Aku baru menempati sebuah kontrakan baru. Hari ini adalah malam pertama aku akan meletakkan kepalaku di ranjang kontrakan baruku.
Aku pulang larut malam. Membuka pintu kamar kontrakanku. Lalu, aku menyelesaikan ritual mandi setelah pulang bekerja. Melanjutkan tidur kemudian.
Kresh! Kresh! Kresh!crash!
Baru saja, aku akan terlelap nyenyak. Sayup-sayup aku mendengar suara tangan seperti menggaruk dinding di atas kepalaku. Aku ingin memeriksanya apa yang aku lihat. Namun, kedua belah mataku sulit terbuka. Seakan ada lem pipa yang kuat telah di rekatkan di setiap ujung kelopak mataku.
Tuk! Tuk! Tuk!
Suara tumit sepatu yang kemudian terdengar berisik. Tentu saja aku sendirian dalam kontrakan rumah ini. Suara tumit sepatu itu, pastilah milik sosok yang tidak terlihat.
Sepasang mata milikku telah lelah. Aku ingin tidur. Namun, suara berisik itu tidak mengijinkan aku tidur. Hingga menjelang fajar. Suara berisik itu menghilang. Aku-pun mampu terlelap dengan cepat. Walau hanya dua jam aku terlelap. Lalu, kembali terjaga kala matahari naik lebih tinggi.
Aku duduk di tepi ranjang. Mengamati setiap keliling kamarku. Tidak ada yang berserakan. Segala sesuatu tampak seperti sedia kala posisinya.
Aku pun berdiri di tengah ruangan
Memejamkan mataku. Mencari sisa-sisa bukti masalalu dalam kontrakan ini. Bagai perasaan Deja Vu yang menjebakku dalam ingatn seseorang. Aku mulai berhalunisasi.
Aku mulai berandai-andai aku adalah seorang wanita dengan baju ketat melingkar tubuhnya. Sepatu tinggi yang ku kenakan. Keluar dari sebuah rumah. Entah, rumah milik siapa. Aku tidak mengenalnya. Dengan senyum merekah, dan bibir bewarna merah muda, aku berjalan ke pinggir jalan raya.
Walau aku merasa aneh. Namun, aku tidak bisa menggerakkan keinginanku sendiri. Aku hanya mengikuti peran wanita dalam benakku saat ini. Setiap gerakan itu bukan miliku. Namun, wanita itu.
Tidak lama sebuah mobil datang. Aku membuka pintu mobil. Pria itu menatapku. Walau, serasa sangat asing akan pria itu. Namun, pria ini sangat mengenal baik peran wanita dalam benakku ini.
Pria itu menciumku. Aku diam. Ingin berontak. Namun, setiap gerakan ku yang terjadi adalah sebaliknya. Peran wanita itu sangat menyukai peran lelaki ini. Menerima ciuman dengan antusias. Hanya aku sendiri, merasa jijik dengan perasaan Deja Vu.
Tidak lama kemudian. Mobil berjalan. Entah kemana? Aku tidak mengenal semua jalan itu. Yang aku ingat, mobil itu menepi masuk ke sebuah rumah yang terlihat mewah di mataku.
Lalu, sang peran pria membawa peran wanita masuk ke dalam rumah yang tampak sepi melompong. Duduk di tepi ranjang, dengan gelas merah yang memabukkan memegang kaki gelas.
Aku dalam peran wanita. Melongo bingung menatap cairan merah dalam gelas itu. Peran wanita itu pun meletakkan gelas ke atas nakas, dan bibirku terbuka sendiri, dan melontarkan satu kalimat yang mengejutkan pria itu dan juga diriku.
"Aku hamil anakmu!"
Apa? Aku tidak sedang hamil, jeritku sendiri dalam benakku. Namun, aku sadar jika aku sedang dalam posisi sebagai peran wanita yang berkeluh kesah kepada sosok pria yang terlihat tegang akan berita itu.
"Anak siapa itu?" Peran pria tampak sarkas, dan terlihat meragukan.
"Milikmu. Aku hanya denganmu."
Pria itu memiringkan bibirnya.
"Aku tidak mempercayainya! Bahkan aku melihat dengan kepalaku sendiri, kau masih meladeni pria-pria lainya. Apakah kau perlu bukti perselingkuhanmu?"
Sang wanita terlihat bingung dan kosong. Ingin berkata sesuatu lebih banyak lagi. Pria itu telah pergi. Meninggalkan dirinya dalam rumah kontrakan yang sepi itu.
Dring!
Alarm panjang mengejutkanku.
Aku terbangun dari perasaan Deja Vu itu. Aku segera bangkit bangun dan tidak ingin melanjutkan mencari tau siapa yang mengunjungiku malam tadi.
"Aku hanya membantu diriku sendiri. Aku tidak ada urusannya dengan siapa hantu itu. Aku tidak mengenalnya."
Aku pergi meninggalkan kamar. Tanpa menyadari sosok wanita yang telah aku jalanj peran itu, terbingkai dalam cermin, dan berkata, "Aku mengenalmu. Kekasihku itu pun sangat mengenalmu. Hanya kau yang mampu membuat dirinya mengakui keberadaanku! Tolong aku, Janeta Diandra! Aku ingin pergi damai!"
Seakan ada suara yang merengek mengikutiku. Aku berhenti di garis pintu. Menoleh ke belakang, menatap cermin. Hanya wajahku yang terpantul di sana.
"Sepertinya aku tidak ingat siapapun! aku tidak mengenal dia. Tetapi, mereka sebut aku mengenal mereka."
****
Tamat