"Ada angin apa seorang Rahardian Pantja datang kemari?" kalimat tanya yang dingin menusuk gendang telinga Rahardian Pantja, tapi dia tak mungkin mundur ini satu - satunya cara, karena dia butuh bantuan wanita dihadapannya ini.
"Lupakanlah dulu masalah lama kita Shima, karna ada yang lebih penting dari itu" pinta Rahardian, Shima mengerenyitkan dahinya.
Rahardian memberikan koran harian itu kepada Shima, wanita yang ada dihadapannya itu hanya melirik sekilas tanpa berniat untuk mengambilnya apa lagi membaca isinya.
"Pembunuhan, sepertinya akan berantai" ucap Rahardian, dia tahu wanita dihadapannya ini ada dendam tersendiri dengan benda dihadapannya itu, tak mungkin wanita itu mau membaca apa lagi menyentuh koran yang dia perlihatkan itu.
"Lantas hubungannya dengan ku?" tanya Shima.
"Aku butuh bantuan mu, untuk memecahkan kasus ini, dan menangkap pelakunya sebelum banyaknya korban berjatuhan" ucapnya mengutarakan tujuannya mendatangi wanita dingin seperti Shima ini.
"Wah .. wah ..wah .. seorang Raha meminta bantuan kepada seorang wanita seperti bukan Raha sang detektif saja" sinis wanita itu.
"Shima ini menyangkut nyawa banyak orang, turunkan ego mu, dan tolong aku, setelah kasus ini selesai baru kita perbaiki hubungan kita yang salah" pinta Rahardian.
"Apa yang mau anda perbaiki tuan Rahardian, semua yang ada dimasa lalu tak akan bisa diperbaiki" tandas Shima.
"Untuk kali ini Shima, kau yang lebih tahu kehidupan para pemburu" ucap Rahardian, pemburu yang diucapkan Rahardian disini adalah pembunuh bayaran.
"Tapi aku sudah sejak lama meninggalkan pekerjaan itu, dan kau tak akan mendapatkan informasi apapun dari ku" tukas Shima.
"Aku tidak ingin informasi dari mu, aku hanya ingin kau membantuku menemukan petunjuk siapa pembunuhnya itu saja" tandas Rahardian, sedikit terbawa emosi berbicara dengan wanti sedingin salju dihadapannya ini, apa lagi dahulu dirinya pernah memiliki masalah dengan wanita itu.
"Lalu apa imbalan yang aku dapatkan?" Tanya Shima.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Rahardian, Shima tersenyum sinis mendengar pertanyaan itu terlontar dengan nada santai.
"Cih.. masih saja kau sombong tuan" Shima berdecih melihat kesombongan pria yang ada dihadapannya.
"Jadi?" Tanya Rahardian kembali
"Apa yang harus ku lakukan?" pertanyaan itu membuat bibir Rahardian mengembang karena senyuman, akhirnya dia berhasil meminta Shima untuk membantunya memecahkan kasus pembunuhan itu.
'Ternyata mudah merayunya' gumam hati Rahardian.
****
Hari pertama penyelidikan, Rahardian dan Shima tiba ditempat kejadian, disebuah jalan bebatuan yang akan mengarah kesebuah desa telah terjadi pembunuhan, namun kasus itu dinyatakan sebagai kecelakaan biasa, entah para polisi yang tidak bisa menemukan keganjilan diTKP, atau memang pembunuh itu sangat cerdik sehingga tidak menimbulkan kecurigaan terhadap polisi.
Police line, masih terpasang disana tanda bahwa wilayah itu tidak diperbolehkan untuk dimasuki sembarang orang terkecuali orang - orang yang sudah dipilih untuk menyelidiki kasus ini.
Rahardian dan Shima memasuki are yang dipasang Police line, mencari bukti apakah kecelakaan atas meninggalnya Suseno Abraham salah satu pejabat negara itu murni kecelakaan atau malah pembunuhan berencana.
