"Pernikahan"
Jangan anggap pernikahan adalah akhir bahagia. Pernikahan adalah awal untuk kita menjalani kehidupan yang baru bersama dia yang kamu anggap duniamu semasa pacaran mungkin. Jangan terburu-buru. Akan ada masanya kamu merasakan semua itu.
Dalam dunia pernikahan, kita tidak boleh egois. Kita harus berbagi apapun itu. Tentu dengan seseorang yang kita sebut dengan suami.
Ini adalah kisahku, kisah istri manja dan selalu berharap bahagia.
"Sah...."
Satu kata yang menggema di ruang tamu keluargaku. Acara sakral, intim, dan syahdu. Ini adalah acara pernikahanku. Undangan sekadarnya agar orang-orang tahu statusku kini adalah istri. Tidak terlalu ramai. Semua orang menikmati jamuan yang disajikan.
Aku duduk berdua dengan suamiku (ciee suami, baru saja nikah) setelah acara akad berlangsung tiga puluh menit lalu.
"Mas"
Kucoba memulai bicara dengan dia.
"Iya dek" begitu jawabnya. Duhhh... Lucunya. Aku dipanggil dengan sebutan 'dek'.
Aku tersenyum.
"Makasih ya"
" Kembali kasih sayang"
Begitu jawabnya, aku jadi malu.
Obrolan pertama sejak menjadi seorang istri.
Acara telah berlalu. Sekarang kamarku bukan lagi milikku, ada suami yang juga akan tinggal disana. Aku bukan gadis polos yang belum mengerti apa-apa. Usiaku sudah 25, sudah tahu apa kewajibanku. Apalagi suamiku adalah memang pilihanku, pacarku setahun lalu. Bisa dikatakan kami saling mencintai sehingga pernikahan ini dapat terlaksana.
19.15
Usai sholat berjamaah, kami menuju ke kamar. Iya, kamarku.
Aku memeluknya. Ada rasa teramat nyaman berada di pelukan suami. Aku memang seagresif itu.
Sengaja agak lama aku sandarkan kepalaku pada dada bidangnya, rasanya berbeda saat dulu dia yang memelukku, saat kita masih pacaran. Sangat berbeda. Mungkin karena ada logo halal saat ini. Manis sekali kan?
Apa yang akan kami lakukan?
Mungkin pembaca sudah tahu.
Meskipun untuk pertama kali rasanya agak canggung. Tapi kami tetap melakukannya. Tak usah dijabarkan bagaimana rasanya. Itu sangat sakit. Apalagi dalam sekali hentak, tak kunjung goal. Namun suamiku sungguh sabar. Sehingga setiap malam kita mencoba melakukannya sampai hari ketujuh, barulah goal. Luar biasa. Aku menyiksa suamiku hingga tujuh hari baru bisa menikmati. Bagaimana dengan 6 hari sebelumnya? Mungkin dia lanjut bermain sendiri. Astaghfirullah.
Lupakan hal itu.
Aku tidak pandai memasak. Aku tidak pandai bebersih rumah. Aku hanya melakukan sekadarnya. Apa yang dilakukan suami? Suamiku membantuku melakukan semuanya. Bagi yang beruntung, ini adalah nikmat yang patut kita syukuri.
Suamiku jago memasak, suamiku ngepel, suamiku cuci piring, suamiku cuci baju, suamiku merawat tanaman, suamiku bekerja, suamiku serba bisa.
Tidak lama setelah cuti menikah, kita kembali ke perantauan. Kita berdua bekerja. Tentunya di tempat yang berbeda. Setiap hari aku diantar jemput olehnya. Manis banget kan?
Jika saat pacaran kita banyak keluar rumah dan jalan-jalan, maka saat awal menikah kita akan banyak di rumah. Bukan untuk main-main kawan, tugas rumah begitu banyak. Jangan berfikir aneh-aneh. Apalagi jika masing-masing dari kita bekerja, akan hanya ada sedikit waktu saja yang tersisa untuk melakukan tugas rumah itu. Mengertilah, menikah itu selain indah juga agak susah. Haha
Dalam sebuah hubungan, kita harus saling percaya. Ya, bukti kita saling percaya adalah tidak ada sandi hp yang pasangan kita tidak tahu. Bahkan suatu ketika aku melihat galeri hp sang suami isinya wanita lain. Ah.. jangan dikata. Namanya istri pasti cemburu, tidak usahlah minta penjelasan. Kalimat yang kuucapkan saja tak berhenti-berhenti. Padahal kereta saja berhenti setiap di stasiun. Dari A sampai Z masih belum cukup aku utarakan semua kecemburuanku. Apa yang suami lakukan? Dia hanya diam. Bukan berarti tak mampu menjawabku, mungkin memang keterlaluanku tidak memberinya kesempatan walau hanya ingin bilang satu suku kata saja. Whatever... Penting hati lega. Marah-marah sepuasnya.
Dan ternyata, aku luluh juga walau hanya dipandang olehnya. Aku luluh walau dia hanya diam saja. Aku berhenti sendiri walau tidak ada stasiunnya. Dan pastinya aku capek sudah banyak bicara. Ketahuilah teman-teman, bahwa masalah dengan suamimu maka bicarakan dengan suamimu.
Jangan bicara apapun yang ada di dalam rumah tanggamu kepada orang lain, termasuk mertuamu bahkan orang tuamu. Itu tidaklah baik. Selesaikan sendiri. Bukan maksud hati menasehati, hanya saja menurutku itu akan menghindari adanya provokasi dari pihak lain. Jadi gunakan hatimu, gunakan otakmu untuk masalahmu sendiri. Jangan biarkan orang lain menjadikanmu bahan ghibah mereka. Tidak mau bukan?
Oh iya, foto wanita di galerinya hanya foto random dari grup chat yang biasanya langsung masuk galery. Malu nggak sih? Sudah bicara sampai berbuih ternyata oh ternyata hanya salah faham? Tidak dong. Wanita tidak pernah salah. Bahkan jika salah, wanita masih selalu benar. Hahaa.
Dia tidak menjelaskan, itu aku ketahui setelah mengecek seluruh isi chatnya pastinya. Tanggung ya, sudah terlanjur. Lanjut saja marahnya. Begitulah aku. Tapi kali ini marahnya tidak serius dong, ada lah sedikit bercanda, tertawa, menertawakan diri sendiri hahaha. Sambil mengutuki, "Bodohnya diriku ini." Astaghfirullah.....
Masalah lainnya mungkin, tentang keuangan. Uang istri milik pribadi, uang suami adalah uang istri. Kalau semua suami memahami ini, beruntunglah kita wahai istri. Tapi sekecil apapun itu masalah keuangan, bicarakanlah. Jangan diam, diam hanya akan menyakiti dirimu sendiri, dan terus berfikiran negatif.
Beli apapun itu, aku selalu bilang suami. Demikian dengan dia. Sesempurna itu suamiku. Iya, itu suamiku.
Menikah adalah awal. Menikah adalah ibadah seumur hidup. Semoga segalanya menjadi berkah, sakinah, mawadah, warahmah. Aamiin.