Semilir angin kian lembap.
Lahirkan titik-titik gumpalan putih di ujung dedaunan.
Berbayang sejumput gumpalan napas dikala berhembus.
Dingin, namun tetap terasa hangat jika perlahan kau rapatkan tautan tanganmu di jemari kecilnya.
-----------------------------------------------------------------
Natal baru saja lewat beberapa hari yang lalu, begitu pula dengan tahun baru. Gumpalan putih salju masih setia turun mengguyur Kotamu, Seoul.
Kendati kedua tanganmu sudah terbalut sarung tangan rajut tebal, kau tetap memasukkannya ke dalam kantong mantel birumu. Tak lupa, sebuah topi kupluk berwarna senada dengan ornamen boneka salju menutupi rambut coklat keemasanmu. Penampilanmu semakin sempurna tatkala sebuah Syal berwarna putih melilit lehermu. Onyxmu tajam menatap ke depan. Kau nampak angkuh berjalan di atas trotoar.
Langkah kakimu terhenti di sebuah taman dengan hamparan rumput hijau, yang kini telah tertutupi salju sepenuhnya.
Kedua Onyxmu bergerak perlahan menelusuri seisi taman. Kau tengah sibuk mencari sesuatu ... lebih tepatnya seseorang.
Sudut-sudut bibirmu terangkat membentuk sebuah senyuman, kala pandanganmu menangkap sesosok gadis cantik yang sedang duduk membelakangimu, di salah satu sudut taman.
Kau langkahkan kakimu perlahan menghampirinya. Langkahmu mantap tanpa keraguan. Debaran jantungmu memacu semakin cepat, seiring langkahmu yang kian mendekat, hingga akhirnya kau berada tepat di belakang bangku taman, tempat dimana gadismu berada.
Kau cengkram lembut bahunya. Rambut coklat gadismu bergoyang, seiring kepalanya bergerak menoleh ke belakang. Manik hazelnya menatapmu lembut, mengebor onyxmu dalam-dalam hingga kau bisa merasakan lagi debaran jantungmu yang mulai menggila.
Kau langkahkan kakimu memutari bangku, sebelum akhirnya kau duduk di samping gadismu. Gadis yang sudah lima tahun menemanimu, gadis yang sudah lima tahun mencuri segalanya darimu, gadis yang telah mampu meredam segala pahit yang kau rasakan di hidupmu selama lima tahun ini, dan gadis yang .... ah, yang jelas dia adalah segalanya bagimu.
"Menunggu lama?" kau membuka suara duluan.
"Hm ...." ia mengangguk dengan memasang wajah imut.
Hei, usianya sudah 24 tahun! Masih pantaskah kau mengatakan, bahwa kekasihmu itu imut, Yeon Seok?
"Tidak apa-apa. Asalkan kau datang, menunggu selama apapun aku tidak masalah," gadismu itu memasang senyuman paling indah seperti biasanya.
Kau tersenyum tipis. Suaranya yang begitu lembut dan merdu terdengar jelas di telingamu. Menggelitik segenap relung hatimu.
"Mau jalan-jalan?" tanyamu sembari menggenggam erat tangan kirinya yang juga terbalut sarung tangan tebal.
Lihat! Kau membuatnya merona seketika.
Ahh! Inilah yang paling kau suka darinya. Meski kalian telah menghabiskan waktu bersama selama lima tahun, tetapi ia masih tetap saja merona jika kau melakukan hal-hal sederhana yang manis untuknya.
Ia menjawab tawaranmu dengan gelengan kepala, membuat alismu kontan terangkat tingi-tinggi.
"Aku ingin duduk di sini saja dengan Seok Oppa," perlahan kepalanya bersandar di bahu kananmu. Tangan kananmu yang semula erat menggenggam tangan kirinya sekarang terlepas, berganti dengan rangkulan hangat nan lembut yang kau berikan.
Tangan kirimu yang sedari tadi diam, perlahan diraih olehnya dan digenggam seerat mungkin.
"Oppa," panggilnya dengan nada yang sedikit manja.
"Hm ...,"
"Saljunya dingin," gumamnya.
Tentu saja dingin, kau bisa lihat gumpalan uap pada napasnya dan napasmu setiap kali berhembus.
"Lalu?" tanyamu.
"Bukan lalu, melainkan tapi," ia mengangkat kepalanya, menatapmu sembari mengerucutkan bibirnya.
Kau tidak memberikan reaksi. Kau menunggunya untuk melanjutkan kembali perkataan ambigu tadi.
"Tapi akan selalu hangat kalau ada Oppa di sampingku," ucapnya malu-malu. Ia kembali menidurkan kepalanya di bahu bidangmu, demi menyembunyikan wajahnya yang kini tengah merona akibat ulahnya sendiri.
Kau tak bisa menahan senyum lebarmu. "Tak biasanya kau jadi manja begini, Ae-ri," katamu sembari mengecup ringan helaian coklatnya.