"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Rahardian
"Tidak, lebih tepatnya belum" jawab Shima.
"Hemmm, sepertinya orang itu sangat pintar untuk tidak memberikan petunjuk apapun tentang kasus ini" ungkap Rahadian.
"Atau mungkin seperti yang sudah dijelaskan para aparat kepolisian setempat jika ini murni kecelakaan" ucap Shima.
"Tidak, hari itu aku masih bersama dengannya sebelum kejadian itu terjadi, dia mengatakan sesuatu tentang pengintaian, hanya saja kami tak mengobrol lama" jelas Rahardian
"Pengintaian seperti apa yang dia maksud?" tanya Shima.
"Ada yang mengintainya, tapi aku tak ingin berasumsi masalahnya pembahasan hari itu tiba - tiba berakhir begitu saja, karena beliau mendapatkan telepon darut sepertinya, setelah mendengar sipenelpon bicara mimik wajahnya terlihat cemas" Rahardian menceritakan terakhir kalinya dia berbicara dengan tuan Suseno Abraham.
"Polisi itu mengatakan jika tuan Suseno meninggal karena kecelakaan, kecelakaan apa yang dimaksud?, ditempat ini tidak ada tanda - tanda telah terjadi kecelakaan lalulintas" tanya Shima.
"Penduduk desa mengatakan menemukan mayat disamping pohon pisang itu tergeletak begitu saja, dan tak jauh dari mayat itu ada sebuah kendaraan roda dua yang sudah setengah rusak tergeletak" ucap Rahardian menjelaskan.
"Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya tuan?" Tanya Shima,
"Tiga hari lalu, dua jam sebelum kecelakaan ada apa?" tanya Rahardian heran.
"Dimana?" tanya Shima mengacuhkan pertanyaan Rahardian.
"Dikantor" jawab Rahardian.
"Apa saat itu dia menggunakan motor yang ada diTKP?" tanya Shima.
"Tidak, beliau menggunakan mobil" jawab Rahardian.
"Ini aneh, seharusnya yang ditemukan bukan motor disana melainkan mobil" ucap Shima.
"Kau benar, jarak antara kantor ku dengan jalan ini hanya 30 menit, dan saat itu tuan Suseno mengendarai mobilnya sendiri, lantas kemana mobil yang dikendarai oleh tuan Suseno?" Rahardian.
"Cari mobil itu disana kita bisa menemukan buktinya" ucap Shima.
****
Pada akhirnya Rahardian dan Shima tidak menemukan bukti apapun walau telah menemukan mobil yang dikendarai oleh tuan Suseno Abraham, mobil itu tergeletak begitu saja jauh dari lokasi kejadian, itu sungguh aneh menurut Shima.
'Apa penguntit itu mengejar tuan Suseno pada hari itu ya?' batin Shima bertanya - tanya.
Belum juga kasus kecelakaan Suseno Abraham terpecahkan oleh Rahardian, dia sudah mendapat laporan jika tuan Abhisharma Abraham adik dari Suseno Abraham mengalami kecelakaan yang sama yang dialami sang kakak lima hari lalu, padahal tuan Abhisharma lah yang melaporkan kasus kakaknya kepada Rahardian agar dicari tahu siapa pelaku pembunuhannya, karna terakhir kali kakaknya itu bicara jika dia tengah diintai seseorang.
"Ini tidak mungkin, baru kemarin aku bertemu dengannya selepas mencari bukti" ucap Rahardian tak percaya akan apa yang tengah diucapkan oleh Kihkan asistennya.
"Ada apa?" tanya Shima.
"Abhisharma meninggal dalam kecelakaan tunggal tadi malam" ucap Rahardian setelah menutup telpon dari Kihkan.
"Siapa Abhisharma?" tanya Shima.
"Adik dari tuan Suseno" jawab Rahardian, Shima mengerutkan alisnya.
"Apa tuan Suseno memiliki musuh? Ahh tidak salah apa keluarga Abraham memiliki musuh?" tanya Shima.
