BRAK...
" Ohh maaf aku tidak sengaja. Apa kamu baik - baik saja? " Tanya seorang gadis yang tak sengaja menabrak seorang perempuan yang berjalan di sampingnya hingga tersungkur di atas lantai.
" I'm okay, tidak perlu khawatir... " Ucap perempuan tersebut yang mencoba bangkit untuk berdiri dengan bantuan gadis yang menabraknya tadi.
Kemudian perempuan tersebut pun menundukkan kepalanya dengan tangannya yang menepuk - nepuk roknya yang kotor.
" Sekali lagi maaf yah? Aku benar - benar tidak sengaja. Aku minta maaf tapi aku harus pergi dulu. Karena aku sedang terburu - buru, sekali lagi maaf yah... " Ucap gadis yang menabrak perempuan tersebut dengan raut wajah merasa bersalah pada perempuan tersebut.
Lalu perempuan tersebut pun mendongakkan kepalanya dan tersenyum manis dan menatap lembut pada gadis yang menabraknya tersebut.
" I'm okay, kamu bisa pergi jika sedang terburu - buru... " Ucap perempuan tersebut.
" Baiklah. Aku pergi dulu dan maaf sekali lagi atas kejadian tadi... " Ucap gadis tersebut dan langsung berlari meninggalkan perempuan tersebut yang masih menatap nya dengan senyum manis yang tak luntur di bibir cantiknya.
Kemudian perempuan tersebut pun pergi menuju ruangan seorang dokter yang selama beberapa tahun ini menemaninya berjuang di rumah sakit tersebut.
" Assalamualaikum... " Salam perempuan tersebut sambil memasuki ruangan yang bertulisan Dr. Sista di pintu ruangan.
" Wa'alaikumsalam... Nafisah. Ayo silahkan masuk... " Ucap seorang dokter cantik yang sedang duduk di kursi kerjanya sambil memegang beberapa dokumen di tangannya.
Lalu perempuan yang di panggil Nafisah tersebut pun langsung duduk di depan meja kerja dokter cantik tersebut.
" Apa kamu ingin mengambil jadwal chek up mu bulan ini? " Tanya dokter cantik yang bernama Sista tersebut.
" Benar, dok... " Ucap Nafisah.
" Baiklah saya ambil dulu yah... " Ucap Dokter Sista sambil berjalan ke arah lemari yang berisikan dokumen - dokumen penting miliknya.
" Ini jadwal chek up kamu untuk bulan ini... " Ucap Dokter Sista sambil memberikan dokumen tersebut pada Nafisah.
" Terimakasih dok... " Ucap Nafisah sambil mengambil dokumen tersebut dari tangan Dokter Sista.
" Jika ada keluhan langsung kabari saya saja yah? " Ucap Dokter Sista sambil tersenyum manis.
" Saya sudah terbiasa kok dok... " Ucap nya Nafisah sambil tersenyum manis.
" Saya tahu, tapi jangan di tahan oke? Kalau memang sangat sakit apa salahnya kasih tahu saya...? " Ucap Dokter Sista sambil menatap lembut pada Nafisah.
" Baik dok. Saya akan kasih tahu dokter kalau ada keluhan... " Ucap Nafisah.
" Baiklah, yang terpenting kamu selalu rutin mengkonsumsi obat dan juga tepat waktu saat chek up. Itu sudah cukup baik untuk mempercepat penyembuhan mu... " Ucap Dokter Sista.
" Saya mengerti dok. Kalau begitu saya permisi dulu. Sampai jumpa lagi dok... " Ucap Nafisah sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.
" Kamu perempuan kuat Nafisah... " Batin Dokter Sista yang menatap ke arah Nafisah yang keluar dari ruangannya.
Di tempat lain.
CKLEK...
Seorang gadis pun memasuki sebuah ruangan yang terdapat seorang wanita paruh baya yang terbaring lemah di brankar bersama dengan seorang pria paruh baya yang duduk di samping brankar dengan tangannya yang menggenggam tangan wanita paruh baya tersebut.
" Assalamualaikum... " Salam Gadis tersebut sambil menghampiri mereka.
" Wa'alaikumsalam, sayang duduk sini... " Ucap wanita paruh baya tersebut sambil menunjuk ke arah kursi di samping kiri pria paruh baya tersebut.
Kemudian gadis tersebut pun tersenyum dan mendudukan bokongnya di kursi tadi.
" Ma.. kenapa bisa kayak gini... " Ucap gadis tersebut sambil menatap sendu wanita paruh baya yang dia panggil Mama tersebut.
" Mungkin cuma kecapean dan banyak pikiran saja... " Ucap wanita paruh baya tersebut.
" Hufft... Tapi seharusnya Mama bisa menjaga diri Mama dengan baik... " Kata gadis tersebut setelah menghela nafas tadi.
" Maaf sayang. Kamu tidak perlu khawatir Kirani, Mama baik - baik saja... " Ucap wanita paruh baya tersebut.
" Sudahlah, lebik baik kamu kembali ke kantor dan belajar bersama kakak mu... " Ucap pria paruh baya yang menengahi pembicaraan istri dan anaknya.
Sebelum Kirani menjawab perkataan papanya, terdengar suara pintu terbuka.
CKLEK...
" Selamat siang Pak Edi dan Bu Rika... " Ucap seorang dokter perempuan yang memasuki ruangan tersebut.
" Saya akan mengecek keadaan Bu Rika Pak... " Ucap Dokter perempuan tersebut pada pria paruh baya yang di panggil Edi tadi.
" Silahkan... " Ucap papa Edi.
Kemudian dokter tersebut pun mengecek keadaan mama Rika dan menulisnya di buku catatan yang dia bawa.
" Keadaan Ibu mulai membaik, tapi alangkah baiknya Ibu jangan memikirkan hal yang berat - berat karena hal tersebut dapat memicu terjadinya serangan jantung mendadak... " Ucap Dokter perempuan tersebut.
" Baik terima kasih dok... " Ucap mama Rika.
Lalu dokter tersebut pun tersenyum dan pamit pergi ke ruangannya kembali.
" Ma... dengerkan apa kata dokter. Mama itu ngak boleh capek - capek... " Ucap Kirani pada Mamanya.
" Hmm... Udah - udah sekarang kamu pergi ke kantor. Tapi inget jangan kasih tahu Kakak kamu, oke? " Ucap mama Rika.
" Tapi kakak perlu tahu mama di rumah sakit... " Ucap Kinari tak setuju dengan ucapan mamanya.
" Ayolah Kinari, kasihan kakak kamu nanti kalau tahu mama di rumah sakit. Sudah cukup kakak kamu memikirkan tentang perubahan papa, jadi jangan menambah pikirannya kembali... " Ucap mama Rika.
" Hufftt, Baiklah... " Ucap Kinari setelah menghela nafas pasrah.
" Kirani pergi dulu... " Ucap Kirani sambil bangkit dari duduknya tersebut.
" Assalamualaikum... " Ucap Kinari sambil menyalami kedua tangan orang tuanya itu.
" Wa'alaikumsalam... " Sapa kedua orang tua Kirani.
Di sisi lain.
"Assalamualaikum... Ayah... Bunda... Nafisah pulang... " Salam Nafisah pada kedua orang tuanya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
" Anak bunda udah pulang rupanya... " Ucap Bunda Nafisah yang menoleh ke arah putrinya.
" Lho... Ayah ngak kerja? " Tanya Nafisah sambil menyalami tangan kanan kedua orang tuanya.
" Ngak sayang. Karena hari ini ayah lagi free, jadi ayah akan nemenin putri kesayangannya ayah ini... " Ucap ayah Nafisah yang mengelus kepala Nafisah yang sedang duduk di sampingnya.
Sedangkan Nafisah hanya tersenyum manis pada ayahnya yang selama ini telah menjadi super Hero serta perisainya dalam menghadapi segala masalah dalam hidupnya.
" Kok lama banget tadi pulangnya? " Tanya Bunda Nafisah.
" Iyah, Ayah sampai khawatir sama kamu... " Ucap Ayah Nafisah yang menyetujui ucapan istrinya.
" Bunda Retta dan ayah Fino, yang sangat Nafisah sayangi... " Ucap Nafisah sambil duduk di tengah - tengah Ayah dan bundanya serta memeluk mereka.
" Kalian ngak perlu khawatir, tadi Nafisah pergi ke rumah sakit buat ambil jadwal Nafisah pergi CUCI BAJU... " Ucap Nafisah yang menekan kata ' cuci baju ' tersebut.
