"Wahai hadirin. Sambutlah putri dari Dunia Manusia!"
Prok! Prok! Para hadirin pun langsung bertepuk tangan meriah.
Apa?
Mary berpikir namanya atau nama lain akan disebut. Namun, kenapa hanya seperti itu sambutannya?
----
Mary terkejut. Hari ini seharusnya ia melanjutkan perjalanannya mendaki gunung. Namun, karena ia tersesat, kakinya itu memilih untuk istirahat dibandingkan berlari ke atas mengejar teman-temannya. Sejenak, ia melihat cahaya putih berpendar diantara kegelapan hutan.
Tap, tap. Kedua kakinya melangkah agak cepat. Cahaya itupun berhasil ia tangkap. Namun, cahaya itu membesar, hingga matanya menampakkan pemandangan yang berbeda dari sebelumnya.
Sebuah ruang ganti. Kali ini ia mengenakan gaun berwarna merah yang cantik dengan beberapa ornamen di depan cermin. Ia terkejut, tidak hanya tempat dan wilayahnya yang berubah, tetapi badannya juga? Mary agak heran kenapa wajahya ditutup oleh topeng. Gadis itu jadi penasaran dengan bagaimana wajahnya yang mungkin berubah. Namun, ia menunda pengungkapan pikirannya itu. Ada hal lain yang lebih penting.
"Anu, permisi." lirihnya kepada pelayan bertopeng yang ada dibelakangnya. "Sebenarnya ada apa ini?"
Plak! Si Pelayan yang tidak tahu diuntung memukul punggungnya. Agak keras hingga Mary mulutnya mengangga.
"Kenapa bisa lupa? Hari ini pesta pertunangan anda. Jangan buat kericuhan seperti kemarin, saya mohon. Perilaku anda bisa-bisa mengacaukan pekerjaan saya." jelas si Pelayan dengan ketus.
Kasar sekali si Pelayan ini, batinnya dalam hati.
Pelayan itupun membawa Mary menuju aula yang besar. Langit-langitnya dicat berwarna biru dengan lukisan cupid—bayi-bayi bersayap burung di tiap sudutnya. Tiap tiangnya dicat emas. Dan, seorang pria bermahkota, didampingi oleh perempuan bergaun lebih mewah dibanding Mary, dan seorang lelaki muda, yang mana semuanya mengenakan topeng. berdiri di depan aula.
Banyak orang yang hadir di aula itu. Dan lucunya, semuanya mengenakan topeng. Mereka bersorak kepada orang-orang yang bermahkota di depan—sebut saja si Raja dan Ratu. Lalu, si Raja pun mulai berujar.
"Wahai hadirin. Sambutlah putri dari Dunia Manusia!"
Prok! Prok! Para hadirin pun langsung bertepuk tangan meriah.
Apa?
Mary berpikir namanya atau nama lain akan disebut. Namun, kenapa hanya seperti itu sambutannya?
"Nah, nak manusia, kemarilah!" ajak si Raja agar Mary mendekat. "Biar kudekatkan kau dengan anakku."
Para pelayan pun mendorong badan Mary dengan buru-buru. Astaga! Kebingungan masih memenuhi kepalanya. Ia tidak tau harus berbuat apa.
Mary pun berdiri di samping pemuda yang bertopeng itu. Ia hanya menoleh sekali pada Mary, lalu berbalik ke arah lain. Entah kenapa, itu membuat perasaan gadis itu jadi tidak enak.
"Baiklah! Kalau begitu, pesta dimulai!"
Setelah ucapan si Raja selesai, musik pun dimainkan. Musik yang tidak pernah diketahui oleh Mary. Melodi yang sungguh aneh dan berantakan, namun orang-orang malah berdansa satu sama lain di aula. Raja dan Ratu itupun ikut berdansa di tengah aula. Mary dan pemuda itu terus terdiam. Hingga akhirnya, si Pemuda menarik tangan Mary dengan kasar, "Sebelah sini, cepat!"
"Mana bisa cepat!" bisik Mary, "Gaun ini terlalu panjang untuk dipakai berlari!"
---
Setelah sampai di suatu lorong, pemuda itu membawanya ke suatu ruangan lengkap dengan perabotannya. Sofa, kasur, meja tulis, semuanya tampak kecil dalam ruangan yang luas itu. Pandangan Mary pun berubah menuju ke si Pemuda. Ia melepas topengnya, dan tampaklah kedua matanya yang berkilauan seperti zamrud.
