Harapan itu apa? Apa dia pernah ada? Bila memang ada, aku ingin harapanku untuk mati bisa terwujud. Hidup terlalu menyesakkan, aku ingin mati secepat mungkin. Namun, harapanku ini tidak pernah terwujud.
"HAHAHAHA." Aku hanya bisa tertawa sekencang yang kubisa hingga aku terbatuk beberapa saat.
Tidak ada yang sedang melucu, tidak ada juga seseorang yang berperan sebagai badut. Tidak ada channel televisi yang menyala.
Tidak ada.
Hanya ada aku sendiri menertawakan kehidupanku yang terlalu lucu. Saking lucunya hingga darah terus mengalir dari pergelangan tanganku. Menetes membasahi lantai tanpa rasa sungkan.
Aku telah melakukan hal ini untuk kesekian kalinya, tapi mengapa aku masih tidak mati juga? Kilatan cahaya dari serpihan kaca botol di lantai seolah menertawakanku.
"Kau pikir ini lucu, hah?!" Aku melotot bersamaan dengan gemelutuk gigiku yang saling beradu.
"Dasar tidak berguna," cecarku.
Napasku tersenggal dan dadaku terasa sangat sesak sekali. Perih di pergelangan tanganku bukan hal baru, tapi tetap saja terasa mengganggu tiap kali aku menggoreskan serpihan kaca itu di kulitku.
Seluruh badanku kini terasa lemas dan mataku juga mulai mengabur. Badanku pun tersungkur dengan sendirinya ke lantai dan pengelihatanku berubah menjadi sangat gelap.
Gelap.
Aku sama sekali tidak takut dengan kegelapan. Aku bahkan terbiasa dengan kegelapan itu sejak tiga tahun yang lalu. Ya, tiga tahun sejak sidang skripsiku yang mendebarkan dan menyesakkan.
Samar-samar dapat aku ingat senyumannya yang begitu manis itu dan juga kata-katanya padaku.
...Pergilah denganku malam ini. Kau pasti senang. Aku sangat mencintaimu...
Aku ingin pergi. Aku sangat ingin pergi dengannya. Aku bahkan sudah mempersiapkannya dari jauh hari. Aku sangat menantikannya kala itu, tapi semuanya sia-sia. Dunia seolah tidak menginginkanku pergi bersamanya.
KREKK
Aku dapat mendengar derik pintu meski aku tidak bisa melihatnya.
"Ya Tuhan... Kenapa kau terus saja seperti ini, Alex?" Suara itu terdengar bergetar campur kesal. Aku tahu siapa pemilik suara itu. Dia adalah orang yang sangat aku benci. Dia adalah orang yang melarangku pergi malam itu hingga mengikatku di tiang listrik dan menjadi tontonan warga sekitar.
Aku sangat membencinya meski pada kenyataannya aku berasal dari rahimnya. Ah, aku bahkan tidak pernah berharap menjadi anaknya. Anak kedua dari tiga bersaudara yang selalu berada di kamar gelap dengan kaki yang dipasung.
"Kau harusnya tidak seperti ini." Perempuan paruh baya itu terisak. Seandainya saja badanku tidak lemas, aku ingin memakinya hingga urat leherku putus.
Aku mendengar suara derap langkah lain memasuki ruangan ini. Semakin terdengar semakin membuatku pusing hingga akhirnya aku tidak sadarkan diri.
**
Aku mengerjapkan kedua mataku sebelum benar-benar bisa melihat apa yang ada di sekitarku dengan jelas.
Baju tidur bergaris abu ini, perban di pergelangan kiriku ini, tirai yang tinggi disekitarku ini, dan selang infus yang menempel di tangan kananku ini... Semua ini membuatku sadar kalau diriku sedang berada di rumah sakit.
Aku mendengar suara dengkuran di sampingku. Ya, aku dapat melihat kakak laki-lakiku tertidur sambil duduk di kursi.
"Padahal kalian menganggapku sampah, tapi kalian tetap bertingkah seolah-olah peduli. Menjijikan," lirihku tajam sambil bangkit perlahan.
Aku mencabut selang infus di tanganku hingga membuat darah mengucur. Terasa perih, tapi aku tidak ingin peduli. Aku harus pergi dan menyusul perempuan itu.
Ya, aku harus menyusul dia yang sangat aku cintai dan juga mencintaiku. Aku yakin dia masih setia padaku meski waktu telah berlalu cukup lama.
Aku berjalan cepat lorong rumah sakit. Hampir semua orang yang melihatku dengan tatapan kaget. Beberapa berusaha menghentikanku berjalan, tapi aku menepisnya kasar.
Aku harus pergi. Aku harus pergi sekarang juga. Aku...