Ke dua orang tua Nafisah yang mengerti arti kata ' cuci baju ' pun hanya bisa tersenyum kecil sambil menatap putri mereka dengan tatapan lembut.
" Putri ayah kuat, jangan menyerah yah? " Ucap ayah Nafisah yang di panggil ayah Fino oleh Nafisah tadi.
" Hehehe... Emang putri ayah kan kuat, jadi ayah dan bunda harus terus ada di samping Nafisah untuk terus temani Nafisah berjuang yah? " Ucap Nafisah yang tersenyum manis sambil memeluk kedua orang tuanya, entah ada apa di balik senyum manis Nafisah itu.
Kemudian keluarga kecil itu pun saling berpelukan bersama dan menyalurkan kekuatan untuk satu sama lainnya.
Di kantor.
Kirani sedang menatap komputer di depannya, namun berbeda dengan pikirannya yang entah sedang berkelana di mana.
CKLEK...
Kemudian pintu ruangan tersebut pun terbuka dan muncul lah seorang pemuda dengan pakaian formal yang melekat di tubuh tegap nya.
" Kinari... " Panggil pemuda pada Kinari.
Kinari yang melamun pun langsung tersadar karena panggilan dari pemuda tersebut.
" Ehh. Kak Brayan... " Ucap Kinari sambil menatap pemuda yang dia panggil Kakak itu.
" Kenapa malah ngelamun... ? " Tanya Kak Brayan.
" Ngak kok... " Elak Kinari pada Kakaknya.
Lantas Kak Brayan pun mendudukan bokongnya di kursi yang berada di depan meja kerjanya.
" Kalau kamu terpaksa belajar menjadi pembisnis. Lebih baik bilang ke papa, jangan di paksakan Kinara... " Ucap Kak Brayan.
" Kak. Kirani ngak terpaksa kok, Kirani cumak mau membahagiakan papa... " Ucap Kirani sambil mengusap lembut wajah nya yang letih.
" Hufftt... Terserah kamu ajah. Kakak cuma ngak mau kamu ngelakuin hal ini hanya karena terpaksa dek... " Ucap Kak Brayan setelah mengembuskan nafasnya kasar.
" Hmm. Aku mengerti kak... " Ucap Kirani sambil tersenyum kecil pada Kakak laki - lakinya itu.
" Ya sudah, Kirani mau pulang... " Ucap Kirani yang bangkit dari duduk nya sambil mengambil tas selempang nya.
" Bayy kak. Assalamualaikum " Pamit Kirani sambil berjalan keluar dari ruang kerja kakaknya.
Sedangkan Kak Brayan hanya bisa menghela nafas panjang sambil memijit kepalanya yang pening.
" Kakak harap kamu sadar Kirani... " Batin Kak Brayan.
Keesokan harinya, di SMA Kejora.
Di saat jam istirahat terdapat seorang siswi yang berjalan di koridor sambil melamun.
BRAK...
" Ehh. Maaf aku ngak sengaja... " Ucap Nafisah yang tak sengaja menabrak seorang perempuan yang memakai seragam sama dengannya.
" Ngak papa kok. Aku juga jalan nya sambil ngelamun, jadi nabrak kamu deh... " Ucap perempuan tersebut yang langsung mendongak ke arah gadis yang tak sengaja menabrak nya itu.
" LHO, KAMU!!! " Ucap mereka dengan serempak sambil memasang wajah terkejut.
" Kamu kan yang aku tabrak saat kita di rumah sakit? " Tanya perempuan yang di tabrak oleh Nafisah.
" Hehehe... Iyah, jadi kita sekarang impas dong. Kemarin kamu yang nabrak aku dan sekarang aku yang nabrak kamu... " Ucap Nafisah.
" Hehehe iyah. Maaf kemarin aku ngak sengaja... " Ucap Kirani yang di tabrak oleh Nafisah tadi.
" Santai ajah. Ohh yah, kenalin nama aku Nafisah Clariana Putri, panggil ajah Nafisah... " Ucap Nafisah yang memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan kanannya pada Kirani.
" Salam kenal, namaku Indira Myesha Kirania. Panggil ajah Kirani... " Ucap Kirani sambil menjabat tangan Nafisah.
" Aku panggil Rania ajah yah. Biar spesial... " Ucap Nafisah.
" Haha. Emang martabak spesial... " Canda Kirani sambil melepas jabat tangan mereka pada Nafisah.
" Senyaman kamu ajah manggil nama aku..." Ucap Kirani lagi.
" Hmm. Oke... " Ucap Nafisah sambil tersenyum manis.
" Kita sekarang teman? " Tanya Nafisah dengan ragu.
" Tentu. Kita teman... " Ucap Kirani sambil memperlihatkan jari kelingkingnya pada Nafisah.
Kemudian Nafisah pun menyatukan jari kelingking mereka.
" Teman... " Ucap Nafisah sambil tertawa kecil dengan jari kelingkingnya yang masih menyatu dengan jari kelingking milik Kirani.
Lalu mereka pun melepas satuan jari kelingking mereka.
" Yok ke kantin... " Ajak Kinari.
" Tentu... " Balas Nafisah.
Setelah itu, mereka pun saling bergandengan tangan dan berjalan menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang kosong.
Di kantin.
" Ohh Iyah. Kalo boleh tahu kamu ngapain di rumah sakit ? " Tanya Kirani pada Nafisah.
" Emm. A-aku la-lagi jenguk temen aku yang lagi sakit... " Ucap Nafisah dengan gugup itu.
" Ohh kirain apa... " Ucap Kirani sambil menganggukkan kepalanya mengerti.
" Emm. Kalau kamu ngapain di rumah sakit?" Tanya balik Nafisah.
" Mama aku sakit... " Ucap Kirani yang wajahnya seketika menjadi murung.
" Semoga Mama kamu cepet sembuh, yah " Ucap Nafisah yang merasa tak enak pada Kirani.
" Ngak papa kok. Thanks yah... " Ucap Kirani sambil tersenyum kecil.
" Ya sudah aku pesenin makanan dulu yah? Kamu mau pesen apa? " Tanya Kirani yang bangkit dari duduknya.
" Sama in ajah... " Ucap Nafisah singkat.
" Hmm. Oke... " Balas Kinari sambil berjalan menuju ibu kantin untuk memesan makanan.
Beberapa menit kemudian, Kirani pun datang dengan membawa nampan yang berisikan dua mangkok bakso dan dua gelas teh dingin.
" Makanan datang... " Ucap Kirani sambil meletakkan nampan di atas meja.
" Thanks Rania... " Ucap Nafisah.
Mereka pun makan bersama dengan di selingi canda tawa satu sama lainnya.
Padahal mereka baru saja bertemu satu hari lalu, tapi mereka bisa langsung akrab satu sama lainnya.
Dan sejak saat itu pula mereka pun menjadi temen dan mungkin sekarang sudah menjadi sahabat. Mereka pula juga sering bercerita tentang kehidupan satu sama lain. Tapi di antara cerita - cerita mereka terdapat satu rahasia besar yang telah di sembunyikan oleh salah satu dari mereka, yang mungkin akan membuat mereka berpisah.
Waktu pun berjalan begitu cepat, sekitar 5 bulan sudah mereka berteman dan selalu bertemu saat di sekolah maupun di luar sekolah.
Di Taman.
Nafisah sedang memotret bunga matahari yang tumbuh dengan cantik di taman tersebut denagn kamera kesayangannya.
" Kenapa kamu suka memotret? " Tanya Kirani yang hanya menatap kegiatan Nafisah dengan duduk di bangku taman.
" Karena seni itu indah, dan senilah yang membuatku menjadi orang yang istimewa..." Jawab Nafisah sambil memotret bunga lainnya di taman tersebut.
" Emm. Kamu pernah bilang kan padaku jika kamu suka melukis, kenapa kamu tidak mengembangkan bakatmu saja ? " Tanya Nafisah sambil berjalan menuju Kirani.
" Emm. Ngak semudah itu untukku... " Ucap Kirani sambil menundukkan kepalanya.
" Kenapa?? " Tanya Nafisah bingung.
" Hufftt. Karena aku harus belajar menjadi seorang pembisnis oleh papa... " Balas Kirani setelah menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Lalu kenapa kau tak bilang pada papamu jika kamu tak suka menjadi seorang pembisnis? " Tanya Nafisah lagi.
" Karena aku tak ingin mengecewakan papa, yang ingin aku sukses dengan aku menjadi seorang pembisnis... " Ucap Kirani sambil menatap ke arah Nafisah yang berdiri di depannya.