"Keluarga terpandang seperti Abraham tentu saja pasti memiliki musuh apa lagi, keluarga itu bukan keluarga sembarangan, dua anak lelakinya berkerja sebagai pejabat negara salah satunya adalah almarhum tuan Suseno, dan kedua putrinya bekerja disalah satu perusahaan ayah mereka, dan almarhum tuan Abhisharma bekerja sebagai seorang penyidik, mereka bukanlah orang sembarangan" tutur Rahardian bercerita.
"Apa ini ada hubungannya dengan permasalahan keluarga?" tanya Shima.
"Ku rasa tidak" Rahardian
"Kenapa anda bisa seyakin itu?" Tanya Shima.
"Karna aku pernah menanyakannya apa ada masalah dalam keluarga, mungkin pembagian hak waris atau sebagainya, jawaban tuan Suseno dan Abhisharma sama"- Rahardian
"Apa?"- Shima.
"Kami tidak akan bertengkar hanya karna uang, itu sudah menandakan jika hubungan keluarga mereka begitu harmonis" jawab Rahardian, Shima hanya mencerna informasi itu.
'Jika bukan masalah keluarga lantas siapa yang berpotensi membunuh anak - anak dari keluarga Abraham itu?' tanya batin Shima.
"Apa keluarga Abraham memiliki keluarga lain selain keluarga inti atau mungkin teman dekat?" tanya Shima.
Rahardian tampak berfikir sejenak "Apa ada hubungannya Shima?" tanya Rahardian.
"Semua yang dekat dengan keluarga itu bisa menjadi tersangkanya tuan, termasuk para pekerja dirumahnya, ingat tuan musuh dalam selimut itu ada" tandas Shima.
"Kau benar, akan ku cari tahu siapa saja yang dekat dengan keluarga itu" jawab Rahardian.
****
Dihari ke - 7 penyelidikan Rahardian dan Shima baru memiliki bukti jika kecelakaan yang dialami dua anak dari keluarga Abraham itu benar pembunuhan bukan kecelakaan biasa.
Sayangnya bukti itu tidak cukup kuat untuk mengarahkan siapa pelakunya, namun Shima cukup puas setidaknya mereka telah mengetahui dengan pasti jika itu bukan hanya kecelakaan biasa yang terjadi pada kedua anak Abraham itu.
"Kau tahu sesuatu tentang si pembunuh?" tanya Rahardian
"Tentu saja tidak, hanya satu petunjuk tidak bisa membuatku menerka siapa pembunuhnya, itu cukup sulit tuan, lagi pula disini kau yang detektif bukan aku" ketus Shima pada Rahardian, Rahardian hanya tersenyum saja.
****
Dihari ke - 14 penyelidikan mereka Rahardian dan Shima dikejutkan dengan kabar meninggalnya anak dan istri dari almarhum Suseno Abraham.
"Sudah dipastikan si pelaku memiliki dendam dengan keluarga tuan Suseno, karna membunuh istri dan anak tuan Suseno sendiri" jelas Shima.
"Atau mungkin kepada tuan Abraham itu sendiri" Rahardian
"Itu bisa saja terjadi, tapi mengapa menantunya ikut dibunuh juga?" pertanyaan itu yang ada didalam kepala Shima saat ini.
"Bisa saja jika istri dari mendiang tuan Suseno pernah bermasalah juga dengan sipelaku" tebak Rahardian.
"Mungkin saja"
"Ini semakin rumit saja, dengan bukti yang kita miliki saat ini, kita tak bisa memperkirakan siapa pembunuhnya" ungkap Rahardian.
"Apa kau sudah tahu siapa saja yang dekat dengan keluarga itu tuan?" tanya Shima
"Tak ada keluarga lain selain keluarga inti, karna tuan Abraham adalah anak tunggal, sedangkan kakak dari sang istri sudah hampir 5 tahun lalu meninggal" jelas Rahardian.
"Apa kakak dari nyonya Abraham tidak memiliki keluarga?" Tanya Shima.
