Senja. Peristiwa dimana sang surya mulai tenggelam dan langit mulai dihiasi goresan jingga, merah, dan keemasan. Sebuah pemandangan yang cocok untuk menjadi penenang bagi semua orang, kecuali seorang gadis cantik yang kini sedang duduk di taman sambil menikmati pemandangan matahari tenggelam itu dengan perasaan gelisah dan rindu yang teramat dalam. Tracylia Merisca Prayudha adalah namanya. Seorang gadis cantik yang memiliki sepasang mata berwarna merah delima, berambut panjang berwarna silver dan ujung rambutnya yang berwarna biru samudra dengan hidung mungil nan mancung serta kulitnya yang seputih susu, membuatnya bak boneka cantik yang hidup. Risca kini sedang menikmati waktu senja kesukaannya sambil memikirkan seseorang yang teramat dia cintai.
"Risca?" sahut seorang pemuda tampan yang mulai berjalan ke arah Risca dari belakang
Risca menoleh ke belakang dan terkejut tatkala dia melihat sosok pemuda yang dia tunggu - tunggu selama 1 tahun penuh ini. Kemudian tanpa basa basi Risca langsung berlari ke arah pemuda tampan itu lalu memeluknya dengan erat.
"Hiks... Ryan aku sangat merindukanmu" ucap Risca sambil menangis dalam pelukan pemuda itu a.k.a Ryan
"Aku juga sangat merindukanmu Risca" ucap Ryan yang semakin mempererat pelukannya
Pemuda itu bernama Ryan Anggara, pemuda tampan bermata coklat hazelnut, berambut hitam legam dengan hidung mancung serta kulitnya yang sawo matang, dan tatapannya yang dingin nan datar mampu membuat tiap orang yang melihatnya akan berpikir dua kali untuk mencari masalah dengannya, akan tetapi dengan penampilannya kini tidak ada gadis yg tidak akan terpesona dengan kharismanya.
"Sudahlah Risca... kau jangan menangis lagi, hatiku sakit melihatmu menangis seperti ini" ucap Ryan sambil menghapus air mata Risca dengan ibu jarinya
"Ba-baiklah Ryan..." ucap Risca mulai berhenti menangis
"Ayo kita duduk sini sambil menikmati pemandangan senja yang sangat indah ini, kau pasti tidak ingin melewatkannya bukan?" tanya Ryan sambil tersenyum manis ke arah Risca
"Iyaa, aku sangat tidak ingin melewatkannya" jawab Risca
Lalu mereka berdua duduk di salah bangku taman, menikmati pemandangan senja yang membuat mereka bisa bersatu hingga saat ini sambil mengingat semua kenangan indah mereka.
Flashback on...
Matahari terbit dan tersenyum ramah kepada para awan yang mulai bergerak kesana kemari. Suara kicauan burung yang bernyanyi dengan merdunya menambah suasana pagi yang indah ini.
"Risca ayo bangun... kau tidak mau terlambat di hari pertama masuk kampus barumu, bukan?" ucap bunda Risca yang mencoba membangunkan gadis cantik yang masih asik tidur di kasur king sizenya
"Iyaa bundaa... Risca sudah bangun inii" ucap Risca dengan suara serak khas orang baru bangun tidur
"Nahh bagus, sekarang kamu pergi ke kamar mandi dan ganti baju, setelah itu turun ke bawah untuk sarapan bersama" ucap bunda Risca lalu pergi dari kamar Risca
"Baik bundaa" ucap Risca yang mulai bangun lalu melakukan semua yang di perintahkan bundanya
"Selamat pagii putri ayah yang cantik" sapa ayah Risca
"Pagi juga ayah hehehe" ucap Risca
"Abang kemana, yah?" tanya Risca
"Abang kamu ada shift pagi, jadi udah berangkat daritadi" jawab ayah yang sedang membaca koran
"Ohh gitu" ucap Risca
Mereka lalu sarapan bersama dengan tenang. Setelah sarapan, Risca pergi ke kampus barunya. Saat sampai di kampus, bel masuk berbunyi dan semua mahasiswa mulai masuk ke kelas masing² begitu pula dengan Risca.
