Suasana bandara hari ini cukup senggang. Cuacanya juga sangat mendukung, tidak terik tapi juga tidak mendung.
Aku duduk di deretan bangku yg disediakan untuk menunggu seseorang. Hari ini adalah hari yg sangat-sangat ku tunggu. Aku sudah menanti kedatangannya sejak lama.
Beberapa menit lagi pesawat akan mendarat dan kami akan benar-benar bertemu setelah sekian lamanya.
"Naira!!". Panggil seorang pria dari kejauhan.
Aku menoleh menelusuri tempat dimana suara itu berasal. Mata ku berhenti mencari, orang yg memanggil ku ternyata adalah orang yg sedang ku tunggu.
Dia berdiri dengan 2 koper besar di kanan kirinya. Pria itu tersenyum lebar sembari melangkah menghampiri ku.
"Kak Novan!!". Aku berlari dan langsung memeluknya. Kak Novan pun membalas pelukan ku dengan erat.
"Kakak kangen kamu, Nai".
"Naira juga kangen kakak. Nai kira kakak nggak akan pulang tahun ini".
"Maaf, kakak terlalu sibuk jadi nggak sempet buat pulang".
Dia kakak ku, Kak Novan. Dia adalah satu-satunya anggota keluarga yg aku punya. Setelah kejadian Tsunami 15 tahun yg lalu, hanya kak Novan lah yg sampai sekarang berada di sisi ku.
Ayah, ibu, dan adik ku meninggal karna bencana Tsunami itu. Selama kejadian bencana itu, kak Novan lah yg menafkahi ku. Ia harus banting tulang agar kami bisa hidup dengan layak bahkan lebih.
Kak Novan bekerja di Prancis, dia adalah seorang model pria sejak 8 tahun yg lalu. Karna banyak sekali fashion yg berkembang tahun lalu, kak Novan jadi sangat sibuk.
Terkadang kak Novan pulang 1 atau 2 tahun sekali, itu pun hanya saat Natal datang. Kami ulang tahun di bulan yg sama, hanya berbeda 2 hari saja.
Setiap malam natal, kami merayakan ulang tahun bersama. Hanya berdua dan bersama kenangan saat keluarga kami masih utuh.
"Happy Birthday adik ku tersayang".
"Happy Birthday too kakak ku terlope".
Setelah menjemput kak Novan, kami selalu mampir untuk nyekar di pusara ayah, ibu, dan adik kami. Aku sering kemari namun terasa lebih haru jika di temani kak Novan.
"Yah, Novan pulang". Ucapnya dengan gumaman.
Kami duduk di antara pusara ayah dan Ibu. Kak Novan mengelus batu nisan berlambang salip itu sambil meneteskan air mata.
"Bulan ini Novan dan Naira ulang tahun, Naira sekarang udah dewasa, Yah. Dia udah kenal dunia luas".
"Maafin Novan, Yah, Bun. Novan belum bisa jaga Naira dengan benar".
Ku tepuk pelan punggung kak Novan. Ia menatap lalu memeluk ku. Hati kak Novan sangat sensitif sejak kejadian bencana itu. Ku merasa tubuh kak Novan yg bergetar karna menangis.
"Maaf karna kakak belum jadi kakak yg baik buat kamu, Nai. Maafin kakak". Aku hanya mengangguk sambil menenangkan kak Novan.
Sehabis dari pusara, kami kembali ke rumah untuk istirahat. Setiap kali kak Novan pulang, hari pertama kedatangannya aku selalu tidur bersamanya. Setelah berganti baju piyama aku menyusul kak Novan ke kamarnya.
Natal masih minggu depan dan berarti masih ada waktu untuk berlibur. Aku dan kak Novan sudah merencanakan liburan ke berbagai tempat. Meskipun tidak ke luar negeri, setidaknya kami memiliki waktu bersama.
Hari pertama kami pergi ke suatu taman hiburan terbesar yg ada di kota. Hari kedua kami kulineran di tempat yg menyediakan berbagai makanan Jepang, China, dan Korea. Hari ketiga kami pergi ke tempat bersejarah dan beberapa museum. Hari keempat kami pergi ke danau yg membeku dan bermain iceketing. Di hari terakhir kami pergi ke berburu peralatan natal di mall terbesar di kota.
Kami mengabadikan liburan kami pada saat itu, ada beberapa foto yg sudah di cetak, video yg di simpan di SD card kak Novan.
Hari yg kami tunggu akan datang besok, hari ini kami sedang mendekor rumah dengan berbagai aksesoris natal yg gemerlap indah. Kami juga memesan kue ulang tahun untuk besok.
"Kak, Nai mau pasang bintangnya". Ujar ku sambil berusaha memasang lampu bintang namun tak kunjung sampai.
"Kamu kependekan, masa masang bintang di atas pohon aja nggak sampai".
"Aku yg pendek atau kak Novan yg kayak tiang?". Ejek ku.
Kak Novan hanya terkekeh dan mengangkat tubuh ku. Akhirnya aku pun sampai untuk memasang lampu bintang.
Keesokan malamnya, aku dan kak Novan sudah duduk berhadapan di ruang tengah dengan kue coklat di meja. Kak Novan mulai menautkan tangannya dan memejamkan mata, aku pun mulai melakukan hal yg sama.
"Tuhan, aku berharap kami akan lebih lama bersama. Aku ingin terus berada di samping kak novan dan semoga engkau selalu memberkati kami". Doa ku dalam hati.
