Hai, namaku Adel. Aku bekerja sebagai fotografer freelance dan penulis blog jalan-jalan. Aku sangat menyukai pekerjaanku. Aku bisa travelling kemanapun dan menulis hal-hal indah yang kutemui, tak lupa pula kuselipkan foto yang memukau
Hari ini aku sedang berjalan-jalan di sebuah daerah wisata kota P. Waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi. Aku sangat menikmati sentuhan angin pagi yang lembut menerpa kulitku. Sengaja aku bangun pagi untuk mengejar lukisan matahari terbit Sang Pencipta, ingin kuabadikan dengan kamera DSLR ku
"Kakak.."
Terdengar suara yang memanggilku. Kutolehkan wajahku dan melihat seorang anak kecil tengah berdiri didekatku. Pandanganku berkeliling, belum banyak orang di tempat ini
"Kakak.." panggilnya lagi
"Ya, aku dengar." Jawabku.
Terlihat anak itu senang luar biasa. Aku kembali berjalan sembari mencari tempat yang pas untuk menanti matahari terbit. Saat menemukan sebuah bangku kayu, aku langsung duduk mengistirahatkan kaki. Kutolehkan wajahku, ternyata anak itu masih mengikutiku
"Jangan mengikutiku." Kataku pelan, khawatir suaraku terdengar oleh beberapa orang disana
"Hanya kakak yang mau mendengarkan aku disini. Kumohon, temani aku sebentar ya." kata anak itu sambil menatapku sendu
Aku memutar bola mataku. Aku bukanlah pembenci anak-anak, namun aku tidak suka bila diganggu di saat aku bekerja. Namun sorot matanya membuatku tidak tega
"Siapa namamu?" tanyaku
"Menurut kakak, siapa namaku?" tanya nya sambil tertawa
Diih, malah main tebak-tebakan, pikirku
"Sekar?" Jawabku
Mata anak itu mengerjap pelan sambil tersenyum "Iya, panggil aku Sekar ya kak."
Aku ikut tersenyum. Angin pagi kembali menerpa. Aku merapatkan sweaterku. Sesaat aku melirik ke arah Sekar. Dengan tampilannya yang hanya berpakaian seadanya dan bertelanjang kaki, seharusnya dia merasakan dingin. Tapi wajahnya terlihat biasa saja
"Dimana ibumu?" tanyaku
Sekar tersenyum sendu "Ibu dan ayah meninggalkanku di sini sejak lama."
Aku mengangguk. Aku tidak terkejut dengan pengakuannya. Di jaman edan seperti sekarang, banyak orangtua yang tidak bertanggung jawab.
"Ibu bertemu ayah pertama kali di tempat ini. Mereka sama-sama tertarik satu sama lain. Hubungan mereka berlanjut melebihi yang seharusnya sehingga aku hadir dalam rahim ibu." Sekar memulai ceritanya
Aku hanya terdiam mendengarkan
"Saat tahu aku ada, ibu panik luar biasa. Ibu menghubungi ayah untuk meminta pertanggung jawaban."
"Apa ayahmu mau bertanggung jawab?" Tanyaku. Sedetik aku tersadar dengan pertanyaan bodohku, ditambah dengan kekehan Sekar
"Kalau ayahku mau bertanggung jawab, tentu aku tidak akan ditinggal disini kak."
Kami terdiam sejenak. Semburat oranye mulai nampak di langit bagian timur.
"Ibu dipaksa ayah mengeluarkanku saat usiaku masih sangat kecil. Ibu tidak punya pilihan selain mengikuti kata ayah. Mereka mendatangi klinik aborsi di kota ini."
Sekar menghela nafas pelan
"Saat alat-alat aborsi itu menyentuhku, rasanya sangat sakit kak. Aku menangis berteriak, namun tidak ada yang mendengarku. Tanganku, kakiku, kepalaku, semua sakit disobek dsn dibuat kecil-kecil agar mudah dikeluarkan.."
Aku memejamkan mata. Terbayang sakitnya menjadi Sekar saat ia dikeluarkan paksa
"Setelah aku dikeluarkan paksa, aku dibawa ke tempat ini dan di tanam di bawah pohon cempaka di sebelah sana. Tanpa prosesi dan doa yang mengiringiku." Lanjut Sekar sambil menunjuk pohon cempaka yang berada tidak jauh dari tempat dudukku
"Apa kau marah pada ayah dan ibumu?" Tanyaku
Sekar menggeleng. "Tadinya aku merasa marah. Mereka berbuat tanpa memikirkan aku akan hadir diantara mereka. Ingin rasanya aku pergi dan membalaskan sakit hatiku."
Sekar menoleh dengan tersenyum "Tetapi aku tidak akan melakukannya. Biarkan Pemilikku yang akan mengadili mereka."
Aku ikut tersenyum
"Sekar anak baik. Kakak akan kirimkan doa untuk Sekar. Istirahatlah dalam damai." kataku. Aku tidak bisa membelai kepalanya yang terlihat tidak utuh itu. Selain Sekar tembus pandang, orang-orang yang berada di sekitar situ akan menganggapku kurang waras karena berbicara dengan makhluk tak kasat mata
"Terima kasih sudah mau mendengarkan Sekar, kak. Sekar tunggu doanya ya.."
Sekar tersenyum, seiring naiknya sinar mentari Sekar pun hilang dari pandangan mataku. Aku menatap mentari yang sudah terbit sempurna di ufuk timur
Aku memang kehilangan momen sunrise ku, tetapi aku mendapatkan sebuah pelajaran berharga.
Sekar adalah satu dari sekian banyak bayi yang digugurkan. Jika tidak menginginkan mereka di dunia, setidaknya saat meninggal kuburkan mereka dengan layak serta doakan mereka sehingga mereka bergentayangan dan menuntut balas
Untung, Sekar anak baik
Setiap tindakan pasti ada konsekuensinya. Pikirkan secara matang sebelum bertindak. Lalu sekecil apapun kehidupan yang ada, harus tetap dihargai.
Aku melangkahkan kaki menuju pohon cempaka. Aku tidak tahu dimana persisnya makam Sekar. Aku hanya terdiam mengirimkan doa khusus untuk Sekar. Semoga Sekar selalu berbahagia di sisi Tuhan Yang Maha Esa
#Horor&Misteri
Maafkan setiap kekurangan penulis. Cerita ini murni karangan penulis semata ditambah beberapa referensi 🙏