"Baiklah semua kita sepertinya kedatangan teman baru nih, ayo masuk dan perkenalkan dirimu" ucap dosen
Risca mulai memasuki ruang kelasnya.
"Namaku Tracylia Merisca Prayudha, biasa di panggil Risca, salam kenal semua" ucap Risca
"Baik sekarang kamu duduk di sebelah Ryan yg duduk di belakang itu ya" ucap dosen sambil menunjuk ke arah mahasiswa yg bernama Ryan itu
"Baik pak" ucap Risca lalu pergi duduk di sebelah Ryan
Kelas pun akhirnya di mulai sampai akhirnya waktu pulang tiba.
"Yahhh hujann... untung tadi aku bawa payung hehehe" gumam Risca lalu mengambil payung yang dia bawa di tas nya
Risca mulai berjalan pulang karna jarak kampus dan rumahnya yg tidak terlalu jauh, jadi dia lebih memilih berjalan. Tapi tak lama kemudian ada seorang pemuda yang berjalan mendahuluinya tanpa memakai payung yang membuat seluruh baju dan tasnya basah terkena air hujan yang lumayan deras. Dengan cepat Risca menyusul pemuda itu dan berbagi payungnya.
"astaga kenapa kau tidak memakai payung? Lihatlah sekarang baju dan tas mu basah kuyup, ayo kita berteduh disana" ucap Risca lalu menarik tangan pemuda itu tanpa tau siapa pemuda yang tengah dia tarik untuk berteduh itu
"lo... Risca si anak baru tadi kan?" tanya pemuda itu dgn nada datar
"iya kok tau... astaga! Kamu Ryan kan?" ucap Risca terkejut
"Hmm ya, gue Ryan makasih udah mau bagi payung sama gue tadi" ucap Ryan dgn nada datar
"Iyaa sama² hehehe" ucap Risca sambil tersenyum manis
Deg
Deg
Deg
"Ini kenapa jantung gue berdegup lebih kenceng? Apa gue udah mulai suka ama nih cewe? Tapi... ga mungkin lah, gue aja baru ketemu sama nih cewe tadi pagi" Batin Ryan
Mereka berdua terus bercanda ria sampai hujan pun mulai reda dan matahari mulai menampakkan dirinya di balik awan yang terlihat berwarna orange bersinar terang menandakan sudah waktunya senja.
"Eh udah reda hujannya... kalo gitu aku balik dulu yaa, byee" ucap Risca mulai pergi dari tempat itu
"Risca... Gue masih belum yakin apa gue bener² suka atau sekedar nyaman sama lo, tapi bakal gue terus cari arti tentang perasaan ini" gumam Ryan sambil memandang kepergian Risca dan kemudian mulai berjalan pulang ke rumahnya
Sejak hari itu Risca dan Ryan selalu bersama baik suka maupun duka, saling mendukung satu sama lain dan tanpa disadari mereka memiliki hobby yang sama, yaitu sama² menyukai indahnya pemandangan senja.
Hingga suatu hari, Ryan akhirnya memanggil Risca untuk bertemu dengannya.
