Pertemuan singkat kita dibatas senja, ketika cahaya matahari berada di satu garis cakrawala.
Saat pertemuan pertama kita, kamu terlihat sangat terkejut dengan kehadiranku. Tapi tak bisa kupungkiri jika aku juga terkejut. Sosok mu yang tiba-tiba muncul dalam jarak pandang ku, berdiri begitu dekat dihadapanku. Namun sedetik kemudian kamu kembali menghilang, aku seperti dihadapkan pada fatamorgana.
"Sepertinya mitos itu bukan lagi sekedar mitos .." Gumam ku sesaat setelah mata kita saling menatap, dalam waktu sesingkat itu.
Bulu mata yang lentik dengan bola mata berwarna hazel, sangat cantik. Ku pikir jika kamu bukan sebuah mitos, wajah rupawan mu akan menjadi sebuah kejahatan. Begitu tampan hingga membuatnya nyaris cantik.
Ku pikir sosok mu berbanding terbalik dengan namamu, Anubis.
...
Di desa ku ada sebuah mitos yang beredar turun temurun, sudah banyak yang mencoba membuktikannya namun tidak ada yang berhasil. Dan kini aku mendapatkan keberuntungan itu.
"Hermis kemari.." Panggil nenek.
"Dulu ada seorang Dewa yang melanggar peraturan, lalu di buang ke puncak gunung itu." Ucap nenek ku, ketika aku berusia 6 tahun. "Namanya Anubis, dia adalah dewa pelindung roh dan orang mati. Konon asal usul dia dibuang ke puncak gunung itu, karena dia membantu seorang roh perempuan melarikan diri dari alam bawah. Anubis seharusnya membawa para roh itu ke hadapan Dewa Osiris." Cerita nenek ku saat itu.
Dan aku bertemu dengan Anubis dalam jarak detik yang tipis, dipuncak gunung berkawah Izanagi.
Lalu kenapa aku bisa tau sosok yang bertemu denganku sore itu adalah Anubis? Nenek bilang Anubis adalah seorang pria dengan topeng serigala atau anjing, dan ditangan orang itu ada sebuah topeng serigala berwarna hitam.
"Aku harus mencobanya lagi besok.." Ucapku bertekad, aku benar-benar ingin memastikannya.
Wajah itu, meskipun tak berekspresi tapi aku melihat gurat sendu disana. Matanya pun seolah berkata, jika ia sangat kesepian.
...
'Aku bertemu dengan mu lagi..'
Senja kembali datang, Hermis kembali mendaki gunung menuju puncak berkawah Izanagi.
"Tunggu hingga cahaya matahari berada satu garis dicakrawala.." Gumam Hermis, seraya terus memandang langit menanti saat itu tiba.
'Sekarang..'
Sringgggg ...
Tepat, cahaya matahari membentuk garis horizontal. Dihadapannya kembali muncul sosok rupawan itu, Anubis si Dewa kematian.
"A..." Suara Hermis tercekat di tenggorokan, dihadapannya Anubis tersenyum lembut.
Rasa ini sangat familiar, sesuatu yang hangat merambat dalam hatinya. Hingga tak sadar air matanya tumpah ruah tak terbendung, kenapa rasanya sangat menyesakan.
"Hermis.." Ucap Anubis, dan kali ini ia melihatnya dengan jelas, binar sendu itu memang nyata.
"Aku telah lama menunggu mu.." Tutur Anubis, "Sekarang karena aku sudah melihatmu, maka semua sudah berakhir." Hermis kebingungan, apa maksud ucapan Dewa ini.
"Jika aku diberi kehidupan lagi, aku ingin menjadi manusia biasa dan bertemu dengan mu lagi. Jadi Hermis, hiduplah dengan baik lalu cari aku dikehidupan yang selanjutnya.." Ucap Anubis. Tangannya menjulur melewati garis dari sinar matahari, dan perlahan melebur menjadi serpihan yang diterbangkan angin.
"Sampai jumpa, Hermis.. Kekasihku.." Bisik Anubis, bibirnya tersenyum lembut dengan air mata yang menggenang disudut matanya.
Waktu beberapa detik telah habis, sinar matahari itu pun mulai membias dan lenyap. Bersamaan dengan lenyapnya Anubis menjadi serpihan yang berkilauan dilangit.
'Jadi dulu itu.. aku' Inner Hermis.
Anubis yang menolongnya meloloskan diri dan ber-reinkarnasi tanpa melakukan penimbangan dari Osiris, membuatnya dibuang dan berakhir lenyap.
Namun, Anubis tetap tersenyum diakhir hayatnya. Meski mengatakan selamat tinggal, ia tetap tersenyum.
..
End