Halo semua, cerita ini semata-mata hanya imajinasi aku aja yaa.. Jangan suka julid! Ambil hikmahnya dan buang sisi negatif nya.
Kalo semisal ada salah kata dalam penulisan, mohon di maklumi dengan berkomentar yang baik! Karena komentarmu menunjukan jati dirimu.
Next Cerpen...
Namaku Emily, aku mempunyai tunangan bernama Rangga. Sudah satu Tahun kami pacaran dan dia berjanji untuk menukahi ku di Tahun depan awal bulan Januari.
Rangga adalah pria yang baik dan sangat menyayangiku. Sungguh, aku merasa sangat beruntung karena telah dicintai oleh pria sepertinya.
Namun sepertinya, benar kata orang tua terdahulu. Bahwasanya jika sepasang kekasih sudah menginjak ke jenjang yang lebih serius, pasti selalu saja ada konflik, entah itu perbedaan pendapat, ego menjadi lebih tinggi bahkan hadirnya orang ketiga.
Damian, yah.. pria itu, datang kembali. Pria yang kucintai sejak aku masih duduk di kursi SMP namun ia tak pernah mencintaiku melainkan hanya memanfaatkan uang ku saja.
Bodohnya aku, kami menjalin hubungan itu hingga lima tahun lamanya. Hingga akhirnya aku mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan ini. Hatiku terlalu lelah menghadapi sikapnya yang semena-mena kepadaku.
Sampai sekitar dua Tahun lamanya aku mencoba untuk melupakannya dan akhirnya aku bertemu dengan Rangga, pria yang penuh kesabaran dan kelembutan yang telah berhasil menyembuhkan lukaku dari pria brengsek bernama Damian.
Hingga suatu hari, temanku mengajakku untuk mendaki ke gunung Ciremai di Kuningan. Karena melihat tanggal yang kejepit akhirnya aku pun menyetujuinya. Sayangnya, Rangga tak bisa ikut karena ia menerima tugas dari kantor untuk survei pembangunan proyek baru ke lapangan secara langsung, di Bogor.
Akhirnya aku pergi bersama temanku bernama Lina, dan kalian tahu apa yang membuatku terkejut saat sampai di pos 1? Oh Tuhan.. Aku bertemu lagi dengan Damian setelah tiga Tahun kami tak bertemu.
Ternyata rombongan Damian berkawan akrab dengan temanku, Lina dan mereka mengajak kami berdua untuk bergabung. Karena kalah Vote, mau tak mau aku pun menyetujuinya.
Kami pun melanjutkan perjalanan mendaki, ternyata waktu kami tak cukup untuk memasang tenda di puncak gunung Ciremai. Dengan perasaan kecewa kami pun memilih untuk beristirahat di pos 3 dan membagi tugas, laki-laki memasang tenda dan mencari air. Sedangkan wanita bertugas untuk memasak.
Setelah selesai menyantap makan malam, kami pun berkumpul di depan tenda sambil menyalakan api unggun dan bernyanyi bersama. Suasana terasa begitu hangat penuh kekeluargaan disana.
Tiba-tiba aku merasa ingin buang air kecil. Aku pun berpamitan untuk pergi sebentar.
"Kau yakin tak ingin di temani Mil?" tanya Luna.
"Tak perlu Lun, kalian bersenang-senang lah! Aku akan segera kembali." jawab ku mantap dan di angguki oleh Lina dan teman-teman baru ku.
Saat aku sudah memastikan jika tempat itu aman dari hewan liar yang bisa saja menerkamku, aku segera melaksanakan hajat yang sudah ku tahan sejak tadi.
'GRAB'
"AAAAAMMMMM" Teriakku lantang karena tiba-tiba ada tangan besar yang memelukku dari belakang lalu tangan kekar itu membungkam mulutku agar berhenti berteriak.
"Shuuttt.." Ternyata itu adalah Damian, dia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir setelah melepaskan cengkeramannya, agar aku tak kembali berteriak.
"Dasar gila! Mau apa kau kemari?" tanyaku dengan suara tertahan karena takut jika Luna melihat kami berdua dan memberitahukannya kepada Rangga.
"Merindukanmu, apalagi?" ucapnya sombong seolah aku masih mengharapkan cintanya seperti dulu.
