Brak!
Ah!
Bargowo menjerit.
Satu mobil pick up menabraknya.
Mobil itu berjalan dengan kencang dan tak melihat kalau Bargowo sedang menyeberang.
Maklum anak-anak situ kalau menyeberang hampir tak melihat kanan kiri. Asal selonong saja, dan berharap para pengemudilah yang selalu waspada, pada jalan yang bukan milik mereka. Memang kenyataannya seperti itu. Sudah ada ketentuan kalau membawa mesin mesti hati-hati. Hanya terkadang satu atau lain hal dapan membuat semua terlena. Terutama akan kebutuhan. Atau urusan yang mesti dikerjakan dengan secepatnya. Hingga membuat segala sesuatunya mesti mengejar waktu. Seperti kala itu. Tak ada usaha untuk lebih hati-hati. Dia berjalan sejauh bisa melajukan kendaraan itu.
Orang itu terus berlalu.
Aku terus berlari, mencoba mendekati tubuh Bargowo yang terkapar di tengah jalan, lalu mencoba menolongnya sebisa yang aku dapat lakukan. Maklum tak ada persiapan. Yang tahu-tahu langsung kejadian. Dimana semua tak ingin mengalami hal ini. Orang gila namanya kalau berbuat sengaja. Itu yang diutarakan banyak orang. Tapi segalanya mesti dipertanggung jawab kan. Termasuk mengembalikan kondisi si korban. Walau tak bisa seperti sebelumnya, paling tidak mengobati hingga sembuh agar bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala.
Bargowo mengerang-ngerang. Ada sesuatu yang luka. Namun dia masih sadar dan sanggup berkata-kata. Bahkan berucap, “sialan akan kucari dia!”
“Disembuhkan dulu kenapa,“ ujarku yang melihat luka parahnya itu demikian mengerikan. Dari mulutnya keluar darah. Namun luka robeknya tak seberapa. Barangkali bagian dalamnya yang kena. Kalau tak segera diobati, namun hanya mengedepankan amarah, apa gunanya nanti. Hanya akan menambah luka. Andai sembuh, mungkin nanti segalanya bisa diurus secara baik-baik. Untuk kemudian mampu menyelesaikannya dengan senang pula. Tapi memang itulah, kalau tak segera di urus barangkali akan semakin kacau, serta akan hilang kasus itu dengan sendirinya.
Bargowo mengobati lukanya dengan sendirinya. Baik tenaga maupun harta benda masih dia sendiri yang membiayai.
Dia ke rumah sakit lalu memeriksakannya dengan teliti. Luka-luka mana yang parah bahkan ke tukang urut segala. Walau katanya kalau luka di urut akan bertambah parah. Karena luka semakin di buat luka. Tapi cara kampung ini yang seringkali meringankan penderita untuk beberapa bulan ke depan. Bahkan sugesti yang tercipta sanggup menyembuhkan dengan sendirinya, akibat merasa sudah berobat.
Setelah sembuh dia tanya sana sini barangkali masih ada yang bisa mengenali kendaraan mewah yang sempat-sempatnya menyenggol dirinya itu. Barangkali. Sebab kejadiannya sangat cepat. Dan waktunya lumayan lama. Akibat mengurus itu tak semudah mengurus yang lain. Serta para saksi mata juga belum tentu mengenali betul, siapa dan apa yang dulu berbuat.
Dengan kegigihannya akhirnya dia bisa mengetahui siapa penabrak mengerikan itu.
Ternyata orang kampung yang kaya raya. Mobilnya saja sampai dua. Belum istri dan lainnya. Mungkin cuma satu.
Untuk itu, dia meminta orang itu bersedia membiayai segalanya. Biaya selamatan, pencarian sebelum ini, termasuk mengganti apa yang sudah dikeluarkan oleh Bargowo tentang pengobatan untuk peristiwa itu.
Orang itu hanya manggut-manggut saja, sembari menghitung berapa kerugian yang dialami si pejalan kaki itu, dan meminta maaf. Karena telah menabrak dengan sengaja maupun tak sengaja akibat kelalaiannya.
Benar saja. Orang itu mengeluarkan apa yang menjadi tuntutan si korban. Untuk selama beberapa pekan.
Tapi setelah beberapa saat berikutnya, sudah tak ada berita. Dia ke luar pulau. Karena akan mengerjakan apa yang jadi tugasnya.
Sedangkan mobil- mobil itu sudah dijualnya. Mungkin untuk bekal, sembari mencari dana guna mengurus segalanya.
Brak!
Ah
Bargowo menjerit.
Satu mobil menabraknya.
Orang itu terus berlalu.
Bargowo mengerang, kemudian diam. Darah mengalir dari bibirnya. Mungkin sangat berat luka itu. Luka lama yang timbul kembali.
Aku mendekatinya dan mencoba menolong. Tapi kini dia diam saja.