" Rania, sukses bukan hanya profesi pembisnis saja. Banyak tuhh, di luaran sana yang profesinya bukan menjadi seorang pembisnis bisa menjadi sukses. Seperti chef Arnold dia seorang koki tapi dia bisa sukses karena dia mengembangkan bakat yang dia sukai... " Jelas Nafisah yang mendudukan bokongnya di samping Kirani.
" Ra... Aku cuma mau kamu mengembangkan bakat apa yang kamu suka dan bukan karena terpaksa melakukan apa yang orang tua kamu mau. Kamu berhak menentukan masa depan kamu Ra..." Jelas Nafisah lagi sambil mengelus pundak Kirani.
" Tapi, aku takut papa bakal kecewa sama aku. Kalau dia tahu aku ingin menjadi pelukis..." Ucap Kirani dengan mata yang sudah berkaca - kaca.
" Ra... Semua orang tua pasti mau anaknya bahagia. Kalau papa kamu tahu kamu ingin menjadi pelukis, dia pasti akan setuju kok. Karena kamu bahagia dengan bakat yang kamu sukai... " Jelas Nafisah lagi.
" Emm. Makasih udah mau support keinginan aku... " Ucap Kirani yang menatap Nafisah dengan siratan mata yang penuh akan rasa bersyukur karena telah di berikan seorang teman yang telah mau mendengar keluh kesahnya.
" Itulah gunanya teman... " Ucap Nafisah sambil merangkul pundak Kirani.
" Rania semangat, kamu pasti bisa membangun masa depan kamu sendiri. Terus lah maju dan jangan takut, ingat jadikan kegagalan sebagai sebuah pelajaran... " Ucap Nafisah sambil tersenyum manis.
Sedangkan Kirani hanya tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.
" Emm. Bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke pasar malam? " Tanya Kirani pada Nafisah.
" Maaf nanti malam aku di ajak pergi sama temenku... " Ucap Nafisah sambil menundukkan kepalanya.
" Ohh ngak papa kok, kayaknya kamu sibuk banget... " Ucap Kirani sambil tersenyum dengan tulus pada Nafisah.
" Emm. Kalau boleh tahu siapa nama temen kamu? Aku penasaran karena setiap aku ajak kamu pergi pasti kamu ngak bisa pergi dengan alasan di ajak sama temen kamu... " Tanya Kirani yang penasaran.
" Aku sering panggil dia GG... " Balas Nafisah.
" Emm... GG??? " Ucap Kirani yang bingung karena nama aneh dari teman Nafisah.
" Cowok atau cewek, nama nya aneh... " Ucap Kirani lagi yang masih bergelut dengan pikiran karena nama aneh dari temen nya.
" Itu nama spesial aku buat dia... " Ucap Nafisah sambil tersenyum manis.
Detik kemudian Kirani pun langsung tertawa terbahak - bahak karena nama spesial Nafisah untuk temannya itu.
" Hahaha. Ngakak... " Tawa Kirani dan tanpa sengaja memukul lengan Nafisah yang berkulit putih keriput itu dengan keras.
Sedangkan Nafisah hanya memasang wajah jutek sambil mengusap - usap lengannya yang baru saja di pukul oleh Kirani tadi.
" Ngejek boleh. Tapi ngak usah pakek pukul lengan aku juga kalik... " Ucap Nafisah sambil menggembungkan pipi dengan kesal pada Kirani.
" Hahaha... Sorry. Tapi emang lucu banget namanya GG. Nama apa itu? Aneh... Hahaha... " Ucap Kirani yang masih tertawa.
Setelah puas tertawa Kirani pun menoleh ke arah Nafisah yang sudah berada dalam mode ngambek.
" Sorry ngak sengaja... " Ucap Kirani sambil menggenggam lengan Nafisah yang tanpa sengaja dia pukul tadi.
Lalu Kirani pun mengusap - usap lengan Nafisah yang dia pukul tadi. Beberapa detik kemudian Kirani pun menatap sesuatu yang janggal pada lengan Nafisah.
" Astaga Nafisah, ini memar... " Ucap Kirani yang terkejut sambil menunjuk lengan Nafisah yang sedikit membiru.
" N-ngak papa kok... " Ucap Nafisah yang gelagapan sambil menarik tangan dari genggaman tangan Kirani.
" Tapi itu biru lho. Apa karena aku pukul kamu tadi...? " Tanya Kirani pada Nafisah.
" N-ngak kok. Tadi lengan aku ngak sengaja ke gores lemari, terus kamu pukul yah jadi biru deh. Rania ngak usah khawatir... " Ucap Nafisah.
" Tapi itu salahku karena mukul kamu kenceng. Aku obatin luka kamu yah... " Ucap Kirani sambil merogoh sesuatu yang berada dalam tas selempang nya.
" I'm okay, Rania... " Ucap Nafisah yang menolak ucapan Kirani yang ingin mengobatinya.
" Sini lengannya aku obati... " Ucap Kirani yang menarik lengan Nafisah pelan dan mengobatinya dengan tisu basah serta mongolesinya dengan salep yang mengandung heparin dan kemudian membungkusnya dengan perban agar luka nya tak terinfeksi.
" Selesai... " Ucap Kirani yang sudah selesai mengobati lengan memar Nafisah.
" Thanks... " Ucap Nafisah sambil mengelus perban yang melekat di lengannya.
" No problem, kita kan temen jadi harus saling membantu... " Ucap Kirani sambil meletakkan kembali salep serta perban tadi.
" Kamu kok bawa - bawa salep sama perban buat apa, Rania? " Tanya Nafisah.
" Sebenarnya aku hari ini ada latihan beladiri, jadi aku bawa salep sama perban deh. Kalau sewaktu - waktu aku terluka... " Jelas Kirani.
Sedangkan Nafisah hanya menganggukkan kepalanya paham.
" Berarti aku ganggu latihan kamu hari ini dong... " Ucap Nafisah mulai yang merasa bersalah.
" Ehh, enggak kok. Tenang ajah hari ini aku memang free. Karena guruku lagi pergi ke luar negeri untuk mengantarkan muridnya yang mengikuti lomba beladiri tingkat internasional... " Jelas Kirani agar Nafisah tak salah paham.
" Emm. Baiklah... " Ucap Nafisah yang kembali tersenyum.
Lalu Nafisah pun merasakan hidungnya yang seperti menguluarkan cairan berwarna merah.
" Ada yang harus aku urus. Aku pulang dulu yah bayy... " Ucap Nafisah yang langsung berlari menuju mobilnya.
" Please jangan sekarang... " Batin Nafisah sambil mengambil sapu tangan dari dalam tasnya.
Kemudian menghapus cairan yang keluar dari hidung nya dengan sapu tangan tersebut.
" Ohh... Iyah bayy... " Ucap Kirani yang melambaikan tanganya dengan wajah yang bingung.
" Anehh... " Batin Kirani yang bingung dengan tingkah laku Nafisah.
Setelah Kirani bergelut dengan pikiran, dia pun bangkit dari duduknya untuk pulang ke rumah karena matahari yang mulai tenggelam.
Keesokan harinya, di SMA Kejora.
Di jam istirahat Kirani sedang melamun di bangku kantin sendirian, karena hari ini Nafisah yang tak masuk sekolah.
DRETT... DRETTT...
Kemudian lamunan Kirani pun buyar karena mendengar suara handphone nya yang bergetar.
Lalu Kirani pun melihat layar handphone dan terdapat telepon masuk dari Nafisah.
" Hallo... " Ucap Kirani yang menjawab panggilan telepon dari temennya itu.
" Hallo. Assalamualaikum... " Salam Nafisah di seberang sana.
" Wa'alaikumsalam. Kamu lagi ngapain? Kok ngak masuk sekolah? " Ucap Kirani.
" Maaf aku lagi di ajak sama temen aku untuk ke rumah kakek dan neneknya... " Ucap Nafisah di seberang sana.
" Temen kamu jahat yah...? " Tanya Kirani.
" Maksudnya?? " Ucap Nafisah dengan bingung di seberang sana.
" Temen kamu jahat, kayak nya dia cemburu deh. Sampai - sampai kamu ngak di kasih waktu untuk sekolah... " Ucap Kirani.
" Maaf yah, aku sebenarnya ngak mau di ajak sama temen aku. Tapi aku terpaksa karena ada hal penting yang harus aku lakukan sama dia... " Ucap Nafisah yang merasa bersalah.
" Dan ini aku lagi cuci baju bareng temen aku... " Ucap Nafisah di seberang sana kembali.
" Ngak papa kok... " Ucap Kirani.
" I'm okay, jangan lupa pulang. Di sini juga ada temen kamu yang nunggu kamu pulang... " Ucap Kirani yang matanya sudah mulai berkaca - kaca itu.
