Siapa pun bisa tersenyum, tapi tidak semua orang benar-benar tulus. Adakalanya seseorang tersenyum hanya untuk menutupi sakit hati dan kemarahannya.
Dan itulah yang aku lakukan selama 10 tahun ini. Tersenyum pada orang lain hingga aku tidak bisa membedakan yang mana perasaanku yang tulus dan yang mana yang tidak.
Ah, memangnya aku pernah tulus tersenyum? Rasanya tidak.
"Key!" Seseorang memanggilku. Aku pun menoleh pada seorang perempuan berambut merah sepinggang. Dia adalah seorang kolega ibu yang usianya tidak terlalu jauh denganku.
"Ya?" sahutku sambil tersenyum.
"Astaga, kau sangat tampan sekali. Aku sangat iri sekali."
"Iri?" tanyaku heran.
Perempuan itu menghela napasnya. "Aku ini terlahir dengan wajah yang jutek. Sekalipun aku berusaha untuk tersenyum, itu hanya membuatku terlihat menakutkan."
Aku terdiam lalu memerhatikan ekspresi wajahnya. Benar apa katanya, dia adalah seseorang yang memiliki bawaan wajah yang cukup sinis meski dia tidak bermaksud untuk itu.
"Justru aku ingin memiliki wajah sepertimu," ucapku pelan.
"Eh?"
~Belum Selesai~
Support aku terus ya gaiss..
IG : @ilmalaila22