"Apakah kamu masih memikirkan kisah yang dulu?" tanya lembut Sheila pada Zain.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Zain tersenyum tipis tanpa sadar air mata menetes membasahi pipinya.
***
20 Tahun yang lalu ketika Zain karim genap berusia 14 tahun, Ia bertemu seorang gadis kecil yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Sepertinya lirik yang ini kurang pas," ujar Zain diatas pohon bermain dengan gitarnya menulis sebuah lirik lagu.
Diusia yang terbilang cukup muda, Zain adalah pria yang sangat menyukai dunia seni.
"Ya malah turun gerimis lagi," pekik Zain tetap menikmati suasana sore hari.
Ketika asik menciptakan syair lagu baru, petikkan gitar tersebut terhenti kala bola mata Zain menatap lurus seorang wanita belia berlarian seorang diri keluar dari dalam mobil penuh tawa di bawah rintihan gerimis senja.
Zain tersenyum cukup lama akan hal tersebut. Lamunnanya dengan pasti membuat rasa dalah hati yang belum pernah ia kenali.
Dengan sigap Zain menuruni pohon tersebut, mengendap mengintip memperpendek jarak begitu dekatnya.
"Pak, Aku pesan ciloknya satu ya," jelas gadis belia tersebut.
"Iya neng, bentar ya," sahut bapak penjual cilok.
Zain berjalan mendekat memantapkan tekadnya untuk berkenalan.
"Pak, Aku juga pesan satu ya."
"Oke, tunggu bentar ya."
"Kamu bawa gitar begitu, emang bisa mainnya?" tanya gadis tersebut melirik Zain.
"Bisa, kamu mau denger? Nih aku mainin."
Zain memainkan beberapa lagu romantis, namun hal tersebut tak membuat gadis belia bahagia mendengarnya.
"Apa hebatnya bermain jika itu bukan lagu kamu?" pekik gadis tersebut.
"Aku malu, kalaupun aku bisa, pasti hasilnya jelek," balas Zain.
"Ini dek ciloknya," sahut bapak penjual cilok memberikan pada gadis tersebut.
"Makasih ya pak." Tersenyum anggun.
Setelah menerima cilok, gadis tersebut hendak berlari kembali. Namun langkahnya terhenti berbalik arah memandang Zain.
"Oh iya hampir lupa. Saran aku buat kamu, jangan pernah malu dengan apapun yang akan kamu lakukan. Berbangga dirilah jika kamu berbeda dari kebanyakan lelaki lainnya," ujar gadis tersebut tersenyum ceria.
Senyum Zain yang tadinya pudar, kembali seiring dengan semangat gadis belia tersebut.
"Baiklah, nantikan aku ketika sukses di dunia musik ya," balas Zain kembali bersemangat.
"Oke."
Ketika gadis belia tersebut perlahan mulai pergi menjauh...
"Aku Zain." Teriak Zain melambaikan tangan.
Terhenti berbalik arah, "Dinda."
Perkenalan singkat Zain tersebut membuat sisi lain dalam hatinya menggebu penuh semangat hingga akhirnya setelah 10 tahun kemudian, keduanya bertemu kembali dalam satu acara yang sama.
Meski gugup, Zain memainkan gitar sekaligus menyanyikan lagu ciptaannya sendiri dengan sangat merdu.
Keduanya saling menyapa ketika Dinda mengetahui bahwa Zain menjadi penutup acara tersebut.
"Sepertinya aku kenal kamu," ucap Dinda ketika Zain menuruni pentas acara.
Zain menaikan sebelah alisnya bingung akan peryataan wanita yang berada tepat di hadapannya.
"Kamu lelaki yang pernah menunjukan gaya bermain gitar padaku dulu bukan?" lanjut Dinda tersenyum tipis.
"Dinda?" balas Zain semringah.
Waktu berlalu dengan cepatnya, keduanya menjalin kasih yang terus menuntun menuju janji teramat suci.
Namun takdir berkata lain, Dinda yang telah mengidap kanker dari kecil, harus kehilangan nyawa tepat di hari bahagianya bersama Zain.
"Saya terimah nikah dan....."
Brukk...
"Sayang....Sayang....Sayang!!!!!!"
Dinda yang terkapar jatuh tak sadarkan diri membuat Zain panik sejadi-jadinya. Meski dengan sigap membawa Dinda kerumah sakit, namun nyawa Dinda tak lagi tertolong.
Bahkan hingga saat ini, Zain telah menutup hati begitu dalam.
"Bukan aku tak ingin membuka kembali hati ini. Namun, terlalu indah bagiku tuk menggantikan namamu di sisi."
Air mata zain kembali terjatuh kala ia mengusap lembut nisan Dinda.
***
"Maaf, aku harus segera pulang." Zain bangkit berdiri meninggalkan Sheila.