" Lain kali kalau butuh temen cuci baju, ajak aku yah. Aku pinter lho cuci baju, aku jamin bersih deh... " Ucap Kirani lagi.
" Arti cuci baju ini, tak seperti yang kamu pikirkan Rania... " Batin Nafisah di seberang sana.
" Nafisah.. Sah... Nafisah... Hallo... " Ucap Kirani yang bingung karena tak lagi mendengar suara dari Nafisah.
" Ehh... Iya ma-af. Tadi aku lagi keasikan cuci baju sama temen aku. Maaf yah... " Ucap Nafisah yang gugup di seberang sana.
" Ohh... Ngak papa. Udah dulu yah, bel mau bunyi, aku tutup dulu oke...? Bayy... " Ucap Kirani.
" Bayy. Belajar yang pinter, Assalamualaikum... " Salam Nafisah di seberang sana.
" Wa'alaikumsalam... " Balas Kirani sambil menutup sambungan telepon mereka.
" Hiks... Hiks... Nafisah temen kamu siapa sih? Dia berarti banget yah buat kamu? Hiks... Hiks... " Ucap Kirani yang menangis sambil menelusupkan kepala di sela - sela kedua tangannya yang di lipat di atas meja kantin.
Sedangkan di tempat Nafisah, dia hanya bisa menatap langit - langit putih ruangan yang telah dia tempati selama bertahun - tahun dalam perjuangannya.
" Hufftt... Rania kamu hadiah terbesar dari tuhan buat aku. Kamu teman sekaligus semangat untuk aku terus bertahan... " Batin Nafisah sambil menangis dalam diam.
Di Rumah Kirani.
Dia sedang belajar di kamarnya, sambil terus menatap handphonenya berharap Nafisah menelponnya.
" Hufftt... Apa dia lagi keasikan sama temen GG nya itu... " Gumam Kirani sambil menghela nafas pasrah.
Beberapa detik kemudian, handphone Kirani pun bergetar, Kirani yang mendengarnya pun langsung mengangkat telepon yang masuk tanpa membaca nama panggilan tersebut.
" Hallo, Assalamualaikum Nafisah... " Ucap Kirani dengan senyum yang senang.
" Wa'alaikumsalam, dek. Ini kakak bukan Nafisah, kakak cuma mau kasih tahu kamu nanti sore kamu di suruh ke kantor sama papa... " Ucap Kak Brayan di seberang sana.
" Hufft... Ohh ya sudah nanti Kirani ke sana..." Dehem Kirani yang kecewa karena telepon yang masuk tersebut bukan dari temennya.
Kemudian Kirani pun mengucap salam dan langsung mematikan sambungan telepon tersebut.
" Hufftt. Kenapa bukan Nafisah...? " Batin Kirani yang kecewa karena setengah hari ini dia belum bertemu dengan Nafisah dan hanya berkomunikasi di kantin tadi.
Lalu Kirani pun mulai memfokuskan dirinya untuk belajar dan melupakan tentang masalahnya sejenak.
Pada pukul 2.30 menit, setelah belajar tadi Kirani langsung memandang handphone untuk menunggu pesan atau telepon dari temannya hingga saat ini.
Kirani yang mulai letih pun bangkit dari baringnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
TRINGGG...
Tetapi langkah Kirani pun terhenti karena mendengar bunyi dari handphone nya dan menandakan pesan masuk. Tentu saja Kirani pun langsung berlari menuju handphonenya yang terlihat nontifikasi di layar handphone nya.
" Nafisah... " Gumam Kirani yang senyum mulai mengembang di bibirnya.
Nafisah
Rania, kita ketemuan di taman kayak biasanya yah?
Baiklah kita bisa ketemuan
sekarang.
Nafisah yang membaca pesan tersebut pun langsung tersenyum bahagia dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Di taman.
Kirani sudah siap dengan pakaian sopan nya dan duduk di bangku taman untuk menunggu Nafisah yang belum datang.
" Emm... Nafisah di mana yah? Mungkin belum dateng... " Batin Kirani yang berpositif thinking itu.
Kirani pun menunggu Nafisah datang sambil bermain handphone nya untuk mengusir rasa bosan, karena kondisi taman yang sudah sepi.
Pada pukul 4.30 menit, sudah tiga jam lebih Kirani menunggu Nafisah dan tak muncul juga batang hidungnya.
" Hufftt. Nafisah ke mana sih? Di chat ngak di bales di telepon juga ngak di jawab" Ucap Nafisah yang mulai merasa khawatir dan bosan.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara pesan masuk dari handphone Kirani.
TRINGG....
Nafisah
Maaf Rania, aku ngak bisa dateng karena aku di ajak paksa sama temen aku buat pergi sama dia... Sorry...
Kirani yang membaca pesan tersebut pun hanya bisa menatap kecewa pada layar handphone nya.
" Jadi dari tadi aku nunggu Nafisah itu buat apa? Bahkan Sekarang Nafisah lagi asik sama temennya dan aku nunggu dia sendirian di taman ini, itu semua buat apa?" Gumam Kirani yang air matanya mulai terjatuh dari pelepuk matanya.
" Aku kecewa Nafisah, aku bener - bener... Hiks... Hikss... Hikss... Kecewa... " Ucap Kirani sambil menangis.
Teman mana yang tidak kecewa saat dia sudah rela - rela menunggunya hingga tiga jam, sedangkan orang yang dia tunggu malah sedang asik bermain dengan temannya yang lain.
Setelah puas menangis, Kirani pun pulang menuju rumahnya.
Di Rumah Kirani.
" Assalamualaikum... " Salam Kirani yang memasuki rumah.
" Dari mana ajah kamu...?" Tanya papa Edi.
" Maaf pah, tadi Kirani habis ketemu temen... " Ucap Kirani yang mencoba menyembunyikan kesedihannya.
" Sampai sore seperti ini, papa udah nunggu kamu di kantor dengan khawatir. Tapi kamu malah sedang bersenang - senang dengan temen kamu itu. Papa kecewa sama kamu Kirani... " Ucap papa Edi yang langsung berjalan menuju ke kamarnya dengan raut wajah marahnya.
Kirani pun terkejut, karena dia baru ingat jika dia di suruh oleh papanya untuk ke kantor. Tapi karena asik menunggu Nafisah di taman tadi, dia lupa tentang hal itu.
" Hiks... Hikss... Hikss. Maaf pa, Kirani lupa..." Ucap Kirani yang menangis tersedu - sendu, karena untuk pertama kalinya dia mengecewakan papanya itu.
Sedangkan mama Rika hanya bisa menatap sendu putri bungsunya dan berjalan pergi mengikuti suaminya.
Kak Brayan yang melihatnya pun berjalan menuju Kirani dan memeluknya untuk menenangkan adik kesayangannya agar berhenti menangis.
" Suttt... Udah jangan nangis terus. Nanti tambah jelek muka kamu dek... " Ucap Kak Brayan sambil mengelus punggung Kirani.
" Hiksss... Hiksss... Kak. Hiks... Kirani udah ngecewain papa yah Kak? " Ucap Kirani sambil menangis sendu.
" Udah - udah, manusia juga bisa membuat kesalahan... " Ucap Kak Brayan sambil mengelus rambut adiknya yang berada di atas dada bidang nya.
" Udah jangan nangis terus. Dengerin Kakak... " Ucap Kak Brayan sambil mengangkat kepala adikya agar menatap matanya.
" Udah jangan nangis lagi. Sekarang kamu minta maaf sama papa... Oke? Biar masalah ini cepet selesai... " Ucap Kak Brayan sambil menghapus jejak air mata di pipi sang adik.
" Hiks... Tapi kalau papa masih marah gimana? " Ucap Kirani dengan sesegukan.
" Papa pasti maafin kamu. Jangan sedih oke, semua manusia tidak ada yang sempurna, tapi perlu kita kita ingin. Kita juga harus berusaha memperbaiki diri kita menjadi lebih baik lagi... " Jelas Kak Brayan.
Kemudian Kinari pun menganggukkan kepalanya dan langsung berjalan menuju kamar papa dan mamanya agar masalah ini cepat selesai.
" Semoga berhasil dek... " Batin kak Baryan sambil mrantap punggung adiknya yang menaiki tangga menunju kamar sang papa.
Di kamar papa Edi.
Dia sedang duduk di kasur sambil membaca koran bersama dengan istrinya yang sedang duduk di sampingnya.
CKLEK...
Terdengar suara pintu kamar tersebut di buka.
