hanya sekedar saling tegur sapa saja.
Aku hanya pasrah saja ketika mereka menghakimi diriku, Madam pun hanya menatap sinis saja tanpa berniat menolongku.
Kini setibanya di pasar, aku segera menuju penjual bahan-bahan kue, tiba-tiba saja seseorang menyenggol lengan kiriku dengan keras. Aku pun menoleh untuk melihat siapa pelakunya.
"Maaf, ada apa, ya? " tanyaku bingung.
"Tidak sengaja, " kata seorang perempuan muda berbaju seragam sekolah itu.
"Baiklah." Aku memilih mengabaikannya dan melanjutkan apa yang sedang kulakukan.
"Jalang! "
Aku menoleh lagi padanya, terlihat kali ini sorot matanya memancarkan amarah. Aku pun mendekati gadis itu sembari bertanya, "apa maksud dari ucapanmu, Nona? "
"Bukankah benar, jika kau itu, Jalang!? "
"Bukan, " cicitku sambil meremas jemariku.
"Mengaku saja, kau memang hina! " serunya seraya menunjuk ke arahku.
"Apa aku telah menyinggung dirimu, Nona? Jika benar, aku meminta maaf dari dalam lubuk hatiku, " balasku pada gadis itu. Aku lebih baik mengalah daripada urusan ini berlarut.
"Kau lihat laki-laki itu? " tunjuknya pada seorang lelaki muda yang kini sedang menatap cemas padaku. Setelah aku perhatikan, ternyata dia adalah Maxime, tetangga Madam Freya. Aku bahkan tidak pernah berbincang dengan laki-laki itu meski sebentar. Hanya saling menatap saja.
"Aku tidak mengenalnya sama sekali, Nona. " jawabku sambil tersenyum tipis.
"Sekali jalang, tetaplah jalang! "
Aku hanya menggeleng lemah menahan malu. Tiba-tiba seseorang merangkul tubuhku dari belakang, ternyata Aston menghampiriku.
"Nona, jangan menghina pacarku, dong! " sembur Aston marah.
"Kau pasti salah satu korbannya, kan? Lumayan juga, " balas Gadis itu.
"Korban apa? Umurmu masih belum cukup untuk berbicara seperti itu, dasar bocah! " seru Aston tak mau kalah.
Gadis itu berdecih lalu pergi begitu saja bersama teman-temannya.
Aku bernapas lega sekarang. Jika tidak ada Aston, mungkin aku tidak akan selamat dan juga pasti akan dipermalukan di tempat ini.
"Kau tak apa, kan? " tanya Aston khawatir.
Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum tulus. Untuk kedua kalinya, Pria ini menyelamatkan hidupku, aku benar-benar berhutang budi padanya.
"Terima kasih, " ucapku.
Aston hanya tersenyum lalu kami pun mengobrol ringan, aku juga tidak mengatakan jika sedang menyiapkan hadiah untuknya. Ku pikir ini adalah kejutan spesial.
Setelah beberapa jam kami berbincang, dia pun mengantarku pulang.
"Istirahatlah ... kau pasti sangat lelah hari ini, " katanya sambil mengusap ujung kepalaku lembut.
Aku merasa seperti dihargai olehnya, merasa bahwa aku disayangi. Pipiku terasa panas dan debaran jantungku tak beraturan, mungkinkah jika aku sudah jatuh cinta pada Aston? Bolehkah jika aku ingin memilikinya hanya untuk dirinya seorang?
"Aku pergi dulu, ya, sampai nanti. " Aston pergi dengan senyum sumringah seraya menatapku lembut, apakah dia juga merasakan hal yang sama sepertiku?
Mungkin saat ini aku seperti orang gila karena sedari tadi tersenyum terus sendirian. Madam Freya bahkan hampir memukul kepalaku saat tanpa sengaja aku tersenyum padanya, jelas dia tidak pernah menyukaiku sejak awal. Tapi, biarlah, aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang seperti itu.
