Sedari kecil aku memiliki imajinasi yang sangat luar biasa. Masa kecilku dihabiskan dengan membayangkan berbagai hal diluar nalar dan pikiran. Orang dewasa tidak akan mengerti bagaimana pemikiran seorang anak berusia empat tahun. Ya, kala itu usiaku empat tahun. Walau samar-samar ingatanku saat itu, tapi aku ingat satu hal dengan jelas. Pengalaman yang sungguh luar biasa pernah aku alami.
Kejadian di luar nalar yang ketika itu masih belum kupahami. Aku hanyalah seorang anak seperti lainnya yang belum mengerti kejadian saat itu.
Begini kisah yang aku ingat. Kurang lebih saat itu pukul sembilan malam dan sekitar rumahku sudah sangat sepi. Dahulu aku tinggal di pedesaan yang masih banyak kebun. Jarak antar rumah juga terpaut jauh. Aku tidak bisa tidur malam itu, akhirnya aku keluar dari kamarku. Berjalan menuju halaman belakang seorang diri. Semua anggota keluargaku sudah terlelap.
Memang kebiasaan orang di desa ini tidur lebih awal, karena pagi buta mereka harus beraktivitas di sawah, kebun, atau ladang. Namun, aku belum mengantuk. Aku memutuskan untuk bermain di halaman belakang yang sudah gelap. Hanya satu lampu sebagai peneranganku malam itu. Aku duduk di atas rumput dengan boneka kelinci berada dipangkuanku.
Aku mendongakkan kepala melihat langit gelap yang dihiasi oleh bintang dan bulan. Mataku berbinar melihat kerlip bintang itu. Ada tawa bahagia yang muncul. Namun, tawa itu seketika terhenti saat melihat salah satu bintang itu bergerak-gerak. Aku mengucek mataku untuk memastikan bahwa aku tidak salah melihat. Aku mengira saat itu sedang berimajinasi. Ternyata tidak, benda itu memang ada.
Benda bercahaya yang terbang di langit sana. Ada banyak benda bercahaya itu. Salah satunya ada yang terbang rendah, hampir saja aku tertabrak olehnya jika tidak segera menghindar. Jika aku berpikir hanya satu yang terbang rendah, ternyata pemikiranku salah. Makin lama makin banyak yang terbang rendah.
Bahkan kini ada yang terbang di depanku. Aku terdiam melihat benda itu. Seorang bocah yang masih polos dan tidak tahu apa-apa mengira bahwa itu adalah kunang-kunang. Tanpa rasa takut aku mengikuti mereka terbang. Masuk ke dalam semak-semak yang ujungnya adalah kebun jagung.
Aku masih terus mengikuti mereka, hingga akhirnya aku sampai di sebuah pohon besar. Aku mendongak melihat pohon itu. Tiba-tiba ada rasa takut yang menyerangku. Namun, cahaya dari kunang-kunang berhasil mengikis rasa takut itu. Mataku berbinar melihat banyak kunang-kunang di tempat ini. Mereka sedang terbang memutari api unggun.
Aku pun duduk tidak jauh dari sana, menonton pertunjukan itu. Tiba-tiba salah satu kunang-kunang itu terbang mendekat dengan membawa kantong kecil yang entah apa isinya. Aku mengulurkan tangan dan kantong itu jatuh persis di tanganku. Kunang-kunang itu melarangku membuka kantong tadi. Entah bagaimana aku bisa mengerti, aku pun juga bingung saat itu.
Hari sudah sangat larut, tapi aku masih belum ingin pulang. Walau mataku sudah berat, aku masih ingin menikmati pesta ini. Udara malam sama sekali tidak terasa dingin karena ada api unggun di sini.
Entah bagaimana kejadian selanjutnya, aku tidak ingat karena tiba-tiba saat bangun aku sudah berada di dalam kamar. Tadinya aku hanya menganggap bahwa yang terjadi padaku hanya sebuah mimpi belaka.
Namun, sebuah kantong yang selama beberapa tahun menghilang dan baru kutemukan ketika aku sudah beranjak dewasa membuatku percaya bahwa itu bukan mimpi. Semuanya nyata dan aku sangat menyesal menganggap mereka sebagai kunang-kunang.
Padahal sudah sangat jelas jika mereka ada makhluk fantasi yang disebut peri. Mereka memiliki tubuh yang kecil dengan telinga runcing. Mereka bersayap dan bersinar, terbang lincah ke sana ke mari. Walau tidak bisa masuk di akal, aku tetap percaya karena sudah mengalaminya sendiri.
Aku ingin kembali ke saat itu, tapi tidak bisa. Kembali ke rumahku di desa untuk mencari keberadaan mereka. Namun, tetap saja kami tidak bertemu. Tentu aku sangat kecewa, kusentuh bandul kalung berbentuk kupu-kupu yang sangat indah. Hanya ini bukti yang kumiliki. Bukti bahwa mereka ada.
🧚♀️🧚♀️🧚♀️