" Pa... Kirani izin masuk yah? " Ucap Kirani dan lalu berjalan memasuki kamar papa dan mama dan tak lupa menutup kembali pintu tadi.
Setelah itu, Kirani pun menghampiri papanya. Lalu duduk di lantai sambil memegang kedua kaki papanya yang sedang selanjaran di kasur.
" Pa... Kirani minta maaf. Kirani tadi lupa untuk pergi ke kantor, maaf pah. Maaf pah, Kirani salah udah ngecewain papa... " Ucap Kirani yang meminta maaf sambil menangis tersendu - sendu.
" Pa... Maafin Kirani, udah bikin papa kecewa. Dasar Kirani bodoh, bodoh, bodoh, bodoh..." Ucap Kirani sambil memukul kepala sambil menyalahkan dirinya sendiri.
Papa Edi yang melihat hal tersebut pun langsung terkejut dan menghentikan kedua tangan putrinya yang memukuli kepalanya sendiri.
" Apa yang kamu lakukan Kirani... " Ucap papa Edi dengan lantang.
Mama Rika yang melihatnya pun langsung menghampiri Kirani dan memeluknya.
" Sayang jangan melukai diri kamu sendiri..." Ucap mama Rika sambil memeluknya.
Sedangkan Kirani hanya bisa menangis tersendu - sendu di pelukan sang mama.
" Papa akan tambah kecewa jika kamu melukai diri kamu sendiri Kirani... " Ucap papa Edi yang kemudian juga ikut memeluk putrinya itu.
" Sudah cukup kamu menangis. Papa maafin kamu, tapi ingat jangan lukai diri kamu sendiri. Papa tidak pernah mengajarkan hal itu padamu... " Ucap Papa Edi sambil menghapus jejak air mata di pipi putrinya.
" Hmm, Kirani janji pah. Kirani juga ngak akan ngecewain papa lagi... " Ucap Kirani sambil menganggukkan kepalanya.
" Papa percaya sama kamu... " Ucap papa Edi yang lalu memeluk putrinya.
Sejak hari itu, Kirani tak lagi bertemu dengan Nafisah di sekolah maupun di luar sekolah. Padahal Kirani masih berharap Nafisah bertemu dengannya dan meminta maaf.
" Udah lima hari Nafisah ngak telepon aku dan ngasih pesan ke aku. Apa dia udah ngak mau temenan lagi sama aku? " Batin Kirani yang masih berharap Nafisah meminta maaf padanya atas kejadian tempo lalu.
" Baiklah aku akan pergi ke rumah nya nanti.... " Ucap Kirani yang bertekad untuk menemui Nafisah dan dia juga ingin tahu alasan apa yang membuat Nafisah tak datang ke taman yang membuatnya menunggu hampir empat jam di sana.
Saat pulang sekolah, Kirani pun pulang ke rumahnya untuk berganti baju dan langsung pamit untuk pergi ke rumah Nafisah.
Di Rumah Nafisah.
Kirani bingung dengan keadaan rumah Nafisah yang terlihat sepi dan kosong seperti tak berpenghuni itu.
Sebenarnya Kirani sudah tahu alamat rumah Nafisah dan Kirani juga akrab dengan keluarga Nafisah, begitu juga dengan Nafisah.
TOK...TOK... TOK...
" Assalamualaikum... " Salam Kirani sambil mengetuk pintu rumah Nafisah.
CKLEK...
Lalu pintu tersebut pun terbuka dan muncul lah seorang wanita paruh baya yang membuka pintu tersebut.
" Wa'alaikumsalam... Neng Kirani cari Non Nafisah yah? " Tanya Bik Ning yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Nafisah.
" Iyah Bik. Nafisah nya ada, Bik? " Tanya Kirani.
" Emm. Non Nafisah nya... " Ucap Bik Ning yang terpotong.
Kemudian Bik Ning pun langsung masuk kembali ke dalam rumah tanpa mengucapkan satu kata pun pada Kirani.
Sedangkan Kirani pun hanya menatap Bik Ning dengan tatapan bingung. Beberapa detik kemudian, Bik Ning pun kembali sambil memberikan secarik kertas kepada Kirani.
" Neng Kirani, ke alamat ini ajah. Pasti nanti Neng Kirani ketemu sama Non Nafisah... " Ucap Bik Ning sambil tersenyum kecil.
Lalu Kirani pun mengambil secarik kertas tersebut dari tangan Bik Ning.
" Ya udah Bik. Kirani pergi dulu yah? Terima kasih Bik Ning... " Ucap Kirani.
" Assalamualaikum... " Salam Kirani sambil mencium tangan Bik Ning karena usianya yang lebih tua darinya itu.
" Wa'alaikumsalam. Sama - sama Neng... " Balas Bik Ning sambil tersenyum kecil pada Kirani.
" Semoga Neng Kirani bisa sabar menerima kebenaran ini semua... " Batin Bik Ning sambil menatap Kirani yang mulai menaiki mobilnya.
Kemudian Bik Ning pun masuk dan kembali menutup pintu rumah majikannya.
Di tempat tujuan.
Kirani sekarang sedang di landa kebingungan kenapa alamat yang di berikan Bik Ning membawanya ke rumah sakit, di mana tempat tersebut adalah tempat awal pertama kali dia bertemu dengan Nafisah.
" Pak bapak ngak salah alamat kan...? " Tanya Kirani pada sopir pribadi keluarga nya.
" Bener kok Non, ini alamatnya. Di situ juga di tulis kamar inap nya juga... " Ucap sang sopir.
Kemudian Kirani pun melihat kembali tulisan di secari kertas tersebut.
" Bener. tertulis Ruang UGD... " Batin Kirani yang mulai tak enak itu.
" Kenapa perasaan ku ngak enak yah? " Batin Kirani sambil menyentuh dadanya yang tiba - tiba terasa sesak.
Kemudian Kirani pun turun dari mobil dan berjalan pergi menuju rumah sakit tersebut.
" Positif thinking Kirani, pasti di sini Nafisah sedang menjenguk seseorang... " Ucap Kirani.
Di Ruang UGD.
Kirani pun berada di depan pintu UGD dengan perasaan tegang serta jantungnya yang juga ikut berdenyut dengan cepat.
" Huh... Ayolah Kirani semua akan baik - baik saja... " Batin Kirani setelah menghembuskan nafas untuk merilekskan tubuhnya yang sedang tegang.
CKLEK...
Kirani pun membuka engsel pintu tersebut dan membukanya.
" Assalamualaikum... " Salam Kirani sambil memasuki ruang UGD tersebut.
DEG...
Sekarang jantung Kirani pun berdetak dengan cepat setelah memasuki ruangan tersebut.
" Nafisah.. " Gumam Kirani yang melihat Nafisah yang terbaring lemah di brankar beserta alat - alat medis yang menempel pada tubuhnya.
Kemudian air mata Kirani pun terjatuh dengan deras.
" Ahh. Maaf sepertinya saya salah masuk ruangan... " Ucap Kirani yang membalikkan badannya untuk segera keluar dari ruang UGD tersebut.
" Kirani kamu tidak salah masuk ruangan nak... " Ucap Bunda Retta dengan suara serak sehabis menangis.
Lalu Kirani pun membalikkan badannya dan menatap ke arah kedua orang tua Nafisah.
" Tante, dia bukan Nafisah kan tante...? " Tanya Kirani sambil menghampiri mereka, agar lebih jelas menatap wajah seorang perempuan yang terbaring lemah di brankar tersebut.
" Ini Nafisah nak. Hiks... Hiks... Hiks... " Ucap Bunda Retta yang menangis kembali sambil menggenggam erat tangan putrinya itu.
" BOHONG!!! TANTE BOHONG!!! dia bukan Nafisah. Dia bukan temen Kirani, Hiks... Hiks... " Ucap Kirani yang langsung terduduk lemas di lantai ruangan tersebut.
" Nak, dia Nafisah temen yang selalu kamu anggap gadis yang kuat... " Ucap Ayah Fino yang berjongkok di samping Kirani sambil mengelus punggung gadis tersebut.
" Om, Nafisah sehat Om. Nafisah ngak sakit, kemarin dia bahkan masih baik - baik ajah om. Hiks... Hiks... Hiks... " Ucap Kirani yang mulai menangis dengan sendu.
" Om, Bahkan lima hari lalu Nafisah masih kirim pesan sama saya. Dia bilang kalau dia di ajak sama temennya yang bernama GG. Dia ngak mungkin Nafisah, Hiks... Hiks... Hiks... " Ucap Kirani sambil menunjuk ke arah seorang gadis yang sedang terbaring lemah di brankar rumah sakit.
