"(...Bau apa ini? bau ini sangat menyengat... membuatku ingin muntah...)"
Pikir seorang gadis yang tergeletak pingsan di pinggir jalan. Tidak ada angin tidak ada hujan, gadis itu tiba-tiba saja tergeletak pingsan tidak berdaya.
Anehnya kedua tangan gadis itu penuh dengan darah, tapi ia tidak mengalami sakit sedikitpun.
Beberapa menit ia tergeletak pingsan, gadis itu kemudian tersadar, tapi setelah ia sadar, ia terkejut dengan sesuatu.
"Hah! Dimana aku?! Kenapa aku tidur di jalan?! Tunggu sebentar... Jam berapa sekarang?!" Ucap gadis itu panik.
Saat ia ingin memeriksa jam tangan yang ia pakai, ia tiba-tiba sangat terkejut setelah melihat kedua tangannya yang berlumuran darah.
"HAH...!!! Apa ini? Apa ini darah?! Aneh... ini bukan darahku! Aku tidak merasa sakit. Apa yang sebenarnya sudah terjadi?!"
Gadis itu sangat syok melihat kedua tangannya yang berlumuran darah itu, tapi ia mencoba berpikiran positif. Ia berpikir bahwa yang ditangannya itu bukanlah darah melainkan bekas tumpahan cat.
Walaupun sudah mencoba berpikiran positif, tangannya tetap gemetaran. Tangannya gemetaran saat ia ingin melihat waktu pada jam tangannya.
Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Gadis itu terheran-heran. Ia bingung karena tiba-tiba berbaring di sebuah jalan yang sepi.
Tidak ingin semua pertanyaan di pikirannya mengganggunya, ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Gadis itu pun pergi meninggalkan tempat itu dengan berlari.
Sesampainya di rumah, gadis itu pun langsung mengunci pintu rumahnya dengan rapat dan langsung mencuci tangannya sampai benar-benar bersih.
Karena sudah terlalu syok dengan apa yang telah dialaminya, ia pun langsung merebahkan diri di atas kasurnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Gadis itu hanya bisa menangis karena syok sampai-sampai ia ketiduran.
.
.
.
Keesokan harinya di pagi hari, ia pergi ke luar rumah. Ia melakukan aktivitas sehari-harinya seperti biasa untuk menghilangkan kecemasannya.
Ia membuang sampah di pagi hari seperti biasa. Saat ia sedang membuang sampahnya di depan rumah, ia sangat terkejut melihat sekumpulan orang yang berlarian ke arah taman yang tidak jauh dari rumahnya.
Karena penasaran, ia pun pergi mengikuti orang-orang yang berlarian ke arah taman itu.
Saat sudah sampai betapa terkejutnya ia melihat ada sebuah garis kuning polisi yang berada di sekitar taman di dekat rumahnya itu.
"Harap tenang semuanya. Mohon untuk tidak terlalu dekat dengan TKP!" Ucap seorang polisi yang berada di taman.
Karena penasaran, gadis itupun memberanikan diri untuk bertanya kepada salah seorang polisi yang sedang berjaga di sekitar TKP.
"Maaf pak, apa yang sedang terjadi di sini?" Tanya gadis itu.
"Di taman ini baru saja terjadi pembunuhan." Ucap petugas polisi itu.
"A... APA?! Pembunuhan?! Kapan terjadinya itu?" Ucap gadis itu dengan panik.
"Iya itu benar. Jika dilihat dari kondisi jenazah, kira-kira waktu kejadian, sekitar pukul 12 malam. Sudah! Hanya itu yang bisa saya beritahu. Ini adalah tugas kami. Untuk lebih jelasnya kami harus melakukan autopsi. Tolong anda mundur sedikit! Anda terlalu dekat dengan TKP!"
Ucap polisi itu tegas
Gadis itu pun langsung terdiam dan langsung mundur menjauhi garis polisi. Baru selangkah ia mundur menjauhi garis polisi, gadis itu tiba-tiba terkejut melihat jenazah yang hendak dimasukkan ke dalam kantong jenazah itu.
"HAH!!! Tunggu pak!" Ucap gadis itu terkejut sampai-sampai ia menerobos garis polisi.
"Hei Nona! Dilarang menerobos garis polisi!"
"GINAAA!!!" Teriak gadis itu panik.
Ternyata mayat gadis itu adalah pemilik kafe tempat ia bekerja, gadis itu bernama Gina.
"Gina!!! Tidak!!! Hiks... HUAAA..!" Ucap gadis itu menangis histeris.
