Di suatu hari yang sama seperti biasanya terdapat
siswa yang akan mengikuti ujian akhir semester yang akan
dilakukan dalam beberapa hari kedepan yaitu aku, anak SMP
kelas 3 semester 6 yang biasa-biasa saja.Setiap hari aku selalu
rajin belajar, tetapi aku tak terlalu pandai. Sampai-sampai aku
sering dikatain-katain seperti “jangan belaga belajarlu, sok-
sokan pinter doang hahahah” ucap anak yang selalu
mengejekku. Sebenarnya, aku tak begitu peduli mengenai
ejekan itu, toh mereka mengatakan fakta.Tetapi walau
kenyatannya memang begitu setidaknya aku masih cukup
memiliki beberapa teman yang bisa menjadi teman layak
umumnya.
Di hari Senin, aku berangkat sekolah, namun aku tidak
berangkat bersama teman-temanku, ya… karena rumahku itu
sangat jauh dari sekolah dan alasan lainnya adalah rumah
teman-temanku juga sangat jauh jaraknya dari rumahku.
Akupun segera bergegas kesekolah mengingat ada bimbel hari
ini. Setelah menghabiskan 3 tahun disekolah ini dari kelas 1
aku pun sadar bahwa ternyata sangat jauh jarak yang
ditempuh dari rumah ke sekolah.Terkadang akupun sempat
merasa sedih ketika aku diantar-jemput dengan ayahku
“Kenapa ya.. , baru kepikiran sekarang kalau jarak rumah ke
sekolah itu jauh banget” bukannya aku tidak bisa kesekolah
sendirian, tapi orang tuaku itu hanya punya dua motor
dirumah, dan kedua motor tersebut juga sering dipakai untuk
keperluan orang tuaku.
Setelah sampai kesekolah aku segera pergi kekelas dan
bergegas membuka buku untuk belajar. Terkadang, aku juga
sering menyapa kalau biasanya ada temanku yang baru masuk
kelas. Dalam mata pelajaran meskipun aku tidak begitu pintar
setidaknya aku bisa mengumpulkan tugas tepat waktu
walaupun nilaiku tidak begittu bagus.
Waktu jam-jam belajar aku sering berpikir “Mau
ngelanjutin SMA kemana ya?”dalam keadaan tersebut , aku
juga sering merasa sedih kalau suatu saat aku tidak lulus dari
SMP ini mau ditaruh mana muka orangtuaku.Setelah kelas
sudah usai akupun bergegas menuju gerbang sekolah, yang
dimana ayahku sudah menungguku disana. Setelah aku
menemukan tempat ayahku menunggu akupun bertanya “yah,
udah lama nungguin atau belum?” dengan senyumannya
ayahku menjawab “Nggak kok , baru aja ayah dateng”.Aku
turut sedih jika mendengar perkataan itu, sejujurnya aku
sudah melihat beberapa kali ayahku datang lebih awal
setengah jam dari jam jemputku,tetapi pada saat itu aku tidak
bisa langsung keluar melainkan aku menunggu beberapa
menit dahulu baru keluar dari gerbang. Aku melakukan hal
tersebut bukan karena ingin membebani ayahku yang sedang
menunggu, tetapi aku hanya ingin membuat ayah tidak
berpikir bahwa aku telah mengetahui jika ayah datang
setengah jam lebih awal dari waktu jemput.
Sesambil dibonceng dibelakang ayah terlintas suatu
kalimat diotakku “Kira-kira setelah lulus mau masuk ke SMA
mana ya?” kalimat tersebut terlintas lagi dan lagi diotakku
yang membuatku sedikit sedih setiap saat untuk menentukan
jalan hidup kedepannya. Dirumah aku punya seorang adik, aku
dan ayahku merencanakan untuk membeli beberapa makanan
ringan untuk diberikan ke adikku yang menunggu
kepulanganku bersama ayahku. Sesampai pulang dari sekolah
akupun membuka pintu dan mengucap ”Assalamualaikum” dan adikku yang tengah sedang menonton televise tersebut
mengucap “Waalaikumsalam” mengingat dengan adikku yang baru pulang dari sekolah satu jam lalu dan sekarang dia sedang menonton televisi. Aku segera memberikan dia makanan ringan yang aku belikan tadi bersama ayahku sebagai balas bagi rasa letihnya sembari menunggu kepulanganku.
