"Eemm, kenapa kamu mengikuti aku dari tadi?" Wajannya cemberut.
"Maaf." ucapnya.
"Huuff, nama?" Pipinya bersemu merah.
"Aliana." Sahut dari temannya.
"Eeem, namaku Peko." Menyodorkan tangannya untuk bersalaman pada Aliana.
"Maaf, aku harus pergi." Dengan kepala menunduk.
"Tunggu....." Peko menarik tangannya.
"Kita bukan mukhrim, tolong lepaskan!." Aliana melakukan sedikit kotak mata dengannya.
Kemudian Peko membiarkan Aliana pergi begitu saja. Dia keturunan cina.
Di malam hari Peko memikirkan Aliana. Kemudian terbangun, menatap jam.
"Astaga, aku terlambat lagi." Menepuk jidatnya, langsung bergegas mandi dan berangkat kuliah.
Disaat selesai kuliah, Peko langsung saja bergegas pulang dan berhenti di sebuah masjid paling terkenal di kotanya. Peko ragu-ragu, lantasan dia bukan dari agama ini.
"Hai, lepaskan sepatumu ini batas suci!" Seseorang mengingatkannya.
"Baiklah." Peko melepaskan sepatunya dan mencoba masuk ke dalam masjid. Dia berkeliling di dalam sana. Di balik tembok peko melihat Aliana yang sedang berjalan sendirian.
"Hai, Aliana." Mencoba melambaikan tangan.
"Waalaikumsalam......." Peko tersipu malu.
"Kamu ngapain di sini, bukannya ini bukan tempat kamu?" Tanya Aliana kepada Peko.
"Memangnya tidak boleh, bukannya ini tempat umum?" Tanya balik kepada Aliana.
Peko mengikuti Aliana terus. Aliana menghampiri temannya untuk berangkat kursus.
"Ayo pak, kita ke tempat kursus yang ada di kota ini." ucapnya pada tukang ojek.
Peko tak mau ditinggalkan. Dia mengikuti Aliana sampai ke tempat kursus.
"Kalau aku lihat, dia sepertinya menyukai kamu." ucap temannya pada Aliana.
"Ini pak." Aliana membayar tukang ojek itu. Aliana tidak memperdulikan ucapan temannya tersebut.
Selesai kuliah, Peko menunggu Aliana di dekat kampusnya. Menunggu satu jam lebih, dia hanya bertemu pada temannya.
"Dimana Aliana?" Sambil mengangkat alis.
"Sebentar lagi dia keluar." Jawabnya kemudian pergi.
Peko menawarkan tumpangngan pada Aliana. Mereka berhenti di sebuah taman.
"Eeemm, boleh aku bicara?" Peko tidak bisa mengalihkan pandangan.
"Bicarakan tidak ada yang melarang. Silahkan!" Tatapan melihat ke bawah.
"Aku, emm mencintai kamu." ucap Peko dengan terus terang.
"Jika kamu mencintai aku, maka cintailah agamaku juga, bagaimana?" Kemudian Aliana pergi meninggalkannya di taman.
"Tunggu....."
"Aku akan lakukan itu." Teriaknya pada Aliana yang sudah beranjak pergi.
"Jangan menyukai agamaku jika karena cinta. Cintailah agamaku karena Allah." Aliana kembali dan mengatakan itu.
Keesokan harinya, Peko mendapatkan kesempatan untuk berjalan bersama dengan Aliana. Berjalan di toko buku.
"Jika kamu mau, pelajari buku-buku ini." Mengambilnya dan menyerahkan pada Peko.
"Bisakah kamu ajari aku tentang semua ini?" Pinta Peko sambil membolak-balik buku-buku tersebut.
"Lebih baik kamu pergi temui seorang guru mengaji yang sesama laki-laki. Kamu minta ajari pada mereka." Aliana ingin menjaga pandangan dari Peko.
"Bisakah kamu antar untuk itu?" Tanya Peko dengan serius.
"Maaf, aku tidak bisa." Jawab Aliana.
"Satu lagi, pekerjaan mu apa?" Tanya Aliana membuat Peko terkejut dan gugup.
"Ada itu sangat rahasia." Peko tidak mau Aliana mengerti tentang hal itu.
Setelah itu Peko mendapatkan kabar bahwa polisi akan menggebrak tempat kerjanya. Pulang dengan cepat. Berlari menuju ruangan tersebut. Peko meminta anak buahnya untuk segera membereskan tempat itu dan pergi secepat mungkin. Peko dan rekannya, kabur lewat atap sebelum polisi datang menghampirinya. Salah satu dari temannya tertangkap.
Kemudian Peko pulang. Dia pulang dengan wajah seperti biasa. Seperti tidak ada apa-apa. Peko tidak mau orangtuanya mengetahui hal itu.
Di malam ini Peko mempelajari buku-buku tersebut. Dengan kemantapan hatinya dan niat. Peko mencoba belajar sholat dengan sendirinya.
"Peko....." Panggila ayahnya. Dengan segera Peko membereskan buku-buku tersebut dengan aman.
"Ada apa ayah?" Peko berpura-pura sedang belajar materi perkuliahan.
"Tidak, ayah keluar dulu." Menepuk pundaknya. Peko menghela napas panjang dan mengelus dadanya.
