Dan akhirnya bangkrut juga. Perusahaan pariwisata yang kubuat secara diam-diam telah diketahui ayahku. Dengan teganya dia membuat para investor angkat kaki dan membuat tuduhan aktifitas ilegal.
Padahal aku adalah anaknya, tapi dia tidak berbelas kasihan padaku dan membiarkanku kedinginan semalaman di penjara.
"Kau sudah mengerti kan dengan kesalahanmu?" Suara beratnya terdengar lebih dingin dari lantai penjara.
Aku hanya diam. Tidak ada gunanya untukku berdebat dengannya. Dia tidak akan pernah mau mendengarkanku. Dia hanya ingin agar aku menjadi boneka yang bisa dikendalikan sesuka hatinya.
"Aaron." Dia memanggilku. Aku hanya duduk diam menatap lantai dengan kedua tanganku yang diborgol.
"Bawa dia," ucap ayahku pada kedua pengawal yang ada di belakangnya.
Aku menatapnya tidak percaya saat dirinya memalingkan muka dan pergi lebih dulu. Laki-laki itu, kupikir dia akan menendangku, tapi ternyata tidak. Apa yang sebenarnya dia inginkan?
Dengan sifatnya itu, apa mungkin dia sedang menahan diri di depan polisi? Ya, sepertinya begitu. Dia biasanya selalu marah dan berbuat kasar saat aku tidak menanggapinya.
Kedua pengawal itu membawaku pergi dengan paksa. Mereka adalah orang-orang yang sangat setia pada ayah dan mau melakukan apa pun meski harus ke neraka sekali pun.
Borgol yang ada di kedua tanganku kini lenyap saat aku sudah berada di rumah. Namun, rasanya sama saja. Aku merasa ada borgol lain yang tidak terlihat. Bukan hanya itu, aku pun merasakan tali kekang di leherku yang tidak terlihat.
Perasaan ini. Tekanan yang aku rasakan ini. Semua ini lebih buruk ketimbang berada di sel penjara secara real. Aku bagaikan burung dalam sangkar yang tidak pernah dibiarkan keluar oleh pemiliknya.
Ah tidak, burung masih bisa bernyanyi dengan kicauannya. Diriku ini lebih tepat untuk disamakan dengan boneka. Ya, boneka barbie laki-laki yang bisa dimainkan sesukanya.
"Aaron." Ayah memanggilku. Aku bisa merasakan tatapannya yang tajam padaku meski aku tidak melihatnya secara langsung.
"Ayah akan memaafkan perbuatanmu." Perkataannya ini bagaikan pisau yang mengikis kesabaranku. Aku sama sekali tidak bersalah. Aku hanya ingin melakukan apa yang memang aku inginkan. Aku pun punya harapan dan impianku sendiri.
"Jangan pernah berfikir untuk berbuat seenaknya lagi."
Sudah kuduga. Dia akan mengatakannya.
"Kau tidak perlu bersusah payah mengatur perusahaan. Kau cukup diam, bertingkah manis di depan publik, dan menikmati kekayaan yang telah kuberikan padamu."
Aku mendengarnya. Ini bukan kali pertama dia mengatakan hal ini. Sejak dulu dia selalu mengaturku. Dari mulai sekolah, pendidikan, waktu makan, busana, dan segala hal.
Aku bahkan tidak diperbolehkan memilih temanku sendiri. Dia hanya akan menyuruhku berteman dengan seseorang yang akan menguntungkan bisnisnya.
"Bersihkan dirimu dan bersiaplah. Sebentar lagi ada tamu penting yang harus kau temui," ujar ayahku tegas.
Tamu.
Ternyata itu alasannya kenapa dia sampai saat ini tidak memukulku. Dia ingin memperlihatkan pada orang lain kalau boneka hidup miliknya ini sangat sempurna dan tanpa celah.
"Kau mendengarkanku, kan?" Suaranya menggelegar. Dengan berat hati, aku hanya mengangguk dan bangkit dari sofa. Bergegas melakukan apa yang dia minta.
Beberapa jam telah berlalu dan tamu penting yang dikatakan oleh ayah telah datang. Dia adalah wanita paruh baya yang penampilannya sangat anggun dan terhormat. Dia adalah istri gubernur.
Apa yang dia lakukan di sini? Kerjasama apa yang sebenarnya dilakukan oleh ayah?
Ayahku menggerakkan tangannya. Para pengawal pun bergegas keluar dari ruangan. Hanya tersisa aku, ayah, dan istri gubernur.