"Nona. Apa anda kenal dengan gadis ini?" Tanya seorang polisi yang hendak membawa mayat Gina.
"I... iya hiks... Dia adalah pemilik kafe tempat aku bekerja... hiks..." Ucap gadis itu sambil menangis.
"Gina... Kenapa kau pergi begitu cepat begini...? hiks... Pak polisi... hiks siapa yang pertama kali menemukan mayat Gina...? hiks..."
Tanya gadis itu sambil menangis sesenggukan.
"Seorang wanita yang mengaku pernah menjadi pelanggan di kafe." Ucap polisi itu.
"Nona... Apa anda tahu... kira-kira siapa yang anda curigai sebagai pelaku pembunuhan bos anda? Atau seseorang yang mungkin pernah berselisih dengan korban?" Tanya polisi itu.
Gadis itu begitu terkejut setelah ditanya oleh polisi, ia pun mencoba mengingat-ingat siapa saja orang yang pernah berselisih dengan Gina.
"Jika tidak salah, kemarin sore, Gina bertengkar dengan bibi yang menemukan jasad Gina dan setelah itu, Gina bertengkar dengan pacarnya, Jack." Ucap gadis itu.
Gadis itupun memberi tahu lokasi keberadaan Jack pada polisi, kemudian gadis itu pergi ke kantor polisi dengan seorang wanita yang menemukan jasad Gina di taman.
.
.
.
*Di kantor polisi.
"Korbannya bernama Gina. Usianya 30 tahun. Ia adalah seorang pemilik kafe yang berada di depan taman dan kalian bertiga yang ada hubungannya dengan korban, menjadi tersangkanya.
Rika, pegawai kafe yang bekerja di kafe Gina. Jack, pacar korban yang sempat bertengkar dengan korban. Terakhir, ada Nyonya Sandra yang sempat berselisih dengan korban."
Ucap seorang polisi yang membaca catatan keterangan mereka betiga.
*Brak! (Nyonya Sandra menggebrak meja.)
"Jangan bercanda! Kenapa aku juga menjadi tersangkanya?! Sudah jelas kan, jika aku hanya menemukan mayat gadis sial*n itu! Lagipula bukankah mereka berdua lebih bisa menjadi tersangkanya, karena ada hubungan dengan korban?"
Ucap wanita itu dengan nada emosi.
"Memang benar, mereka juga bisa menjadi tersangkanya, tapi anda juga bisa menjadi tersangkanya Nyonya Sandra! Saya mendengar keterangan dari teman anda yang kemarin pergi bersama anda ke kafe.
Ia bilang, kemarin anda protes kepada korban karena perlakuan korban yang kasar dan tidak ramah pada anda." Ucap polisi itu.
"Apa? Hanya karena itu? Bukankah sudah sewajarnya jika pelanggan protes karena perlakuan pemiliknya yang tidak menyenangkan?"
"Teman anda juga mengatakan, jika anda sempat menamparnya."
"I... itu... Ta... tapi kemudian... Gadis sial*n itu malah menyuruh pegawainya untuk mewakilinya untuk minta maaf!" Ucap Nyonya Sandra dengan terbata-bata dan malah menunjuk tangannya ke arah Rikka.
"Apa? Apakah itu benar Nona Rika?" Tanya polisi.
"Ah! I... iya... Gi... Gina menyuruhku untuk menawakilinya minta maaf pada setiap pelanggan yang sudah diperlakukan tidak sopan dan ramah olehnya." Ucap Rika yang menunduk gemetaran.
"Hah! Benarkan! Dia juga bisa menjadi pelakunya! dengan alasan karena kesal sudah dipermalukan oleh bosnya sendiri. Aku juga melihat secara langsung, bagaimana bos nya memperlakukan pengawainya dengan kasar dan semena-mena.
Buktinya kemarin saja, aku melihat bosnya memaksanya untuk berlutut menggantikannya meminta maaf. Ahahahaha! Sungguh memalukan! Benarkan?" Ucap Nyonya Sandra yang mencoba untuk memojokkan Rika.
"Itu tidak benar!" Ucap Rika yang mencoba membela diri.
"Sudah cukup! Sekarang aku ingin mendengar penjelasan dari anda Tuan Jack." Ucap polisi yang menatap ke arah Jack.
Jack yang merasa ditatap, langsung berkeringat. Tubuhnya pun bergetar hebat. Polisi yang melihat ekspresi cemasnya, langsung menaruh curiga kepada Jack. Ditambah, kedua tangan pria itu terus berada di kantong celananya.