Aku terkesiap melihat seorang perempuan yang menghadang jalanku. Meski begitu, kakiku masih terus berjalan dan semakin berjalan lebih cepat ke arahnya.
"Hey kau, apa yang akan kau lakukan?" Perempuan itu mundur satu langkah saat aku meloncat untuk memeluknya.
"Ack!?" Perempuan itu jatuh terduduk bersamaan dengan diriku yang memeluk pinggangnya.
"Kau pergi untuk menjemputku kan?" tanyaku sambil berlinang air mata. "Iya, kan?"
"Hah? Apa maksudmu?" Perempuan itu menatapku dengan retina mata biru yang bergetar.
"Astaga, tanganmu! Kau harus segera diobati."
"Tidak!" Aku menggeleng. "Aku kuat kok. Ayo kita pergi sekarang. Kau bilang kau akan membuatku senang."
"Kau bicara apa?!" Aku mendengar nada keterkejutan juga kebingungan.
Wanita ini, kenapa dia bertingkah seolah dia melupakan diriku? Kenapa dia bisa setega itu padaku? Apakah dia lupa dengan semua kecupan dan pelukan hangat itu? Mengapa dia seperti ini?
"Qiqi, kenapa kau pergi sendiri? Kenapa kau melukaiku seperti mereka? Kenapa Qiqi?" tanyaku sambil mencengkram kedua bahunya.
"Qiqi?" Mata perempuan itu memancarkan ketidak percayaan, tapi aku tahu kalau dia hanya berbohong.
"Aku bukan Qiqi," elaknya dengan nada kesal.
"Qiqi." Aku mencengkramnya makin erat hingga badanku tiba-tiba merasa dingin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku kembali limpung ke lantai sambil menatapnya dengan mata berembun.
Kenapa seperti ini? Kenapa orang yang selama ini aku pikirkan tega melupakanku? Apa hidupku benar-benar lucu hingga terus dipermainkan seperti ini?
Aku tidak mau seperti ini. Aku ingin bersama Qiqi. Aku ingin pergi sejauh mungkin bersamanya. Aku hanya ingin dia. Aku tidak peduli dengan benar atau salah. Aku ingin dia.
Aku kembali membuka mataku. Aku masih berada di rumah sakit, tapi aku tidak sendiri. Ada sepasang manusia paruh baya yang menatapku. Kakak laki-lakiku pun masih berada di sini.
"Alex, kau tidak boleh seperti itu. Meski pun wajahnya mirip, tapi dia bukan Qiqi. Jangan membuatnya kesulitan," tegas wanita paruh baya yang seharusnya aku panggil ibu.
Aku hanya diam. Aku tahu semua orang berbohong. Aku tahu kalau perawat itu adalah Qiqi. Bagiku dia Qiqi.
"Permisi." Sebuah suara lembut terdengar. Semangatku terpatik saat mengetahui kalau perawat yang datang adalah Qiqi.
"Qiqi, aku tahu itu kau," ucapku dengan semangat. Namun, keluargaku menjadi murung. Aku tahu, mereka pasti tidak akan pernah suka melihatku bahagia.
"Aku di sini akan melakukan beberapa pengecekan saja." Perempuan itu tersenyum pada keluargaku.
"Kami minta maaf suster," ujar kakakku.
"Tidak apa. Mungkin ini bisa membuatnya lebih baik," jawabnya lembut.
"Suster, kau baik sekali." Ibuku tiba-tiba saja terisak dan ayahku mencoba menenangkannya dengan menepuk pundaknya.
"Alex." Kali ini perawat itu melihatku. Qiqi melihatku sambil tersenyum. Ah, aku sangat merindukan senyumannya yang hampir hilang dalam ingatanku.
"Qiqi."
"Sepertinya kita akan sering bertemu. Jangan nakal dan patuhi semua peraturan yang ada. Oke?" Perawat itu menatapku dengan lekat hingga membuatku jantungku berdetak dan entah mengapa terasa sangat hangat.
"Qiqi, aku ingin menciummu," ujarku yang seketika membuat keluargaku melotot.
"Haiss." Perawat itu menggelengkan kepalanya masih sambil tersenyum. Jemari tangannya mengentuh kepalaku dan dia mengusapnya dengan lembut. Sangat lembut hingga membuatku nyaman.
"Aku hanya akan melakukan ini selama kamu tidak nakal," ucapnya yang terasa bagai rantai yang mengikat leherku dengan colarnya. Meski begitu, aku menerimanya selama itu Qiqi. Apa pun akan aku berikan demi Qiqi.
**
Setelah beberapa hari, aku kini diperbolehkan berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit meski harus bersama tiang infusan yang selangnya masih tertancap di lenganku.
Aku berjalan menuju taman seorang diri sambil memperhatikan sekitar. Aku tidak ingin mataku terluput melihat keberadaan Qiqi. Aku ingin bertemu dengannya.