"Berdirilah nak." Ayahku memberiku perintah. Aku enggan, tapi tatapan matanya yang setajam pisau itu membuatku tetap melakukannya.
"Ternyata lumayan tampan juga." Istri gubernur itu tersenyum padaku.
"Sudah kubilang kan. Apa kau menyukainya?" suara ayahku terdengar sangat ramah dan riang.
"Lepaskan bajunya," ujar sang Istri gubernur yang seketika membuatku terhenyak.
Aku? Melepaskan bajuku? Apa dia ingin melihatku tanpa busana?
"Aaron!" Seruan ayahku ini terdengar menggelegar. "Lepaskan semua bajumu sekarang."
Aku terdiam dalam ketidakpercayaan. Kenapa aku harus melakukan hal ini?
"Aaron!" Ayah membentakku sekali lagi.
Aku mendecih dan mulai membuka pakaianku satu demi satu hingga hanya tersisa celana pendekku. Wanita tua itu mengamatiku dari ujung kepala hingga ujung kaki layaknya scanner.
"Lepaskan lagi. Aku harus memastikan semuanya." Perkataan lembut wanita itu terdengar bagaikan sebuah tembakan yang bisa membuat jantungku berhenti berdetak. Ini gila.
"Aaron, kau dengar kan apa yang dikatakan nyonya?" tanya ayahku yang lebih terdengar seperti perintah. Aku terdiam sesaat, tapi kemudian hanya mengangguk dan melakukan apa yang diminta.
Di usiaku yang baru beranjak 24 tahun ini. Aku memang memiliki banyak sekali kemewahan, tapi kini aku berdiri tanpa mengenakan sehelai kain pun. Seolah kemewahan itu telah lenyap dariku.
Atau... Sejak awal aku memang tidak memiliki apa pun? Bahkan untuk hal paling pribadi pun tidak.
Wanita itu diam. Dia tidak mengatakan apa pun lagi selain memperhatikan setiap inchi tubuhku.
"Baiklah ini sudah cukup." Wanita itu tersenyum lalu bangkit berdiri. "Persiapkan dia dengan baik malam ini."
"Tentu saja nyonya. Kau bahkan boleh membawanya sekarang kalau kau mau." Jawaban ayahku ini terdengar sangat enteng sekali. Apa dia memang selalu mengatakan hal ini pada orang lain? Terdengar seperti menjual anaknya sendiri.
Wanita itu pergi diantar ayahku dan aku kembali memakai pakaianku yang terasa menjijikan.
Aku tidak ingin hidup seperti ini. Adakah seseorang yang bisa mengeluarkanku? Ah, apa mungkin ada? Aku meragu sambil memandang langit cerah yang ada di balik kaca.
Kaca itu...
Kaca itu tiba-tiba saja pecah karena lemparan sebuah batu yang cukup besar. Aku bahkan dapat mendengar suara nyaringnya.
Beberapa orang berbaju hitam dengan senapan masuk ke dalam ruangan. Mereka menodongkan senjatanya padaku. Namun, entah kenapa aku tidak merasa takut sama sekali.
"Jangan bergerak atau kau kubunuh," ujarnya dengan suara yang berat. Beberapa kawannya yang lain berpencar ke tempat lain.
Aku tersenyum. "Ya, bunuh aku saja."
Tatapan mata para penjahat itu kini berubah. Mereka mungkin menganggapku aneh.
"Baiklah kau itu ma-" perkataannya disela oleh kawannya.
"Dia anak presdir, bawa saja dia. Kita bisa membunuhnya nanti kalau kau mau."
Laki-laki yang menodongkan senjatanya itu melirik kawannya dengan sudut matanya. Ada kilatan senang di matanya.
"Aku tidak akan melawan. Kalian boleh memanfaatkanku untuk menguras kekayaan ayahku. Aku pun akan memberitahukan segala hal yang ingin kalian tahu," ujarku.
"Tapi kalian harus memastikanku tidak akan kembali ke rumah ini. Aku sudah tidak ingin menjadi anaknya," tandasku tanpa ada keraguan sama sekali.
Kedua laki-laki bersenjata itu menatapku dengan lekat seolah mempertanyakan apa isi kepalaku.
"Setuju." Terdengar suara lain dari arah jendela. Seorang laki-laki yang berbadan lebih tegap dan memancarkan aura yang kuat.
"Ko-komandan?!"
Aku tersenyum. Kali ini senyumku bukanlah sebuah kepalsuan. Aku senang karena harapanku telah terjawab secepat ini.
~SELESAI~
Support aku terus ya gaiss..
IG : @ilmalaila22