“Semua yang datang akan pergi, entah untuk sementara atau selamanya.”
~Syakila Anjani
Hai... Namaku Syakila, biasa disapa Syala oleh orang terdekatku, bingung nggak? Sama aku sendiri juga. Sekarang aku kelas 11 SMA, aku tinggal di Jakarta bersama kedua orang tuaku dan juga kakak ku. Disini aku akan bercerita, tentang kisah ku dan dia.
Namanya Raffan, sahabatku dari kecil hingga kelas 9 SMP. Kejadian itu memang sudah lama, sejak dua tahun yang lalu. Tepat pada tanggal dan bulan ini kita berpisah, berpisah untuk selamanya.
Raffan Zulfikar. Seorang cowok yang mampu membuatku tersadar, jika semua manusia pasti akan di jemput oleh ajal. Semua yang datang akan pergi, entah untuk sementara atau untuk selamanya.
Dan dia datang hanya untuk sementara. Sebentar, namun penuh dengan kenangan. Kenangan yang selamanya akan ku ingat meski dia telah tiada. Sebab itu aku membuat cerita ini, untuk mengingat saat-saat terakhirnya berada di dunia.
2 Tahun Yang Lalu
Jakarta, 14 Oktober 2019
Waktu itu hari Senin, Raffan dan aku saat pulang sekolah memutuskan untuk melipir sebentar ke warung Mpok Alim. Warteg yang berada di belakang sekolah. Waktu itu dia memaksa untuk membayar makananku, padahal biasanya kita membayar dengan uang sendiri.
Aku menolak, tapi dia tetap kekeh dengan keinginannya. Keinginan sederhana yang tidak bisa terwujud.
“Gue heran sama lo, dimana-mana orang dapat traktiran itu senang. Bukan malah ogah kayak, lo!” ucapnya mulai jengah dengan rengekan ku yang tidak jelas.
Jangan heran, kalau aku nggak mau di traktir, ya! Karena itu tandanya uang ku masih banyak, nah, kalau uangku masih banyak nanti di minta lagi sama Ibu. Jadi, mending aku habiskan saja uang itu, toh untuk bayar angkot masih cukup.
“Berani beda itu baik!” balasku, sedangkan dia memutar bola matanya malas.
“Ck, ayo dong, Sya! Gue pingin benget traktir lo,” pintanya dengan muka memelas yang membuatku tertawa.
“Nggak bisa, Raffan! Kapan-kapan aja, deh, kamu boleh traktir aku sepuasnya.” ucapku dengan santainya. Huuhhh … kalau bisa nih, ya, waktu itu aku nggak bilang kayak gitu.
“Kapan-kapan itu kapan? Gue keburu nggak ada kalau dengerin lo nyerocos terus!” ujarnya, yang membuatku hanya tertawa karena menganggap hal itu hanya candaan. Dan memang benar adanya, ucapan Raffan kali itu memang benar. Dia belum pernah men-traktirku, tapi dia sudah nggak ada.
“Ya … lain kali kalau aku udah nggak ada uang, kamu boleh traktir aku.” jawabku yang membuatnya mendengus.
Akhirnya kita menghabiskan makanan, lalu menaiki angkot untuk pulang. Dia tidak marah, karena aku tidak mau di traktir. Dia hanya kesal karena aku tidak mau menuruti permintaannya.
Di angkot kita masih bisa bercanda tawa, bernostalgia hingga dia berkata. “Nanti kalau kita pisah, lo jangan pernah lupain gue, ya?”
Aku heran, namun perkataan itu aku maknakan lain. Karena kita berdua telah menduduki kelas sembilan yang pasti akan melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Dan ada kemungkinan besar kita tidak satu sekolah.
“Siapa bilang aku bakalan lupain kamu? Kamu akan menjadi sahabat terbaik yang pernah aku miliki, Raffan Zulfikar!” ucapku ala-ala drama kolosal. Lalu kita tertawa bersama, tawa yang akan berakhir tangis duka.
Aku turun dari angkot, sedangkan Raffan masih harus naik angkot lagi untuk menuju rumahnya. Hari mulai sore, waktu yang paling aku tunggu, karena di waktu itu senja mulai menampakkan dirinya.
Biasanya waktu senja akan aku nikmati dengan berbincang-bincang dengan Ibu di teras samping rumah. Ibu memang suka mengajakku untuk bercerita dan bernostalgia saat aku masih bayi atau saat ibu masih remaja.
Tawaku pecah saat ibu memceritakam kisah cintanya dulu dengan Ayah. Rumah minimalis dengan satu lantai itu hanya ada dua orang, namun terdengar ramai hanya karena aku dan Ibu.
Tapi, itu hanya sekejap, sebelum terdengar suara hp ibu berdering. Itu Ayah. Ibu 'pun langsung mengangkat telfon, terlihat beliau berbincang-bincang sebelum akhirnya raut wajah ibu berubah. Ibu menangis tersendu-sendu, membuatku bertanya-tanya. Tapi, ibu tidak menjawab. Melainkan langsung memelukku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya diam dalam pelukan ibu. Sampai akhirnya beliau berkata, “R—Raffan kecelakaan, Sya!”
Boomm!
Hatiku teriris mendengar itu. Aku melepas pelukan ibu, tidak percaya dengan apa yang beliau katakan. Aku meraung, menyangkal fakta yang baru aku dengar. Tidak peduli dengan ibu yang terus menjelaskan kejadian yang menimpa Raffan.
Menangis seraya berteriak. Aku berlari ke kamar, memutuskan untuk mengurung diri. Terdengar ibu memanggil namaku seraya menggedor-gedor pintu yang aku kunci. Dan entah apa yang terjadi selanjutnya karena aku pingsan.
****
Kecelakaan yang di alami oleh Raffan terjadi, karena angkot yang kita tumpangi ditabrak truk tanpa muatan dari arah berlawanan. Di duga si sopir truk mengantuk, hingga terjadilah kecelakaan yang memakan dua korban, satu si sopir angkot dan satunya Raffan sahabatku.
Ayahku kebetulan lewat jalan dimana kecelakaan itu terjadi, dan kata Ayah waktu itu beliau pulang tidak hanya sendiri, melainkan bersama Om Fadli Ayah Raffan.
Ikhlas itu memang sulit, bahkan menurutku lebih sulit dari soal UN. Butuh waktu beberapa bulan hingga aku bisa ikhlas melepaskan Raffan. Waktu itu di tempat pemakaman saja, aku yang paling histeris menangis daripada ibu Raffan sendiri.
Aku yang paling tidak rela jika dia harus pergi, apalagi harus pergi untuk selamanya. Namun, perlahan aku mulai sadar. Sadar jika hidup tidak hanya tentang tawa, tapi juga tentang duka. Mereka akan senatiasa mengiringi perjalanan hidup kita sebagai manusia.
Iklhas mungkin berat, tapi tidak ada salahnya untuk kita coba. Dan selalu ingatlah sebagai manusia kita tidak akan pernah asing dengan kata hidup dan mati.
Raffan Zulfikar, sahabat kecilku. Yang akan selalu ku kenang meski dia telah tiada. Dia pergi bukan berarti duniaku berakhir, melainkan sebaliknya, duniaku mendapat tantangan baru, untuk belajar mengikhlaskannya.
Terima kasih Raffan. Karenamu aku tahu betapa berartinya seseorang yang hadir dalam hidup. Aku menjadi tahu, jika semua yang ada bersama kita saat ini akan pergi entah kapan, dan entah mereka pergi untuk kembali atau justru sebaliknya.