Dodo mendrible bola orange itu dengan lincah, membawanya menuju arena lawan, sementara di belakang, nampak lawan telah bersiap siap merebut bola dari tangannya saat dia lengah. Mereka salah, Dodo bukanlah pria yang lemah, fisiknya kuat dan tinggi, keahliannya dalam bermain bola basket sudah hampir tahap internasional. Tapi ada satu kelemahan yang hanya dirinya saja yang tau, yaitu Dodo takut akan bayangan bayangan masa lalunya.
=====
Prit.. prit...
Sekali lagi bola masuk ke dalam keranjang, skor terakhir penentu kemenangan di cetak oleh Dodit Dwi Saputra. Lebih tepatnya dipanggil dengan nama "Dodo". Dia lah pahlawan bagi sekolah SMA harapan dalam bidang olahraga, khusus nya Basket. Tak heran, banyak siswi sekolah itu berusaha mendekati nya, tapi sayang, Dodo mempunyai karakter dingin, dengan siapapun. Dodo lebih suka menyendiri dengan bermain gitar di ruang olahraga.
===
" Dodo.. " sebuah suara memanggilnya , tepat setelah bola masuk ke dalam keranjang, dan bunyi peluit berbunyi. Suara sorak sorai penonton sama sekali tidak mempengaruhi suara yang memanggilnya itu, terdengar jelas olehnya seakan sedang berada di sebuah gedung sendirian, dan suara itu memantul keras. Dodo menoleh dan melihat sepasang mata yang begitu jernih sedang berjalan mendekati nya.
Dua kepang rambut panjangnya berayun mengiringi langkah anak perempuan itu, dan bergerak lebih cepat sebab anak itu berlari ke arahnya. Dodo membelalakkan mata, ketika anak perempuan itu terjatuh. Keduanya nampak panik, karena sebuah truk melaju dengan kecepatan kencang, dan seketika darah merah memuncrat mengotori kaca depan truk tersebut.
" Delia.., Deliaaaaaaa" teriak Dodo sangat kencang. Membuat semua orang dalam pertandingan memusatkan perhatian mereka pada Dodo.
Dodo jatuh dan membentur dengan kerasnya lantai lapangan yang berlapis semen itu, sebelum berbalik kemudian terlentang pingsan di lantai lapangan.
=====
flashback
" Do... nanti jemput aku ya... sore ini ada jadwal menari.. " pinta Delia kembarannya.
" Ogah.. " jawab Dodo seketika, cuek. Delia merengut.
" Ma.. Dodo gak mau jemput Adel... " teriak Delia sengaja, mengadu pada sang Mama yang sedang sibuk mengetik.
" Dodo... rukunlah dengan saudara mu Nak, kalian harus saling menjaga satu sama lain. " Sahut sang Mama, dengan masih sibuk mengetik.
" Tuh dengarin.. Do.. " sambar Delia yang suka bila rambutnya berkepang dua.
" Sudah sudah.. ribut aja, satu badan kok ribut melulu.. " sahut sang Mama, sembari menoleh ke kedua anaknya itu sejenak.
" ih.. Mama.. kami punya badan masing-masing kok, bukan satu badan" balas Delia memprotes kata kata Mamanya.
" Iya..iya.. ibu tau, buruan gih,.. udah pukul berapa ini, nanti telat masuk ke sekolah! " balas ibu dari kedua anak kembar itu, kemudian berdiri dan membuka dompet, memberi uang saku ke anak kembar itu.
" Ingat Do.. bawa mobilnya hati hati, jangan cepat cepat, dan jemput Adikmu, Adel ... ya! " pesan Puspita, sebelum kedua anaknya berangkat ke sekolah.
" kami berangkat bu" pamit kedua anaknya selanjutnya.
=====
Ponsel Dodo bergetar dalam tas, Dodo yang baru saja bermain basket dalam pertandingan segera mengambil phonselnya itu. Dilihatnya ada 7pesan masuk dan 10 kali panggilan masuk dari Delia, kembarannya.