"Tidak beliau meninggal sebelum menikah" jawab Rahardian.
"Hemmm, kalau seperti ini akan sulit" gumam Shima.
"Masih ada satu lagi, keluarga Santoso ya tuan Aji Santoso adalah sahabat dekat dari tuan Abraham" ucap Rahardian saat mengingat jika keluarga Abraham berteman baik dengan keluarga Santoso bahkan mereka akan menjodohkan anak - anak mereka.
"Tapi tidak mungkin mereka pelakunya" tambah Rahardian.
"Sudah ku katakan tuan, jika musuh dalam selimut itu ada" ungkap Shima.
"Kau benar akan ku selidiki sendiri keluarga itu" jawab Rahardian.
****
Dua bulan berlalu dari penyelidikan kasus kematian keluarga Abraham Rahardian dan Shima bukannya mendapatkan titik terangnya malah mendapatkan korban kembali, kali ini anak gadis tuan Abraham yang meninggal dunia.
Anitha Abraham anak dari keluarga Abraham itu ditemukan sudah tak bernyawa dikolam renang, Anitha diduga tenggelam saat berenang sore hari.
"Tidak ada tanda - tanda yang menunjukan jika nona Anitha telah dibunuh tuan" ucap Kihkan pada semua yang ada diruangan itu.
"Tapi itu aneh, putriku Nita pandai berenang, tidak mungkin Nita ku itu tenggelam" Isak nyonya Saras istri dari tuan Abraham.
"Tenanglah nyonya kami masih berusaha mencari pelakunya" ucap Rahardian.
"Raha semua ku serahkan padamu, tolong temukan orang itu!" pinta tuan Abraham yang diangguki oleh Rahardian, Rahardian dan Shima kembali kekolam renang rumah besar itu untuk kembali menyelidiki, siapa tahu sipembunuh meninggalkan sesuatu.
****
"Tidak ada yang aneh, sepertinya Anitha memang mati karna tenggelam" ungkap Rahardian
"Kau yakin?" tanya Shima, Rahardian mengangguk ragu.
"Jika tidak katakan saja" - Shima
"Tapi semua ini seperti tak ada ujungnya, kita memang menemukan buktinya tapi apa, semuanya buntu seakan si pelaku itu tahu jika dirinya tengah dicari" kesal Rahardian.
****
📨Datang ketempat biasa, aku sudah menemukannya📨
Rahardian segera bergegas ketempat Shima karna wanita itu mengatakan dipesan singkatnya jika dirinya sudah menemukannya walau entah apa yang ditemukan gadis itu.
"Apa yang kau temukan?" tanya Rahardian.
"Tenang dan duduklah" titah Shima, Rahardian menuruti perkataan Shima untuk duduk.
"Jadi katakan" pinta Rahardian tak sabaran, bagai mana tidak dia telah menyelidiki kasus ini dari 4 bukan lalu, namun kemajuan kasus ini sangat lamban, mendengar patnernya menemukan sesuatu membuatnya semangat kembali.
Shima menunjukan sebuah kertas kepada Rahardian, "Bukankah ini surat yang ditulis Giselda sebelum ia meninggal" ucap Rahardian, diangguki Shima.
"Apanya yang aneh? ayolah Shima jika hanya baru tiga hari lalu kita menyelidiki ini, hasilnya nihilkan" kesal Rahardian, ya satu minggu lalu anak ke - 4 Abraham kembali meninggal.
Giselda Abraham ditemukan sudah tak bernyawa ditoilet wanita dengan mulut yang berbuah, polisi mengatakan jika itu percobaan bunuh diri, dan surat yang saat ini berada ditangan Rahardian menguatkan dugaan polisi tentang kematian Giselda.
"Bertaruh dengan ku tuan kali ini siapa yang menjadi korbannya?" tanya Shima.
"Kau menyuruhku datang kesini hanya untuk ini" bentak Rahardian marah, tak habis pikir pada Shima.
