Desember. Sudah terhitung 4 bulan sejak Fero mendekatiku. Ia tidak pernah sedetik pun hilang dari pandanganku. Jujur, aku merasa terganggu karenanya. Fero tahu bahwa aku menyukai Rangga sejak awal masuk sekolah, tapi dengan santainya ia mengabaikan semua itu dan dengan percaya diri mendekatiku. Berulang kali ia menggoyahkan perasaanku, mengatakan bahwa aku bodoh mencintai orang yang bahkan tidak mengenalku, apalagi suka. Terkadang aku benar-benar muak mendengar celotehnya. Ia terlalu mencampuri urusanku. Namun tanpanya, kadang hatiku terasa hampa. Entahlah, aku tidak mengerti diriku.
Siang ini, Fero kembali mengekoriku. Aku risih mendapat tatapan dari sebagian penghuni sekolah. Aku membalikkan badanku. Fero menghentikan langkahnya dan tersenyum padaku. Ku rasa ia benar-benar tak mengerti, suasana hatiku sedang tidak baik. Aku lelah.
“Fer, aku gx suka sama kamu!” bentakku. “stop jadi bayang-bayang aku!”
Aku meninggalkan Fero yang masih membeku di tengah lapangan. Langkah kakiku menuju halte di iringi dengan air mata yang meluncur bebas di pipiku. Tidak seperti biasanya, hari ini Fero tidak berusaha mengejarku, bahkan ia tidak menahan kepergianku. Entah kenapa aku benar-benar merasa sedih setelah mengucapkan kata-kata barusan, perasaan tidak rela menggebu-gebu di dalam hatiku, padahal aku yang memilih untuk menjauh darinya. Perlahan, ku usap air mataku yang menolak untuk berhenti mengalir. Mengapa aku menangis?
“Nes!” pangil Fero. Aku menghentikan langkahku. Ku tarik nafasku dalam-dalam dan ku hembuskan perlahan. “segitu bencinya ya kamu sama aku?”
Aku membalikkan badanku, mencoba untuk setenang mungkin. Jika sepatah kata keluar dari mulutku saat ini, aku tak yakin dapat menahan air mataku.
“oke. Kalau itu memang mau kamu, aku bakalan pergi. Maaf kalau selama ini aku jadi pengganggu buat kamu.”
Fero tersenyum getir sebelum ia meninggalkanku. Ku rasa aku benar-benar menyakitinnya kali ini. Ah.. kenapa aku merasa bersalah padanya? Sejujurnya aku masih tidak tahu bagaimana perasaanku padanya. Mungkin akan lebih menyakitkan jika aku hanya menjadikannya sebagai pelarian. Terlebih lagi aku tidak mungkin mengkhianati Lisa, kakakku.
Aku tidak pernah berfikir jika Fero benar-benar akan mengabaikanku. Untuk mendengar suaranya pun sepertinya sulit, padahal kami berada di dalam kelas yang sama. Ku pikir, dengan mengakhiri semuanya aku akan merasa lebih baik. Tapi sepertinya aku salah, saat ini aku sedang tidak baik-baik saja. Aku ingin waktu segera berlalu, melihatnya membuatku semakin teriris.
Aku meringkuk di bawah selimut tebal berwarna orange, ku rasakan tubuhku menggigil hebat. Sudah dua hari aku tidak datang ke sekolah sejak aku membolos pelajaran matematika siang itu. Tidak ku perdulikan hujan yang turun dengan lebatnya, aku terus berjalan tanpa tujuan. Bodoh bukan? Untuk pertama kalinya aku pergi tanpa permisi hanya karena seorang lelaki.
Mengigat kelakuan Fero kemarin membuatku merasa kesal setengah mati. Tidak seharusnya ia melampiaskan rasa sakitnya pada saudaraku. Aku benar-benar membencinya, sungguh. Dan Lisa, bukannya pergi ia hanya diam saat Fero mendekatinya, sedangkan ia tahu tidak ada orang lain di kelas selain mereka berdua. Ia bahkan belum mengganti seragamnya. Seketika, darahku naik sampai ke ubun-ubun.
“plakk!” aku mendaratkan tanganku pada pipi Lisa. Aku menyeretnya menjauh dari Fero. “kamu mikir apa sih, Lis? Udah bosan hidup? Mama pasti sedih kalau lihat anaknnya kaya’ gini. Malu-maluin tau gx!”
“kamu yang mikir apa! Tiba-tiba dateng, marah-marah, trus nampar aku. Sebenarnya yang sedih mama atau kamu? Kamu iri karena Fero akhirnya lebih milih aku daripada kamu, iya kan? Jangan naif deh.” Cerca Lisa tanpa alasan.
