Jatuh dari atas tepian jurang adalah satu-satunya hal yang diingat olehnya dan semua ingatan tentang siapa dirinya, masa lalunya, dan lain sebagainya menghilang hanya dalam sekejap mata. Semuanya dimulai kembali setelah ia, Cassandra Leonora terbangun.
"Oh, kau sudah terbangun rupanya?" ucap seorang wanita muda sambil tersenyum lega melihatnya terbangun.
Ia tak menjawab perkataan wanita di hadapannya melainkan merasa kebingungan akan semua hal yang terjadi. Siapa dia, sedang apa dia disana, kenapa kepalanya seperti akan pecah, dan terlebih lagi siapa wanita di hadapannya itu?
Ia berusaha mengingat kembali tapi usahanya sia-sia karena tak ada satupun ingatan tentangnya di dalam kepalanya.
Melihatnya yang kebingungan dan juga putus asa itu, wanita tersebut kemudian perlahan menyentuh pipinya dengan lembut agar tidak mengagetkannya.
"Sepertinya kau tidak mengingat apapun tentang dirimu, sayang. Kalau begitu, namamu mulai sekarang adalah Cassandra Leonora. Kau suka kan?" ucapnya padanya yang kemudian dijawab dengan anggukkan pelan dari perempuan berusia 10 tahun yang kini bernama 'Cassandra Leonora'.
~•~
"Di hari itu, aku benar-benar berterima kasih karena mama sudah menyelamatkanku. Kalau tidak, mungkin saja aku sudah mati saat itu. Dan lagi, aku cukup penasaran kenapa aku tak mati padahal jatuh dari tebing setinggi itu." Cassandra yang kini sudah dewasa itu menganggap wanita yang menyelamatkannya sama seperti ibunya sendiri.
"Sudah. Kejadian di masa lalu tak usah kau ingat lagi, Cass. Ngomong-ngomong, bagaimana pembasmian kelompok bersenjata di area Gill?" tanyanya pada Cassandra.
"Maaf, mama namun aku tak berhasil membasmi mereka semua. Mereka terlalu cepat mendapatkan informasi tentang penyerangan kita.." Cassandra merasa bersalah karena tak bisa menjalankan misi yang diberikan ibunya dengan benar padahal ia sudah dipercaya untuk bisa melakukannya.
~•~
Cassandra yang menjadi jenderal dari pasukan militer ibu angkatnya itu menyebar mereka semua ke beberapa jalan tertentu dengan teratur sesuai dengan rencana yang sudah disiapkannya dengan Deniana Leonora, ibunya.
Pasukan militernya dibagi menjadi 4 bagian. 2 bagian pasukan penyerangan, 2 sisanya merupakan tim medis, dan sedikit di antaranya adalah tim pemberi informasi. Cassandra sendiri ikut masuk ke dalam bersama tim 1 dari pasukan penyerangan sedangkan tim 2 di pimpin oleh rekan Cassandra yang tetap berada di bawah kepemimpinan dari Cassandra sebagai letnan jenderal.
Rencana yang begitu mulus ini tetap saja gagal karena pihak musuh sudah mengetahui rencana mereka terlebih dahulu alias bocor.
Yang sebelumnya Cassandra percaya diri akan kemenangan atas mereka seperti sirna karena banyak pasukannya yang gugur dalam peperangan antara kubunya dan kubu lawan.
Namun tentu saja walau demikian, Cassandra bisa memojokkan musuh sehingga korban dari pihak lawan yang jatuh lebih dari pihaknya sendiri. Semuanya hampir saja selesai dengan kemanangan atas Cassandra tapi entah mengapa ia tidak bisa menarik pelatuk dari senapannya ke kepala seorang musuhnya. Tubuh Cassandra seperti enggan membunuhnya yang merupakan pemimpin dari pasukan musuh tersebut.
"Ellie!!" teriak pria di hadapan Cassandra itu sambil berusaha menatap matanya.
"Ayolah Cassandra ada apa dengan dirimu! Tarik pelatuknya dan bunuh dia agar kita menang!!" Itulah kata-kata yang terus berputar di kepalanya yang terus menyuruhnya untuk membunuh pria itu. Tetapi tubuhnya tak mau melakukannya. Kepalanya mulai sakit dan tubuhnya mulai goyah seakan-akan ia bisa pingsan kapan saja.
Sekali lagi ia menatap wajah pria itu dan setitik air mata menetes dari matanya tanpa disadari olehnya. Tubuhnya yang sudah mulai tak tahan akhirnya jatuh dan membuat Cassandra jatuh tak sadarkan diri.
Rekan Cassandra yang melihatnya jatuh di hadapan musuhnya itu langsung bergegas berlari ke arahnya sambil berusaha menembak ke arah musuh yang ada di hadapan Cassandra. Melihatnya berusaha menembaknya, pria itu mengurungkan niatnya untuk menggapai 'Cassandra' dan berlari pergi demi keselamatannya dahulu.
