Sekolah SMA dekat rumahku mengadakan perlombaan science. Di tempat tersebut terdapat banyak sekali penemuan yang sangat bagus. Aku hanya terdiam melihatnya. Aku melihat di dekat pohon tak jauh dari tempat perlombaan tersebut.
Dengan membawa penemuan yang aku buat, aku tak segan-segan melangkahkan kakiku di tempat tersebut. Aku mendekat ke panitia perlombaan yang berada tak jauh dari pohon tempatku melihat perlombaan science itu.
“Siapa namamu? Apakah kau ingin mendaftarkan hasil penemuan yang kamu buat?” panitia tersebut bertanya padaku
“Memang kenapa, Pak? Apakah aku salah?” aku menjawabnya dengan sangat penasaran.
“Kamu masih usia SD kan? Baru sekali ini anak SD ikut perlombaan science dari sekian kali perlombaan.”
Aku hanya mengangguk kepadanya.
“Ya. tapi baiklah… akan kutulis di kertas ini.”
“Namaku Gathot,” nada suaraku penuh percaya diri. Aku juga memompa semangat, pasti bisa mendapatkan sesuatu dari perlombaan science ini.
Saat aku merasa kehausan karena telah lama menunggu giliranku, aku meninggalkan penemuanku dekat panitia. Tak lama kemudian aku mengambil milikku tersebut dengan bangga, tetapi terkejut karena punyaku tersebut sedikit rusak.
“Siapa yang telah merusak penemuanku ini?” Aku bertanya kepada panitia, tetapi mereka juga tidak tahu siapa sebenarnya yang merusaknya. Aku merasa sangat marah dan kecewa.
“Gathot…!” panitia memangilku.
Sekarang giliranku untuk menjelaskan penemuan yang kubuat ini. Tetapi bagaimana membuktikannya karena sekarang temuan itu dirusak oleh seseorang. Bagaimana pun aku memutuskan untuk naik ke atas panggung dan berbicara di depan semua orang bahwa penemuanku telah rusak.
Lalu semua orang menyorakiku bahwa aku tidak bisa membuat penemuan baru. Aku berjalan perlahan turun panggung dengan perasaan yang campur aduk. Aku pulang dengan sangat sedih. Harapanku untuk mendapat pengakuan prestasi dalam perlombaan science tersebut, musnah.
Setelah aku merasa harapanku berakhir, tiba-tiba seorang teman memberitahuku akan adanya perlombaan science hanya selang beberapa hari dari perlombaan pertama. Aku memperbaiki temuanku tersebut, dan aku bersiap untuk menjadi pemenang perlombaan science.
Aku menjaga penemuanku yang susah payah aku buat.
Akhirnya tiba giliranku untuk memperkenaalkan penemuan baruku.
“Namaku Gathot. Aku membuat alat untuk memotong sayur tanpa khawatir tangan kita keiris. Alat ini mudah dibuat dan mudah pula menggunakannya. Tentu saja tetap harus menggunakan bahan kayu pilihan agar tidak ada resiko yang dapat berdampak buruk.”
Kini saatnya pengumuman pemenang perlombaan science.
“Pemenang perlombaan science tahun ini iyalah… Gathot”
Saat mendengarnya, aku sangat bahagia sekali. Kali ini impianku terwujud. Usahaku selama ini ada hasilnya. Melewati sekali perlombaan tersebut, berturut turut aku mencoba berbagai kerajinan kayu dan pisau untuk membuat berbagai alat keseharian yang memudahkan penggunanya.
Lama-lama namaku dikenal orang banyak dan mereka memesan alat-alat tersebut padaku. Kini aku seorang juragan alat rumah tangga.
Waktu berlalu begitu terburu. Kini aku memiliki satu orang anak dan ia kuberi nama Kaca. Ibu Kaca meninggal pada saat melahirkan Kaca. Kini aku dan anakku saja yang ada. Kaca selalu tampak aktif dan bakat yang ada padaku agaknya menular pada Kaca.
Ia suka sekali melakukan percobaan-percobaan terhadap pemikirannya.Terhadap beberapa idenya, ia berharap itu akan menjadi temuan besar yang berguna bagi banyak orang.
Pada suatu waktu, tepatnya saat siang hari ketika orang orang sedang tengah sibuk bekerja atau di sekolah, terdapat suara gemuruh di lautan. Aku masih tidak yakin apakah itu adalah suara air atau mesin diesel atau suara suatu mesin tertentu.
“Suara apakah itu? Seperti suara ….” Aku merasa heran dengan suara yang tak terbiasa tersebut. Aku menghampiri suara itu. Di saat aku melihat pandanganku kedepan, ternyata ada pesawat yang mengangkut galon air dan melayang ke udara menyiram sebagian kampung kami.
Pada saat itu anakku sedang tidak ada di rumah. Aku berharap itu adalah buah pikiran yang ia wujudkan; sebuah alat penyiram yang dapat mengambil air sungai dengan tenaga baterai. Apakah benar dia yang melakukanya?
“Apa itu siapa yang melakukan semua itu…?” teriak salah satu warga.
“Pak Gathot, apakah bapak yang melakukan semua ini?” salah satu warga bertanya ke padaku.
“Yang benar saja kamu, coba lihat betapa sibuknya aku belakangan ini, tidak lagi sempat berpikir menciptakan alat alat baru,” aku menjawab dengan yakin.
