Tersiar kabar menakutkan hampir di seluruh media, tentang pembunuhan kejam dengan cara mutilasi oleh seseorang yang menggunakan kostum Bugs Bunny.
Berita-berita itu membuat semua penduduk resah, bahkan pemerintah ikut memberikan perintah untuk tidak boleh ada lagi yang menggunakan kostum tersebut untuk acara ulang tahun atau sebagai maskot.
Warga dianjurkan segera melapor ke pihak berwenang, jika menemukan seseorang yang membawa, memiliki, dan atau mengenakan kostum tersebut.
Pemerintah juga memerintahkan seluruh warga baik pengusaha atau perorangan yang memiliki kostum tokoh tersebut untuk menyerahkannya ke pihak yang berwenang, dan mengikuti pemeriksaan lanjut, jika tidak ingin ditangkap secara paksa oleh aparat yang bertugas.
***
“Aliva, apa kamu sudah mendengar berita tentang larangan dari pemerintah untuk menyewa maskot atau badut berbentuk Bugs Bunny?” tanya teman sekantor, di saat aku sedang bersiap pulang.
Aku hanya tersenyum dan menjawab pertanyaannya dengan mengangguk.
“Huuuffttt! Menyebalkan!" Ia bersedekap sambil bersandar di sisi mejaku. Menggerutu dengan napas berat. "Padahal besok anakku ulang tahun, dan dia penggila Bugs Bunny, aku terlanjur berjanji untuk menyewa maskot berbentuk Bugs Bunny di hari ulang tahunnya. Oh, astaga! Dia akan membenciku," keluhnya dengan wajah memberengut sedih.
“Hmmm..., kalau sudah begitu, ya, mau bagaimana lagi, kan?” Jawabanku semoga dapat menenangkannya.
Dia mendengkus lagi. “Apa kamu bisa membantuku, Aliv? Please ...,” ucapnya memohon sambil menangkupkan kedua tangan.
“Membantumu?” tanyaku lagi memastikan, dengan mata mengedip pelan. "Membantu apa?"
“Pakaikan Kostum itu untuk anakku."
“Heuh?" Aku terkejut. Alisku menukik tajam. "Apa kamu gila?” bantahku lagi.
Bukankah ia jelas-jelas membuka percakapan dengan kasus itu? Lalu sekarang? Aku tak mengerti dengan cara berpikir sahabat dan rekan kerjaku yang satu ini.
“Ayolah, Aliv. Aku juga sudah terlanjur menyewa kostumnya. Sebelum aku menyerahkannya ke pihak berwenang, aku ingin membuat kejutan untuk anakku."
Ia bahkan menjawab sebelum kutanya.
Tangannya kemudian menggoyangkan lenganku. "Aliv, hanya kita saja. Aku percaya padamu. Kumohon bantu aku. Kita akan melapor setelahnya."
"Tidak, tidak! Aku tidak mau terkena masalah gara-gara kostum itu. Lebih baik kau melaporkannya sekarang. Berurusan dengan polisi akan sangat melelahkan," jelasku menolak dengan tegas.
Wajah itu semakin cemberut. “Aliv ..., kau sahabatku yang paling dekat. Setidaknya, bantu aku agar tidak jadi ibu yang pembohong. Kamu bisa datang pagi-pagi sebelum ia terbangun. Memberikan Surprise, mengambil beberapa foto dan selesai.”
Aku mendengkus. Ia hebat dalam hal membujuk.
“Ayolah...." Kembali tanganku digoyangnya. "Kumohon! Kamu juga 'kan seorang ibu, pasti mengerti perasaanku. Melihat wajahnya sedih aku tak tega. Aku juga tak ingin merusak rasa percayanya padaku," tambahnya.
Aku melirik wajah penuh pinta itu.
“Seorang ibu akan melakukan apa saja demi anaknya, bukan?” lanjutnya bertubi-tubi beralasan sambil terus memohon.
"Huft...." Aku tak kuat, jika ia sudah membawa embel-embel anak dan ibu. Kubuang napas panjang lewat mulut yang mengembung.
Ia sedikit tersenyum. Tahu jika aku seperti ini, ia akan menang lagi.
“Untung saja anakku sudah SMA,” jawabku sambil memandangnya. “Ya, sudah! Kostumnya di mana?” lanjutku bertanya.
“Kata tempat sewa online yang aku pesan, Kostumnya sudah dikirim dan paketnya akan tiba sore ini. Kau bisa langsung datang ke rumahku besok, dan mengenakannya di sana.”
“Hmmm. Baiklah, kalau begitu, tapi ingat! Kamu yang harus minta izin ke Boss kalau kita akan datang sedikit terlambat besok."
“Siap, Aliva!” ucapnya menyanggupi. "Terima kasih banyak! Kau memang sahabat terbaik!"
***
Setelah membuat kesepakatan yang berisiko itu. Aku pun pulang ke rumah.
Sejak di angkutan umum tadi, aku sudah menahan rasa ingin buang air kecil.
Begitu sampai, dengan segera aku berlari masuk ke toilet.
Mataku seketika membelalak melihat apa yang ada di sana. Sungguh, aku sangat terkejut.
Seseorang duduk dengan kostum Bugs Bunny.
Hatiku penuh dengan kecamuk saat berteriak, "Andi! Astaga, kenapa kamu bersembunyi di sini? Dan kenapa kamu belum juga mengirim kostumnya?”
Andi hanya terdiam dengan pisau di tangannya.
“Dasar anak bandel, ibu sudah menyuruhmu untuk mengirimnya segera, agar kita tidak kena masalah. Lihatlah, bahkan kau mengotorinya lagi dengan noda darah!" geramku emosi. "Jika sudah begini, terpaksa aku pula yang harus mencuci malam-malam."
Kubuka paksa kostum itu dari tubuhnya sambil mengomel.
“Huuuffttt! Ingat! Jangan pernah menyentuh kostum milik ibu lagi.”
***
Original Story : By. Liemey_Ivi