"Hah, lupakan! Aku sudah mau menikah awal Tahun nanti." Jawabku lebih sombong.
Raut wajah Damian berubah menjadi merah seketika, ia seperti sedang menahan amarah. Tiba-tiba tangannya terjulur untuk membelai pipiku menggunakan jemarinya, perlahan jemari itu turun ke leherku dan terus turun kebawah hingga ke daerah yang membuatku tak bisa menahan gairah. Kami pun bercinta di tengah hutan, di malam yang gelap.
Singkat cerita satu bulan kemudian, hari ini sudah menginjak bulan Desember. Tapi aku merasakan keanehan-keanehan di dalam tubuhku.
Ibuku juga menyadarinya, dia bilang aku menjadi lebih gendut dan lebih sensitif. Ibuku mengira jika aku sedang menstruasi.
Mendengar kata menstruasi, aku segera berlari ke kamar untuk melihat tanda silang pada buku kalenderku. Ternyata aku sudah tiga minggu terlambat menstruasi. Aku panik dan tanpa pikir panjang aku segera membeli tes kehamilan di supermarket terdekat.
Keesokan harinya, aku melihat ada tanda garis dua pada lima tespack dengan merek yabg berbeda. Menandakan jika besar kemungkinan jika aku hamil.
Aku bergegas pergi untuk mencari tahu dimana letak tempat tinggal Damian, karena dialah satu-satunya pria yang pernah bercinta denganku
Sudah tiga hari aku mencari tempat tinggal Damian dan akhirnya usahaku membuahkan hasil. Saat ini aku sudah berdiri di depan gerbang berwarna abu-abu dengan tinggi sekitar 2 meter.
Saat aku ingin menekan tombol berwarna putih yang tertempel di dinding pagar tiba-tiba ada suara seorang wanita yang memekik memanggil nama 'DAD' Yah.. wanita itu adalah istri Damian. Kenapa ia memanggilnya dengan sebutan Dad? Karena wanita itu sedang hamil tua, terlihat perutnya yang sangat besar.
Air mataku menetes begitu saja, meski aku wanita pendosa dan hina karena hamil di luar nikah, tapi aku tak ingin menjadi wanita menjijikan yang akan merusak rumah tangga orang lain. Ditambah wanita itu kini sedang hamil dan mungkin sebentar lagi akan melahirkan.
Aku berjalan dengan pandangan kosong, aku sudah mengkhianati Rangga, pria yang selalu membuatku bahagia. Aku sudah membuat malu ibuku karena aku sedang mengandung anak dari pria yang sudah berkeluarga dan aku juga sudah merusak masa depanku.
Cinta lama yang ku pikir akan membuatku bahagia dengan kehadirannya, ternyata malah membawa duka kembali.
Saat ini aku sedang berdiri di tengah rel kereta api, menunggu kendaraan beroda besi itu muncul.
WIW UWIW UIWW ....
Sirene pertanda jika kereta akan melintas telah terdengar di kejauhan, aku sudah memantapkan hatiku untuk mengakhiri hidupku dengan cara seperti ini.
TIINN TIINN TIN ...
(aku lupa suara klakson kereta kaya gtu gak sih?)
Kereta itu terus menyalakan kalkson, agar aku segera menyingkir dari jalurnya. Kereta itu semakin mendekat dan bunyi dari gesekan roda besi dengan rel semakin terdengar lebih kencang. Aku memejamkan mata sambil merentangkan kedua tangan seolah sedang menantang maut.
TIINN TIINN TIINN ...
'BRAK'
KRAK, CRATT
Aku melihat darah beterbangan dari celah roda kereta yang menggulung tubuhku di bawahnya, sehingga membuat tulang belulang ku remuk dan anggota tubuhku putus dari tempatnya.
Aku menatap jasadku dengan wajah sendu, dengan berat hati, aku pun meninggalkan raga ku yang sudah tak bernyawa dan terbang ke atas langit diikuti oleh cahaya kecil di samping ku.
THE END...
NOTE: Sebelumnya aku belum membaca cerpen sepanjang ini sih, tapi otakku ingin membuatnya dengan 1000 kata lebih. Jadi, tolong maafkan tanganku yang ga bisa di rem ini ya guys🙏❤️