" GG adalah gagal ginjal... " Ucap Ayah Fino sambil berusaha untuk menutupi kesedihannya.
JDERR....
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Kirani pun berusaha untuk mencerna semua nya dan terputarlah semua kenangan - kenangan kebersamaan nya dengan Nafisah.
"Hiks... Hiks... Hikss. Haaaaa..... " Suara Kirani yang berteriak dengan keras tanpa dia memperdulikan jika dia sedang berada di rumah sakit itu.
Kemudian Kirani pun mendekatkan dirinya dengan brankar yang di tiduri oleh Nafisah yang telah menjadi temannya selama 5 bulan terakhir ini.
" Sah. Kamu bohong sama aku. Kamu bohong, tentang penyakit kamu. Kamu bohong sah... " Ucap Kirani sambil menggenggam erat tangan kanan Nafisah yang putih pucat itu.
" Kamu bilang kita teman, tapi kamu ngak cerita tentang penyakit kamu. Sah... Kamu bilang sama aku kalau hubungan harus di dasari oleh kepercayaan. Terus kamu kenapa bohong sama aku sah? Hikss... Kenapa? Hiksss. Kenapa? Hiksss..Hikss... " Ucap Kirani sambil menangis dengan tersendu - sendu.
" Sah, aku salah. Aku kira kamu punya temen baru. Maaf sah, aku udah pernah marah dan kecewa sama kamu... " Ucap Kirani yang masih menangis tersendu - sendu itu.
Sedangkan Bunda Retta pun hanya bisa menangis haru sambil mengelus kepala Kirani untuk menenangkannya.
Setelah Kirani menenangkan dirinya, dia pun keluar dari ruang UGD dan duduk di kursi depan ruangan tersebut bersama dengan Ayah Fino.
" Nafisa sudah mengidap penyakit ini selama tiga tahun... " Ucap Ayah Fino yang mulai bercerita tentang penyakit putrinya itu.
Lalu Kirani pun hanya bisa menatap kosong ke arah depan sambil mencoba untuk mencerna semua keadaan yang baru saja dia lihat tadi.
" Putri om, perempuan kuat. Dia bisa bertahan hingga sekarang, dia selalu menyembunyikan kesedihannya di balik senyum manisnya itu... " Ucap Ayah Fino kembali.
" Kirani, om tahu kamu masih belum percaya tentang semua ini. Tapi om yakin, setelah ini kamu pasti akan selalu memberikan semangat untuk Nafisah dalam perjuangan hidup dan matinya... " Ucap Ayah Fino yang mulai serak karena berusaha menahan tangisannya sambil mengelus kepala Kirani.
" Kenapa Nafisah bohong om? " Tanya Kirani yang masih menatap kosong ke arah depan.
" Nafisah sangat tidak suka menjadi beban orang lain. Dia selalu bilang jika dia tidak di berikan kebahagian maka Tuhan ingin dia membahagiakan orang lain. Itu adalah kata - kata Nafisah yang selalu om ingat... " Ucap Ayah Fino.
" Tapi Kirani salah om, telah nyalahin Nafisah padahal dia saat ini sedang berjuang untuk hidupnya. Hikss... Hikss... " Ucap Kirani yang mulai menangis Kembali.
" Kirani, Nafisah sayang sama kamu. Bahkan dia rela untuk menemuimu di taman setelah dia chek up... " Ucap Ayah Fino.
" Maafkan Nafisah, Kirani. Nafisah tidak bermaksud membuat kamu menunggu lama di taman. Saat dia akan pergi ke taman, tiba - tiba Nafisah merasa tak enak di badannya setelah cuci darah. Karena itulah, dia tak bisa menemui mu di taman. Hikss... Hiksss..." Ucap Ayah Fino yang mulai menangis.
" Hingga sampai saat ini dia koma... " Ucap Ayah Fino sambil menundukkan kepalanya.
Sedangkan Kirani hanya bisa menangis tersedu - sendu itu.
" Jadi maksud kamu cuci baju itu adalah cuci darah. Nafisah kenapa kamu menyembunyikan ini semua, di balik kata I'm okay dan senyum manis yang selalu kamu tebar ke semua orang... " Batin Kirani yang terasa seperti di tusuk - tusuk ribuan jarum.
" Maaf... Maaf... Maaf... " Gumam Kirani yang merasa bersalah karena pernah kecewa kepada Nafisah yang selama lima bulan ini selalu berada di sampingnya.
" Kenapa kamu selalu bilang I'm Okay padahal kamu tidak sedang baik - baik saja, sah? Hiksss... " Batin Kirani yang hanya bisa merasa menyesal.
Tiga hari sudah, Kirani selalu bolak - balik ke rumah sakit untuk menjenguk Nafisah.
" Nafisah, pulang yuk. Aku temen kamu juga lho, kamu asik banget yah main sama temen jahat kamu... " Ucap Kirani yang hanya bisa menangis dan menangis setiap dia menjenguk temennya.
" Nafisah, kamu pernah bilang. Kalau kamu mau jadi fotografer. Bangun yah, nanti aku bakal jadi modelnya dehh. Tapi kamu harus bangun... " Ucap Kirani yang hanya menundukkan kepalanya itu.
" Kamu tahu hari ini aku bela - belain ngak ke kantor Ayah. Karena aku mau seharian di sini sama kamu... " Ucap Kirani.
" Aku akan berjuang membangun masa depan aku sendiri. Kamu janji akan dukung semua impian aku kan, ayok bangun aku butuh kamu sah. Aku butuh teman aku sah, aku butuh sesorang selama lima bulan ini yang telah mengisi hari - hari ku yang hampa sah... " Ucap Kirani kembali.
Di ruangan itu lah yang telah Kirani habiskan hanya untuk menceritakan semua keluh kesahnya, walaupun tak mendapat respon apapun dari Nafisah.
" Capek yah sah? Nafisah, aku tahu kamu pasti capek dan aku egois. Tapi aku mohon bertahanlah. Ku mohon... " Ucap Kirani sambil memohon dan berdoa dalam hati kepada sang pencipta agar Nafisah dapat lebih lama untuk merasakan dunia yang penuh akan keajaiban ini.
Keesokan harinya.
Hari ini adalah hari Minggu, sejak pagi Kirani duduk di kursi bangku taman yang biasa dia datangi dengan Nafisah, gadis yang sekarang tengah berjuang untuk hidup dan matinya.
" Kirani... Yok pulang. Sejak pagi kamu hanya duduk di sini sambil melamun... " Ucap Kak Brayan.
" Aku masih mau di sini... " Balas Kirani sambil masih menatap kosong ke arah depan.
" Hufft... Nafisah akan sedih kalau lihat kamu kayak gini... " Ucap Kak Brayan.
" Kak aku mau belajar melukis... " Ucap Kirani dengan tiba - tiba.
" Kakak ngak maksa kamu jadi apa yang kamu mau? Kakak akan selaku dukung semua impian kamu... " Ucap Kak Brayan sambil mengelus lembut kepala adik nya.
" Yuk pulang. Aku mau kasih tahu papa... " Ucap Kirani yang lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan kakaknya.
" Nafisah cepet sembuh. Kirani menunggu kamu bangun... " Batin Kakak Brayan.
Di Rumah Kirani.
"Assalamualaikum... " Salam Kak Brayan dan Kirani dengan serempak.
" Dari mana ajah kalian, dan kamu Kirani kenapa hari ini tidak datang ke kantor. Sebentar lagi kamu akan lulus SMA Kirani, jadi kamu harus rajin belajar untuk menangani perusahaan papa... " Ucap Papa Edi sambil meletakkan koran dia baca tadi ke atas meja.
Lalu Kak Brayan pun lebih dulu pergi ke kamarnya untuk memberi waktu papa dan adiknya mengobrol.
" Kirani mau menjadi seorang pelukis... " Ucap Kirani dengan penuh keyakinan itu.
" Jangan bercanda Kirani, papa sudah lama merencanakan masa depan kamu. Kamu akan sukses dengan menjalankan bisnis papa, lalu untuk apa kamu menjadi seorang pelukis yang belum tentu itu semua terwujud... " Ucap papa Edi dengan tegas.
" Pa, Kirani punya impian Kirani sendiri. Kirani berhak nentuin masa depan Kirani sendiri. Kirani capek pah, terus di suruh papa belajar di kantor sama Kakak. Kirani capek... " Ucap Kirani dengan mata yang berkaca - kaca.
" Papa mau kamu jadi pembisnis seperti Kakak kamu yang memiliki masa depan yang jelas... " Bantah papa Edi.