"Wow . tenanglah tuan aku hanya bertanya, tuan hanya tinggal menjawabnya saja" ucap Shima.
"Ini masalah nyawa Shima, jangan kau permainkan seperti itu" kesal Rahardian.
"Karna itu aku mengatakannya, agar kita bisa melindungin keluarga itu, dan kalau bisa mendapatkan pelakunya" ucap Shima
"Kau benar juga Shima" Rahardian
"Jadi katakan siapa selanjutnya!" Shima
"Kurasa nyonya Saras" santai Rahardian.
"Baiklah, akan aku bilang pada Kihkan untuk menjaga Guntur" ucap Shima.
"Apa kau menebak jika Guntur selanjutnya Shima?" tanya Rahardian.
"Tidak kau yang menebaknya tadi" jawab Shima
"Aku mengatakan jika nyonya Saras" jawab Rahardian.
"Iya itu dia" jawab Shima.
Hening beberapa saat selama mereka menikmati makanan, "Oh iya tuan, apa kau tak ingin membuka topeng mu itu?" pertanyaan Shima membuat Rahardian ngerutkan keningnya tanda tak faham
"Maksud mu?" tanyanya
"Apa kau tak lelah berpura - pura taun?" tanya Shima
"Apa maksud mu?" kali ini Rahardian bertanya tegas pada Shima.
"Apa kau tidak melihat keganjilan dalam surat yang dibuat Giselda?" tanya Shima, Rahardian sedikit berfikir mimik wajahnya mulai berubah namun ia kembali bisa menguasainya.
"Apa yang kau tahu?" tanyanya langsung.
"Wah tidak ku sangka ternyata memang kau tuan" ucap Shima sambil tersenyum sinis.
"Apa motif mu tuan?" tanya Shima heran.
"Kau tahu, sebuah rasa sakit akan merusak segalanya termasuk keluarga dan persahabatan" jawab Rahardian.
"Hahaha" Shima tertawa sinis, tak menyangka akan seperti ini.
"Pantas saja petunjuk itu selalu mengarahkan kita kejalan buntu, ternyata orang yang selama ini dicari dia yang tengah menyelidiki kasus itu sendiri" ungkap Shima dingin.
"Kau cerdik tuan"Lanjutnya.
"Mengapa kau begitu yakin dengan apa yang kau asumsikan Shima?" tanya Rahardian.
"Bukankah kau secara tak langsung sudah mengatakannya sejak awal tuan" Shima.
"Bagai mana kau tahu jika pembunuhan ini akan berantai, bagai mana kau tahu pembunuhan ini akan banyak memakan korbannya, dan bagai mana semua korban yang akan meninggal semuanya akan berhubungan dengan mu sebelum mereka meninggal tuan" jelas Shima.
"Dan surat itu menjadi kunci yang paling besar mengarahkan tuan sebagai pelakunya, aku bekerja dengan kau bukan kali ini saja, sudah hampi 5 tahun kita menjadi rekan tuan, walau satu tahun terakhir kita bermasalah, bukan berarti aku tidak mengetahui tentang mu, cukup mudah bagiku hanya untuk mengenali tulisan tangan mu tuan" tambah Shima
"Setelah kau tahu apa yang akan kau lakukan?" tanya Rahardian.
"Terserah padamu tuan, kau ingin menyerahkan diri kepada keluarga Abraham atau kau menutup kasus ini begitu saja, semua berada ditangan mu tuan" Shima.
"Yang pasti, bagiku kasus ini telah usai, dan ku tunggu bayaran ku tuan" ucap Shima lantas beralu begitu saja dari hadapan Rahardian.
Rahardian tersenyum miring memandangi kepergian Shima, wanita itu benar - benar tak bisa Rahardian remehkan, padahal dirinya sudah sangat berhati - hati agar tidak diketahui, nyatanya kasus itu terungkap terlebih dahulu sebelum Abraham merasakan sakitnya kehilangan keluarga seutuhnya.
SELESAI...