Aku menyukai tanaman dan hewan. Tapi sudah lama aku tidak melihat hewan dan tumbuhan, karena aku harus merawat ibuku yang sakit. Ibuku sakit kanker stadium 4, dia hanya bisa merawat dengan penuh kesabaran.
Karena aku sudah lama terpenjara dirumah, hatiku terus berkata untuk keluar dari rumah saat ibuku tertidur. Tapi aku juga setuju dengan hatiku dan mengendap keluar dan menuju sebuah taman yang elok.
Sedikit flashback, kenapa aku hanya mempunyai ibu yang sakit. Dulu saat aku berumur 6 tahun, ayahku pergi untuk pekerjaan keluar kota. Tapi suatu musibah menimpa ayahku, pesawatnya meledak dan hancur.
Ayahku meninggal, tapi sebelum aku mengetahui itu ayahku sudah dikuburkan. Ibuku syok mendengar itu dan menjadi lemas. Ibuku sudah tak ingin makan dan minum, aku pun tak tahu lagi harus bagaimana dengan itu.
Sudah satu tahun terlewat, ibuku hanya terbaring dikasur saja. Sampai 5 tahun terlewat, ibuku sudah sangat lemas di tempat tidur. Aku yang tidak tahu harus apa lagi pun mengantarnya ke dokter dan aku terkejut saat mendengar ibu sudah terkena kanker.
Kita sudahi flashback nya. Sesampainya di taman, aku melihat banyak kucing dan serangga lainnya, aku pun memberi makan dan mengusap kepala mereka. Tapi, ada satu kucing yang menyendiri, aku kesana dan mengelusnya.
Aku membawanya pulang, tapi hal tak terduga pun terjadi. Saat aku pulang, ibuku sudah meninggal.
"Bu" Kataku sambil mencari ibuku.
"........ " Suasana hening
"Bu" Teriakku sambil berlari menuju kamar ibu.
Masih tak ada jawaban.
Aku mengecek nadi ibuku, tapi tak lagi berdenyut. Aku mengecek bunyi jantungnya, tapi bunyi itu sudah tidak ada lagi. Aku panik, dan langsung memanggil ambulans.
Aku sudah tak peduli dengan kucingku, aku hanya peduli dengan keadaan ibuku. Tapi kekhawatiran itu bertambah karena ternyata ibuku sudah tidak ada juga didunia, menyusul ayah dialam sana.
Aku yang syok hanya duduk menangis di lantai rumah. Kucingku mendatangiku dan membelai tanganku. Aku yang masih menangis pun hanya mengelusnya dan berkata:"kenapa keluargaku meninggalkanku".
Seminggu telah berlalu, aku sudah bisa merelakan semua yang pergi. Meski aku masih sedih, aku tetap berjuang tersenyum karena masih ada kucingku. Kucingku terus menerus membelai tangan dan semua tubuhku.
Tapi ada sebuah rahasia tentang kucingku, dia siluman. Siluman yang selalu berubah saat malam tiba dan berubah menjadi kucing saat matahari telah naik.
Malam pun tiba, kucing itu pun berubah menjadi manusia. Saat dia menjadi manusia, dia pasti akan menghancurkan seisi rumah. Menjadikan rumahku hancur bak kapal pecah.
Saat jam 5,aku yang sudah terbiasa pun bangun.
"kok keras ya? " kataku sambil meraba raba.
Aku pun membuka mata dengan sempurna dan melihat seorang pria yang tidur dikasur ku. Melihat itu, aku langsung bersiap untuk melempar apa saja yang ada dikamar. Tapi sebelum benda itu terlempar lelaki itu bangun dari tidurnya.
"siapa kau?! " kataku setengah berteriak.
"meong" jawabnya sambil berposisi seperti kucing pada umumnya.
"kau....... " kataku ragu sambil mendekatinya. "kucingku" lanjut ku sambil memegang kuping kucingnya.
Kucing itu mulai menggeliat dan membuatku berhenti untuk memenangkan kupingnya. Aku teringat bahwa aku belum memberi nama kucingku. Aku pun membatin, "siaap ya nama yang harus ku berikan".
"karena kau kucingku, gimana kalau ku kasih nama kau Natha" kataku sambil duduk di kursi kamarku.
Kucingku menjawab dengan meong annya itu.
Ternyata sudah 30 menit aku berbicara dengannya. Aku pun melihat jam dindingku, waktu sudah menunjukkan 5:30 yang artinya aku harus bersiap siap ke sekolah dan harus menyiapkan bekalku sendiri.