"Aku ingin saja." Jawab gadismu.
Hening menyelimuti kalian sesaat, sebelum akhirnya Ae-ri, gadis tercintamu, membuka suaranya kembali. "Seok Oppa,"
"Ya,"
"Aku mencintaimu, sangat, sangat mencintaimu," ucapnya tiba-tiba. Nada suaranya tiba-tiba terdengar lirih di telingamu.
"Aku tahu,"" kau kembali membelai rambutnya.
"Oppa juga mencintaiku?" tanyanya dengan raut wajah penasaran. Kepalanya mendongak ke arahmu, menuntut jawaban.
"Tentu." Kau tersenyum. Seharusnya gadismu tidak perlu menanyakan hal yang sudah pasti seperti itu, bukan?
Suasana kembali hening. Hanya ada suara riang sekumpulan anak-anak yang tengah berlarian di sana.
Kepala gadismu sudah tak lagi bersandar di bahumu. Manik hazelnya kini sedang menatapmu sembari menutup mulutnya menggunakan satu tangan. Rupanya, ia sedang berusaha menahan tawa.
"Ada apa?" kau yang kebingungan segera bertanya.
"Kau lucu sekali, Oppa," jawabnya sembari terkekeh.
Kau memiringkan kepalamu sembari menatapnya. Perlahan, tangan gadismu terulur menyentuh topi yang sedari kau pakai.
"Baru kali ini aku melihatmu memakai ini," tangannya mengusap lembut topi tersebut.
"Ibu yang menyuruhku memakai itu." Nada kesal terdengar dari suaramu, membuat ia kembali tergelak.
"Akan aku buka, kalau kau tak–"
"Tidak, tidak perlu. Kau sangat tampan memakainya."
Sial! Kau merutuki semburat merah yang mulai menjalar di pipi tirusmu. Semburat merah itu bahkan semakin jelas terlihat ketika Ae-ri tiba-tiba mencium sekilas ujung bibirmu.
Setelah berhasil mencuri satu ciuman, ia bergegas berdiri dan berlari menjauhimu.
"Oppa! Ayo, kejar aku!" teriaknya.
Tersadar, kau pun ikut berdiri dan berlari mengejarnya.
-----------------------------------------------------------------
"Cukup, Ae-ri!" kau membungkuk dan meletakkan kedua tanganmu di lutut. Napasmu terengah-engah mengejar si gadis yang terkenal energik itu.
Bukannya berhenti, ia malah semakin menjauhkan diri darimu.
"Oppa payah," Ia berhenti jauh di depanmu sembari menjulurkan lidahnya, kemudian berlari lagi.
"Ck!" kau kembali mengejar gadismu, sampai akhirnya ia berhenti sekitar sepuluh meter di depanmu.
Tubuh mungilnya bersandar pada pagar pintu taman, tempat kau masuk tadi. Di belakangnya tepat jalan raya yang kini terlihat sedikit sepi. Hanya ada beberapa kendaraan saja yang lewat.
"Cukup, Ae-ri!" kau menatapnya tajam sambil terengah-engah, namun ia hanya terkekeh.
Tubuh mungilnya kini sudah tidak bersandar pada pagar tersebut. Kedua tangannya tersembunyi di belakang punggungnya. Senyum manis gadismu kembali merekah.
Sekali lagi, ia sangat terlihat imut di matamu.
Kau langkahkan kakimu hendak menghampirinya, tetapi ia dengan cepat menyuruhmu tetap di tempat. "Di sana saja Oppa,"
Kau mengernyitkan dahimu.
"Foto aku dengan ponselmu," ia memasang pose terbaiknya.
"Foto?" kau menatapnya seolah-olah ia baru berkata: 'aku ingin keliling dunia dengan jalan kaki!'
Bagaimana tidak? Gadis yang kau kenal tidak begitu menyukai berswafoto, kini memintamu memotret gambar dirinya. Ia bahkan langsung sudah bersiap dengan pose terbaiknya.
"Hm ...," kau mengangguk mantap dan langsung merogoh kantong mantelmu untuk mengambil sebuah ponsel, hadiah ulang tahun darinya.
Melihatmu sudah bersiap mengambil gambar, ia berkata, "Oppa, hitung dulu,"
"Oke," kau mulai menghitung dan ... sebuah gambar berhasil kau abadikan. Kau memang bukan seorang photographer, tetapi hasil jepretanmu lumayan bagus.
Tak cukup satu, kau juga mengabadikan beberapa potret dirinya yang lain, sampai ia sendiri lah yang menghentikan dirimu. "Cukup Oppa!" serunya bersemangat.
Kau hendak memasukan kembali ponselmu ke dalam mantel, sebelum ia melarangmu melakukannya.
"Belum videonya," ujar gadismu sembari berjalan mendekat.
Kau mengerutkan keningmu dalam-dalam. "Tumben," sahutmu. Ia hanya terkekeh.
