[CERITA INI HANYA IMAJINASI DARI PENULIS]
Pagi itu di SMPN 1 Permata sedang diadakan upacara penerimaan siswa baru di sekolah itu.
Semua anak baru yang baru masuk, sangat berantusias mengikuti kegiatan upacara penyambutan siswa dan siswi baru di sekolah.
Acara penyambutan itu diawali dengan penyambutan dari kepala sekolah, disusul dengan perkenalan guru-guru dan lingkungan sekolah.
Acara itu berlangsung selama lima hari sampai pada hari kelima, acara ditutup dengan diadakannya PERJUMSA (Perkemahan Jumat dan Sabtu).
Semua murid-murid baru dipisahkan menjadi dua kelompok BARAK. Ada BARAK perempuan dan BARAK Laki-laki.
BARAK Perempuan, terletak di dekat ruang UKS, sedangkan untuk BARAK Laki-laki terletak di belakang taman sekolah.
Awalnya tidak terjadi masalah apa-apa. Tidak ada kejadian aneh selama acara kemping PERJUMSA.
Sampai setelah acara api unggun, ketika semuanya hendak tertidur, mulailah kejadian yang tidak enak dialami oleh beberapa murid baru yang sedang melakukan kemping PERJUMSA. Salah satunya Liana yang berada di BARAK 1 Putri.
Karena sudah tak tertahankan, ia mengajak teman satu BARAK nya Riska untuk menemaninya ke toilet.
Liana dan Riska pun diantarkan ke toilet oleh Kakak OSIS SMPN 1 Permata. Sesampainya di toilet, Riska dan Kakak OSIS pun menunggu di luar.
Sayangnya, sesaat setelah Liana masuk ke toilet, Liana tidak tahu jika Riska dan Kakak OSIS sedang diajak berbicara oleh guru yang sedang berpatroli untuk memastikan semua murid-murid baru tertidur.
Setelah beberapa menit di toilet, Liana pun keluar. Benar saja, saat Liana keluar dari toilet, ia tidak melihat siapapun di luar toilet.
Liana pun mencoba untuk mencari Riska dan Kakak OSIS yang tadi menemani dirinya. Sayangnya karena ia masih murid baru, ditambah SMPN 1 Permata yang besar, Liana tidak terlalu hapal dengan lorong-lorong yang ada di sekolah, walaupun sudah diperkenalkan saat berkeliling pada hari kedua MOS (Masa Orientasi Sekolah).
Hal itu diperparah dengan sifat Liana yang pelupa, membuat ia malah terus memutar-mutar mengitari lorong-lorong di sekolah.
Saat Liana sedang mencari-cari, ia sama sekali tidak bertemu dengan guru-guru yang sedang berpatroli, ia pun akhirnya menjadi tersesat. Liana pun terhenti di kantin sekolah.
Suasana kantin yang sepi pada malam hari, diperburuk, dengan keberadaan tangga merah yang dilihat oleh Liana.
Tangga merah di dekat kantin itu, mengarah ke sebuah ruangan. Saat Liana ingin pergi, tiba-tiba saja ada seorang anak perempuan turun dari arah tangga merah itu.
Gadis itu nampak seperti orang bule yang seumuran dengannya. Memang, terdapat anak luar negeri, yang mendaftar ke SMPN 1 Permata.
Liana pun mengira dia adalah gadis bule itu adalah anak baru juga sama seperti dirinya, anehnya seragam yang dipakai oleh gadis bule itu sangat berbeda dengan seragam SMP yang dipakai oleh Liana.
Liana pun memberanikan diri untuk berbicara dengan gadis bule itu. Anehnya, gadis bule itu seperti tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Liana, namun gadis bule itu, tahu jika Liana sedang tersesat.
Gadis bule itu pun menggandeng tangan Liana untuk mengarahkan jalan pada Liana. Gadis bule itu mengarahkan Liana dengan bahasa asing yang sama sekali tidak dimengerti oleh Liana.
Gadis bule itu pun akhirnya berbicara sambil memberi arahan dengan bahasa isyarat kepada Liana agar Liana mengerti apa yang ia katakan.
Liana pun akhirnya mengerti apa yang dibicarakan gadis itu.
Setelah beberapa menit berkeliling, Liana dan gadis bule itu pun sampai di depan BARAK 1 Putri.
Setelah sampai, Liana bermaksud mengajak gadis bule itu untuk menunjukkan BARAK nya. Sayangnya gadis bule itu malah menggeleng dan melepas genggaman tangan Liana.
Gadis bule itu pun akhirnya pergi setelah melambaikan tangannya pada Liana.
Tak lama setelah gadis bule itu pergi, Riska dan Kakak OSIS yang tadi menemani Liana, akhirnya sampai di BARAK Putri 1 setelah berkeliling mencari Liana.