"Dari mana kau dapatkan uang untuk membeli semua itu, Jalang kecil? " tiba-tiba rambut belakangku tertarik separuh tatkala Madam Freya menariknya.
"I—ini tabunganku, Madam," belaku sambil menahan tangan Madam Freya agar tidak terlalu keras menarik rambutku.
"Awas saja jika uangku berkurang selembar, takkan ku biarkan kau hidup tenang. " Ia pun melepaskan cengkraman tangannya dari rambutku lalu berdecih seraya membuang beberapa bahan kue milikku. Diriku menangis tanpa suara, memungut semua yang tersisa, kemudian melanjutkan kegiatan ku sambil menangis.
Begitu kejamnya Madam padaku, padahal aku sudah berbakti padanya, yang aku inginkan hanyalah hidup tenang tanpa bermusuhan dengan siapapun dalam dunia ini. Namun, mengapa dirinya selalu memperlakukan manusia seperti binatang.
Setelah puas menangis, Aku juga membawa kue buatanku yang juga sudah selesai di lantai teratas sendirian. Aku menatap sekilas kue buatanku tadi sore, entah bagaimana rasanya karena tercampur dengan air mataku yang cukup banyak.
Sebaiknya, ini biar ku makan sendiri saja, lain kali akan aku belikan di toko kue yang murah.
"Sedang apa kau malam-malam begini? "
Tersentak, aku pun berdiri dengan wajah menunduk kala Madam menatapku tajam.
"Apa kau menunggu seseorang, Lara? " tanyanya lagi sambil terus berjalan mendekat.
Aku menggeleng kuat, dengan mulut tertutup rapat.
"Sudah sepuluh tahun berlalu, tetapi aku masih belum bisa melupakan itu, Lara. Aku mencoba untuk menerima segala kenyataan, namun selalu gagal terus. Andai kau tak lupa ingatan, pasti sudah ku bunuh sedari kemarin, " racau Madam Freya yang kini sudah berdiri tepat di hadapanku.
Aku sudah terpojok di dinding dengan perasaan takut sekali. Sebab, jika Madam bergerak selangkah lagi, maka mungkin aku bisa terjun ke bawah.
"Apa yang Madam bicarakan? " aku bertanya penasaran dengan perkataannya tadi.
"Kau pembunuh Tunanganku, Lara, " katanya tersenyum sinis, "kau Psikopat ulung sejati," sambungnya.
Diriku masih terdiam mematung saat kata-kata itu menusuk tajam dalam hatiku. Bulir-bulir bening mengalir begitu derasnya.
"Aku ... tidak seperti itu, Madam," cicitku padanya.
"Tentu saja, karena kau amnesia. "
Aku menggeleng kuat merasa ia sudah keterlaluan menurutku seperti itu. Bahkan aku tidak tahu siapa tunangan Madam Freya, kupikir Madam adalah seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Namun, mengapa hanya sebatas tunangan saja?
"Jika memang benar seperti itu, aku yang tidak tahu apapun ini meminta ampunan padamu, Madam. " Aku ingin bersujud namun ia menahan tanganku dan menariknya cukup keras hingga terlempar ke sudut lain.
"Coba kau ingat sedikit saja saat kau merayu tunanganku kemudian membuatnya tergila-gila padamu, Lara. Itu sangat menjengkelkan, " katanya yang kini berjalan mendekatiku sambil membawa sebuah pisau lipat di tangan kirinya.
Tubuhku bergetar hebat, aku sangat ketakutan sekali.
"Pisau ini belum seberapa, dibandingkan pisau pemotong daging milikkmu itu. " Suara Madam Freya semakin mencekam.
"Ku mohon, Madam, ampuni aku, " pintaku sembari bersujud padanya.
"Dulu, apa kau mengampuni dia? Hah, kau sangat lucu, " ejeknya, "aku akan mencongkel mata birumu, untuk kujadikan campuran sup kepiting nanti. "
Aaaaaaaaa!
Aku berteriak sekeras mungkin saat pisau itu menancap sempurna pada betisku. Sakit, sakit sekali namun ku tahan.
