"Ayah...!!! Kenapa ini bisa terjadi, dimana para penjaga. Kenapa sampai kecolongan begini" teriak sang Putri ketika melihat ayahnya kehilangan kesadaran. Putri begitu panik hingga melupakan perjamuan yang diadakan oleh paman Kasim adik sang Raja.
"Jangan berdiri saja cepat panggil seluruh tabib kerajaan dasar pelayan bodoh!"
"Maafkan hamba tuan Putri."
"Sudah jangan banyak bicara lagi apa kau tak melihat ayahku terkapar di sini."
"Ayah," "Tolong bertahan lah sebentar tabib akan segera datang."
"Cepat minggir kalian semua!"
"Ada apa putri memanggil kami semua kemari?", "apa kami semua di undang untuk makan malam?"
"Hu-hu-hu-hu, apa mata kalian semua tertutup lihatlah sendiri keadaan ayahku!"
"Biarkan aku yang periksa! kalian semua perhatikan saja."
"Siap, ketua!"
"Ha, astaga! leher yang membiru, kelopak mata menguning, dan denyut nadi tak stabil. Sepertinya aku mengenali gejala ini."
"Jangan bertele-tele cepat katakan apa yang terjadi?"
"Clara yang tenang seluruh tabib istana tidak pernah gagal dalam mengobati seseorang."
"Hiks-hiks-hiks. Bagaimana aku bisa tenang paman padahal sebelum perjamuan ayah baik-baik saja."
"Sepertinya Raja terkena racun dari bunga lotus biru."
"Bunga apa itu?", "kenapa ayahku bisa terkena racunya?"
"Bunga tersebut adalah spesies bunga beracun yang biasanya tumbuh di daerah sekitar pegunungan."
"Bunga ini memang dikategorikan beracun tetapi jika di gunakan sedikit dalam ramuan herbal maka racun yang terkandung bisa di netralisir.
"Bunga ini sangat amat berbahaya jika di konsumsi dalam takaran yang berlebih."
"Aku mohon tabib segera menemukan obat penawar untuk kesembuhan ayahku."
"Baik!, tuan putri."
"Pimpinan saya ambil alih!, cepat Segera perintahkan beberapa prajurit untuk pergi ke gunung cermai dan mengambil bunga lotus merah untuk penawarnya sebelum matahari terbenam."
"Siap laksanakan!"
"Clara kamu di sini dulu ya, paman punya kenalan teman jauh," "ia adalah seorang petualang yang suka mengumpulkan tanaman herbal. Siapa tau dia punya bunga lotus merah," "kamu disini dulu ya ya jaga ayahmu."
"Iya, paman."
...
"Tok-tok-tok."
"Masuk!"
"Hei! rupanya kau Kasim lama tak jumpe," "bagaimana kabarmu," "Kau tampak semangat sekali, tumben-tumbennya kau mampir ke rumahku?"
"Heheheheh," "kabarku baik, sangat.. baik."
"Aku tak mau berlama-lama di sini, aku ada pekerjaan untukmu."
...
"Lapor! perdana mentri," "kami mendapatkan laporan bahwa seluruh prajurit yang di tugaskan tuk mencari bunga telah binasa," "tidak ada bekas sayatan atau bekas luka di tubuh tapi di mulutnya keluar busa hijau"
"Apa!" "kalian semua adalah prajurit kebanggaan kerajaan," "kenapa hal sepele seperti ini bisa-bisanya menimbulkan korban."
"Padahal arah rute sudah di tentukan dengan baik agar terhindar dari sarang hewan buas," "dasar ga berguna!" "enyah kalian semua dari sini dan cepat bawakan lotus merahnya." "Kalau aku masih lihat satu prajurit saja di kerajaan akan aku penggal kepalanya."
"Ba..baik."
"Cepat.. lari..!" "aku tak mau kepala ku jadi hiasan dinding."
...
Drap.. drap.. drap..
"Clara kamu dimana..? paman punya hadiah spesial untukmu."
"Iya, paman.. aku segera datang."
"Kamu dari mana saja bukanya tadi aku suruh jaga ayahmu"
"Hehehe.. aku bosan di kamar terus paman, paman tadi katanya bawa hadiah, hadiah apa itu?"
"Kamu pasti suka.."
"Aku tak sabar melihatnya."
"Cepat tutup matamu, paman hitung sampai tiga baru kamu buka ya."
1
2
3
"Akkkhhhh!!! Sakit!!!....."
...
"Makanya kalau mau pegang hadiah tuh buka dulu matanya, kan jadi ketancap durinya."
"Ini apa paman?"
"Coba kamu lihat dengan teliti."
"Hmm dari segi warna kelopaknya berwarna merah, bau nya harum dan ada sedikit duri-duri di sekitar tangkainya."
"Betul, sangat.. teliti." "Apa kamu sudah tau ini apa?"
"Ini, ini.. bunga lotus kelopak merah seperti yang di katakan tabib."
"Darimana paman mendapatkannya?"
"Kamu sudah tau jawabnya, cepat berikan itu ke tabib."
