Tembok semen yang bergesekan dengan ujung sendok menghasilkan suara nyaring yang membuat ngilu. Mau bagaimana lagi, hanya itu yang dapat kulakukan untuk menandai pergantian hari. Empat garis vertikal dengan satu garis diagonal dari kiri ke kanan berjejer rapi.
Entah ada berapa jumlahnya sekarang. Aku berhenti menghitung sejak garis ke-958, tapi terus menorehkan garis baru setiap kali cahaya matahari menerobos melalui ventilasi kecil di atas tembok.
Bau apak dan pesing memenuhi ruangan berukuran yang tidak lebih dari 2x3 meter ini. Aku muntah sampai hampir mati ketika pertama kali masuk ke sini, tapi sekarang ... semuanya terasa wajar. Aku bisa tidur dengan nyaman dan melahap makanan basi yang disodorkan lewat celah kecil di bawah pintu setiap pagi dan sore.
Semuanya baik-baik saja ... sampai dua hari lalu ....
Dia datang!
Dia datang lagi untuk mencariku!
Dia sengaja menyambar-nyambar atap dan terkikik-kikik pelan agar nyaliku menciut!
Selama ini aku tidak takut! Tidak pernah takut! Jimat yang diberikan oleh Bapa selalu berhasil mengusirnya pergi. Akan tetapi, kali ini ... sialan, seharusnya aku tidak menghilangkan kotak kecil yang dibungkus kain hitam itu!
Krrrk ....
Tuk.
Tuk.
Tuk.
Kamu dengar itu?
Aku bisa melihat kuku-kukunya yang hitam dan runcing menggaruk dan mengetuk-ngetuk daun pintu.
Mataku menatap nyalang. Bayangan hitam yang melayang bolak-balik di depan pintu seolah mengejek, memberi tahu jika kali ini aku tidak bisa ke mana-mana lagi.
“Aku tidak takut!” seruku dengan suara yang lebih mirit cicitan tikus.
Hihihi ....
Tawanya melengking tinggi dan tajam, membuatku melompat dari atas ranjang besi reyot dan masuk ke kolongnya yang lebih mirip tong sampah.
Kuabaikan semua aroma yang membuat mual, lalu mengatur napasku pelan-pelan.
Dia tidak boleh menemukanku! Tidak boleh!
Ranjang di atasku mulai berderit-derit. Entah karena dia duduk di atas sana, atau karena seluruh tubuhku gemetar hebat.
Seharusnya aku tidak melawan nasihat Bapa waktu itu. Seharusnya aku tidak mengikuti ide gila kawan-kawanku. Seharusnya sekarang aku bergelung di ranjang yang hangat bersama Nando.
Sial!
Aku mendengkus pelan dan mengusap cairan hangat yang mengalir di pipi.
Ya. Seharusnya aku menuruti perkataan Bapa.
***
1 Januari 2019.
“Ojo lungo, Ratih. Iki dino Seloso, selo-selone menungso.”(1)
Bapa menahanku di depan pintu, mencekal pergelangan tanganku sambil menatap dengan sorot memohon. Aroma dupa yang kental menguar dari jarit hitam yang melilit di tubuhnya.
Aku menghela napas. Kami sudah membahas ini sebelumnya, tapi pria yang separuh rambutnya sudah memutih itu tidak mau menyerah hingga detik terakhir, meski aku sudah berulang kali mengatakan bahwa aku tidak akan mengubah keputusanku.
“Ndak iso, Pak. Ratih udah terlanjur janji sama teman-teman. Mereka udah nunggu di stasiun,” ujarku seraya mencoba mengurai jemarinya yang masih menggenggam erat.
