Dimalam yang dingin, aku sedang duduk menunggu kedatangan kereta yang akan membawa teman masa kecilku pergi jauh.
Teman masa kecilku atau yang biasa ku panggil Vin, akan pergi jauh malam ini. Kini Vin sedang berdiri di depanku. Sosoknya terlihat kuat dari belakang, seolah kalau aku memukulnya, dia tidak akan merasa sakit, tapi tidak dengan tatapan matanya. Vin mengernyit, tatapan matanya seolah berkata dia tidak ingin menerima kenyataan ini.
Aku tahu, sulit baginya untuk menerima kenyataan ini. Karena semuanya bukanlah keinginannya sendiri, melainkan paksaan dari orang tuanya. Wajar saja jika dia ingin menolaknya.
Perasaannya saat ini pasti campur aduk antara marah dan sedih, tetapi dia tetap harus melakukan keinginan orang tuanya.
Karena itulah aku disini. Untuk mengantarmu melangkah maju. Ini lebih baik daripada kamu pergi sendirian. Bahkan orang tuamu yang memaksamu mengikuti keinginan mereka, tidak datang mengantarmu, melihat putra semata wayang mereka pergi.
Tanpa sadar aku sendiri ikut emosi. Bagaimanapun juga, sudah sewajarnya aku emosi. Membayangkannya sejak kecil hidup dengan penuh beban seperti ini.
Tuut! Tuut!
Suara kereta sudah terdengar dari kejauhan. Aku berdiri dan melangkah maju ke sebelah Vin. Ingin sekali rasanya kupeluk Vin, tapi tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya sejak tadi.
"Vin, maafkan aku karena selama ini tidak bisa menolongmu..."
Akhirnya aku mengatakan penyesalanku selama ini. Padahal sudah sejak kecil aku mengenalnya, tapi tiap kali dia kesulitan karena orang tuanya, aku tidak pernah membantu. Aku hanya melihat dari jauh, seolah tidak terjadi apa-apa seperti pengecut.
"Mau kau menolongku atau tidak itu bukan salahmu...semuanya memang terjadi seperti itu" ujar Vin, matanya menatap kosong ke depan, seolah dia sedang berusaha untuk tidak menghiraukanku.
Beberapa saat kemudian kereta pun tiba, para penumpang segera masuk ke dalam kereta.
"Sampai jumpa lagi, Lea"
Vin tersenyum lembut, sampai rasanya aku terharu melihat senyumannya yang lembut seperti itu. Berbeda sekali dengan tadi yang wajahnya terlihat murung. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya tersenyum seperti ini
"Sampai jumpa lagi, Vin"
Aku memberikan senyuman terlembut yang bisa kuberikan pada Vin. Entah kenapa aku merasa lega.
Vin pun masuk ke dalam kereta dan melambaikan tangannya dari jendela. Aku pun membalasnya dengan melambaikan tanganku juga.
"Sekali lagi sampai jumpa dan terimakasih, Lea" gumam Vin.