Di saat malam Halloween, para anak-anak dan remaja-remaja merayakan malam tersebut dengan sangat meriah. Mereka mengenakan pakaian seram layaknya sosok yang menakutkan seperti penyihir, setan, hantu goblin dan sosok menakutkan lainnya. Tradisi perayaan malam Halloween ini di rayakan pada setiap tanggal 31 Oktober. Selain mengenakan pakaian seram, mereka juga meminta permen atau coklat ke rumah-rumah tetangga sambil berkata “trick or treat!”.
Dan di suatu malam Halloween, ada seorang anak yang sedang menghiasi rumahnya dengan lampu gantung berwarna-warni dan menaruh sejumlah Jack o’-latern (yang sering kita sebut dengan labu Halloween) di depan pintu rumahnya. Anak itu menaruh lilin di dalam labu-labu yang ia pajang, agar kelihatan lebih terang dan lebih menakutkan di saat malam mulai gelap.
“Hai Tia!” sapa sekelompok anak yang sedang berjalan-jalan.
“Hai teman-teman!” sapa Tia kembali.
Lalu Tia menghampiri teman-temannya dan ikut mereka meminta permen dan coklat ke rumah tetangga mereka.
“Tia, apa yang sedang kau lakukan saat di rumah tadi?” tanya seorang temannya.
“Aku hanya menghias rumahku dengan pernak-pernik Halloween,” jawab Tia.
“Oh…begitu,” ucap teman-temannya.
Di saat malam sudah mulai larut, mereka ingin pulang ke rumah masing-masing. Tapi, Theo mengajak teman-temannya mencari apel dan meminta permen ke rumah tua yang ada di dalam hutan. Mendengar usul temannya itu, Tia menolak ajakan Theo tersebut. Karena hutan itu adalah hutan yang sangat menyeramkan.
“Guys, aku tidak mau ikut bersama kalian,” kata Tia kepada teman-temannya.
“Kenapa kamu tidak mau ikut Tia?” tanya Theo.
“Aku takut pergi ke hutan tersebut, ibuku pasti akan mencariku. Dan kalian pasti tahu sendiri kan, hutan itu sangat menyeramkan,” jawab Tia dengan takut.
“Kamu ini bagaimana sih Tia, kita kan sudah besar, seharusnya kita tidak perlu takut dengan hal-hal yang menyeramkan seperti itu! Tapi terserah kamu saja, kalau kamu tidak mau ikut juga tidak masalah, kami bertiga saja yang akan pergi ke hutan itu,” ujar Theo kecewa.
Ketiga teman Tia pun segera pergi ke hutan. Sedangkan Tia pulang ke rumahnya. Akan tetapi, sebelum Tia pulang ke rumah, ia mempunyai firasat buruk akan kepergian teman-temannya tersebut. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di dalam hutan tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi menyusul teman-temannya tersebut dengan perasaan khawatir.
Sesampainya di hutan, Tia memanggil nama-nama teman-temannya.
“Theo, Alex, Ane! Dimana kalian?!” panggil Tia.
“Percuma saja,” kata seseorang tiba-tiba yang tak terlihat wujudnya oleh Tia.
“Suara siapa itu?” tanya Tia.
“Ya, percuma saja kau mencari teman-temanmu itu. Karena pasti mereka sudah menjadi santapan vampaire,” ucap seekor kucing berwarna hitam yang menghampiri Tia dengan tiba-tiba.
“Hahh? Siapa kau?” tanya Tia dengan heran.
“Perkenalkan, aku Cathie,” jawab kucing itu.
“Oh ya? Darimana kamu tahu kalau teman-temanku sekarang sudah menjadi santapan Vampire?” tanya Tia kembali.
“Tentu saja aku tahu. Aku ini sudah lama tinggal di hutan ini. Jadi, aku tahu banyak tentang keadaan hutan,” jawab kucing itu.
“Oh...begitu ya. Kalau begitu, kamu mau tidak menemaniku untuk mencari teman-temanku?”
“Emmm … mau, tapi aku tidak bisa menjamin kalau teman-temanmu itu masih bisa selamat.”
“Baiklah ... ayo kita pergi cari mereka sekarang!” ucap Tia semangat.
Akhirnya, Tia dan Cathie pergi bersama mencari teman-temannya. Saat di tengah perjalanan, Cathie mencium aroma kue di tengah-tengah rerimbunan pohon di hutan.
“Sepertinya aku ada mencium aroma kue yang lezat, Tia.” Kata Cathie.