"Baik, paman."
...
"Boss.. bangun! gadis itu sudah pergi membawa bendanya."
"Huamm.. tunggu apa lagi cepat ambil bendanya, dan culik gadis itu tapi jangan sampai melukainya."
"Oke, bos!"
...
Kratak.. Kratak.. Piarrr
"Siapa kalian?"
"Gadis kecil tak usah takut, kami datang tuk menjemputmu."
"Aku tak tau siapa kalian, cepat kalian pergi kalau tidak, aku akan teriak!"
"Tak usah basa-basi lagi cepat tangkap gadis itu!"
"Tolong!-Tolong! siapa saja tolong aku!"
"Hehehe percuma saja kau teriak sampai lehermu putus pun tidak ada yang akan mendengar dan menghampirimu"
...
"Hei kasim, apa kau dengar ada suara teriakan minta tolong di arah timur?"
"Astaga! jangan-jangan clara dalam bahaya, cepat kita susul dia."
"Ada apa denganya, bukanya sejak tadi dia ada dikamar bersama ayahnya?"
"Bukan waktunya tuk menjelaskan sekarang, lebih baik kita bergegas pergi perdana mentri."
...
Drap.. Drap.. Drap..
"Sepi sekali dimana para prajurit?"
"Tadi aku minta semua prajurit pergi ke gunung cermai"
"Apa kau sudah gila?" "Menyuruh semua prajurit pergi tuk mencari benda tak berharga itu."
"Ku akui sedikit sembrono membiarkan penjagaan dalam kerajaan melemah."
"Tapi apa maksudmu benda tak berharga itu, apa yang kau maksud itu lotus merah?"
"Iya, benda itu sudah aku berikan clara, tak kusangka ada yang mengincarnya juga."
"Sial!! kita harus bergegas agar tak terjadi apa-apa."
...
Clara... Clara...
"Sial ada yang datang, cepat tangkap dia dan masukan lotus itu kedalam kantong ini."
"wokeh bos!"
"Jangan mendekat! aku peringatkan sekali lagi jangan mendekatiku, aku tau aku lemah tapi aku bisa saja membuat kalian semua musnah disini hanya dengan sekali jentik."
"Huuu aku takut..."
"Hap... akhirnya ketangkap."
"Lepaskan aku..."
"Diam!!"
"Sumpal mulutnya dengan kaos kaki, dan masukan dia kedalam karung."
"Erghnmmmmmm...."
...
"Hei..! kalian berdua siapa?"
"Cepat lepaskan tuan putri!"
"Tenangkan dirimu, kita harus berpikir jernih bagaimana caranya agar tuan putri selamat dan lotus itu kembali ke tangan kita untuk keselamatan Raja Arthur."
"Hei.. sudah selesai bicara omong kosongnya?"
"Aku tak tau kalian berdua siapa serta motif apa yang kalian rencanakan, aku mohon lepaskan tuan putri aku akan memberikanmu beberapa koin emas lalu kita berbincang."
"Apa kami ini terlihat bodoh? atau pikiran kalian yang tak waras?"
"Menyerahkan lalu berbincang itu semua hanya omong kosong orang kerajaan."
"Kami tak akan segan-segan berbuat kasar kepada tuan putri yang cantik berkulit lembut ini."
"Kalian jangan pernah sekali-kali menodai tuan putri kami, kalau tidak mungkin lusa kalian berdua akan makan dengan kaki dan ke-sepuluh jari-jari kalian akan ku buat sop untuk kalian makan."
...
"Boss bagaimana ini, membayangkannya saja sudah membuatku merinding, lebih baik kita serahkan saja si putri lalu kita bawa kabur lotusnya."
"Ternyata aku sudah salah mengajak orang pendekar yang punya tubuh kekar berisi ternyata penakut."
"Di pojok arah kita melompat tadi ada sebuah lorong bawah tanah, masih ada harapan tuk melarikan diri."
"Kau kabur dulu bawa gadis ini, aku akan mencegah mereka sebentar."
"Bagaimana kalau bos tertangkap?"
"Sudah cepat jangan pikirkan ku, aku sudah menyiapkan senjata pamungkas."
"Hei kalian jangan kabur!"
"Ayo kasim kita kejar mereka!"
"Mereka masuk kedalam lorong cepat kita juga masuk."
"Kasim apa kau mencium sesuatu seperti aroma minyak tanah?"
"Iya, aku rasa bau itu berasal dari lorong ini."
"Jangan-jangan ini perangkap?"
"Cepat keluar kasim!"
"Hahahahahaha"
"Kalian berdua sudah terlambat menyadarinya, aku sudah meletakan peledak disekitar lorong."
Jress......
"Tidakk!!!"
Duarrr... wushhh.....
...
"Maaf tuan Putri kami berdua agak kasar membawanya tadi."
"Tidak apa-apa, akting dan kerja kalian tadi sudah bagus."
"Setelah matahari terbenam King sudah di pastikan tewas dan kita tinggal membantai para Pionya."
****
End
Terimakasih banyak sudah membaca!