“Aku wes kelangan ibumu, ojo mbok tambahi maneh, tho, Nduk ....”(2)
Nada suara Bapa yang memelas membuat hatiku teriris, tapi aku benar-benar harus pergi. Aku harus membuat Julie jera! Gadis sombong itu harus menangis darah. Setidaknya, dia harus mengakui kalau dia adalah seorang pengecut. Dengan senang hati aku akan merekamnya yang sedang terkencing-kencing di celana, lalu menyebarkan ke seluruh sosial media. Dengan begitu, Nando tidak akan menatapnya dengan sorot penuh kekaguman lagi.
“Bapa, Ratih janji, besok kita udah ketemu lagi. Jangan kha—“
“Mereka tahu kalian akan datang. Berhati-hatilah,” sela Bapa seraya menghela napas panjang. Sepertinya ia menyerah membujukku untuk tetap tinggal.
"Baik, Bapa. Ratih akan hati-hati."
Aku tersenyum dan memeluk Bapa. Sebagai pria berdarah Jawa, Bapa masih sangat percaya pada hal-hal yang berhubungan dengan klenik, weton, dan semacamnya. Dia bahkan bisa berkomunikasi dengan makhluk halus. Aku percaya, karena aku pun bisa melihat mereka ... maksudku, makhluk-makhluk tak kasat mata itu. Tidak sedikit yang mencoba berkomunikasi denganku, tapi aku memilih untuk mengabaikan mereka. Julie selalu tertawa paling keras setiap kali aku mengatakan ada makhluk halus di sekitar kami. Benar-benar menjengkelkan!
“Untuk menolak bala,” jelas Bapa tanpa kuminta, “Simpan baik-baik.”
Aku terdiam ketika Bapa menyodorkan sebuah benda seukuran korek api yang dibalut kain hitam. Aku tahu Bapa mencemaskanku. Namun, ada hal lebih penting yang harus kukerjakan. Pernikahanku akan diadakan tiga bulan lagi. Aku tidak mau pesona Julie membuat Nando berpaling, meski tunanganku itu berulang kali mengatakan dia hanya kagum, bukan cinta pada gadis berambut pirang itu.
“Terima kasih, Bapa,” ucapku sambil memasukkan benda itu ke dalam saku celana.
Aku berjalan melewati pintu tanpa menoleh, tidak ingin Bapa berubah pikiran dan menahanku lagi. Masih ada waktu satu jam sebelum kereta berangkat. Aku harus bergegas.
***
Bapa benar, makhluk-makhluk itu sudah menunggu kami. Seperti biasa, aku berpura-pura tidak melihat mereka dan terus berjalan bersama rombongan menuju pohon besar, yang sesungguhnya sama sekali bukan pohon. Jika saja teman-temanku mau mendongak, mereka pasti bisa melihat sepasang mata merah yang menyala di atas sana.
Bayangan-bayangan hitam yang melesat di antara ilalang membuatku sedikit meremang. Aku bisa melihat rupa mereka, juga aroma amis yang tertinggal dari lendir yang menetes-netes. Tiba-tiba aku ingin pulang, tapi sudah kepalang tanggung.
“Heh! Malah bengong! Buruan, itu Julie udah jaga!” bisik Gladys seraya menyeret tanganku memasuki area pabrik.
“Tunggu sebentar!” seruku. Kacamataku hampir terlepas!
Setelah benda itu terpasang dengan baik, aku kembali bisa melihat dengan jelas. Namun, sudah tidak ada siapa-siapa lagi.
Ke mana perginya Gladys? Mengapa bayangannya sudah tidak terlihat? Aku membuka ransel dan mengambil senter, berjaga-jaga jika benda itu diperlukan.
“Hey! Ke sini!” Seseorang memanggil dan melambai dari depan rumah bergaya Belanda yang tampak seperti gambar monokrom yang kabur.
“Gladys?” panggilku sedikit ragu sambil mengusap permukaan kacamataku yang sedikit berkabut. Sosok itu tidak terlalu jelas, seolah nyata tapi juga bukan dari dunia yang sama denganku.
Krosak!