“Oh ya? Lebih baik kita mencari asal dari bau itu saja, siapa tahu di sekitar sini ada terdapat rumah-rumah penduduk.” Ujar Tia.
Merekapun segera mencari asal dari aroma kue tersebut, hingga mereka menemukan sebuah rumah Tua di dalam hutan. Aroma yang mereka cari ternyata berasal dari rumah tersebut. “Permisi!” Kata Tia sambil mengetuk pintu rumah itu.
“Ya, sebentar?” Sahut seseorang dari dalam sambil membuka pintu rumahnya. Dan munculah seorang gadis kecil dari dalam rumah itu.
“Kalian siapa ya? Ada perlu apa?” Tanya gadis tersebut.
“Aku Tia dan ini temanku Cathie.” Jawab Tia.
“Oh...ada perlu apa kalian kemari?” Tanya gadis itu lagi.
“Di saat kami sedang dalam perjalanan, kami mencium aroma kue yang tampaknya sangat lezat. Dan kami mencari-cari asal aroma tersebut, hingga kami menemukan rumahmu di tengah-tengah hutan ini.” Ujar Tia.
“Oh begitu. Ya sudah, silahkan masuk.” Kata gadis kecil itu.
Di dalam rumah gadis itu, Tia dan Cathie di beri kue coklat yang sangat lezat. Dan gadis itu memperkenalkan namanya, gadis itu bernama Trisha. Ia tinggal di rumah ini sendirian. Pekerjaannya sehari-hari adalah mencari kayu bakar di hutan ini dan nantinya akan di jual ke pasar di pinggiran kota.
“Oh ya, apakah kamu ada melihat teman-temanku lewat di sekitar sini?” Tanya Tia dengan penasaran.
“Seperti apa ciri-ciri mereka?” Tanya Trisha kembali.
“Mereka berjumlah 3 orang, yaitu Theo, Alex, dan Ane. Kalau Theo berambut gelap, memakai pakaian drakula. Alex berambut coklat, memakai pakaian manusia serigala, dan Ane berambut coklat, memakai pakaian putri.” Ujar Tia.
“Oh ya! Aku pernah melihat mereka di sekitar sini. Tadi mereka pergi ke arah timur, tampaknya mereka akan meminta permen ke rumah Tua.” Jawab Trisha dengan raut wajah serius.
“Hahh?! Yang benar? Rumah Tua itu dimana?” Tanya Tia dengan panik.
“Rumah Tua itu tak terlalu jauh dari sini, tapi kamu harus berhati-hati jika menemui tuan pemilik rumah itu, sebab ia dapat berubah menjadi kelelawar besar.” Ucap Trisha.
“Baiklah, kami akan pergi kesana.” Kata Tia.
Tak lama menunggu, Tia dan Cathie pun segera meninggalkan rumah Trisha, dan bergegas pergi, agar cepat sampai di rumah tua tersebut. Di dalam perjalanan, Tia dan Cathie di kejutkan dengan munculnya kabut putih dengan tiba-tiba, dan mereka berdua tidak dapat melihat dengan jelas di dalam hutan. Kemudian, dengan tiba-tiba munculah seorang perempuan dari balik kabut putih itu. Tia dan Cathie pun terkejut.
“Hei kalian! Apa yang sedang kalian lakukan di tengah hutan gelap seperti ini? Apakah kalian tak takut bila ada Vampire melihat kalian dan akhirnya dia menangkap kalian dan di bawanya pulang ke rumah untuk di jadikan santapannya yang lezat?” Ujar perempuan itu.
“Siapa kamu?” Tanya Tia dengan wajah penasaran.
“Aku Fellia. Tampaknya kalian sedang mencari sesuatu. Kalian sedang mencari apa?” Tanya perempuan itu.
“Ya, kami memang sedang mencari teman kami. Apa kamu pernah melihat mereka? Mereka berjumlah 3 orang.” Tanya Tia.
“Oh, sepertinya aku tahu orang yang sedang kalian cari. Sepertinya mereka sedang menuju ke rumah Tua. Kalau tak keberatan, aku mau mengantarkan kalian ke rumah Tua itu.” Jawab Fellia.
“Ya. Sepertinya itu ide yang bagus!” Kata Tia dengan tersenyum.
“Tapi, apa kau tak takut mengantarkan kami ke rumah tua? Tuan rumah itu kan Vampire.” Tanya Tia.
“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan hal seperti itu.” Jawab Fellia.
Merekapun segera pergi ke rumah Tua. Tak lama, mereka pun sampai di depan rumah itu.
“Ayo, aku antar masuk ke rumahnya.” Ajak Fellia.