"Ini belum seberapa dengan apa yang kau buat padanya, mungkin lebih keji dariku, " ucapnya mencabut kembali pisau itu dengan perlahan, darah segar mengalir begitu derasnya. Aku meringis sambil menutupi luka itu dengan tanganku.
"Hentikan! "
Aston, pria pujaan hatiku datang. Terima kasih, Tuhan.
"Kau gila! mengapa seperti ini, Freya!? " teriak Aston pada Madam Freya sambil berlari memelukku erat. Hatiku sedikit tenang kala pria itu memberiku jas kerjanya dan memakaikannya padaku.
"Kenapa kau membelanya? Dia gadis yang sudah mengahibisi Kakakmu, Aston! " teriak Madam Freya mengejutkanku, mataku terbelalak sepenuhnya ketika mendengar kata-kata itu.
"Apakah seperti itu?" tanyaku pada Aston yang kini sedang menunduk lesu kemudian mengangguk.
"Bisakah kau katakan dengan jelas, Aston? " tanyaku dengan suara tercekat.
"Kau yakin ingin mendengar semuanya? " tanya Aston ragu.
Aku mengangguk kuat, berharap segala kesalah-pahaman ini segera berakhir.
"Sepuluh tahun lalu, kau adalah seorang koki handal yang terkenal di kota ini. Kau juga wanita licik perebut nyawa yang tak bersalah. Kau wanita angkuh dan juga sombong, kau juga memiliki jiwa psikopat yang mengerikan, "
Aku terdiam sembari meremas dadaku yang begitu sesak.
"Jika kau tidak menyukai seseorang, kau akan mengincarnya lalu kau siksa tanpa ampun bahkan tanpa segan memasak dan memakan organ mereka tanpa rasa jijik. "
Perutku bergejolak seperti akan ada yang keluar menuju tenggorokanku. Tapi aku menahannya sekuat tenaga. Ku lirik Madam Freya terduduk lemas sambil menangis pilu.
"Kau masih ingin mendengar? " tanya Aston memastikan.
"Lanjutkan, " jawabku.
"Sudah puluhan nyawa melayang, polisi yang menangkapmu kau suap dengan milyaran dollar milikmu. Kau dijuluki Wanita Bahagia kala itu karena wajahmu selalu bahagia saat tertangkap oleh Polisi bahkan saat menghabisi korbanmu, kau tersenyum bahagia," ucap Aston seraya menghela napas, "lalu kau mengalami kecelakaan hebat saat setelah menghabisi Kakakku. "
Ya Tuhan ... mengapa begitu kelam masa laluku? Aku berharap tidak pernah dilahirkan di dunia ini. Aku menangis pilu merasakan sesak di dadaku. Aku kehabisan kata-kata, mengapa begitu keji masa laluku, bahkan aku tidak mengingat semua itu sekecil pun. Yang aku tahu hanyalah jika diriku ini seorang gadis miskin. Ayahku memiliki banyak hutang pada rentenir, ibuku meninggal tahun lalu karena kecelakaan. Hanya itu saja ingatan ku yang bisa ku ingat.
Madam Freya kembali mendekatiku namun Aston menahannya sekuat tenaga, "bodohnya, Astonlah yang membuatmu melupakan semua ingatan busukmu itu, " katanya dengan penuh amarah, "kau pantas mati, Lara! "
"Freya! Sudah hentikan, dia sudah menanggung segala penderitaannya dan kau terus menyiksanya. "
"Dia harus mati! "
"CUKUP! "
Teriakku menggebu-gebu, kini aku sudah berada di ujung tempat ku berdiri dan siap terjun bebas, "Ku pikir untuk apa aku hidup dalam kebencian, untuk apa aku hidup dalam ingatan palsu. Lebih baik aku pergi dari dunia ini."
"Tidaaaak! "
Teriakan Aston menemaniku dalam mata yang sebentar lagi tertutup untuk selamanya. Maafkan aku yang sudah tak manusiawi ini, aku pantas mati.
BRAAKKK!
TAMAT