Angin bertiup kencang dengan suara tangisan. Hari itu Terko pergi berjalan menyusuri jalan taman. Pada saat itu angin bertiup kencang dan sangat dingin.
"Dingin,"kata Terko.
Dari belakang terdengar suara tawa dan suara nyanyian. Tapi saat Terko menoleh ia tidak melihat apa-apa. "Apa perasaanku saja,"kata Terko yang sedang berjalan menuju cafe yang ada dipinggiran jalan dekat taman.
Sampai disana hati tenang, hangat menghampiri Terko. "Hai,Terko,"kata Tika dari belakang.
"Hai,Tik. Kenapa kamu bisa ada disini,"kata Terko dengan senyuman setelah menoleh kebelang.
"Ada tugas,"kata Tika.
"Tugas!,"kata Terko yang melihat mencari tempat untuk duduk.
"Sini saja Terko,"ajak Tika yang sudah duduk dikursi.
"Mengantar barang, didekat rumah kamu,"kata Tika.
"Rumah mana?,"kata Terko sambil melihat menu.
"Rumah kosong yang halamannya bersih. Disamping rumah kamu,"kata Tika.
"Rumah kosong! Kamu tidak salah mengantarkan," kata Terko.
"Iya,"ucap Tika sambil memanggil pelayan.
"Disitukan tidak ada penghuninya,"kata Terko.
"Makanya kamu keluar. Bodoh,"kata Tika.
"Serius!Aku tidak pernah melihat ada orang di rumah itu,"kata Terko.
"Jangan bercanda,"kata Tika.
"Siapa yang bercanda,"kata Tika yang tidak percaya.
"Tapi alamatnya. Emang disitu kok,"kata Tika lagi.
"Masak saya salah kirim,"ucap Tika kepada Terko yang masih memandangnya.
Sampai diujung pembicaraan. Dari belakang ada seorang pemuda yang berkata,"Ada penghuninya, kok rumah kosong itu. Hanya saja orangnya pemalu,"kata pemuda itu.
Tika dan Terko menoleh kearah suara tersebut. "Apa benar ada penghuninya?,"kata Terko.
"Ada. Hanya keluar saat malam saja. Itu aku dengar dari anak-anak yang pulang malam setelah kuliah,"kata pemuda.
"Apa aku yang tidak tau,"kata Terko.
"Terko, kamu jangan buat masalah lagi ya," kata Tika dengan tatapan tajam.
"Maaf...maaf,"kata Terko.
"Apa kamu tinggal disamping rumah kosong tersebut,"kata pemuda itu sambil melihat Terko.
"Iya. Saya tinggal disebelah rumah kosong tersebut,"kata Terko.
"Pantas... tidak tau,"kata pemuda.
"Apa maksud kamu,"kata Terko.
"Tidak ada,"kata pemuda itu sambil tersenyum meninggalkan keduanya.
Terko yang masih penasaran dengan ucapan pemuda tadi. Selalu berpikir dan merenungkan apa arti dari ucapan pemuda tadi sampa di rumah. Hingga akhirnya saat malam Terko melihat dari balik jendela kamar. Untuk melihat rumah kosong disamping rumahnya. Sampai di tengah malam, pandangannya tertuju pada satu jendela rumah kosong. Jendela di rumah kosong terbuka. Tapi saat Terko melihat menggunakan teropong ia tidak melihat apapun dan tidak ada seorang pun dibalik jendela yang terbuk tersebut. Hanya ada kegelapan tanpa ada cahaya.
Sampai menjelang pagi Terko tidak melihat siapa-siapa. Saat Terko lari pagi ia juga sempatkan menuju halaman rumah kosong tersebut dan melihat-lihat sekitarnya. Tapi yang ia lihat gelap tidak ada penghuninya. Sampai ia berkata,"Apa benar ada orangnya?."