Hari ini Peko pergi mengunjungi tempat ibadahnya bersama orangtuanya. Ketika melihat tempat itu hati Peko merasa ragu-ragu untuk melakukannya. Peko tidak mau ayahnya tahu kalau dia mencintai seseorang yang berbeda agama.
"Peko, kenapa kamu diam?" Tanya sang ayah.
"Ooh...." Langkah kakinya merasa berat.
"Maafkan aku Aliana." Ucapnya dalam setiap langkah.
Aliana pergi membantu ayahnya saat matahari belum muncul. Dia membantu ayahnya di sebuah kedai makan. Hari libur, dia habiskan untuk membantu kedai ayahnya.
"Assalamu'alaikum....." Ucap Peko dengan gagap saat dihadapan Aliana.
"Waalaikummsalam....." Jawab Aliana dengan perasaan senang.
"Bagus kamu sudah ada kemajuan." Puji untuk Peko.
"Siapa dia?" Tanya pada Aliana.
Peko setelah mengetahui dia ayahnya Aliana. Belum sempat mengobrol, sudah pergi. Lantasan Peko malu dengan ayahnya Aliana. Peko mengirimkan pesan untuk Aliana. Mengajak ketemuan di taman. Peko ingin bicara. Aliana menolaknya, dia tidak mau di pandang orang lain yang aneh-aneh.
Keesokannya lagi Peko tidak berangkat kuliah. Setelah itu, Aliana memutuskan untuk sholat di masjid seperti biasa. Aliana melihat Peko yang sedang belajar mengaji pada salah satu kiyai. Hati Aliana sangat tersentuh. Ketika Aliana selesai sholat. Peko telah menunggunya di luar.
"Hai...." Boleh aku bicara.
"Tapi jangan di sini?" Pintanya pada Aliana.
"Baiklah." Peko memboncengkan Aliana pergi ke tempat biasa.
"Pegangan." Aliana berpeganggan pada ransel Peko.
Peko menggelengkan kepala dan memaklumi. Berhenti di tempat biasa dan Peko mulai berbicara tentang pekerjaannya.
"Allah melarang hambanya untuk melakukan itu. Lebih baik kamu segera tinggalkan pekerjaan itu." Setelah pertemuan hari ini, Peko langsung pergi ke tempat pekerjaannya. Dengan sendirian dia membersihkan tempat kerja tersebut dan menutupnya.
"Kenapa ini?" Tanya rekan kerjanya.
"Aku ingin meninggalkan pekerjaan ini. Dan aku bukan bos kalian lagi." Ucap Peko dengan tatapan serius.
Peko bersungguh-sungguh untuk meninggalkan kemaksiatan tersebut. Setelah pulang dari tempat pekerjaannya itu. Peko terduduk dan tertunduk di hadapan ayahnya.
"Saya tidak suka kamu berhubungan dengan perempuan muslim. Dia berbeda dari kita. Kamu mau bikin malu ayah saja di hadapan orang tua Deena!" Peko tidak bisa bersuara melainkan hanya kata maaf.
Ibunya menenangkan hatinya. Peko kembali ke kamar dan terdiam memandangi jendela. Dengan cepatnya sang ayah menjodohkan Peko dengan perempuan lain yabg lebih kaya dari dirinya.
Di malam ini juga Peko memutuskan untuk pergi menemui ayah Aliana.
"Assalamu'alaikum." Peko mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam." Jawab ayah Aliana membukakan pintu.
"Silahkan duduk ada keperluan apa?" Tanya ayah Aliana.
"Aliana? Buatkan minuman untuk tamu." Suruh bapaknya. Aliana mengintip dari balik jendela. Kemudian membawakannya dan langsung masuk kembali ke dalam.
Peko mengungkapkan niatnya pada ayah Aliana. Dan ayahnya sedikit terkejut setelah mengetahui agamanya. Dengan mendengar kalau Peko sudah belajar tentang Islam, hati sang ayah Aliana sedikit lega. Tidak lama-lama Peko langsung pulang. Perasaannya sangat lega saat niatnya sudah di utarakan.
Setelah satu minggu Peko mencantumkan niatnya pada Aliana. Kala itu Peko di paksa menikah dengan perempuan pilihan ayahnya. Hatinya bimbingan, kemudian dengan perasaan yang tenang dia memberanikan diri untuk menikahi Deena. Dengan perasaan Deena sendiri bahwa dia tidak mencintai Peko. Akhirnya Deena memutuskan untuk pergi melarikan diri.
Di saat itu juga Peko pergi menemui Aliana yang sedang bekerja. Melihatnya sedang menangis sendirian.
"Assalamualaikum." Sapanya dari belakang.
"Waalaikumsalam." Jawabnya dengan terkejut. Aliana mencoba menghapuskan air matanya.
Di kala malam Aliana pulang sendirian dan dengan sengaja Peko mengikutinya. Di tempat yang sepi, ada orang yang mendekat dan mencoba mengganggunya. Datanglah Peko membantunya dengan kejamnya penjahat tersebut mengeluarkan pisau dan menusukkan ke perutnya.
"Peko....." Panggil Aliana disertai tangisan.
"Aku mencintai kamu." Ucap terakhir dari Peko dan dibimbing Aliana untuk membaca syahadat.
Datanglah semua orang untuk membantunya. Dengan perasaan kecewa, Aliana telah mengorbankan nyawa orang lain demi menyelamatkan dirinya.
~~SELESAI~~