Hari itu di jogja, 17 November 1996. Tepatnya di Malioboro, sekitar pukul 5 sore menjelang malam. Cuacanya mendung, langit gelap tetapi tidak juga turun hujan.
Saat itu aku baru saja menyelesaikan tugasku, saat aku melihatnya disana. Dari sebuah bangku di bawah pohon beringin yang kududuki, dia menatapku. Ia menggunakan kebaya hijau dan jarik putih khas jogja, rambutnya disanggul rapi bak seorang putri keraton, aku melihatnya berdiri di bawah lampu jalan tak jauh dari tempatku duduk.
Entah sejak kapan ia berdiri disana, matanya tak lepas dari diriku. Tetapi aku baru menyadarinya. 1 detik... 2 detik... 3 detik... aku membuang wajahku ke arah laptop yang kupangku, menutupnya dan memasukkannya ke dalam totebag putih yang kubawa.
Karena sudah selesai dengan urusanku, aku berdiri hendak pulang dengan sebuah bus.
Aku berhenti di sebuah halte pinggir jalan, menunggu busku datang. Awalnya hatiku berusaha untuk tak menghiraukan wanita cantik itu, tapi bahkan pikiranku tak bisa lepas dari nya, kebaya itu... jarik itu... dan wajah memikat itu. Tepat sebelum bus datang, aku menoleh ke belakang, wanita itu masih menatapku dalam diam, dan aku tahu apa maksudnya. Jika tidak ingin meminta tolong, maka dia hanya menyadari kalau aku juga bisa melihatnya.
Bus datang, diriku melangkah ke dalamnya. Dingin ac menerpa wajahku, di dalam bus sepi, tidak ada orang kecuali sopir dan asistennya. Aku duduk di salah satu kursi di dekat jendela. Sebelum bus berangkat, aku sempat melihatnya lagi, dia masih melihatku dengan tatapan yang sama.
Diriku merasa aneh, tapi aku hanya bisa membuang pandanganku. Karena aku sedang dalam proses, proses untuk tidak memedulikan sesuatu di sekitarku yang bukan urusanku. Aku membayangkan bisa menjadi orang-orang yang kutemui hari itu, berjalan tanpa harus menolehkan kepala melihat sosok wanita berparas cantik yang berdiri di sana, karena mereka bahkan tidak melihat apa-apa. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menyangkal kalau ada sesuatu disampingku saat itu.
Bus berjalan dan rintikan air hujan mulai turun, mengiringi perjalananku pulang, tidak, maksudnya kembali ke kos-an ku.
Kusandarkan kepalaku ke punggung kursi berbulu itu, menatap keluar. Langit gelap, lalu lalang kendaraan dengan lampu yang menyala, jalanan yang basah karena rintikan hujan, dan juga lampu lalu lintas. Bisa dibilang sore itu terkesan sangat romantis, dapat kulihat seorang pasangan yang menggunakan satu jaket di atas kepalanya berlari menyebrang jalan menembus hujan. Pasangan itu berhenti di depan pos, rambut mereka basah dan mereka saling melemparkan tawa-an.
Bisa dibilang aku merasa iri? Tidak juga, karena aku bahkan tidak memiliki seorang teman disini.
Aku menghembuskan napas beratku, menutup mataku meresapi setiap momen saat itu. Suara deru ac yang dingin, keheningan yang mencekam tapi menyejukkan.
Lalu soal teman, walaupun prestasiku tinggi disekolah, tidak ada orang yang mendekatiku. Para siswa ambis berpikir bahwa aku adalah saingan mereka, mereka merasa terancam dengan kehadiranku. Lalu alasan utama mereka semua tidak mau mendekatiku adalah... suatu ke-spesialan yang diberikan Tuhan kepadaku, seperti yang kalian ketahui aku bisa melihat mereka, sesuatu yang tidak bisa dilihat manusia biasa. Contohnya wanita berkebaya tadi. Dengan kemampuan ini, aku sering merasa terusik, dan orang-orang menganggapku aneh. Lalu seiring waktu mereka mulai merundungku, dan diriku menjadi lebih pendiam... walaupun itu bukan diriku yang sebenarnya.
Sejak awal, sebenarnya aku sudah tahu kalau kehadiranku di kota ini salah. Orang tuaku menentangnya, aku kabur dari rumah orang tuaku dan pergi ke kota pelajar ini. Alasanku melarikan diri kemari sama, aku melarikan diri dari kehidupan sekolahku di sana. Tapi sayangnya, nasib yang menimpaku tetap sama. Mereka masih merundung dan mengucilkanku.
Awal aku tinggal di kota pelajar ini aku masih bisa menahannya, menahan atas ejekan yang dilempar orang-orang di sekolah. 2 tahun masa SMA sanggup ku lewati disana. Tapi di tahun ketiga aku sudah tidak sanggup lagi, mereka semakin gencar mengataiku. Aku melarikan diri lagi, sama seperti dulu. Dan pada 13 Juli 1997, aku pergi dari sini. Dari kota ini, dan dari negara ini.