Pada malamnya aku sudah membulatkan tekad untuk belajar sebagai kebutuhan ujian akhir semester yang diadakan beberapa hari kedepan. Pada waktu itu juga aku mulai belajar dengan serius dan lebih serius. Aku sampai tak tersadar karena aku belajar sangat serius sampai saat aku melihat jam dinding yang sedang menuju ke anak panah nomor sepuluh. Seketika ayahku bilang “Nak udah malem loh, tidur dulu belajarnya lanjut besok” aku yang sudah kecapean pun langsung menjawab “iya yah….” Dan akupun langsung membaringkan tubuhku yang merasa lelah tersebut ke kasur.
Beberapa hari telah berlalu dan ujian akhirpun telah tiba dan aku sudah menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk ujian. “Bisa gak ya dapet nilai setidaknya di atas 85” pikir aku yang saat itu sedang bersiap-siap sebelum ujian akhir semester.
Ruangan yang aku lakukan untuk ujian akhir tersebut memang benar-benar berbeda dari yang aku bayangkan, yaitu tempat duduk yang di acak dari kelas 7,8,9 semuanya benar-benar diacak. Disaat itu juga aku merasa seperti tersesat, tapi setidaknya aku bisa melihat salah satu temanku yang ditempatkan diruangan yang sama. Hari pertama ujian akhir semester, dengan datangnya mata pelajaran Matematika dan IPA sontak membuatku agak pusing. “Duh, ini nih mata pelajaran yang lumayan sulit” pikirku setelah melihat angka-angka yang bertaburan tak menentu arah kesana hingga kemari.
Setelah beberapa hari berlalu 14 mata pelajaran yang kupelajari sewaktu masih SMP akhirnya selesai. Dengan rasa yang gembira karena sudah mengerjakan ujian akhir semester tersebut aku berucap “Alhamdulillah….. “ dengan rasa lega.
Dua minggu berlalu dan akhirnya hasil dari ujian akhir semester tersebut sudah keluar dan hasil ujian tersebut akan ditampilkan di website dari sekolah.”Wah… kira-kira dapet nilai berapaan yah….” Terlihat dari mukaku yang tidak sabaran dan aku sebenarnya juga agak gelisah kalau nantinya aku akan mendapatkan nilai dibawah rata-rata.
Aku langsung membuka halaman website sekolah dan kulihat ranking dari setiap kelas, aku sibuk mencari tulisan kelas 9 dengan mencabang menuju ke kelas yang dipilih aku secara cepat memilih kelas G yaitu 9G dengan perasaan yang gak sabaran melihat tabel peringkat dari anak-anak yang berada di kelas 9G. Aku serta keluargaku sangat terkejut ketika melihat bahwa aku ada diperingkat ke-5 dengan rata-rata nilai 89 dari keseluruhan siswa 9G yang berjumlah 35. Aku tidak menyangka hal ini terjadi, padahal biasanya aku tidak mendapatkan peringkat. ”Apakah ini efek dari ketekunan belajar” gumamku, sontak hal itu membuatku merasa bahagia dengan tangisan tersedu-sedu.
Didalam chat grup whatsappku teman-temanku memberi selamat bagi yang mendapatkan sepuluh besar dan menghibur bagi siswa yang belum bisa meraih hal tersebut.
Selang satu bulan pengumuman peringkat dilaksanakan orangtuaku mendaftarkan diriku ke sekolah SMA yang lumayan favorit dengan nilai yang lumayan tinggi. Hal itu mengingatkanku kembali dengan masa-masa sulit ketika aku serius belajar dengan penuh kobaran api. Setelah aku berhasil menjadi murid di SMA itu aku membuat janji dalam diriku “Bahwa aku akan belajar dengan serius mengenai sesuatu dimasa depan, sesulit apapun itu dengan ketekunan dan doa” meskipun kamu berulang-ulang kali mengalami kegagalan ingatlah kamu bisa memberikan secercah cahaya kepada dirimu sendiri dengan ketekunan dan doa, aku yakin kita bisa meraih masa depan yang indah.