Suara di belakangku membuatku melompat dan refleks berlari ke arah bangunan tua itu. Aku menoleh sekilas dan melihat seseorang berkelebat di antara ilalang.
Sialan! Seharusnya tadi aku tidak melepaskan tangan Gladys.
Angin dingin langsung menerpa ketika pintu kayu bangunan tua itu kudorong, menimbulkan bunyi yang cukup keras.
“Gladys?” Aku memanggil namanya pelan, berharap gadis yang berpostur tubuh sama denganku itu menyahut dalam kegelapan.
“Aku di sini.”
Oh, syukurlah.
“Di mana kamu?” bisikku seraya menyalakan senter dan menyoroti isi ruangan.
Sarang laba-laba dan debu di mana-mana. Perabotan tampak lapuk dan berlubang-lubang karena dimakan ngengat. Ada banyak aura gelap yang membuat ruangan ini semakin suram. Benar-benar sempurna.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara langkah kaki yang cepat dan mantap terdengar lagi dari balik pintu. Cepat-cepat aku mematikan senter dan berlari ke sisi lemari di pojok kanan. Siapa pun yang ada di luar sana, sudah jelas bukan hantu.
“Gladys? Kamu di mana?” panggilku lagi, mulai sedikit kesal.
Aku sungguh berharap gadis itu bisa menolongku jika siapa pun yang berada di luar sana memang berniat jahat.
“Aku di sini,” bisik Gladys yang muncul entah dari mana, membuatku hampir terjungkal karena terkejut.
“K-kamu!”
“Shhht, dia datang.”
Suara pintu yang berderit terbuka semakin lebar membuatku bungkam. Sekarang aku yakin sosok itu bukan hantu. Bayangannya bergerak jelas di depan kaca jendela, seperti sedang mencari sesuatu. Dari postur tubuhnya, sosok itu terlihat seperti seorang pria. Mungkinkah salah satu dari teman-temanku?
“Lendra?” panggilku pelan, berharap sosok itu menyahut.
Sialnya, dia tetap diam. Malah seolah menajamkan pendengaran untuk mencari lokasiku.
“Wawan?” panggilku lagi, berharap kali ini dia akan menyahut.
Gladys menarik-narik tanganku dengan cemas sambil meracau, “Dia ke sini. Dia ke sini ... cepat, dia ke sini ....”
“Diam!”
Aku meraba-meraba di lantai, mencari sesuatu untuk dijadikan senjata. Sementara Gladys hanya bisa merengek-rengek seperti bayi yang menyebalkan.
Ah, ketemu! Kupegang erat-erat potongan kayu yang sepertinya merupakan bagian dari lemari yang terlepas.
Kulemparkan senter ke arah berlawanan sehingga sosok itu menoleh, lalu aku melompat bangun dan menghantamkan kayu ke tengkuknya tiga kali.
“Arrrgh!”
Pria itu mengerang keras sebelum jatuh berdebum. Aku tidak peduli. Inilah satu-satunya kesempatan kami untuk melarikan diri. Aku harus keluar dan memberi tahu yang lain kalau ada penyusup di tempat ini.
“Gladys, ayo pergi,” ujarku seraya menoleh ke belakang hanya untuk menemukan gadis itu sedang menatap ke arahku seraya terkikik-kikik.
Dari jarak yang tidak sampai dua meter, aku tahu pasti dia bukan Gladys. Itu ... dia ... makhluk itu ....
Seluruh bola matanya putih, terlihat kontras dengan rambut hitamnya yang meriap-riap seperti medusa. Ketika tangannya teracung, kuku-kukunya terlihat seperti akar pohon beringin yang berusia ribuan tahun. Aku tahu jelas tidak ada satu manusia pun yang memiliki tangan seperti itu.
“Kyaaa!”
Aku menjerit sekuat tenaga ketika sosok itu melesat ke arahku. Sialnya, hanya keheningan yang kurasa. Aku juga tidak bisa bergerak. Secara aneh tubuhku mulai melayang, berputar ... oh, makhluk itu terbang tepat di atasku.