"Siapa kamu?" tanyanya dalam keheningan.
Mary pun ikut melepas topengnya, mengikuti pemuda itu. "Huft, huft." napas Mary tersenggal-senggal. Tidak pernah ia berlari secepat itu.
"Aku sendiri tidak tau! Bisa kau kenali aku dengan wajahku ini?" ujar Mary kebingungan.
"Anastasia nol." jawab pemuda itu pelan. "Tapi sepertinya dalamnya berbeda."
"Apa? Siapa itu?" tanya Mary.
"Tunanganku yang terbunuh kemarin. Tidak ada yang tahu menahu soal namanya. Karena memang negeri ini tidak membutuhkan namanya." ungkapnya.
"Apa? Kenapa bisa tempat ini seperti itu? Bukannya akan susah jika berkenalan tanpa nama?" tanya Mary lagi.
"Ya, tidak." jawaban pemuda itu membingungkan Mary.
Pemuda itupun menambahkan jawaban yang agak panjang, "Hanya negeri ini yang unik. Kaum bangsawan saja yang memiliki nama. Jika rakyat biasa memilikinya, dia akan dianggap sebagai budak. Karena nama bagi rakyat biasa diartikan sebagai kepemilikan. Budak akan memiliki nama yang sama dengan tuannya, hanya diberi angka nol dibelakangnya."
"Itu sebabnya Ayah—maksudku, Raja tidak menyebutkan namamu. Karena badanmu itu adalah ras manusia yang merupakan budak di dunia ini. Kau pasti akan diberi nama yang sama denganku saat penutupan acara nanti."
Mary pun menyadari sesuatu. "Kau pangeran disini? Tunggu, jadi aku akan jadi budakmu?"
"Sudah jelas, kan. Berdiri di depan Raja dan Ratu, disambut pertunangannya dengan pesta besar. Apa lagi kalau bukan?" kali ini sepertinya si Pangeran semakin kesal. "Dan juga, kau jadi tunangan, bodoh. Bukan budak!"
Tap, tap, tap. Langkah kaki yang cukup keras memecah percakapan keduanya.
"Sembunyi! Ini semua salahmu jadi orang bodoh!"
"Apa?! kenapa bisa aku yang—"
Belum selesai bicara, si Pangeran menarik badan Mary ke belakang sofa dan mereka pun bersembunyi sambil berdesakan karena memang pinggiran sofa itu hanya bisa menutupi badan satu orang dewasa yang duduk. Sempit! Panas! Gadis itu semakin kesal karena mulutnya disumpal oleh sarung tangan pemuda itu.
Grek! Terdengar suara pintu dibuka. Seorang pelayan memasuki ruangan. Kepalanya menengok kesana kemari, memastikan ada yang salah. Tidak menemukan hasil apapun, ia kembali ke luar ruangan. Si Pangeran pun melepaskan tangannya dari mulut Mary.
"Aku hampir mati, sialan!" umpat Mary pada si Pangeran. Ia pun langsung berdiri dari posisinya yang tidak nyaman tadi.
"Tidak ada pilihan lain, tahu." lirihnya. "Dan juga, ucapanmu tidak sopan sekali, sih. Manusia memang tidak pernah di didik dengan baik."
"Kau bilang manusia, manusia. Kau sendiri apa? Iblis?" ejek Mary karena jengkel.
"Memang iya."
"Hah?"
"Sudahlah itu tidak penting." kata si Pangeran. Ia pun mengangkat badannya. "Jadi, siapa kamu?"
"Aku manusia. Namaku Mary." jawab Mary jujur, setengahnya karena takut mengetahui fakta bahwa sosok di depannya adalah iblis.
"Baiklah. Maaf, ya, Mary. Sepertinya aku memang tidak mengenalmu. Dan aku akan bertanya lagi," ucapan si Pangeran berubah menjadi sopan. "Kau mau tetap tinggal disini, atau kembali ke dunia asalmu?"
Mary berpikir. Bila disini mungkin ia akan hidup dengan mewah, bagaikan kerajaan di jaman dulu! Apalagi bisa menjadi tunangan seorang pangeran, benar-benar kehidupan yang menyenangkan! Mungkin sebaiknya ia memilih untuk berada di dunia ini.
Berbeda dengan dunia ini, di dunia asli ia harus berangkat sekolah, mengurusi teman yang belum mengerjakan tugas rumah, belum lagi tidak ada jaminan bahwa ia masih hidup kalau kembali ke dunia nyata. Karena sebelumnya ia sudah tersesat di tengah gunung. Jangan-jangan inikah dunia yang dialaminya setelah kematian?
