"El, bukannya itu suami kamu?"
Aku menoleh dan mengikuti arah pandang Anya. Benar di sana ada Mas Al, berdiri di depan sebuah toko perhiasan. Aku membuka mulut hendak memanggilnya, tetapi terhenti dikerongkongan saja saat melihat seseorang datang.
"Lho? Siska ngapain dia?" tanya Anya padaku.
Aku terdiam melihat pemandangan di depanku. Aku menatap dua orang itu yang kini berjalan memasuki toko perhiasan itu. Dilihat dari bagaimana interaksi mereka, keduanya seperti memiliki hubungan yang dekat. Siska merangkul lengan Mas Al.
"Ayo samperin, El," ucap Anya menyeretku untuk ikut dengannya.
Siska dan Anya adalah sahabatku sejak duduk dibangku sekolah. Hingga saat ini kami masih bersahabat, sering pergi bersama dan menghabiskan waktu bersama. Tidak ada pertengkaran di antara kami saat ini, tapi bagaimana bisa Siska....
"Wah, kebetulan ketemu di sini," kata Anya basa-basi.
Sementara aku hanya diam dan menunduk. Tidak berani menatap Siska. Aku masih terus berpikir positif hingga sekarang.
"Anya? El? Kalian di sini juga?" tanya Siska terlihat sangat terkejut.
"Iya, kita lagi jalan-jalan. Tadi kita udah kirim chat mau ajak kamu juga, tapi tadi kamu bilang nggak bisa karena sibuk. Jadi cuma kita berdua saja. Oh ya, kamu sama siapa?"
"Itu..."
"Sayang, kamu suka yang mana?"
Spontan kami menoleh ke sumber suara. Aku dan Anya sudah tidak terkejut lagi, karena memang dari awal sudah melihat. Namun, Mas Al dan Siska yang terlihat sangat terkejut dan ekspresinya sangat terbaca olehku. Mereka tidak menyangka akan bertemu denganku di sini.
Semuanya sudah jelas di mataku, aku pun memutuskan untuk pergi dari sana. Panggilan mereka tidak kuhiraukan sama sekali. Memangnya apalagi yang mau dijelaskan? Dari panggilan Mas Al untuk Siska tadi juga sudah menjelaskan semuanya.
"Maaf, An," gumamku merasa bersalah karena meninggalkan Anya juga.
Aku terkejut saat seseorang menarik lenganku dengan paksa. Spontan aku menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang. Ada Mas Al di sana, menahan lenganku. Namun, ekspresi yang ditunjukkan membuatku bingung.
"Bagus kamu sudah tau, El. Lebih cepat dari dugaanku. Sekarang terserah padamu ingin bagaimana, tapi yang jelas. Aku tidak ingin hidup bersamamu lagi."
Ada sesuatu yang rasanya menghantam dadaku mendengar ucapan Mas Al. Membuatku sesak dan sulit bernapas. Setelah mengatakan hal itu, Mas Al pergi begitu saja.
Aku jatuh terduduk. Dikhianati serta ditusuk dari belakang sekaligus, membuat hidupku runtuh seketika. Duniaku serasa gelap seketika. Mataku buram oleh air mata yang siap meluncur. Sebuah pelukan hangat dari Anya sedikit menghiburku saat ini.
"Tenang, El. Sekarang ayo kita pulang, tenangkan dirimu terlebih dulu. Pulang ke rumahku dulu, ya?"
Aku tidak menjawab, tapi juga mengikuti ucapan Anya. Kami pergi dari sana menuju rumah Anya.
Sesampainya di rumah Anya, aku duduk di sofa ruang tamu. Pandanganku kosong, pikiranku melayang. Masih syok dengan apa yang baru saja terjadi padaku. Berharap semua ini hanya mimpi, tapi bukan. Ini bukan mimpi, sakitnya terasa sangat nyata. Aku menatap jari yang tersemat cincin pernikahan kami. Kami sudah menikah hampir lima tahun, tapi bagaimana bisa dia sejahat ini? Apakah benar cintanya untukku telah hilang?
Aku melepas cincin pernikahan itu, menyimpannya ke dalam tas. Tadi aku masih berharap jika Mas Al hanya bicara omong kosong dan salah bicara. Namun, hingga saat ini tidak ada panggilan masuk. Begitu juga dengan Siska, dia sama sekali tidak menjelaskan apapun.
"Di minum, El. Tenangkan dirimu, tadi aku sudah bicara pada Siska. Aku juga tidak menyangka mereka dapat berbuat seperti itu, seharusnya tidak hanya suamimu yang kutampar. Harusnya Siska juga kutampar tadi," ucap Anya yang terlihat sangat emosi.
"Terima kasih, An," kataku tulus.
"Jangan khawatir, El. Aku akan selalu berada di sampingmu dan akan menjadi orang pertama yang maju jika kamu disakiti. Sekarang pikirkan dulu kondisimu saat ini, ingat ada kehidupan lain di tubuhmu. Sampai sekarang pria baj*ngan itu juga belum tau?"
Aku hanya menggeleng, lebih baik Mas Al tidak tahu. Saat ini keinginanku hanya satu, ingin menenangkan diri dan untuk sementara tidak ingin bertemu dengannya.
💍💍💍