Kau pun mulai mengarahkan ponselmu kembali untuk merekam dirinya. Bukannya melakukan sesuatu, ia malah hanya berdiam diri di sana sembari menatapmu dalam-dalam.
"Kenapa?" tanyamu kebingungan.
Ia berjalan mendekatimu. Tanganmu yang sedang memegang ponsel bergerak mundur, seiring langkahnya yang kian mendekat, dan ...
CUP!
Kau membelalakan matamu saat mendapati dirinya kembali mencium lembut bibirmu.
Butuh waktu sekian detik sampai akhirnya kau sadar, bahwa ia kini telah berjalan mundur. Entahlah, perasaanmu tiba-tiba mulai tak karuan, namun kau tetap berusaha fokus mengarahkan ponselmu kepadanya.
"Aku mencintai Oppa," ia tersenyum menghadap kamera ponsel. Jaraknya semakin jauh darimu.
"Sangat cinta," ujarnya masih tetap tersenyum. Kau menatapnya melalui layar ponsel, takut-takut gambar yang kau ambil tidak begitu bagus.
"Selamanya, aku mencintaimu, Yeon Seok!" pekik gadismu, bersamaan dengan suara dentuman benda keras.
Kau membelalakan matamu.
Kau melihatnya! Kau melihatnya melalui kamera ponselmu.
Sebuah Truk tiba-tiba oleng menabrak pagar taman dan juga gadismu tercinta. Kau melempar ponselmu dan berlari menghampirinya yang kini tergeletak bersimbah darah.
Hatimu mencelos mendapati gadismu tergeletak tanpa daya di hamparan salju yang kini telah berwarna merah.
Kau mengangkat dan meletakan kepalanya di pahamu. Tak peduli pada seberapa banyak darah yang kini telah membasahi pakaianmu.
Orang-orang yang tengah menikmati salju berbondong-bondong datang untuk memberikan bantuan. Beberapa di antara mereka juga sudah menelpon 119.
Onyxmu mengeluarkan cairan bening, yang bahkan gadismu sendiri belum pernah melihatnya.
Kau adalah laki-laki yang pantang menangis. Kau tidak akan pernah membiarkan orang lain melihat air matamu, sekalipun itu adalah gadismu tercinta. Namun kini, kau tak peduli jika orang-orang bahkan melihatmu meraung seperti orang kesetanan.
Dengan ringkih ia membelai pipimu, menghapus jejak-jejak air matamu di sana. Darahnya kini juga menghiasi pipi tirusmu.
Kau terperanjat ketika tiba-tiba napasnya berubah tersengal-sengal. "Tunggulah sebentar lagi, Ae-ri, kumohon!" pintamu.
"A–aku mencintaimu, O–oppa," dengan susah payah, ia kembali merapalkan kalimat yang paling kau sukai.
"Aku tahu, aku tahu! Aku juga mencintaimu. Jadi, kumohon bertahanlah!" katamu sembari menggenggam erat tangannya yang masih berada di pipimu.
Ia tersenyum bahagia. Kau dekatkan wajahmu pada wajahnya hingga hidung kalian bersentuhan.
Hening. Kau sama sekali tidak bersuara, kendati air matamu telah membasahi seluruh wajahnya.
Kau tatap lekat-lekat wajah cantiknya, lalu kau kecup ringan hidung mungilnya. Kau rapalkan kalimat-kalimat cinta agar ia tetap sudi bertahan di sisimu.
Gadismu tidak menjawab apapun. Hanya kedipan matanya saja yang ia tunjukan, sebagai respon darinya untukmu.
Helaan napasnya yang semakin berat dan terputus-putus terdengar jelas di telingamu, hingga perlahan-lahan suara itu tak lagi terdengar.
Kau menyadarinya! Kau menyadarinya, jika ia kini tak lagi bersamamu.
Kontan kau memeluknya seerat mungkin. Meneriaki namanya, bahkan menghardiknya karena telah tega meninggalkanmu sendirian.
Setengah jiwamu seolah ikut terlepas bersama dirinya.
-----------------------------------------------------------------
Tiga tahun kemudian.
Kau kembali ke tempat ini dengan sebuket bunga Anyelir di tanganmu. Kau letakan bunga tersebut tepat dimana jiwa gadismu dulu terlepas dari raganya.
Kau memutuskan menghilangkan rasa traumamu. Kau sadar, rasa cinta yang kau punya untuknya jauh lebih besar dari pada rasa kehilanganmu..
Kau berjanji tidak akan lari lagi. Kau berjanji tidak akan terpuruk lebih lama lagi.
Salju kembali turun. Kau mengangkat kepalamu guna menatap sekumpulan salju yang turun dari langit.
Wajah gadismu terukir di sana. Kontan, kau menyunggingkan sebuah senyuman.
"Aku mencintaimu, Ae-ri,"