Walau tidak bisa membunuh semuanya, tapi hal ini sudah cukup untuk menjadi peringatan pertama dan terakhir kalinya bagi mereka yang berusaha menentang ideologi dari pihak Leonora.
~•~
"Mama, siapa sebenarnya orang itu? Kenapa ia memanggilku 'Ellie'?" tanya Cassandra setelah menceritakan seluruh alur dari penyerangannya.
Deniana tersentak mendengarnya dan menunduk sesaat. Ia kaget mendengar kalau Cassandra sudah bertemu dengan 'pria itu'.
"Mungkin saja dia salah orang, Cass. Kau tahu kan kalau seseorang yang berada di medan perang kadang kala suka berhalusinasi tentang orang yang disayanginya?" jelas Deniana dengan lembut sambil membelai rambut Cassandra.
"Aku tahu itu. Tapi kenapa dia terasa begitu familiar juga bagiku? Padahal sepertinya aku tak pernah bertemu dengannya." Deniana kemudian langsung memeluk erat Cassandra sambil berucap, "Itu hanya perasaanmu saja. Daripada memikirkan hal yang sudah berlalu, bagaimana kalau aku mengantarmu ke kamarmu dan beristirahat sejenak?" Pertanyannya itu disambut dengan anggukkan kepala Cassandra seorang.
~•~
"Beristirahatlah dengan baik, Cass. Kau sudah melakukan yang terbaik." Ia lalu meninggalkan kamar Cassandra dan pergi entah kemana.
~•~
Beberapa minggu kemudian ketika Cassandra dan Deniana tengah beristirahat di ruang utama markas mereka, alarm penyerangan tiba-tiba berbunyi dan terdengar suara tembakan dan teriakan orang dari banyak arah. Disaat yang bersamaan rekan Cassandra, Lionel Jerome mengumumkan kalau markas Leonora diserang secara tiba-tiba oleh kelompok musuh yang sebelumnya diserang oleh Cassandra. Kini mereka menuntut balas atas penyerangan yang dilakukan oleh kelompok Leonora sebelumnya.
"Perhatian untuk semuanya, kelompok musuh sedang berusaha untuk membobol masuk Markas Leonora saat ini. Saya ulangi, kelompok musuh sedang berusaha untuk membobol-
Sampai disitulah suara Lionel ditutup dengan suara tembakan dan akhirnya pengumuman tersebut berakhir. Cassandra sempat berpikir kalau Lionel dibunuh, akan tetapi..
"Jenderal dan letnan, tolong lewat sini," ucap Lionel menuntun Cassandra dan Deniana pergi darisana menuju ke suatu tempat.
"Kupikir kau mati disana, Lio!" Cassandra kaget karena tiba-tiba saja Lionel datang dan menuntun mereka pergi darisana.
Selagi menuntun keduanya pergi, Lionel terkekeh mendengar perkataan Cassandra. "Letnan, aku tak akan mati dengan mudah hanya karena beberapa bawahan-bawahan mereka yang lemah itu," jelas Lionel kemudian membuka pintu dari ruangan yang mereka tuju.
Cassandra dan Deniana masing-masing mengambil sebuah senapan dan beberapa persediaan amunisi sesuai dengan senapan yang keduanya ambil. Ketiganya lalu beranjak pergi darisana sesegera mungkin untuk mencari keberadaan pemimpin mereka yang sebelumnya hampir mati di tangan Cassandra namun karena suatu hal tak terduga, berhasil kabur dengan selamat sebelum akhirnya melakukan serangan balik langsung di markas utama Leonora.
"Jendral Deniana Leonora, aku peringatkan kepadamu untuk mengembalikkan anakku saat ini juga atau akibatnya akan sangat fatal," ucap seseorang bersuarakan pria dari sebuah ruangan yang biasanya menyiarkan pengumuman/pemberitahuan.
"Tidak akan Gerald dimanapun kau berada!!" sahut Deniana sambil berlari menuju ruangan yang kemungkinan tempat Gerald saat ini berada.
Cassandra bingung dan kemudian memberanikan dirinya untuk bertanya sambil terus berlari mengikuti irama dari Deniana menuju ke ruangan yang dituju mereka, "Mama, apa maksud orang itu?" tanya Cassandra padanya.
"Aku tak punya waktu sekarang, Cass. Kita harus bergegas atau kalau tidak-!"
*DOR*
Dari arah depan Deniana seseorang dari kegelapan ruangan menembakkan dari arah dekat sebuah peluru dari senapan gentel yang digunakannya sehingga Deniana yang tertembak langsung terlempar beberapa meter dari tempatnya.
"Uhuk!" Ia memegangi perutnya yang tengah mengeluarkan banyak darah karena tembakan dari jarak dekat tersebut.
Cassandra yang melihat itupun langsung berhenti dan memegangi ibu angkatnya itu. Ia kemudian menatap tajam ke arah sang penembak itu dengan perasaan yang begitu marah setelah mengetahui identitasnya.