"Aku.."
Tapi, orangtuanya? Ia masih memiliki orang tua yang sangat mendukungnya. Mary pun langsung memantapkan pilihannya.
"Aku memilih untuk kembali saja." putus Mary. "Orangtuaku pasti mencari. Kalau memang aku mati, setidaknya aku ingin melihat mereka untuk terakhir kalinya di pemakamanku."
Senyum si Pangeran mengembang. "Pilihan yang bagus. Kalau memang begitu, tidurlah di kasur itu supaya bisa kembali." si Pangeran menunjuk kasur yang ada di kamar itu.
"Hah? Cara apa itu? Tidak ada portal atau kaca ajaib?"
"Tidak ada." si Pangeran terkekeh. Lalu, mendorong Mary menuju ke kasur itu. "Cara nya memang hanya tidur."
Bruk! Mary pun menurut dan merebahkan badannya di kasur itu. Empuk sekali, rasanya seperti tidur di atas awan. Saat sudah merasa nyaman seperti itu, tiba-tiba pikiran aneh memasuki kepalanya. "Kau tidak menusukku secara tiba-tiba, kan?"
Si Pangeran yang berdiri di depan kasur langsung tertawa lagi. "Mana ada? Tenang. Aku tidak akan melukaimu. Janji."
Mary pun mengedipkan matanya berulang-ulang, mencoba untuk tidur. Langit kasur yang sangat tinggi itu membuat rasa tidurnya agak aneh. Ia pun meminta sesuatu lagi pada Pangeran, "Maaf, boleh pegangi tanganku?"
"Kenapa? Kau terbang kalau tidur?" ejek Pangeran heran.
"Bukan! Aku tidak bisa tidur di tempat asing kalau tidak ada yang memegang tanganku!" jelas Mary agak malu.
"Tuan Putri ini memang repot." keluh Pangeran.
Walaupun mendengus seperti itu, ia tetap memegang tangan Mary. Mary pun rasanya bisa terlelap dengan cara itu. Karena itu mengingatkan nya dengan Ayahnya di rumah. Sebelum mulai terlelap, ia pun bertanya, "Maaf, tapi boleh aku tau namamu siapa?"
"John." jawabnya cepat. "Ayo cepat tidur."
Mary pun tersenyum. Nama yang terlalu biasa untuk seorang Pangeran, sampai-sampai mau tertawa rasanya. Merasa telah dipenuhi rasa tenang. Mary merasa terlelap, terlelap, dan...
Jleb!
"Selamat tinggal, Tuan Putri Mary."
Mary baru ingat kalau John adalah iblis.
---
"Aah!!!"
Dada Mary serasa ditusuk oleh benda tajam tepat di dadanya yang sebelah kiri hingga berlubang. Ia pun bangun karena kesakitan. Dipegangnya dadanya yang sebelah kiri, tidak berdarah, tidak terluka sedikitpun. Mary pun langsung bernapas lega.
"Mary!!"
Seorang gadis yang seumuran dengan Mary memeluknya. Mary terkejut, sepertinya ia sudah kembali ke dunia nyata. Dilihatnya tempat sekitarnya, kasur di kamar tidurnya. Ia sudah kembali ke rumah.
"Aku, apa yang..."
"Kau hampir jatuh di tepi jurang! Untung kakak tingkat menemukanmu! Kalau tidak, kalau tidak, apa yang harus kukatakan pada ibumu!" potong temannya itu dengan mata yang sudah terisak-isak. Ia memeluk Mary dengan sangat erat karena terharu.
"Sudahlah, yang penting Mary selamat." Ibu Mary masuk ke kamar sambil membawa tiga coklat panas. "Benar juga. Kakak kelasmu sepertinya juga ingin melihat keadaanmu."
Teman Mary langsung melepaskan pelukannya, meskipun air matanya masih berlinang. Ia pun memanggil seseorang. "Ayo, kak John, masuk!"
John?
"Halo, Mary. Bagaimana keadaanmu?" tanya seorang pemuda yang dipanggil John.
Mata pemuda itu berpendar indah, berwarna hijau bagaikan zamrud.
Mary menelan ludah.
"Siapa kamu?"
----
Sumber gambar :
https://mobile.twitter.com/shirentutu/status/1431628782301966337