Sesudah kejadian itu Kaca lalu datang menghampiriku.“Ada apa Bapak?
Seluruh desa seperti kena hujan.“Kaukah yang melakukannya? Halah… tak usah mengelak, pasti kau yang melakukan semua ini. Saat kejadian itu kau tak ada. Dan saat kejadian ini selesai kau datang dan berpura pura bertanya tentang kejadian tadi,” aku mencoba mencari tahu dari roman mukanya.
Ia senyum-senyum menanggapi perkataanku.
“Ah, Le, sekarang aku tahu bahwa kau itu memang memiliki bakat besar dalam temuan temuan peralatan sepertiku. Syukurlah anakku bisa memberi manfaat untuk sesama.Awalnya aku sering sekali memarahimu karana kekhawatiran bapak akan keselamatanmu. Aku sendiri bahkan sering lupa bahwa aku juga dulu melakukan hal-hal itu tanpa mengindahkan keselamatan diri. Sekarang bapak tidak akan marah lagi.”
Kaca senyum senyum saja seperti kebiasaannya.
Pekan ini, dengan anakku, keinginanku untuk menemukan sebuah gagasan baru terbit lagi. Aku berfikir untuk membuat alarm jika ada orang yang membuang sampah di sungai kampung kami. Kami bekerja keras selama tiga bulan dan pada akhirnya, bersama Kaca, kami bawa penemuan ini ke hadapan Pak Kades. Sambutan beliau begitu menggembirakan. Bahkan untuk pengumuman tersebut, ada upacara khusus dengan mengundang tokoh-tokoh masyarakat desa.
Sebenarnya, Pak Kades mengusulkan untuk membawa temuan tersebut ke kecamatan, kemudian ke kabupaten, boleh jadi bupati kami memiliki perhatian khusus mengenai hal ini dan membawa kami pada sertifikat hak paten dan seterusnya.
Tapi kami bertahan untuk melihat manfaatnya terlebih dahulu di kampung kami sebelum kami membawanya lebih jauh ke lingkungan yang lebih luas.
Akhirnya bersama Pak Kades dan beberapa orang penting lainnya, kami menempatkan alarm itu di dekat sungai di mana sering sekali orang orang kampung membuang sampah dari tepian di situ. Pemasangan itu bahkan diawali dengan upacara disertai pemecahan kendi dengan dihiasi rangkaian bunga memanjang.
Aku demikian bangga bahwa anakku yang masih kecil itu memiliki ide ide yang cemerlang dan tak terlalu mahal untuk mewujudkannya dengan uang kami sendiri, sehingga alat itu pada akhirnya berguna bagi sesama. Semua orang mengucapkan selamat atas capaian Kaca mengenai alarm untuk membuat sungai lebih bersih.
Betapa pun, selalu saja ada orang iri terhadap capaian seseorang. Aku melihat anak Pak Kades sepertinya tidak merasa senang. Ia mulai memasang muka permusuhan.Aku curiga pada gerak-geriknya yang sinis padaku dan terutama pada Kaca. Ia bahkan dalam beberapa hari ini lewat depan rumah dengan sepeda motor yang knalpotnya demikian bising. Dua karyawanku mengumpat panjang tiap kali ia lewat dengan suara gaduh yang mengganggu.
“Wah, Pak Gathot, Dik Kaca, sungguh terima kasih. Agaknya berkat alarm itu, orang orang sudah enggan dengan sendirinya karena ternyata dalam seminggu ini, sampah plastik dan barang yang tak dapat diurai alam itu tak lagi berdatangan ke sungai tersebut.”
“Wah, ikut senang Pak Kades. Tapi itu ide Kaca, bukan ide saya. Saya malah nggak tahu bahwa sampah-sampah itu sering datang ke sana mengotori sungai. Kaca lah yang sering mengeluhkannya. Sampah-sampahnya ada berbagai macam plastik dan benda pecah belah. Kaca bilang, dia punya ibu guru yang selalu menasihatkan hal baik tentang menjaga lingkungan sehat dan bersih. Mungkin dari situ ide itu datang,” jelasku sembari pandanganku mengikuti Kaca sedang menjawab beberapa pertanyaan dari beberapa warga yang hadir.
Begitulah, hari itu seolah menjadi pengumuman adanya alarm mengenai larangan pembuangan sampah sembarangan. Beberapa orang sudah melapor bahwa dalam seminggu ini sungai bersih dari sampah. Agaknya, dengan upacara peresmian alarm tersebut saja sudah cukup menjelaskan bahwa pembuangan sampah di sungai itu perbuatan tidak sehat dan mengotori lingkungan secara langsung maupun tidak langsung.
Bahkan sekarang muncul adanya bank sampah, di mana sampah yang tidak dapat terurai dikumpulkan pada sebuah bak besar di balai pedukuhan untuk kemudian diserahkan pada pengepul yang dapat menyalurkannya ke perusahaan pengurai.
Aku tidak tahu yang sebenarnya, apakah kebersihan sungai yang sekarang ini sangat terjaga itu berkat kami atau tidak. Tetapi di dekat alarm tersebut ditulis dengan huruf besar “RINTISAN HIDUP SEHAT GATHOT KACA”.
Sekian minggu kemudian, di bak sampah besar balai dusun juga tertulis demikian. Padahal kami tidak pernah menuliskannya, atau bahkan meminta menuliskannya.