"Jadi Ryan mau ngomong apa?" tanya Risca
"Aku... harus pergi ikut papa dan mama pergi ke London karna ada urusan keluarga disana dan mungkin aku akan berada disana untuk satu bulan..." ucap Ryan dgn nada lesu
"Hey jangan lesu gini dong, mana Ryan yang dingin nan datar pergi hmm?" ucap Risca mencoba menghibur Ryan
"Tapi aku tidak ingin berpisah denganmu..." ucap Ryan sembari memeluk erat Risca
"Aku juga tidak ingin tapi kau harus mengikuti kedua orang tuamu. Kau tenang saja, aku akan selalu menunggumu disini" ucap Risca membalas pelukan Ryan
"Hmm baiklah terima kasih kalau begitu aku pulang dulu, selamat tinggal Risca" ucap Ryan lalu pulang ke rumahnya
"Ku harap cintaku tidak bertepuk sebelah tangan dan ku harap kau segera kembali, Ryan Anggara" gumam Risca menatap sendu punggung Ryan yg mulai menjauh
Selama satu bulan itu Ryan dan Risca tidak pernah bertemu, akan tetapi mereka selalu bertukar kabar setiap hari. Terkadang ada banyak masalah yang dihadapi Risca saat Ryan tidak ada. Anak - anak di fakultasnya kadang membuat gosip kalau Ryan di London sudah memiliki tunangan/pacar, Ryan sudah menikah, dll. Walaupun terkadang gosip itu membuat hati Risca bimbang tapi dia selalu berusaha untuk berpikiran positif tentang Ryan yang kini berada jauh darinya.
Risca sekarang sedang berada di rumahnya sambil asik membaca buku novel di senja yang indah ini. Tiba - tiba handphone Risca berbunyi dan tertera nama Ryan disana.
"Halo Ryan" ucap Risca
"Apa anda kerabat korban?" tanya seseorang yg pastinya bukan Ryan
"Iya ada apa ya?" tanya Risca khawatir
"Pemuda ini mengalami kecelakaan beruntun dan sekarang korban sudah dalam larikan ke rumah sakit" ucap orang itu
Deg!
Jantung Risca berdegup kencang ketika mendengar Ryan mengalami kecelakaan.
"Hah?!! Dia masuk rumah sakit mana??" tanya Risca semakin khawatir
"Dia dilarikan ke rumah sakit Permata, anda bisa kesana untuk menemui korban" ucap orang itu
"Baiklah terima kasih" ucap Risca lalu menutup telponnya
"Rumah sakit Permata? Itu kan rumah sakit tempat bunda bekerja, semoga saja bunda yang mengatasi Ryan" batin Risca
Risca sekarang sudah sampai di rumah sakit Permata dan langsung menuju ke UGD. Tak lama kemudian keluarlah bunda Risca dengan pakaian dokternya.
"Bunda, apakah bunda yang menangani Ryan?" tanya Risca khawatir
"Iyaa dan sekarang bunda akan ke orang tua Ryan untuk meminta persetujuan operasi" ucap bunda Risca
"o-operasi?!!" ucap Risca terkejut
"Iyaa... Karna akibat kecelakaan beruntun tadi, tulang tengkorak Ryan retak terus tangan kanan dan kedua kaki Ryan patah jadi harus segera di operasi" jelas bunda Risca
"Apakah aku bisa ikut dengan bunda untuk menemui orang tua Ryan?" tanya Risca
"Ayo, kau boleh ikut" ucap bunda Risca
Mereka berdua lalu menemui ortu Ryan untuk meminta persetujuan operasi Ryan.
"Mama..." ucap Risca yang mulai menangis di pelukan mama Ryan
"Sabar yaa Risca... Ryan itu anak mama yang kuat, dia pasti bisa selamat dan kembali lagi bersama kita" ucap mama Ryan sembari menepuk - nepuk perlahan pundak Risca untuk menguatkannya
"Mama juga yang sabar yaa... Pasti rasanya sangat sakit saat mama mendengar kabar Ryan kecelakaan" ucap Risca
"Iyaa tapi mama tau kalau Ryan pasti bisa melewatinya, jadi kita harus tetap sabar dan terus berdoa kepada Tuhan agar Ryan selamat" ucap mama Ryan
"Iyaa ma..." lirih Risca
Operasi pun dimulai. Selama hampir 5 jam mereka menunggu operasi Ryan, sampai akhirnya bunda Risca keluar setelah mengoperasi Ryan selama 5 jam.