Dia membuka rahangnya lebar-lebar sehingga belatung-belatung gemuk berlompatan keluar dari sana, jatuh ke wajahku dan mulai merayapi mulut dan hidung. Aroma anyir tercium dari cairan lengket yang membasahi wajahku, masuk bersama puluhan belatung yang terus berjatuhan. Aku tersedak dan kehabisan napas, perlahan terisap dalam sebuah lubang hitam yang tak berdasar.
Blar!
Suara ledakan yang dahsyat membuat kami sama-sama terpental. Makhluk itu menjerit penuh amarah sebelum merayap di langit-langit dan menghilang. Deru napasku memburu satu-satu. Aku meludah dan berusaha untuk muntah, berharap semua belatung dan lendir busuk itu keluar dari perutku.
Tiba-tiba aku teringat Bapa, juga sosok yang sejak tadi tergeletak di atas lantai dan tidak bergerak. Seharusnya pukulanku tadi hanya membuatnya pingsan sebentar. Mengapa dia tidak terbangun mendengar semua kekacauan ini?
Peduli setan! Aku mau pulang!
Dengan sisa tenaga yang masih ada, aku merayap keluar dari bangunan itu.
***
Bum!
Bum!
Bum!
Suara pukulan di daun pintu membuatku hampir tersedak. Aku tahu makhluk itu hanya sedang menggodaku. Dia bisa masuk kapan pun dia mau. Tidak ada yang bisa menghalanginya. Darah Wawan malam itu membuatnya semakin kuat, memberinya saripati untuk mewujudkan keinginnya selama ratusan tahun: kembali menjadi manusia.
Kalau saja Wawan yang bodoh dan ceroboh itu tidak mencoba menjahiliku malam itu, maka semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Kalau saja potongan kayu yang kutemukan tidak ditancapi oleh paku berkarat, maka mungkin pria itu hanya akan pingsan seperti tujuanku semula. Kalau saja aku tidak terlalu ceroboh dan paranoid sehingga tidak memukulnya, maka semua pasti akan baik-baik saja.
Tidak.
Tidak.
Kalau saja Julie tidak terlalu menyebalkan, atau Nando tidak tergila-gila padanya, atau kalau aku tidak ikut dalam semua kegilaan malam itu. Berengsek!
Brak!
Suara atap yang dihantam dari atas membuat air mataku menderas. Kali ini, sepertinya aku tidak akan berhasil lolos.
Kalau saja sipir berengsek tadi tidak memaksaku membuka jimat dari Bapa, maka aku tidak akan kehilangan benda itu. Wanita tambun yang sok berkuasa itu ... aku bersumpah akan menghantuinya sepanjang hidupnya kalau sampai aku mati malam ini.
Ratih ....
“Pergi!”
Aku berteriak sambil menutup telinga.
Ratih ....
“Pergi kataku! Pergiii!”
Kena kau!
Tubuhku menegang ketika makhluk itu menyeringai tepat di depan wajahku. Belatung-belatung menari-nari di permukaan kulitnya yang hancur dan berair. Satu per satu mereka menggeliat dan melompat, berlomba-lomba memasuki mulutku yang terbuka lebar.
Kali ini tidak ada lagi ledakan yang memisahkan kami. Perutku penuh sesak. Air mataku sudah habis. Tubuhku terisap dan melayang-layang dalam ruang hampa udara yang pekat. Dari pusaran udara yang semakin mengecil, aku bisa melihat makhluk itu berdiri di depan pecahan kaca yang menempel di tembok sel. Dia menyeringai lebar, tampak puas mengusap wajahku yang kini menjadi miliknya.
***
1: “Jangan pergi, Ratih. Ini hari Selasa, saat sepi-sepinya manusia.”
2: “Aku sudah kehilangan ibumu, jangan kamu tambahin lagi, Nak."