*Happy reading*
Lelaki perkasa itu mengusap pedangnya. Dua sisi mata pedang siap sedia menghunus musuh. Tujuannya hanya satu, membalas kematian ayah dan ibunya yang meninggal karena tajamnya pedang seperti yang ia pegang.
"Yuke..terimalah pedang ini. Pedang ini dititipkan oleh ayahmu sebelum menghembuskan nafas terakhir. Untuk engkau, samurai terakhir keturunan Yoko. Ayahmu memintamu membalas dendam keluarga. Dia berpesan sebelum para samurai datang ke rumah kalian."
"Mengapa aku Paman? Aku tidak bisa. Tidak!"
Yuke baru berusia tiga puluh tahun. Pamannya menganggap Yuke cukup dewasa untuk menerima warisan pedang dari ayahnya dan hanya Yuke satu-satunya keturunan Yoko yang hidup. Ayah, Ibu dan ketiga kakak kelakinya meninggal. Fitnah orang-orang jahat membuat mereka mati terhunus di ujung pedang samurai.
Yuke muda menyaksikan drama kematian keluarganya dari balik lubang dinding papan. Ia yang gemetar, keringat dingin , takut dan marah hanya mampu menyaksikan satu persatu anggota keluarganya berjatuhan bersimbah darah.
Sejak waktu itu, Yuke membenci apapun hal yang menyangkut hilangnya nyawa. Karena pedang ini ia kehilangan keluarganya. Tidak. Ia tak ingin membalaskan dendam ayahnya. Hati nuraninya menolak melakukan itu. Ia tidak mau. Ia memang keturunan samurai tapi ia tak ingin menjadi samurai.
"Yuke...buatlah ayahmu tenang. Penuhi keinginannya. Ayahmu tidak bersalah."
Ia keturunan terakhir Yoko, yang diajarkan ayahnya menjadi seorang samurai. Ksatria, pemberani, membela kebenaran. Akhir-akhir ini Yuke tidak berniat meneruskan warisan itu. Menjadi orang biasa saja dan hidup dengan pujaan hatinya, Nomi. Itu tujuan hidupnya.
Yuke mengenakan baju kebesaran. Demi ayah, demi keluarga, ia harus menuntaskan tugas yang dipikulkan di pundaknya.
"Nomi, setelah ini aku menjemputmu."
Lukisan di depannya tersenyum penuh pesona. Nomi, gadis impiannya. Ia telah menyusun langkah bila suatu saat bertemu Nomi. Gadis satu pendidikan dengannya di sekolah istimewa. Setelah ini Nomi menjadi target pencarian. Dia akan hidup bersama Nomi. Dia hanya manusia biasa dan ingin membangun sebuah keluarga kecil bahagia.
Sampai waktunya ia menendang pintu sebuah rumah besar. Dalam waktu singkat lima orang penjaga terhunus pedang Yuke dan bergelimpangan. Berhasil menembus orang-orang yang bertugas mengamankan rumah sekaligus kantor. Ia menyelinap masuk, mencari sasaran yang ia tuju.
"Kau! Siapa kau?!!" Teriak sebuah suara berbadan besar.
"Kau ingat lelaki tua yang kau bunuh malam itu di itara negri. Aku anaknya. Aku datang membalaskan dendam ayahku."
Hatinya benar-benar tidak setuju atas tindakannya. Ini bertentangan dengan nalurinya. Mengapa harus atas dasar dendam? Ayah, kau harus tidur dengan tenang. Sekali ini saja sesudah itu pedang miliknya akan menjadi hiasan sepanjang hidup. Nomi, tunggu aku. Kita akan hidup bahagia.
Ciiiiiaaaat!!!
Pergulatan terjadi. Saling menghindar dan saling menghunuskan pedang. Lalai menghindar nyawa taruhannya.
"Aaahhhhk!!! Lelaki itu, Yuke tahu telah membunuh ayahnya. Kini tergolek tak bernyawa.
"Aayaaahh!!!" Hiiiiiiikss!!"
Yuke membalikkan tubuh dengan pedang masih tergenggam di tangan. Seraut wajah cantik bercucuran air mata terduduk lemas di depan Yuke.
"Nomi...?? Nomi..!!!?"
Pedang Yuke jatuh di atas lantai. Melangkah gontai mendekati Nomi. Direngkuhnya gadis itu. Tangisnya pecah antara bahagia bertemu Nomi dan lara melihat gadisnya menangis. Ia membunuh ayah Nomi, gadis masa depannya.
"Maafkan aku Nomi. Aku tidak tahu dia ayahmu. Maafkan aku."
Nomi banjir air mata. Yuke terus mendekap Nomi. Memohon ampun menghabisi nyawa ayah Nomi, yang telah memfitnah ayah Yuke.
"Aku tidak tahu dia ayahmu Nomi. Dendam ini membuatmu luka. Aku tidak akan berbuat lagi. Aku bukan samurai lagi Nomi, demi kau. Nomi..Nomi maafkan aku."
Sejak saat itu baju kebesaran dan pedang Yuke tidak pernah terpakai lagi. Ia memenuhi janjinya pada Nomi.
~the end~