"Riska, Kak Fidel?" Tanya Liana.
"Liana. Kok kamu tiba-tiba udah ada disini? Tadi aku sama Kak Fidel nyari-nyari kamu tau di toilet, eh taunya kamu malah udah sampe disini!" Ucap Riska yang khawatir.
"Lah. Seharusnya aku yang nanya, pas aku keluar dari toilet tadi, kamu sama Kak Fidel malah gak ada." Ucap Liana yang heran.
"Oh itu? Maaf ya tadi kita berdua, abis diajak ngobrol sama Bu Nia. Liana. Lain kali, kamu jangan pergi sendirian lagi. Seharusnya kamu tunggu sebentar. Kamu kan baru disini. Kamu belum terlalu hapal lingkungan sekolah ini. Jadi, kamu harus selalu didampingin Kakak OSIS. Oke?"
Ucap Kak Fidel pelan.
"Iya. Maaf kak. Oh iya kak! Tadi pas Kak Fidel sama Riska dateng dari sana, Kakak sam Riska ngeliat cewek bule gak? Dia cantik loh. Matanya warna biru. Tadi dia baru aja nganterin aku kesini, soalnya aku gak terlalu hapal lingkungan sekolah ini." Ucap Liana sambil menunjuk ke arah datangnya Kak Fidel dan Riska.
"Bule? Kak Fidel emang tadi ngeliat?" Tanya Riska.
"Enggak. Lagian juga anak baru bulenya kan, ada di BARAK paling ujung. Jauh amat muter dari ujung ke BARAK 1 deket UKS. Kamu salah liat kali." Ucap Kak Fidel tidak percaya.
"Enggak kak! Tadi aku liat sendiri! Cewek bulenya cantik banget rambutnya panjang matanya warna biru. Terus, dia itu pake seragam SMP, tapi kayak jadul banget! Beda banget sama seragam kita yang sekarang!" Ucap Liana yang berusaha menjelaskan.
Kak Fidel dan Riska hanya menatap Liana dengan wajah bingung.
"Seragam SMP jadul ya? Apa maksud kamu kayak gini?" Tanya Kak Fidel sambil memperlihatkan gambar dari ponsel miliknya.
"Ah! Iya kak! Yang ini!" Ucap Liana sangat yakin.
Setelah Liana mengatakan hal itu, Kak Fidel tiba-tiba merinding.
"Liana. Sebelum kamu daftar sekolah disini, kamu liat sejarah SMP kita sari internet gak?" Tanya Kak Fidel.
"Hah? Enggak kak? Kenapa emangnya?" Tanya Liana penasaran.
"Liana. SMP kita ini, dulunya itu bekas sekolah zaman Belanda dulu. Makanya, kata guru-guru sama kakak-kakak kelas angkatan atas, memang di SMP kita ini, kalo malem-malem sering ada penampakan-penampakan hantu anak Belanda pake baju jadul.
Makanya itu, udah sering banget diingetin sama kepala sekolah. Anak-anak murid baru kalo lagi ada acara kemping, jangan dibiarin keliling sendirian, takut ada apa-apa. Aku sama sekali enggak bermaksud nakutin kalian ya, tapi emang kenyataannya begitu." Ucap Kak Fidel yang berusaha menjelaskan kepada Liana.
Sontak saja cerita dari Kak Fidel membuat Liana dan Riska ketakutan, apalagi Liana yang melihat langsung dengan jelas penampakan gadis Belanda itu.
Setelah Kak Fidel menjelaskan kepada Liana dan Riska tentang penampakan di SMPN 1 Permata, tiba-tiba saja pandangan Liana tertuju pada sesosok gadis bule yang tadi menolongnya.
Gadis bule itu, tiba-tiba saja muncul dari arah Kak Fidel dan Riska melintas. Gadis bule itu tersenyum ke arah Liana sambil melambaikan tangannya ke arah Liana. Sontak saja hal itu membuat Liana semakin syok dan akhirnya jatuh pingsan.
*Gubrak!
"Eh! LIANA! Kamu kenapa? Kak tolong kak! Liana pingsan!" Ucap Riska panik.
Kak Fidel pun segera memanggil guru-guru dan menggotong Liana ke UKS.
Semenjak saat itu, setiap ada acara kemping di sekolah, lorong menuju kantin dan tangga merah, diberi label pembatas dan semua lorong-lorong yang jarang dilalui pun diberi pagar pembatas agar tidak mudah dilalui murid-murid baru dan untuk mencegah kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Kisah penampakan gadis bule di sekolah, bukanlah cerita yang asing lagi di telinga semua orang yang ada di SMPN 1 Permata. Cerita tentang penampakan gadis bule itu akan selalu menjadi topik pembicaraan utama, sampai kepada murid-murid baru SMPN 1 Permata.
*TAMAT.....