Namaku Zella. Aku berumur 23 tahun dan berkuliah di kampus ternama.
"Halo Zell, kamu kok belum pulang?" tanya Retta, teman sekamar kostan Zella pada sambungan telepon.
"Iya Rett, soalnya..aku masih ada urusan penting sama seseorang" ucap Zella menyahut.
"Ya udah cepetan gih pulang, udah malem ini lho Zell" ujar Retta di telepon, sebelum Zella menutup telepon itu karena seseorang yang ia tunggu telah datang.
"Hum hai" sapa pria dengan nama Felo itu.
"Hai Felo, udah lama kan kita gak ketemu?!" sahut Zella di restoran yang telah ia pesan untuk bertemu pria bernama Felo itu.
"Apa maumu lagi, Zella?" tanya Felo dengan wajah sedikit pucat.
"Apa benar, penyebab kamu putusin aku karena Echi?" tanya Zella.
"Bukan begitu Zell, dengerin aku!" Felo menyahut sambil memegang erat kedua tangan Zella.
"Gak ada kata maaf bagi kamu! Aku, sebagai wanita juga punya perasaan! Semuanya kulakukan untukmu, tapi, apa balasannya..hah?" Jelas Zella.
Felo menggeleng secepatnya. "Zell, gue mohon rahasiakan ini ya! Gue gak mau Echi malu" ucap Felo.
"Lo...dasar cowok brengsek!" Zella mengambil tas nya dan hendak pergi.
"Zell, gue mohon..rahasiakan ini!" ucap Felo.
"Felo, Lo gila ya?" Zella mengelak.
Felo tidak bisa berkata lagi, ia terdiam dan kembali duduk di kursinya. Sementara, Zella menangis dan menaiki mobilnya lalu pergi.
"Felo, apa...apa yang kurang dari aku? Dari dulu...setelah 5 tahun kita lewati bersama, kamu...kamu khianati aku?!" Zella menangisi takdirnya itu.
Semenjak kepergian kedua orang tuanya pasca kecelakaan, hanya Felo yang mau berteman dengannya. Saat itu, baginya Felo adalah malaikat penyelamat hidupnya disaat gunda gulana. Tapi ternyata salah, kebaikannya selama ini, hanyalah topeng palsu yang ia tutupi.
TIIINNN... Klakson truk dari depan arah mobil Zella terdengar begitu jelas. Zella yang berada tepat di depan truk itu akhirnya tertabrak dan meninggal di tempat.
Truk yang menabrak bukannya menolong, malah kabur.
"Umm, apa ini?" tanya Zella dalam hatinya.
"I..itukan tubuhku" Zella melihat tubuhnya yang sudah berdarah-darah dan meninggal di sudut jalan merasa keheranan.
"Bukannya aku sudah mati? Lalu, tubuh siapa ini?" Zella menyentuh tubuhnya, tapi..bukannya tersentuh, ia justru seperti memegang angin.
"Apa ini? Tubuhku...transparan?" tanya Zella.
Zella mencoba memegang tubuhnya yang sudah meninggal, tetap saja, ia malah menembus raganya itu.
"Ha...apa artinya ini? Aku.....sudah meninggal ya?" Zella tersenyum, perlahan tubuhnya pun ikut menghilang dari bumi ini.