Hembusan napas keluar dari hidungku. Seharian ini aku benar-benar lelah dengan semua pekerjaanku. Aku bekerja di sebuah tempat bimbingan belajar sebagai seorang pengajar. Aku bekerja dari pagi hingga sore hari. Ada banyak kelas di sini dan aku memegang empat kelas dalam sehari.
Hari sudah larut dan anak-anak sudah pulang ke rumah masing-masing. Memang kelas baru saja selesai, tetapi aku tidak bisa langsung pulang. Aku harus mengerjakan pekerjaan lain, yaitu menilai hasil belajar anak-anak. Kebetulan tadi aku memberi mereka beberapa soal yang harus dikerjakan untuk mengukur sampai mana kemampuan mereka.
Aku berjalan menyusuri lorong yang sudah sepi seorang diri dengan membawa tumpukan kertas jawaban. Sebenarnya masih ada satu jelas yang belum selesai pembelajaran. Ternyata mereka juga sedang mengerjakan soal. Guru yang mengajar mereka sempat menyapaku tadi.
Aku sampai di ruang guru, hanya ada aku di sini. Sepertinya guru yang lain sudah pulang terlebih dulu. Kuletakkan kertas itu di atas meja dan aku berjalan keluar menuju mesin minuman otomatis yang ada di depan ruang guru. Namun sesampainya di sana, ternyata mesin itu sedang rusak.
Alhasil, aku harus turun. Saat ini aku membutuhkan kafein agar mataku tetap mau terbuka. Jadi, mau tak mau aku membawa langkahku menuruni anak tangga menuju mesin minuman yang ada di lobby. Memang cukup jauh dan cukup menguras energiku. Namun, apa boleh buat. Semuanya demi terselesaikannya pekerjaanku hari ini dan aku bisa pulang ke rumah tanpa memikirkan tanggungan apa pun.
Aku sudah sampai di depan mesin minuman itu. Kumasukkan selembar uang ke dalam mesin itu dan kupilih salah satu minuman yang ada di sana. Kupilih merek kopi yang sering kuminum jika sedang ngantuk berat.
"Lho? Kenapa nggak keluar?" tanyaku mengernyit.
Minuman yang kubeli tidak keluar dari mesin itu. Sudah kurogoh bagian bawah mesin itu, tempat di mana seharusnya minuman itu keluar. Namun, aku tidak menemukan apa pun di sana.
"Astaga, kenapa hari ini sial banget," ucapku mendengus sebal.
Sudah jauh-jauh turun, ternyata mesin di bawah juga rusak. Namun, mengapa tidak ada keterangan bahwa mesin itu rusak? Sepertinya besok aku harus komplain ke petugas.
"Mau saya bantu, Bu?" tanya seseorang tiba-tiba muncul mengagetkanku.
Aku menatap anak itu, sepertinya dia adalah salah satu anak didikku. Namun, aku lupa siapa namanya. Anak laki-laki yang sangat tinggi, bahkan aku harus mendongak saat hendak melihat wajahnya. Dilihat dari wajahnya, dia seperti anak kuliahan. Mungkin dia mendaftar bimbingan untuk mendaftar kuliah. Itu yang kupikirkan setelah melihat wajahnya.
"Kamu bisa memperbaikinya?"
Anak itu mengangguk dan dia berjalan menuju sebelah mesin. Kuperhatikan gerak-geriknya dengan dahi berkerut. Mau diapakan mesin itu? Apakah dia benar bisa memperbaikinya?
BRAK!
Aku melotot mendengar bunyi nyaring itu. Namun, tidak lama ada bunyi lain yang menyusul. Anak itu kembali muncul dan berjongkok, merogoh sesuatu.
"Ini, Bu," ucap anak itu memberikan dua kaleng kopi padaku.
"Eh? Bagaimana bisa?"
"Sstt, ini rahasia kita. Mesinnya memang harus ditendang kalau macet," ucapnya menaruh jari telunjuknya di mulut.
☕☕☕