" Kirani tahu pah, papa cuma mau Kirani bahagia. Tapi bukan kayak gini caranya, Kirani itu bukan Kakak yang suka dengan dunia bisnis. Kakak dan Kirani itu berbeda pah, tolong jangan samakan kami berdua... " Ucap Kirani.
" Jika papa bisa membantah perkataan kakek yang ingin papa menjadi polisi dengan papa membangun masa depan papa sendiri untuk menjadi seorang pembisnis. Terus kenapa Kirani tidak bisa pah, kenapa pah? Kenapa? Hiks... Hiks... " Ucap Kirani yang air matanya sudah mengalir deras di pipinya.
Sedangkan papa Edi hanya bisa terdiam dan tak menjawab perkataan dari putri bungsunya itu.
" Kirani kecewa sama papa... " Ucap Kirani dan untuk pertama kalinya Kirani kecewa pada seseorang yang telah lama dia anggap sebagai super Hero dan pelindungnya.
Lalu Kirani pun berjalan pergi keluar dari rumahnya dengan perasaan kecewa yang amat dalam di hatinya.
DRETT... DRETT...
Saat Kirani berjalan tak tentu arah, tiba - tiba terdengar suara handphone yang bergetar pertanda terdapat panggilan masuk dari handphone nya.
" Hmm... Om Fino... " Ucap Kirani yang membaca panggilan yang masuk dalam handphonenya itu.
" Hallo... Assalamualaikum " Salam Kinari.
" Wa'alaikumsalam... Nafisah sudah sadar Kinari " Ucap Om Fino di seberang sana.
Kinari yang mendengarnya pun langsung terkejut dan berlari untuk mencari taksi.
" Terimakasih, Ya Allah kau telah mengabulkan semua doaku... " Ucap Kinari yang penuh dengan rasa bersyukur.
Di Rumah Sakit.
Kinari pun bingung kenapa ke dua orang tua Nafisah menangis di depan pintu ruang UGD.
" Om... Tante... Kok nangis? Nafisah nya mana Om? Nafisah beneran udah sadar kan om? " Tanya Kirani dengan beruntun.
" Nafisah nya ada di dalem. Dia pingin ketemu sama kamu, sana cepat masuk kasian Nafisah kalau nunggu kamu lama... " Ucap Bunda Retta sambil berusaha untuk tersenyum.
Kirani pun langsung berjalan untuk membuka engsel pintu ruang UGD.
CKLEK...
Kemudian Kirani pun memasuki ruangan tersebut.
Di ruangan tersebut hanya terdengar suara monitor electrocardigram yang menentukan hidup dan mati pasien yang terbaring lemah di brankar tersebut.
TIT... TIT... TIT...
Nafisah yang masih terbaring lemah dengan alat - alat di tubuhnya pun menoleh ke arah Kirani yang memasuki ruangan tersebut.
" Ra-ni-a... " Ucap Nafisah hingga tak dapat di dengar sambil tangannya mencoba untuk meraih Kirani.
Air mata Kirani pun terjatuh karena tak sanggup melihat keadaan temennya yang sangat memprihatikan.
Kirani pun mengusap air matanya dan mencoba tersenyum, lalu berjalan menghampiri kursi di samping brankar Nafisah.
" Hayy... Lama ngak ketemu. Jangan lama - lama main sama temen kamu, aku takut temen kamu ngambil kamu dari aku. Tapi temen kamu baik juga, karena ngak ngambil kamu dari aku dan izinin kamu pulang... " Ucap Kiran dengan suara serak karena menahan tangis itu.
Nafisah pun mencoba membuka alat bantu pernafasan yang menempel di hidung dan mulutnya.
" Jangan di buka ngak papa kok... " Ucap Kirani sambil menggenggam tangan Nafisah yang dingin karena mungkin aliran darahnya yang sudah tak lancar lagi mengalir dalam tubuhnya.
Nafisah pun masih berusaha untuk membuka benda yang menempel di hidung dan mulutnya itu.
" B-bu-ka... " Ucap Nafisah yang suara nya terdengar samar.
" Ngak papa? " Tanya Kirani.
Nafisah pun sedikit menganggukkan kepalanya. Lalu Kirani pun membantu Nafisah melepas alat bantu pernafasan yang menempel di hidung dan mulutnya.
" Ra-ni-a... Hah... Ma-af... " Lirih Nafisah.
" Kamu ngak salah, yang seharusnya minta maaf itu aku, karena aku udah pernah
kecewa dan marah sama kamu. Padahal kamu sedang berjuang untuk hidup dan mati kamu. Maaf Nafisah, aku gagal menjadi seorang teman. Hikss... aku gagal Nafisah..." Ucap Kirani yang air matanya pun tumpah dan mengalir di pipinya.
" Ka-kamu... Hah... I-itu... Hadi-ah... Hah... Te-rin-dah... Da-dari... Tu-tuhan... " Ucap Nafisah dengan terbata - bata.
" Hikss.. hikss... Kamu jahat Nafisah. Kenapa kamu sembunyikan ini semua, apa kamu tidak pernah percaya sama aku? Hikss... Hikss..." Ucap Kirani.
" A-aku di-tak-dirkan... Hah... Un-tuk... Me-mem-baa-ha-gia-kan... Hah... ora-rang l-ain... Hah... B-bu-kan... u-ntu-k... Hah... men-ja-di be-ban.... " Ucap Nafisah.
Kirani hanya bisa menangis melihat setiap perkataan yang di lontarkan Nafisah. Sungguh perkataan itu sangat menyakiti hati Kirani.
" Kamu juga berhak bahagia Nafisah... " Kata Karina yang tidak setuju dengan perkataan Nafisah.
" Ya-yang... l-lebih b-berhak... I-itu... Ka-kamu... Hah... " Ucap Nafisah.
" Na... semua orang berhak bahagia... " Ucap Kirani sambil menatap sendu temannya.
Nafisah pun hanya tersenyum kecil kepada Kirani.
" Bu-buku... " Ucap Nafisah sambil menunjuk ke arah laci di dekat brankar nya.
Kemudian Kirani pun mengikuti arah tangan yang Nafisah tunjuk. Lalu dia pun membuka laci tersebut dan terdapat sebuah buku diary berwarna coklat tua di dalamnya.
" Ini... " Ucap kirani yang menunjukkan buku diary tersebut ke arah Nafisah.
Sedangkan Nafisah pun sedikit menganggukkan kepalanya.
" Si-sim-pan... Hah... L-lah... " Ucap Nafisah.
Kirani pun hanya bisa menatap buku diary tersebut dan tanpa sengaja air mata nya pun terjatuh di atas buku diary tersebut.
" Ja-jang-an... M-mena-ngis... " Ucap Nafisah.
" A-aku m-mau.. ka-kamu... Hah.. Teer-ter senyum... u-un-tukku... T-ter-akhir... ka-kali... Hah.. " Ucap Nafisah dengan nafasnya mulai menghilang.
" I'm O-Okayy... " Ucap Nafisah sambil berusaha tangannya untuk mengampai wajah Kirani untuk menghapus jejak air mata di pipi Kirani.
" Nafisah, jangan mengatakan hal itu. Hatiku sungguh sakit, mulai sekarang aku akan membenci kata I'm okay... " Ucap Kirani sambil menggenggam dadanya yang terasa sakit dan sesak.
" ja-jang-an... Hah... mem-benci... ka-kata... I'm O-okay... Hah.... ka-kare-na... ak-ku... bi-bisa... ber-bertahan... Hah... hi-hing-ga... se-seka-rang... ka-kare-na... Hah... ka-kata... i-tu... " Ucap Nafisah yang berusaha mengucapakan kata - perkata sambil menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya itu.
" Ku-kumo-mohon... Hah... Ter-terse-nyum... Hah... l-lah... " Ucap Nafisah kembali.
Kirani pun menggapai tangan Nafisah dan berusaha untuk tersenyum, seperti permintaan Nafisah tadi.
" Se-la-ma-t... Ti-ting-gal... T-tem-man... " Ucap Nafisah kemudian menutup matanya dengan senyum yang terlukis manis di bibirnya itu.
TITTTTT...
Kirani yang mendengarnya pun langsung terkejut dan menatap penuh khawatir pada Nafisah.
" Sah... Bangun sah. NAFISAH BANGUN!!! KAMU NGAK BISA PERGI KAYAK GINI!! NAFISAH BANGUN!!! Teriak Kirani sambil menggoyang - goyangkan tubuh Nafisah yang mendingin.
" NAFISAHHHHH!!! ENGGAAKKKKK!!! Hikss... Hikss... Hikss... Hiksss... " Ucap Kirani yang menangis sambil memeluk tubuh Nafisah yang mulai mendingin.
