Memang benar jika ada yang berkata bahwa waktu tidak akan menunggu untuk lukamu sembuh. Seluruh rasa sakit yang kau terima dan yang kau rasakan akan selalu mendampingimu sampai kapanpun.
Sebenarnya Putri hanya penasaran akan satu hal, kenapa setiap anak tidak diperbolehkan membuat kesalahan? Bukankah anak terlahir sebagai kertas putih yang tidak tau apa-pa?
Putri tinggal di tempat dimana budaya "anak harus berbakti kepada orang tua" sangat dijunjung tinggi. Ya benar, orang tua kita memang sudah banyak berkorban untuk kita. Tapi haruskah kita menanggung beban yang dimiliki oleh orang tua kita? Tidak juga. Jika seseorang yang memiliki impian dan cita-cita kemudian tidak mampu mewujudkannya, orang itu cenderung akan meletakkan cita-cita itu pada anaknya dan memaksa sang anak untuk memenuhinya. Padahal bukankah anak juga harus memiliki mimpinya sendiri alih-alih menghabiskan waktunya untuk mewujudkan mimpi orang tuanya kemudian hidup dalam beban menjalankan apa yang tidak dia sukai.
Putri terlahir dalam keluarga yang memiliki status sosial yang tinggi. Ayahnya adalah seorang profesor di sebuah universitas. Dia adalah anak perempuan pertama di keluarganya. Sejak kecil Putri sudah disiapkan untuk menjadi versi terbaiknya. Dia sudah ikut les kesana kemari sejak kecil, selalu berusaha menjadi yang terbaik di kelas, hebat dalam berorganisasi, dan memiliki banyak keterampilan. Banyak yang memandang Putri aebagai seorang gadis yang sempurna walau secara fisik dia tidak tinggi. Putri pendek gemuk tpai orang bilang dia cantik dengan kedua pipi beeisi dan senyum tipisnya.
Putri hanya pernah membuat satu kesalahan saja, dia patah hati. Ya, Putri yang baru belajar mengenal cinta harus mengalami patah hati yang begitu menyakitkan. Hal itu membuat Putri kehilangan separuh dari kesadarannya. Putri yang sebelumnya selalu tertawa dan selalu ceria kini mulai berubah. Mungkin secara kasat mata dia seperti hidup tanpa beban. Dia masih sama, suka bercanda, suka tertawa dan ceria tetapi setiap malam dia menangis. Seorang diri dia mengubur kesedihannya sendiri.
Pernah sekali waktu Putri yang tidak lagi sanggup menahan kesedihannya datang pada orang tuanya. Niat hatinya hanya ingin berbagi pikiran. Dia tidak sanggup. Dia lelah, dia butuh pelukan sekarang. Tapi respon kedua orang tuanya berbanding terbalik dengan apa yang dia inginkan.
"Kamu itu sudah besar, kamu harusnya bisa menyelesaikan masalahmu sendiri," kata Ibunya.
Kalimat itu kemudian menghancurkan hatinya lebih dalam lagi. Hatinya jadi semakin remuk. Tapi apa dayanya? Putri harus tetap kuat berdiri. Dia harus tetap tersenyum apapun yang terjadi. Putri harus tetap hidup dalam masyarakat dan menutupi masalahnya dalam-dalam.
Semakin hari semakin remuk hidupnya. Pada akhirnya Putri sampai di titik terendahnya. Tangisannya semakin tidak terbendung. Semakin sensitif, dan mulai menarik diri hingga akhirnya hilang. Hari-harinya dihabiskan hanya untuk duduk berdiam diri di dalam kamarnya tanpa melakukan apapun. Dia bahkan menarik diri dari keluarganya. Tapi sekali lagi, Putri masih harus menampilkan senyum terbaiknya dimuka umum. Menutupi semua luka yang mulai membusuk di dalam dirinya. Dengan polesan make up dan pakaian yang beragam dia berusaha menutupi semua itu hingga suatu hari ada satu orang yang datang kepadanya.
Laki-laki itu bernama Setiaji. Setiaji datang tidak dengan kata-katanya seperti semua orang yang selalu datang padanya. Setiaji hanya datang dengan merentangkan kedua tangannya, membiarkan Putri masuk ke dalam pelukannya, menerima tangisannya, dan memberikan apa yang selama ini selalu Putri inginkan. Setiaji memberikan pelukan hangat itu kemudian membisikkan satu kalimat tepat disebelah telinganya, "Terima kasih kamu sudah bertahan."
Satu kalimat, hanya dengan satu kalimat dia berhasil membuat topeng yang dia bangun patah seketika, satu kalimat itu juga meruntuhkan tembok besar yang sudah dibangun Putri dengan susah payah.
Pada akhirnya Putri memiliki harapan baru. Menata hidup yang baru dengan orang yang baru. Saat ini Setiaji dan Putri sudah sama-sama bekerja, walaupun mereka bekerja di bidang dan ditempat yang berbeda tapi Setiaji dan Putri selalu berusaha meluangkan waktu untuk ngobrol.
2 tahun terlewat tanpa terasa, ketika akhirnya Putri menaruh harapan pada Setiaji dia akhirnya pergi. Dia akhirnya menemukan bahagianya bersama dengan gadis lain yang lebih baik dari Putri. Setiaji tinggalkan Putri seorang diri dibelakang sana kemudian meneruskan langkahnya bersama orang lain.
Putri akhirnya kembali jatuh dan kembali memakai topengnya lagi. Bertahun-tahun dia merasakan kesendirian tapi terus tertawa untuk menghibur orang lain. Putri terus hidup dalam kepura-puraan. Tidak lagi percaya kepada orang lain, tidak lagi menaruh harapan pada keluarganya, tidak lagi juga menantikan kehadiran seseorang. Dia memilih bertahan seorang diri. Menunggu sang waktu menggerogoti usianya dan malaikat maut akan menjemputnya. Tanpa semangat, tanpa motivasi, terus menahan topengnya dan terus mempertinggi tembok di hatinya. Bertahan menjaga jarak dengan orang-orang yang ditemuinya dan pergi setelahnya.