“bukan iri, aku cuma gx suka cara kamu. Gx seharusnya kamu kaya’ tadi. Kamu bukan Lisa yang aku kenal.”
“kamu gx punya hak buat ngelarang aku, Nes. Berhenti ikut campur urusanku.”
Lisa berbalik badan meninggalkanku dan kembali menghampiri Fero yang tak bergeming menyaksikan pertengkaran kami.
“Lis, kamu kakakku. Aku wajib ingetin kamu kalau kamu salah. Mulai hari ini aku berhenti perduli sama kamu. Aku minta, apapun yang kamu lakuin jangan sampe buat mama sedih.”
Aku melirik Fero sekilas sebelum ku langkahkan kakiku menjauhi mereka yang hanya diam menyaksikan kepergianku. Ku urungkan niat awalku untuk mengambil uang sakuku yang tertinggal di dalam tas dan berlari tanpa arah hingga ku putuskan untuk melarikan diri.
Namun sejauh ini, aku masih menolak untuk mengakui perasaanku. Rangga, aku masih mengharapkannya meski aku tahu ia tidak pernah melirikku walau hanya sekali. Entah apa yang sebenarnya ku inginkan, selama ini yang ku lakukan hanyalah menipu diri sendiri.
“sayang.. kamu nangis lagi, ya?”
Aku menggelengkan kepalaku seraya mengusap pipiku yang banjir oleh air mata. Sejak kapan mama berada di sisiku, aku tak menyadari kedatangannya. Belaian lembut yang mama berikan membuat air mata yang keluar dari kelopak mataku menjadi semakin deras. Ku tumpahkan segala perasaan tak menentu yang selama ini menjadi beban untukku.
“ada apa, sih? Cerita donk sama mama.. berantem lagi ya sama kakakmu?” aku menggeleng. “terus kenapa?”
Aku membenarkan posisi tidurku, ku beranikan diri untuk menatap mata mama. Perhatian yang selama ini Lisa dapatkan, kini aku merasakannya. Bisa di bilang sedikit cemburu lah ya. Selama ini aku selalu merasa bahwa mama lebih mementingkan Lisa daripada aku. Entah bagaimana Lisa dan aku lahir pada tahun yang sama, yang pasti kami bukan saudara kembar. Aku lebih muda 8 bulan 14 hari darinya. Tapi sudahlah, aku tak ingin mempermasalahkan itu. Perasaanku jauh lebih penting sekarang, aku enggan membodohi diriku lagi.
“ma, mungkin gx sih perasaan bisa beralih dalam hitungan minggu?” tanyaku sedikit ragu.
“apa? Rasa suka?” aku mengangguk. “emm.. minggu ya.. mungkin aja. Apalagi kalau si penghuni baru selalu kasih perhatian nonstop. Sedangkan penghuni lamanya hanya mematung melihat si penghuni baru mengambil alih tempatnya. Dalam hitungan hari pun tuan rumah bakal luluh. Ya.. mungkin gx secara langsung, tapi mengikis perlahan. Itu pasti.”
“tapi, ma..”
“kenapa? Kamu masih meragukan perasaanmu?” mama memotong kata-kataku. “mama gx larang kamu buat suka sama siapapun, tapi ingat pesan mama, sewajarnya aja. Kalau menurutmu orang itu gx baik, tinggalin aja karena laki-laki yang baik akan selalu menjaga kehormatan orang yang ia sayangi. Mama yakin kamu pasti tahu siapa orang yang kamu suka, hati kamu pasti bisa jawab. Terus, jangan suka ngegantungin perasaan orang lain, gx baik”
Oke, akan ku pikirkan baik-baik. Aku tidak bisa menampik bahwa aku benar-benar menyukai Fero, tapi bagaimana? Aku sudah menolaknya mentah-mentah beberapa hari lalu. Bagaimana jika Fero mengetahui perasaanku ia malah berbalik menyakitiku karena selama ini ia selalu ku abaikan. Ah.. aku tak bisa berhenti memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Tanganku terasa sedingin es saat keluar dari bus yang ku tumpangi. Gemercik air yang turun dari langit memang tidak seberapa, tapi hawa dingin yang di bawa angin menusuk hingga ke tulangku. Aku berharap Desember akan segera berakhir, aku tidak suka hawa dingin yang di timbulkan hujan. Aku sudah lelah menyapa hujan yang hampir tiap hari menghiasi pagiku.