Bibirku terangkat secara otomatis saat melihat sang perawat sedang duduk di bangku taman dengan muka menunduk. Aku juga melihat seorang laki-laki berjas putih yang disebut dokter besar pergi meninggalkannya.
Apa yang telah terjadi? Apa yang telah dilakukan di brengsek itu hingga membuat Qiqi murung? Segera saja aku menghempaskan tiang infusan hingga selangnya terlepas dan berlari menuju tempat Qiqi berada.
"Qiqi," panggilku dengan nada bergetar.
"Alex?!" Perawat itu terkejut. Matanya semakin melotot saat melihat darah di tanganku.
"Qiqi? Apa laki-laki tadi yang membuatmu sedih? Aku akan membunuhnya untukmu," ucapku sambil meraih jemari tangan Qiqi dan menatapnya lekat.
"...." Sesaat perawat itu terdiam dan hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Qiqi, ayo kita pergi. Kau tidak perlu berusaha membuatku senang. Biar aku saja yang berusaha untuk membuatmu senang." Aku menatapnya dengan dalam.
Sebuah lekukan muncul dari sudut bibirnya. Dia kemudian terkekeh dengan ekspresi yang sangat manis.
"Tidak apa Alex. Aku tidak apa-apa." Perawat itu mengusap kepalaku dengan lembut. Aku suka dengan caranya mengusap kepalaku. Ah, aku suka Qiqi.
"Qiqi, aku punya hadiah untukmu," kataku sambil tersenyum lebar dan merogoh saku celanaku.
CRING
Aku menaruh beragam perhiasan dari mulai kalung, gelang, cincin, dan juga berlian di tangan Qiqi.
"A-apa ini? Ini punya siapa Alex?" tanyanya dengan tangan gemetar.
"Aku sama sekali tidak mengerti. Biasanya Qiqi akan sangat senang dan memintaku mengambil lebih banyak perhiasan," jawabku bingung.
"Mengambil? Kau mencuri ini dari siapa?" Dia menatapku lekat.
"Kau kan pernah menyuruhku untuk mengambil semua perhiasan dari semua orang. Mau itu ibuku atau orang lain, kau menyuruhku begitu," jelasku.
"Qiqi, sepertinya kamu hilang ingatan. Apa sesuatu telah terjadi padamu saat kau jauh dariku? Siapa yang melakukannya? Aku akan menghabisinya sekarang juga." Tanganku mengepal.
"Tidak, Alex."
"Qiqi?"
Perawat itu menghela napas. "Kembalikan semua perhiasan ini. Aku tidak memerlukannya."
"Tapi Qiqi..."
"Kau tidak ingin jadi anak nakal kan?"
Aku menggeleng. Aku pun memasukan kembali semua perhiasan ke sakuku. Meski sebenarnya aku tidak akan mengembalikannya. Aku pikir suatu saat nanti ingatan Qiqi akan kembali dan dia akan lebih mencintaiku seperti dahulu.
**
Malam ini hujan turun. Petir menggelegar begitu nyaring. Aku bangkit dari kasurku dan beranjak pergi. Aku tahu Qiqi tidak suka petir. Aku akan melindunginya. Aku akan melindungi Qiqi apa pun yang terjadi.
Langkah kakiku kini terhenti di sebuah ruangan yang bertuliskan kamar mayat. Kilatan cahaya petir membuatku tahu kalau Qiqi ada di sini. Dia sedang berdiri di hadapan seorang dokter laki-laki yang terkapar di lantai.
"Aku sudah muak. Kau pantas untuk mendapatkannya." Tangan perawat yang bergetar membuat pisau bedahnya yang berlumuran cairan merah jatuh ke lantai.
"Qiqi..." Aku berjalan mendekatinya lalu memeluknya dari belakang.
"Qiqi, aku ada di sini. Kamu jangan takut," ucapku tepat di telinganya.
Perlahan badan perawat yang semula bergetar karena takut kini jauh lebih tenang. Aku pun melepaskan pelukanku.
"Alex..." suaranya terdengar pelan.
"Iya?"
"Aku jauh lebih baik daripada Qiqi yang ada di masa lalumu. Jadi, tolong panggil aku Lilith. Kalau kau melakukannya, aku akan membawamu pergi." Perawat itu menatapku tanpa ada keraguan sedikit pun.
Apa aku tidak salah dengar? Dia ingin membawaku pergi? Akhirnya harapanku yang sudah lama terkubur bisa terkabul juga.
"Aku akan pergi saat ini juga bersamamu, Lilith," ucapku sambil tersenyum tanpa ada ragu sedikit pun.
~SELESAI~
Support aku terus ya gaiss..
IG : @ilmalaila22