Alien
13 November/ Day 25
Alin hanya terpaku.
“Dasar Alien Jahat!“
Si Alin membentak kucing seraya melempar dengan sandal.
Si Kucing hanya melengos. Sembari melenggang dan membawa daging gurita panggang si Alin.
Alin pergi ke luar rumah. Disitu ada ladang terbuka. Dia hendak mencari udara segar di ladang terbuka tersebut, agar bisa menghilangkan rasa muak sama si kucing menyebalkan itu. Yang suka mengambil apa-apa demi kesenangan semata. Tak terkecuali makanan sea food yang dia gemari. Lagi senang-senangnya makan itu, tahu-tahu sudah lenyap. Itu membuat dia tak senang. Akibat perutnya bertambah kelaparan.
Tahu - tahu ada cahaya sangat menyilaukan.
Itu pesawat Alien.
Alin tercekat.
Dia hendak lari. Tapi kakinya seakan tak bisa digerakkan. Biasa, manusia dalam keadaan demikian, rasanya ada sesuatu yang memberat. Padahal tak ada. Ini terkadang pemikiran manusia saja yang tak sinkron dengan keinginan kaki, agar bisa menuntut supaya kaki mengikuti pikiran otak. Terkadang, rasa takut itu yang membuyarkan konsentrasi. Jadi keinginan otak tak bisa diterima si kaki. Hingga terasa berat sekali dirasakan.
Pesawat itu mendarat. Bentuknya seperti piring emak-emak yang suka melayang. Bulat besar dengan bagian terbanyaknya mengeluarkan cahaya. Entah itu lampu kristal, atau cuma LED, yang jelas sangat terang dan banyak. Ini menunjukkan kalau mereka tak suka kegelapan. Terang terus, terus terang. Mendarat dengan santainya di atas kaki-kaki kokoh yang mencengkeram bumi.
Dari pintu yang terbuka tiba-tiba, keluar satu alien ganas. Bentuknya menyeramkan. Seperti gurita. Dia melenggang dengan kaki-kaki lenturnya. Dan lengan lain di pakai buat tangan, memegang rokok, kentang goreng kering, juga bisa meliuk-liuk macam ular. Kepala yang menyatu dengan badan itu, semakin membuat yang melihat ngeri. Tak terkecuali dengan si Alin.
“Halo,” si Alien yang bentukannya aneh itu menyapa. Suaranya aneh. Seperti apa gitu, aneh pokoknya.
“Lu Alien?” tanya si Alin yang keheranan menyaksikan Alien ini sedikit berbeda dengan cerita-cerita di komik stensilan, yang biasanya menggambarkan Alien luar angkasa itu jahat, kejam, dan suka masuk ke tubuh orang hanya untuk digerogoti otaknya hingga menjadi zombie pemakan sesama.
“Iya dong.“
“Kok kaya gurita?“
“Gurita itu alien pertama yang sampai di bumi. Dia teman kami.“
“Juga ganas kah?“
“Iya lah.“
“Terus maksud lu datang ke bumi mau apa? “
“Kami ini ada misi khusus tentang perdamaian yang mau kami wartakan terhadap sesama di bumi. Kami berlama-lama dari Bulan Europa menuju ke mari memang hanya untuk itu . “
“Apakah di tepat kalian mau ada resepsi pernikahan sesama cumi-cumi itu? “
“Bisa di bilang demikian. Pangeran kami dari pernikahan sang raja, yang baru berusia 46 tahun akan menikah."
“46 tahun, baru?“
“Ya kan disana usianya panjang-panjang. Segitu masih muda kali. “
“O.“
“Begitulah. Sehingga nanti kalau kau datang kadonya jangan daging cumi-cumi goreng ya, itu akan membuat kami murka. Atau boleh saja anda titip amplop ke kami, nanti akan kami sampaikan sumbangan itu secara berbarengan. “
“Baiklah aku menitip saja. Kalau saya datang sendiri, kayaknya sedikit repot. Belum lagi kalau pesawat luar angkasa angkutan itu tidak ada shuttle nya yang membuat saya kejauhan turun nanti, maka hanya akan membuat bingung. “
“Ya sudah. Kalau begitu saya pulang.“
“Iya.“
Alien itu masuk ke pesawat yang sangat canggih. Dengan menutup pintu otomatisnya. Tapi tak bisa menutup, akibat tangan nya yang delapan itu terjepit salah satunya. Dia hanya mengerang tertahan.
Dan pesawat terbang itupun terbang.