Tidak seperti biasanya, hari ini koridor sudah di penuhi oleh siswa saat aku menginjakkan kakiku disana. Sebentar lagi pukul 7, dan sialnya kelasku berada di lantai atas. Aku benar-benar tidak menyukai anak tangga, melelahkan.
“aku tahu, Lis! Tapi aku gx jamin bisa membalas rasamu itu. Aku suka Nessa, bukan kamu. Aku harap kamu bisa terima itu.”
“maksud kamu apa, Fer? Kalau kamu gx bisa terima aku, terus kenapa kamu selalu care ke aku akhir-akhir ini? Kamu pasti bisa lupain Nessa.”
“aku cuma pengen kita bisa temenan.. dan aku mau tahu gimana perasaan Nessa yang sebenarnya, itu aja. Aku gx bermaksud buat nyakitin kamu, Lis. Tapi aku sadar, dengan aku dekat sama kamu malah buat kalian berantem dan Nessa semakin jauh. Dan gara-gara kemarin ku rasa Nessa semakin membenciku.”
Ting.. tong..
Aku bersandar pada dinding tangga, mendengarkan perselisihan antara Lisa dan Fero yang melibatkan aku di dalamnya. Untunglah, mereka tidak mendengar derap langkahku tadi. Huhh.. Mengapa semua menjadi begitu rumit? Di saat aku menyadari perasaanku, ia terasa kian hari kian jauh. Aku akan melepaskannya untuk Lisa. Toh, aku tak mungkin bisa bersamanya.
Aku membalikkan badanku, menjuhi mereka tanpa suara. Ku seka air mataku yang menetes tanpa permisi. Aku akan beristirahat di ruang kesehatan selama jam pelajaran matematika berlangsung dengan alasan sakit kepala. Aku bisa lebih tenang disana.
Tak..!
Ah.. aku menjatuhkan botol air minumku.
“Nessa?!”
Ada apa denganku? Mengapa kakiku membiarkanku terpaku di ujung tangga? Aku mendongakkan kepalaku setelah meraih botol itu. Fero berlari menuruni anak tangga hendak menyusulku. Aku melangkah mundur saat Fero menuruni dua nak tangga terakhir sebelum akhirnya berhadapan denganku. Aku mendengar bisikan yang memintaku untuk terus mundur menjauhi Fero, entah dari mana suara itu berasal, tapi aku menurutinya. Baru kali ini hati dan pikiranku menyatu. Aku mundur selangkah lagi tanpa ragu-ragu. Tubuhku condong ke belakang, Fero meraih tanganku.
Dug. Dug. Dug.
Waktu berputar begitu cepat, setidaknya itu yang ku rasakan sekarang. Tidak tahu sudah berapa hantaman yang ku terima, ku rasakan sakit di sekujur tubuhku. Fero tergeletak tepat di depanku dengan bersimpah darah. Tubuhnya terhempas tepat sebelum aku.
“aku suka kamu, Fer. Maaf.” Ucapku lirih.
Fero membuka kelopak matanya, ia menatapku hampa, senyum getirnya kembali tampak. Aku semakin merasa bersalah padanya. Aku patut di salahkan untuk apa yang telah terjadi hari ini. Tidak sepatah kata pun ku dengar dari bibirnya. Aku cemas, tapi aku tak dapat melakukan apapun. Aku tidak dapat menggerakkan kakiku untuk menolongnya, sakit.
“jangan.. takut, aku baik-baik saja.” Ujarnya putus-putus. “katakan lagi.. kalau.. kamu suka aku..” air mataku tak terbendung lagi, sakit, setidaaknya itu yang ku rasakan sekarang. Mengapa aku harus mengakui perasaanku dengan cara ini, Tuhan..
“aku suka kamu, Fero.” Kataku tanpa ragu.
Senyumnya merekah bak bunga yang baru mekar. Senyum terbaik yang pernah ia berikan untukku. “makasih.. Nessa”
Matanya kembali tertutup dan air mataku kembali tumpah, kali ini di hadapan Fero. Mengapa tidak satu pun penghuni sekolah ini yang melihat kami disini? Seolah seluruh alam menginginkan semua ini terjadi. Aku tidak bisa hidup dengan rasa bersalah. Tuhan.. aku tidak ingin kehilangannya. Jangan biarkan ia pergi secepat ini. Ragaku melumpuh namun jiwaku menolak untuk pergi bersamanya.. jika aku dapat meminta, aku ingin kembali pada masa dimana aku tidak mengenalnya. Agar ia dapat hidup tenang dan hari ini tidak akan pernah terjadi. Banyak sesal yang ingin ku katakan padamu, Fer.. aku tersiksa dalam raga ini.. ku mohon, kembalilah..