Dodo menepuk dahi, menyesalkan dirinya yang lupa jika harus menjemput Delia di Sekolah. Kemudian Dodo menekan kontak Delia, akan menyuruh Delia untuk menunggu.
Panggilan Dodo langsung di terima dengan cepat oleh kembarannya itu dan suara teriakkan segera memecahkan gendang telinga Dodo.
" Dodoooo..... cepat jemput aku.... "
" Iya.. iya... ah.. bawel... " balas Dodo lalu segera menutup ponsel.
Dodo berdiri dan berbicara pada salah satu teman agar mengijinkan dia untuk pergi sebentar menjemput Adel.
===
Dodo menyetir agak cepat, sehingga cepat tiba di depan Sekolah Delia. Saudara kembarnya yang sedang duduk di bangku depan sekolahnya itu rupanya langsung mengetahui kedatangan Dodo, Delia pun membenahi tas dan segera berdiri.
Delia melambaikan tangan, dan tersenyum sumringah.
" Do.... " teriak Delia keras.
" iya.. iya... maaf saya telat jemput kamu.... " balas Dodo juga sambil teriak.
" Aku gak mau maafin kamu ya... aku akan tonjok kamu setelah ini... " balas Delia dari seberang jalan, berteriak.
" Sadis ya kamu... aku tonjok balik kamu... " balas Dodo, tapi dengan tidak berteriak lagi. Delia merengut,
" Cepat putar mobilnya, .. aku ogah menyeberang jalan" teriak Delia lagi.
" Kebiasaan kamu... dasar manja.. menyeberang sebentar kenapa, kaya anak kecil aja gak bisa menyebrang jalan." balas Dodo dengan kesal.
" Gak mau.. " teriak Delia sambil menggeleng.
" ck... buruan gih... aku sedang dalam pertandingan"
" Gak mau.. " balas Delia lagi lagi sambil berteriak.
" heh.. " Dodo menghela nafas kesal, lalu berkata,
" Ya udah tunggu, aku tau kamu paling takut menyebrang lalu lintas kan, dasar bayi.. " lanjut Dodo, berbicara ringan, tapi ternyata masih bisa didengar oleh Delia.
" kamu ngatain aku ya Do.. hem.. " ucap Delia dengan merengut. Delia kesal.
" kamu dengar .. ups... eh iya kita kan kembar ya... " lanjut Dodo sambil sibuk menunggu celah sibuknya mobil yang melintas.
Delia yang merasa tersinggung dan kesal, dengan memberanikan diri, menyebrang lalu lintas itu, walaupun sebenarnya badannya sedikit gemetaran dan jantung berdegup agak kencang.
===
" Do.. do... " teriak Delia, sembari berlari menyebrang jalan.
" Delia.. hati hati Delia... jangan lari... !" ucap Dodo dengan agak panik.
Tanpa di ketahui oleh mereka, tiba tiba saja ada sebuah truk melintas dengan kecepatan penuh.
" Deliaaaaa..... " teriak Dodo, saat kecelakaan itu terjadi di depan matanya.
flashback selesai.
=====
Dodo terbangun dari pingsan nya, di lihat sekeliling, Dodo langsung tau, dia sedang berada di ruang pengobatan di dalam gedung olahraga tersebut.
Tak lama, pintu terbuka, Ivan teman Dodo menghampiri nya.
" Kamu kenapa Do, apa tadi pagi gak sarapan? " tanya Ivan.
" Gak... " balas Dodo dengan wajah muram dan lesu.
" Kamu teringat kejadian itu lagi? " tanya Ivan selanjutnya.
" Aku gak bisa lupain masa lalu Van, dia saudara kembar saya".
" Hem... aku tau, kamu belum bisa lupa, tapi jangan pernah berhenti untuk melupakan masa lalu itu Do, bagaimanapun itu, semua adalah takdir Tuhan" lanjut Ivan menyarankan.
===
Tamat