"Tuan Jack. Kenapa anda terlihat gugup? Kenapa anda terus menyembunyikan kedua tangan anda di kantung celana anda?" Tanya polisi itu.
"I... itu..." Ucap Jack terbata-bata.
Karena menolak untuk mengeluarkan kedua tangannya, Jack pun diperiksa secara paksa.
"Tuan Jack! Anda tidak kooperatif! Periksa kantongnya cepat!"
"Siap pak!"
"Tidak tunggu!"
Kantung celana Jack pun diperiksa, betapa terkejutnya semua yang berada di ruangan melihat isi dari kantong celana Jack.
Karena tidak menurut bujukan polisi, isi kantong celana Jack pun diperiksa dengan paksa, karena terus melawan, barang-barang yang dari kantong celananya pun keluar.
Isi yang keluar dari kantong celananya adalah sebuah sarung tangan bewarna hitam, sebuah pisau kecil dengan sarungnya, ponselnya.
Ponselnya pun langsung diperiksa oleh polisi. Saat diperiksa, polisi melihat ada sebuah percakapan yang bernada ancaman.
Ancaman itu tertuju pada Gina yang saat itu sedang ber chattingan dengan Jack.
"Tuan Jack. Apa semua ini? Apakah anda tadi berniat untuk menghapus pesan-pesan ancaman yang anda tujukan pada korban?!"
Jack hanya terdiam. Kakinya terus gemetaran. Ia pun kemudian berlutut dengan berurai air mata dan langsung mengakui perbuatannya.
"Ini semua karena perempuan itu! Dia memaksa ku untuk menikahinya. Padahal kami sudah lama putus dan aku sudah bertunangan dengan orang lain! Karena aku tidak mau menikahinya, ia mengancam akan menyebar foto-foto dan video ketika kami berpacaran... Kepada tunangan ku!
Aku sudah lelah mendengar semua ancamannya! Kemudian di jam 12 malam saat ia pulang bekerja, aku memintanya untuk bertemu di taman. Lalu... aku... membunuhnya..." Ucap Jack yang terus menangis karena menyesali perbuatannya.
Benar saja saat polisi membuka sarung pisau kecil milik Jack, terdapat bekas darah milik Gina yang sudah mengering.
.
.
.
Kasus pembunuhan Gina pun telah selesai. Rika dan Nyonya Sandra pun kembali ke rumahnya setelah melakukan pemeriksaan.
Namun, ada satu hal yang mengganggu pikiran Rika. Ia masih teringat dimana kedua tangannya yang berlumuran darah dan kenapa ia bisa tergeletak pingsan di jalan yang sepi.
Karena kelelahan dengan semua kejadian yang sudah dialaminya, ia pun memikirkan hal yang membuatnya janggal sampai tertidur.
Saat tertidur lelap, Rika bermimpi. Ia bermimpi melihat kejadian saat Gina ditusuk oleh Jack. Tidak lama setelah Jack melarikan diri, Rika melihat Gina yang ternyata masih hidup, meminta tolong pada Rika.
"Ri... Rika... Tolong aku..." Ucap Gina yang menahan rasa sakit di perutnya setelah ditusuk oleh Jack.
Bukannya menolongnya, Rika malah menginjak tangan Gina dan mengambil sebuah ranting yang terjatuh di samping Gina. Kemudian... Rika pun menusuk Gina berkali-kali di bagian perut dimana terdapat luka tusuk yang sebabkan oleh Jack.
Tangan Rika pun berlumuran darah. Setelah puas membunuh Gina yang sudah mempermalukannya. Rika pun berlari, ke arah sungai di dekat taman itu.
Setelah dirasa tidak ada saksi, Rika pun membuang ranting pohon itu dan segera berlari menjauhi TKP.
Karena berlari terlalu kencang, ia pun terselandung batu. Karena terjatuh cukup kencang setelah terselandung batu, Rika pun tergeletak pingsan di jalan. Persis dengan kejadian yang ia alami setelah sadar dari pingsan.
Karena mengira itu adalah sebuah mimpi dan bukanlah ingatannya... Rika pun tersenyum melihat Gina yang sudah tergeletak tak bernyawa. Rika pun bergumam dari tidurnya.
"Pffft... Hihihi... Syukurlah gadis Sial*n itu sudah mati! Mmm... Sungguh... Mimpi... yang indah..."
*TAMAT.....