Bulatan tekad mulai kususun, yah, sedikit ragu tetapi aku harus berubah.
Bayang-bayang perasaan negatif timbul tanpa permisi. Tentunya tidak dapat menghambatku, untuk sekarang...
Jika tidak, untuk berapa hari lagi aku harus merasakan hal ini?
Untuk berapa rasa sakit lagi aku pendam, sendiri.
Menunda-nunda hanya akan menambah penderitaan.
Masa bodo dengan kalian. Apa pedulinya kalian? Kendali penuh ada di dalam tindakanku sendiri!
Jangan biarkan sesuatu menghalangi, tidak ada.
Cukup dengan semua ini, kucoba menarik-narik lembar buku yang tertulis. Mencoba menggantikannya dengan satu lembar kertas kosong, seperti terlahir kembali.
Namun, buku tak lagi bagus. Ia menjadi rusak dan tidak beraturan. Memang benar hanya sebuah kertas kosong. Luka yang tidak bisa kuhapus akan selalu ada terukir di dalam jiwa.
Mental penuh penyakit, fisik yang kaku, kehidupan monoton, tidak berubah tidak berkurang. Cendrung memperdalam masalah.
Setiap kali kucoba memberanikan diri, pikiran itu selalu menghampiri. Berakhir seperti sedia kala. "Aku menyesal melakukan ini," dilema.
Aku ingin terbebas dari ini, tetapi aku juga tidak kuat untuk menerima perubahan. Entah hati ku terlalu rapuh? Aku tidak yakin dengan itu.
Tuhan telah memberikan banyak cobaan pada hambanya. Semakin berat ujian, maka orang itu semakin kuat, lalu bagaimana dengan diriku? Aku selalu merasa mendapatkannya lebih dari orang lain.
Aku merasa terasingkan dengan dunia ini, tinggal di antara keramaian yang nyata. Namun, nyatanya aku benar-benar kesepian, sungguh hidup yang hampa.
Perlahan kucoba melangkah antara pembatas yang selama ini terbentuk dalam ketidaksengajaan. Awal mungkin akan berat, tetapi aku yakin, semua akan terbayarkan. Hanya untuk menderita sesaat, sesaat saja. Dengan begitu diriku akan dapat beradaptasi dengan dunia yang kurasa asing ini.
Terima kasih