Saat aku membuka mata, ku lihat kak Novan yg menatap ku sambil tersenyum. Aku pun membalas senyuman itu.
"Berdoa apa?". Tanyanya dengan penasaran.
"Katanya kalo bikin harapan itu jangan di kasih tau, nanti nggak di kabulin tuhan".
Kami pun meniup Lilin itu bersama. Setelah itu kami pun karaokean sampai larut malam.
Ada banyak makanan yg kami siapkan untuk malam ini. Tak lupa aku mengabadikan saat-saat bersama kak Novan.
Rasanya malam berlalu dengan cepat, setelah beristirahat sebentar, kami datang ke event musim dingin untuk melihat berbagai es di pahat.
Rasanya sangat senang meskipun hanya merasakannya setahun sekali saja. Hari ku tidak sehampa biasanya. Aku bisa tertawa, tersenyum, dan melakukan apa yg ku suka bersama kak Novan.
"Tuhan, terima kasih". Gumam ku.
"Ayo, Nai. Disana ada istana es". Kak Novan menarik ku mendekati istana es yg sangat besar dan indah dengan hiasan lampu warna warni di kelilingnya.
Satu Minggu berharga itu tidak akan terlupakan untuk ku, aku bangun di pagi harinya dengan senyum yg tak memudar.
Aku keluar kamar untuk sarapan, namun ku lihat kak Novan sudah rapih dengan setelannya. Ku lihat juga koper yg berada di ruang tamu.
"Morning Kakak ku yg pagi-pagi udah ganteng kayak model".
"Morning too". Sahutnya singkat.
"Kak Novan mau kemana? kok koper ada di depan?".
Kak Novan mengakhiri aktivitas makannya lalu menatap ku lekat. "Kakak harus balik ke Prancis, Nai".
Aku benar-benar terkejut dengan itu. Baru saja tadi malam kami menghabiskan waktu bersama. Ini terlalu cepat bahkan aku berharap bisa merayakan tahun baru bersama kak Novan.
" Tapi..".
"Kakak lusa ada kerjaan yg nggak bisa di gantiin orang lain, kakak janji tahun depan kita akan natalan lebih lama". Potong kak Novan sambil menggenggam tangan ku.
Air mata ku berlinang. Aku pasti akan merasa kesepian lagi setelah ini. Sudah 2 tahun kak Novan tak pulang dan sekarang ia hanya pulang kurang dari 2 Minggu.
"Tapi kakak baru aja pulang". Sergah ku.
"Maaf tapi kakak benar-benar harus pergi".
Sepanjang perjalanan ke bandara aku terus menangis, rasanya masih tidak terima dengan keputusan Kak Novan. Aku ingin marah namun aku tidak ingin membuat kak Novan khawatir.
Sesampainya di bandara, aku memeluk kak Novan dengan sangat erat. Persetan kak Novan bisa bernafas atau tidak, yg jelas aku masih ingin memeluknya.
Pesawat yg di tumpangi kak Novan akan segera terbang, aku melepaskan pelukan ku dan menundukkan kepala. Muka ku pasti merah karna menangis.
Kak Novan mengelus pipi ku yg basah. "Kakak pergi dulu ya, Naira baik-baik disini. Jangan nakal dan jangan lupa kasih kabar ke kakak". Aku pun hanya mengangguk patuh.
"Jangan nangis, Nai. Nanti kita video call kalo kamu masih kangen kakak". Aku hanya menyahut dengan dehaman.
Kak Novan pun mulai menjauh, punggungnya semakin menghilang. Tangis ku pecah, aku kembali ke mobil dengan air mata yg terus mengalir.
Di tengah perjalanan pulang, ku kenang kembali waktu yg sempat ku habiskan bersama kak Novan beberapa hari yg lalu.
"Kenapa kakak harus pergi lagi? Kenapa kakak nggak pernah bisa liburan lama sama aku?. Isak ku.
Semenjak kepergian kak Novan, entah kenapa kesehatan ku terus menurun. Tubuhku selalu merasa lelah dan tak bertenaga.
Sampai pada akhirnya aku masuk rumah sakit dan di rawat dengan sopir kepercayaan kak Novan yg menjadi wali. Pada suatu hari keadaan ku semakin buruk, rasanya tubuhku sakit semua.
Pintu ruang rawat ku terbuka menampakan kak Novan dengan wajah khawatir nya. Aku benar-benar sudah merepotkan nya.
"Kenapa kamu bisa sakit sampe kayak gini, Nai?".
"Kakak kan udah bilang jaga diri baik-baik selama kakak nggak ada". Ucapnya dengan wajah gelisah.
"Kumohon, jangan pergi lagi, Kak".
Entah apa yg terjadi setelah itu, tubuhku terasa ringan. Semuanya terasa gelap lalu ku lihat tubuh ku yg terbaring di brankar dan bisa ku lihat kak Novan yg menangis kencang sambil memeluk ku dan menyuruh ku sadar.
Monitor detak jantung itu berdenging kencang. Kini aku tahu kenapa kak Novan menangis begitu kencang dan kenapa kak Novan tidak bisa melihat ku padahal aku bisa melihatnya.
Selamat tinggal kak Novan.
Naira pergi mau temuin keluarga kita.
Ayah, Ibu, Adik dan Aku akan tunggu kakak sampai pada waktunya.
Naira sayang kak Novan, Terimakasih banyak sudah banyak berkorban untuk Naira selama ini.