"aku kesekolah ya, jaga dirimu baik baik" ucapku yang sudah memakai seragam itu. Dijawab dengan anggukan kucingku yang terduduk dilantai rumah. Aku berangkat kesekolah dengan senyuman yang manis.
Saat pulang sekolah, aku mencari kucingku dan menonton tv. Kucingku menjadi manja. Sehabis aku menonton tv, aku bermain sebentar dan belajar untuk materi sekolahku.
Suatu hari, aku dan kucingku berjalan-jalan di taman yang dulu aku mengambil Natha. Membuat kenanganku memutar dikepalaku, namun aku memutuskan tidak menangis lagi.
Aku berjalan menuju sebuah pohon dan duduk disana. Menikmati angin yang berhembus sepoi sepoi.
"Natha, tau gak kenapa aku memutuskan untuk mengadopsimu? " tanyaku sambil menutup mata menikmati angin.
".......... " dan tentu saja hanya keheningan melingkupi pohon itu, hanya angin yang lewat.
"karena aku mencintai hewan dan serangga, aku tak ingin mereka merasa kesepian" lanjutku hampir meneteskan air mata, entah karena apa. "apakah kau membenciku? " tanyaku lagi.
"......... " dan keheningan lagi.
"maaf aku mengambilmu, kalau kau mau benci bencilah aku" ucapku lagi, meski tidak ada yang merespon.
Karena aku banyak berbincang, aku mengantuk dan tertidur di sana. Tertidur pulas sekali, karena angin yang terlalu ganas. Aku terbangun pada waktu senja datang dan kaget. Buru buru pulang dan memasak makanan untukku dan kucingku.
Malam pun datang, aku yang sudah agak curiga dengan perubahan kucingku terbangun dan mengintip. Saat aku mengintip, aku melihat Natha lagi. Tapi saat ku lihat, dia mengacak acak rumahku.
Aku pun bertekat untuk mengajari Natha baca tulis. Besok malamnya, aku memanggil kucingku dan memulai pelajaran. Meski susah, tapi aku tak akan menyerah. Berhati hari pun aku mengajarinya.
Sebulan kemudian, dia sudah bisa membaca dan menulis. Aku mulai banyak mengobrol dan mulai mengetahui latar belakang Natha yang ternyata kucing broken.
Hariku dipenuhi dengan cahaya yang terang. Meskipun aku dulu sedih, tapi ini sudah tidak lagi. Aku bahagia hidup seperti ini. Meski hanya malam aku bisa mendapat respon, aku tidak terlalu memikirkannya.
Malam berganti pagi, pagi berganti malam. Aku akhirnya kepikiran gimana kalau aku buat ramuan yang akan membuat Natha menjadi manusia lagi dan tak akan pernah menjadi kucing.
Hari demi hari, akhirnya ramuan itu jadi. Dan aku mencobanya ke kucingku dan itu berhasil. Meski pun orang, tapi kuping dan ekornya masih ada, yang mana itu harus disembunyikan sebab takut kalau ada orang jahat yang menggeledahnya.
Sesudah itu, aku pergi lagi ke taman untuk sekedar bermain saja. Tentu saja kucingku ikut untuk belajar berjalan. Disana sehabiss main, aku duduk dibawah pohon, pohon yang paling ku favorit kan.
"gimana main ke tempat kau diadopsi? " tanyaku memulai pertanyaan.
"disini sangat damai, itulah kenapa dulu aku suka dibuang kesini" jawabnya dengan senyumam hangat.
Jawaban itu sangat membuatku terenyuh. Disana, kami berteduh sampai berjam jam, mulai dari obrolan, baring baring, dan menikmati angin yang selalu lewat dengan sopan.
Hingga waktu pulang pun tiba. Berkemas pulang dan menonton sebentar, mandi, dan memasak makan malam untuk kita berdua. Kebiasaan malamku adalah membaca buku sebelum tertidur.
Aku sudah memutuskan, ini adalah hidup yang sangat berarti dihidupku. Aku tak akan membiarkan seseorang meninggal dengan cara yang tragis. Aku sebisa mungkin membantu dunia ini.
Natha, kucing kecilku. Terima kasih telah berada di sisiku dan tidak meninggalkanku. Walau aku terkadang tidak menyenangkan, aku sangat menyayangimu.
Terima kasih telah belajar denganku. Maafkan aku yang selalu menjengkelkan untukmu. Terima kasih tidak mengkhianatiku. Terima kasih untuk semua yang kau beri.
Dan cerita ditutup dengan tirai tertutup, lampu yang mati dan suara dengkuran yang lembut. Dan tentu saja Natha yang tidur meringkuk disebelahku.