"Aku sudah membiarkanmu kabur tapi kau mau membunuh mamaku!!" teriak Cassandra sambil mengarahkan senapannya kepada pria yang bernama Gerald itu.
Lagi-lagi rasa sakit di kepalanya kembali lagi namun kali ini rasanya jauh lebih sakit daripada sebelumnya. Perlahan tapi pasti, ingatan masa lalunya kembali. Semuanya tentang identitas aslinya serta identitas dari Gerald.
"Ellie, ini aku, ayahmu!" ucap Gerald sambil berusaha mendekati Cassandra namun digagalkan oleh Lionel yang menembak ke arah kakinya tetapi disengajakan meleset dari kakinya.
"Jangan.Mendekat." Lionel menatap tajam Gerald agar dia tak sesekali melangkahkan kakinya mendekati Cassandra.
"Ayah?" ucap Cassandra lalu berdiri dari posisi duduknya menunduk di depan Gerald.
"Iya, aku adalah ayahmu, Ellie," ucapnya sekali lagi berusaha untuk meyakinkan Cassandra.
"Jangan dengarkan dia, letnan/Cassandra!!" ucap Lionel dan Deniana bersamaan.
Cassandra yang sebelumnya menurunkan senapannya kemudian dengan cepat menaikkan senjatanya kembali lalu menembakkan 3 peluru ke tempat yang sama saat Gerald menembak Deniana.
"Ellie?" Gerald kaget melihat darah dagingnya itu tak ragu-ragu menembakkan 3 peluru ke perutnya dengan tatapan marah dan jijik.
"Kau mungkin ayah kandungku tapi kau..KAU SAMA SEKALI TAK PERNAH MENCARIKU!! Walaupun mama bukanlah orangtua kandungku, tapi setidaknya ia menyayangiku serta merawatku lebih dari apapun. Tidak sepertimu, DASAR PEMBOHONG!!" Cassandra kemudian hendak menembakkan peluru senapannya lagi demi mengakhiri hidup dari orang yang merupakan ayah kandungnya itu.
"TUNGGU! DENGARKAN PENJELASANKU!!" teriak Gerald sebelum akhirnya di kepalanya menancap 3 peluru yang ditembakkan anaknya sendiri.
Tangannya langsung gemetar sesaat setelah membunuh ayahnya itu dan akhirnya senapan yang dipegangnya terjatuh ke tanah begitu juga dengan dia sendiri. Lionel ingin beranjak ke arah Cassandra namun wanita 25 tahun itu memerintahkannya untuk pergi darisana membawa ibunya ke markas lainnya untuk diobati sebelum Deniana kehilangan nyawanya. Mau tidak mau ia menuruti perintahnya karena perintah yang keluar dari mulut seorang jenderal dan letnan adalah hal yang mutlak dan tak boleh ditentang.
"Aku benar-benar..malu karena memiliki ayah kandung sepertimu.." ucap Cassandra sebelum akhirnya mengambil kembali senapannya dan berlari pergi dengan uraian air mata memenuhi wajahnya.
~•~
"Lio, tolong cari keberadaan Cassandra.." pinta Deniana sambil menggenggam tangan Lionel.
Sebelum sempat menjawab permintaan dari Deniana, terdengar dari arah markas suara ledakan yang sudah pasti menghancurkan seisi markas tanpa bersisa. Hal ini membuat keduanya terkejut dan sontak menatap ke arah markas utama Leonora yang sudah terbakar.
"CASSANDRA!!" Deniana berusaha untuk memberontak saat tim medis hendak membawanya masuk ke dalam ambulans.
"Tidak..putriku..!" Isak tangis Deniana seketika pecah dan membuatnya bekerja sama ketika tim medis memasukkannya ke dalam ambulans. Lionel hanya bisa menahan tangisnya karena rekannya itu kemungkinan sudah mati saat markas utama Leonora meledak lalu terbakar.
Sampai sebuah siluet wanita yang begitu mirip dengan Cassandra terlihat keluar dari kobaran api dan membuat Lionel menatap kaget ketika akhirnya orang yang keluar darisana itu adalah benar Cassandra.
Lionel langsung berlari kepadanya dan menariknya dalam pelukan. Walaupun sekeliling mereka begitu bising dengan suara orang-orang, bunyi api yang perlahan membakar markas, dan lainnya, Cassandra mendengar jelas kalau Lionel menangis tapi berusaha untuk tetap menahannya karena seorang mayor jenderal tak boleh menunjukkan sisi lemahnya.
Cassandra menepuk pelan punggung Lionel demi menenangkannya agar tak lagi menangis seperti itu namun hal itu sia-sia karena tangisannya semakin keras tapi untungnya yang lain tak memerhatikan.
"Aku tak akan mati hanya karena hal kecil seperti itu, Lio," ucapnya mengulangi kata-kata Lionel sebelumnya dengan bentuk lainnya yang membuat pria di pelukannya itu tertawa bercampur tangis.
~The End~