"Operasi Ryan berjalan lancar akan tetapi karna benturan keras di kepalanya, membuat dia koma dalam kurun waktu yang belum pasti" ucap bunda Risca lalu menunduk
Saat mendengar berita itu kaki Risca langsung terasa lemas dan akhirnya terduduk di lantai.
"Ryan..." lirih Risca
Air matanya mulai turun membasahi pipi gembul Risca. Di dalam setiap air mata yang turun, terdapat kenangan - kenangan indah saat Risca dan Ryan bersama. Meskipun belum mempunyai status resmi, tapi mereka berdua sudah seperti pasangan sehidup semati yang tak terpisahkan. Risca lalu menoleh ke arah mama Ryan yang juga menangis dalam diam sambil dirangkul papa Ryan untuk menguatkannya. Perlahan Risca bangun dan memeluk erat mama Ryan.
"Mama yang kuat yaa... Risca tau, Ryan pasti bisa melewati ini semua. Sekarang kita harus terus berdoa kepada Tuhan agar Ryan bisa cepat sadar dan kembali lagi ke kita" ucap Risca menenangkan mama Ryan
"Iyaa... Makasih karna selama ini kamu udah mau menemani Ryan baik suka maupun duka, Risca" ucap mama Ryan membalas pelukan Risca
Setelah kejadian itu Risca menjadi lebih pendiam. Jarang sekali dia tersenyum kepada orang lain seperti dulu. Tapi saat bersama keluarganya dan orang tua Ryan, Risca akan menjadi periang seperti dulu.
1 tahun kemudian....
Seorang gadis cantik berambut silver kini tengah duduk sambil menikmati pemandangan senja yang sangat indah. Udara sejuk yang menerpa wajahnya sedikit membuat beberapa helai rambutnya berkibar, menjadikannya bak lukisan indah yang hidup. Tapi sorot matanya menampakkan kesedihan dan kerinduan yang teramat dalam. Burung - burung yang lewat dan menyapanya pun tidak dia hiraukan. Dia menatap matahari tenggelam itu sendu. Hidupnya terasa hampa. Tapi tiba - tiba ada sebuah suara memanggilnya. Suara yang sangatlah dia rindukan selama setahun ini. Dia menoleh ke belakang dan terkejut lalu mulai berlari ke arah pemilik suara itu kemudian memeluknya dengan erat.
Flashback off...
Sang surya kini benar - benar sudah kembali ke rumahnya yang kini menyisakan langit jingga keemasan yang indah.
"Risca..." sahut Ryan
"Iya Ryan, ada apa?" tanya Risca
Ryan berdiri lalu berjongkok di hadapan Risca.
"Tracylia Merisca Prayudha... maukah kau menjadi istriku, pendamping hidupku, ibu dari anak - anakku, dan selalu bersama denganku hingga akhir hidupku?" tanya Ryan sembari membuka sebuah kotak yang berisi cincin dengan hiasan permata berbentuk bulan di hadapan Risca
Jantung Risca berdegup kencang. Peristiwa ini adalah yang selalu dia impi - impikan selama ini. Dengan perasaan mantap dia mulai menjawab pernyataan Ryan.
"Iya aku mau menjadi istrimu, pendamping hidupmu, ibu dari anak - anakmu, dan selalu bersama denganmu hingga akhir hidupmu, Ryan Anggara" jawab Risca dengan mata berkaca - kaca menahan haru dan perasaan bahagia di dalam hatinya
Ryan yang mendengar itu langsung memeluk erat Risca. Kemudian dia mulai memasangkan cincin permata bulan tadi ke jari manis Risca. Setelah itu mereka kembali berpelukan dengan perasaan bahagia penuh suka cita. Sang Senja pun ikut gembira karna telah menjadi saksi bukti cinta mereka berdua yang dari awal bertemu hingga ketika maut hampir memisahkan mereka berdua. Semua kenangan mereka di masa lalu hingga masa kini selalu di temani oleh Sang Senja yang kini tengah tersenyum lembut ke arah mereka berdua.
~TAMAT~