“Wow...berani sekali dia masuk ke rumah tua.” Ujar Tia dalam hati.
Mereka pun mengetok pintu, tapi sepertinya tidak ada orang di dalam rumah tersebut. Rumah itu tampak seram dan sepi. Tia, Cathie, dan Fellia pun segera masuk ke dalam rumah tua itu. Tanpa Tia sadari, Fellia dengan pelan menutup pintu rumah itu dan ia pun berubah dengan tiba-tiba menjadi kelelawar.
Ia berkata, “Hahahaha….kalian sudah tertipu!” Ucap Kelelawar itu.
Ternyata Fellia itu adalah seorang Vampire yang menyamar menjadi orang baik.
Kelelawar itu pun langsung mengikat Tia dan Cathie dan menyekap mereka berdua di dalam ruangan yang gelap. Vampire itu akan menghisap darah Tia dan Cathie. Ternyata, Theo, Alex, dan Ane juga disekap oleh Vampire di ruangan yang sama. Sehingga mereka bertemu, tapi mereka sekarang sedang di ikat dan tak bisa berbuat apa-apa.
Di saat mereka sedang kebingungan mencari cara untuk kabur dari rumah tua, tiba-tiba Cathie punya ide yang bagus. Cathie segera memutuskan tali yang mengikat mereka dengan kuku Cathie yang tajam. Tak lama kemudian, mereka semua lepas dari Vampire.
Mereka segera mengatur rencana agar bisa melumpuhkan si Vampire dan dapat lolos darinya. Theo dan Alex akan bersembunyi di bawah meja dapur, sedangkan Tia, Ane dan Cathie akan memasukkan jus bawang putih ke dalam minuman si Vampire agar merasa pusing dan akan kehilangan semua kekuatannya.
Di saat Vampire sedang pergi ke hutan, Tia, dan Cathie memasukkan jus bawang itu ke dalam minuman.
Sekitar 20 menit, Vampire itu kembali lagi ke rumahnya, karena merasa letih, dia langsung meminum minumannya tersebut. Ia sama sekali tak tahu bahwa minumannya itu sudah di beri jus bawang yang dapat membahayakan dirinya.
Setelah ia meminum minumannya, Vampire sangat merasa pusing, dan dia juga terlihat lemah. Melihat kejadian itu, Theo dan Alex yang berada di bawah meja pun langsung meletakkan tali di atas lantai, dan segera menariknya saat si Vampire sedang pusing.
“Gubraaakkkk!!!!!!!!” Vampire itu pun langsung terjatuh kesakitan.
“Yeeeyyy!!!!!!!!! Kita berhasil!” Teriak Theo, Tiaa, Alex, Ane dan Cathie dengan senang.
“Awas kalian ya! Aku akan membalas perbuatan kalian kepadaku! Lihat saja nanti!” Ucap nona Vampire itu.
“Oh ya? Silahkan saja kalau kamu mau membalas kami. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi, karena semua kekuatanmu sudah lenyap.” Jawab Tia.
“Apa? Itu tidak mungkin! Aku masih mempunyai banyak kekuatan.” Ucap Fellia si Vampire.
“Kalau kalian tak percaya, aku akan membuktikannya kepada kalian. Lihat ini, jurus mematikan!!!!” Ucap Fellia sambil mengucapkan mantranya.
Tapi, mereka semua terdiam.
“Hah?! Kemana semua kekuatanku? Kekuatanku hilang!” Kata Fellia dengan wajah kecewa.
“Kan sudah kami bilang, kekuatanmu itu sudah lenyap.” Ujar Ane sambil tersenyum.
Dengan wajah yang hina, si Vampir mencoba untuk lari dari anak-anak tersebut. Tapi, belum sempat melarikan diri, Vampire itu berubah lagi menjadi Kelelawar dan pingsan.
Anak-anak itu semua sangat merasa bahagia, begitu juga dengan Cathie. Kini mereka semua bisa pulang ke rumah mereka masing-masing.
Dan akhirnya Theo, Alex dan Ane merasa menyesal karena tak mau mengikuti nasehat Tia.
“Tia, kami minta maaf ya. Karena kami gak mau mendengarkan nasehatmu,” ucap mereka bertiga dengan rasa bersalah.
“Iya, gak apa-apa. Anggap saja itu semua pelajaran berharga untuk kalian semua.” Jawab Tiaa dengan tersenyum.
Mereka semua gak mau lagi pergi ke hutan, karena mereka semua sudah tahu bahwa hutan itu sangat berbahaya.*****