Kemudian Kirani pun langsung memasang kembali alat bantu pernafasan Nafisah dengan tangan kanan yang mulai berkeringat dingin.
" DOKTER!!! TOLONG DOK!!! Hiks... Hikss..." Teriak Kirani sambil memencet - mencet tombol darurat.
Kemudian seorang dokter dan perawat pun masuk ke dalam ruangan itu dengan tergesa - gesa.
" Mbak tolong keluar dulu yah? " Ucap perawat tersebut sambil menarik lembut tubuh Kirani.
" Ngak, saya mau sama temen saya. Hikss... Hikss..." Ucap Kirani yang meronta - ronta tak ingin meninggalkan ruangan tersebut.
" Tolong mbak mengerti, kami akan membantu temen mbak. Tapi mbak harus keluar dulu... " Ucap perawat tersebut.
Kirani dengan perasaan pasrah pun berjalan ke luar dari ruangan UGD.
" Hikss... Kirani... " Panggil Bunda Retta.
" Hikss. Tante Nafisah Tan... " Ucap Kirani sambil memeluk tubuh bunda Retta.
" Hikss. Tante yakin Nafisah kuat... " Ucap Tante Retta yang menenangkan Kirani yang menangis dengan tersendu - sendu.
Sedangkan ayah Fino hanya menatap kosong pintu ruangan UGD.
Beberapa detik kemudian, Kirani pun melepas pelukan nya pada tubuh Bunda Retta.
" Tan, aku pergi dulu ke musholla. Untuk sholat dan berdoa supaya Tuhan ngak ambil Nafisah dari kita..." Ucap Kirani.
Bunda Retta pun menganggukkan kepalanya pada Kirani.
Dengan berjalan tertatih Kirani pun berjalan menuju musholla yang berada di rumah sakit tersebut.
Saat Kirani akan memasuki musholla, tiba - tiba handphone di tasnya pun berbunyi.
Lalu Kirani pun mengambil handphone nya yang mungkin terdapat pesan masuk.
Om Fino
Kirani. Nafisah sudah pergi jauh bersama temannya.
DEG...
Handphone yang berada di genggamannya pun terjatuh, setelah Kirani yang membaca pesan dari Ayah Fino dengan perasaan tak percaya jika temannya telah meninggalkannya untuk selamanya.
Kemudian Kirani pun menangis dengan kencang dan terduduk di atas lantai karena kakinya yang seperti sudah mati rasa.
" Hancur sah. Hancur sudah... dengan semua penyesalan yang ada.. " Batin Kirani.
" Aku gagal Nafisah. Aku gagal untuk menjadi teman sekaligus penyemangat kamu... " Batin Kirani kembali yang sudah tak sanggup lagi untuk menangis.
Pada hari itu akan menjadi hari paling terpuruk dalam hidup Kirani. Karena telah kehilangan seseorang yang telah membuatnya yakin jika dia bisa dan berhak membangun masa depan nya sendiri.
Sudah dua hari Nafisah pergi meninggalkan mereka, raga dan jiwa nya memang telah pergi. Tapi kenangan nya terap terpatri di dalam hati.
Sudah dua hari ini juga Kirani hanya merenung di dalam kamarnya tanpa keluar barang kali hanya sebentar saja.
CKLEK...
Pintu kamar Kirani pun terbuka dan masuk lah papa Edi ke dalam kamar putrinya.
Lalu papa Edi pun menghampiri Kirani yang sedang duduk dilantai dengan termenung di depan kasur sambil menatap ke arah balkon dengan tatapan kosong.
" Kirani, rindu sama Nafisah? " Ucap papa Edi yang duduk di samping Kirani.
" Dia yang udah buat Kirani tahu apa arti menghargai diri sendiri dan berjuang untuk mencapai apa yang impian kirani mau... " Ucap Kirani dengan pandangan yang masih tetap sama.
" Papa dukung kamu menjadi pelukis. Maaf papa terlalu egois untuk menentukan masa depan kamu... " Ucap papa Edi.
" Terlambat pa. Penyemangat Karina udah pergi jauh dari Karina... " Ucap Karina.
" Tidak ada kata terlambat untuk mencoba..." Ucap papa Edi.
" Ingat apa kata - kata Nafisah padamu. Pasti dia juga mau Kirani dapat membangun masa depan Kirani sendiri dan mengembangkan bakat Kirani... " Ucap papa Edi sambil mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.
Setelah itu, papa Edi pun bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Kirani yang masih menatap kosong balkon kamarnya.
Saat Kirani mengingat kembali kenangan nya bersama Nafisah, Kirani pun teringat jika dia pernah di titipkan buku diary oleh Nafisah.
Lalu Kirani pun mencari buku diary tersebut dia atas meja belajarnya.
Setelah menemukan buku diary tersebut, Kirani pun duduk di pinggir kasur dan membuka buku diary tersebut.
Kirani pun menangis karena melihat sebuah surat yang di tuliskan oleh Nafisah untuknya di buku diary tersebut.
Dear Rania.
Kalau kamu baca buku diary ini, berarti aku udah pergi jauh sama temen aku. Sebelum kamu baca buku ini, lebih baik hapus dulu air matanya nanti buku aku bisa kebanjiran karena air mata kamu. Hehehe...
Rania, makasih udah mau jadi temen aku. Walau pertemuan kita singkat, aku bahagia sekali karena di detik - detik ujung perjuanganku terdapat semangat yang kamu berikan untukku.
Rania,maaf membuatmu menunggu lama di taman. Andai waktu itu aku tak mengajakmu bertemu di taman, mungkin kamu tidak akan menangis dan di marahi oleh Om Edi.
Rania, I'm Okay. Aku bahagia di sini. Tetap semangat terus dan bangunlah masa depan yang kamu impikan...
Jangan menyerah, semua orang berhak membangun masa depan mereka sendiri.
Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu Rania, jika hidupku hanya untuk membahagiakan orang lain. Maka kamu adalah orang pertama yang ku bahagiakan, teman...
I'm okay...
Jangan terlalu larut dalam kesedihan karena kepergian ku.
Because, your a strong gril...
Your can go to anything...
Rania's spirit...
Air mata Kirani pun terjatuh setelah membaca surat tersebut.
" Aku akan menjadi apa yang aku mau, seperti kata mu Nafisah... " Batin Kirani yang penuh tekad dan keyakinan.
" Dan hari ini, aku belajar. Jika kata I'm okay, adalah bullshit. Aku benci kata itu... " Ucap Kirani dengan pandangan mata yang kosong.
Lima tahun kemudian.
Di pemakaman umum.
Terdapat seorang perempuan berbaju hitam yang menaburi makam yang bernama nisan Nafisah Clariana Putri Binti Fino Abraham.
Lalu perempuan tersebut pun meletakkan rangkain bunga alstroemeria berwarna putih, karena bunga tersebut melambangkan persahabatan antara perempuan tersebut dengan pemilik makam.
" Nafisah, lama tidak berjumpa " Ucap perempuan tersebut.
" aku datang membawa kabar baik untukmu. Akhirnya aku bisa membangun masa depanku sendiri, sekarang aku sukses dengan bakat yang aku sukai. Dan hari ini aku menang menjadi seorang pelukis hebat se-internasional. Jika kamu ada di sini pasti kamu akan bangga padaku kan? " Ucap Kirani sambil mengelus batu nisan milik temannya.
" Ini semua berkat dirimu, akhirnya aku bisa maju dan menghadapi dunia. Walaupun pertemuan kita hanya singkat tapi kehadiran mu adalah sebuah hadiah terindah dari Tuhan untukku. Terima kasih teman, kamu tak kan terganti dan akan selalu ada di dalam hatiku... " Ucap Kirani.
" Andai kamu tidak pergi dengan temanmu. Maka hidupku sekarang tak akan menjadi hampa seperti sekarang ini... " Ucap Kirani.
" Mulai sekarang aku akan menjadi apa yang aku mau dan tanpa memperdulikan apa kata orang padaku... " Ucap Kirani kembali.
" Aku pulang dulu. Selamat tinggal... " Ucap Kirani sambil pergi meninggalkan makam tersebut.
" Sekarang aku mengerti Nafisah, jika I'M OKAY adalah sebuah perisai untuk menyembunyikan semua luka di dalamnya... " Batin Kirani sambil berjalan keluar dari area pemakaman.
Kirani tak menyadari jika terdapat sesosok bayangan putih yang menatapnya dari kejauhan.
" Kamu berhasil, Rania... " Ucap sosok putih tersebut dan kemudian menghilang mengikuti arah angin.
TAMAT