Suasana perang itu sungguh sangat tak bisa lagi dibayangkan. Entah sudah berapa ribu atau bahkan puluhan ribu nyawa yang sudah melayang karenanya? Bahkan seluruh tanah yang dipijak sudah berubah dilapisi genangan merahnya darah.
Tak ada pihak yang diuntungkan, karena keduanya sudah sama-sama kehilangan banyak pasukannya. Jangan tanya lagi kondisi mereka yang masih memiliki nyawa. Rata-rata bagian tubuh mereka sudah tak utuh lagi. Entah itu kehilangan sebelah tangan atau kaki atau bahkan keduanya.
Begitu pun dengan sang Jendral Ping, salah satu jendral pasukan yang saat ini masih memimpin perang bertarung dengan jendral lainnya itu, Jendral Xie. Di sisi Jendral Ping yang tersisa adalah kaki kirinya. Sementara tangan kanan dan kiri kebetulan masih utuh. Sedangkan di sisi Jendral Xie, ia telah kehilangan tangan kirinya dan sebelah kaki kanannya. Makanya posisi ini memang tidak menguntungkan Jendral Xie.
Jendral Xie bahkan sudah bertarung dengan keadaan duduk. Dan saat ini ia berusaha sekuat tenaganya untuk menahan serangan sihir yang akan diluncurkan oleh Jendral Ping dengan bantuan cincin yang dikenakan di jari manis tangan kanannya itu.
Ketika energi sihir mulai terkumpul banyak, saat itu pula Jendral Xie mencoba peruntungannya dengan menusuk cincin itu dengan pedang panjang miliknya.
Ctasss
Pedang panjang itu menusuk cincin yang dikenakan Jendral Ping dan terus menembus hingga ke arah jantungnya.
Serangan itu, bukan hanya membatalkan sihir yang akan digunakan oleh Jendral Ping itu saja tetapi juga mengambil nyawa sang Jendral lawan. Betapa menyeramkannya. Begitulah perang itu berakhir dengan kematian Jendral Ping yang tertusuk oleh Jendral Xie, sang lawannya.
FIN~~~