(Tantangan hari ke 8) Halusinasi
Hari ini aku bersiap untuk packing, membereskan semua pekerjaan yang sekian lama kugeluti, sdh 3 tahun lebih aku berada dikantor ini, terasa rasa sedih yang mengiringi keputusan ini. Tapi aku meyakini ini adalah keputusan yang paling menguntungkan bagiku.
“Kenapa kau sih kamu resign?” sungut meyla.
“Aku ingin mencoba hal yang dulu ingin aku lakukan sih, kerja dari rumah, kalau mau libur ya libur saja..” jawabku asal.
Tentu saja ada banyak alasan yang membuatku memutuskan resign, tapi Meyla bukanlah orang yang ingin kuajak bertukar pikiran tentang masalah ini. Cukup keluarga dan orang yang berkenaan saja yang kumintai pertimbangan. Sahabatku? Mereka pasti mendukung apa pun yang menjadi keputusanku.
“Tapi nanti tidak ada yang kuajak curhat…” cicit Meyla
Aku menghela nafas, di usianya yang ke 25 Meyla masih saja terlihat kekanakan, dan terkadang aku merasa dia egois, ingin semua yang dilakukan oleh teman dekatnya sesuai dengan apa yang menjadi kehendaknya. Terkadang aku merasa cukup untuk mencoba mengertinya..
Aku memandangnya. Tersenyum ku raih tangannya, “Kau akan tetap bisa curhat denganku , bukankah ada WA ada telpon? Kita masih bisa ketemuan jika kamu pengen ketemuan denganku” aku berusaha menghiburnya, memang benar rasa sedih berpisah dengan kolega di kantor juga membuatku segan mengambil keputusan ini. Tapi bukankah jika mereka benar teman sejatiku maka kami akan selalu tetap melakukan kontak? Pemikiran ini memupus sedikit rasa sedih yang ada dihati.
Setelah membereskan semua barang pribadiku dan meletakkan di sepeda motorku, aku mulai berpamitan dengan semua teman dekat dengan kantor. Yap, goodbye my old job. I have started my new journey now!
---
Hal awal yang aku lakukan setelah selesai menyelesaikan hal yang berkaitan dengan pekerjaanku adalah bersantai. Tapi karena semua sahabatku sedang on duty jadi aku ngelayap sendiri di mall ini, duduk sambil menikmati kopi dan snack, dari balik jendela melihat bermacam alat transportasi hilir mudik sedikit menikmati waktu sendiriku, karena dipastikan setidaknya 2 minggu kedepan aku bakal akan lebih repot, tentu saja tidak sepenuhnya nganggur tanpa tujuan, setidaknya aku membawa notes untuk catatan tentang ide-ide apa saja yang mungkin bisa kuambil untuk menjalankan usahaku. Saat resign, orang tuaku sedikit menentang karena berarti melepas karir yang selama ini telah kubangun, tentu saja sebagai orang tua mereka ingin anak gadis mereka, walaupun suami alias menantu mereka bisa mencukupi semua kebutuhan rumah tangga tetapi secara ekonomi orang tuaku lebih menginginkanku agar aku mandiri secara ekonomi, dan lagi ayah ibuku hanya dari kalangan biasa-biasa saja.
Saat ini aku ingin menjalankan usaha bidang tanaman yang sebenarnya merupakan hal yang baru, membuatku harus benar-benar belajar dari nol, mulai dari mempelajari hal-hal yang sederhana, misalnya bagaimana menyelamatkan tanaman yang hampir mati, untung hal ini mudah ditemukan di YOUTUBE. Tinggal searching langsung muncul apa yang dibutuhkan. Teknologi memang membuat semua mudah dan cepat.
Sebenarnya calon suamiku, mas Andi tidak begitu merisaukan apakah aku bekerja atau tidak, karena gajinya tentu saja lebih dari cukup untuk membiayai hidup kami berdua nanti dan jika kami hidup lebih hemat, maka akan ada tabungan yang sangat layak untuk biaya pendidikan anak-anak kami nanti.
Tapi aku berpikir, sebagai wanita aku lebih suka bekerja daripada hanya diam dirumah mengurusi rumah tangga dan menunggu suami pulang, bukan aku mengecilkan para ibu rumah tangga, tetapi aku merasa aku sendiri takkan mampu jika hanya menjadi ibu rumah tangga murni.
“Hallo, ada dimana kamu say..” terdengar suara berat mas Andi menggoda
Suara khas itu langsung membuatku tersenyum, “Aku sedang windows shopping di mall, bapak Menejer.. sambil ngopi lihat pemandangan ada yang cakep atau tidak..” godaku
“Kalau ada, nanti dibungkuskan satu ya buk..” sahutnya ga kalah, aku bisa membayangkan senyuman diwajahnya.
“Bagaimana, lancar perkenalannya?” tanyaku mulai serius.
“Pastilah lancar, para gadis langsung menyambutku dengan penuh antusias lho.. tetapi hatiku tetap untuk mu kok Iga sayangggg.” Gombal mas Andi.
“Apa staf bawahanmu juga mau dibungkus sekalian?” sahutku cepat.
“Oh.. tentu saja… Tentu saja tidak akan pernah!! Hatiku sudah ada yang punya kok, ga perlu membungkus anak gadis orang, cukup dengan Iga Jauhari ada dihatiku..” jawab mas Andi, dia sadar betul dengan kecemburuanku dan memahaminya.
“Aku masuk lagi ke ruangan ya, Yang… masih harus menghadap pak Bandi”
“Oke.. met bekerja, ya kekasihnya Iga” kataku.
“Iya, sayangnya Andi” jawab Andi sambil terkekeh pelan.
Kopi yang ada dihadapanku sudah dingin, aku mulai meneguk minuman air mineral, dan meraih notesku dan mulai membuat list apa-apa yang harus mulai kupersiapkan jika ingin memulai usahaku. Terasa ada sesuatu yang membuatku teringat seseorang teman yang juga mempunyai usaha sebagai pengusaha dibidang perkebunan, Mencoba mengingat lagi daftar teman yang ada di handphone, mungkin bisa dihubungi untuk dimintai saran.
Selagi aku sibuk mengingati daftar kontak teman semasa SMA, tiba-tiba ada pesan masuk dari Meyla. Walau merasa agak malas, tetapi aku tetap membukanya walau dengan segan, berharap ini masalah pekerjaan yang perlu dibicarakan, aku sedang tidak ingin direcoki dengan curhatnya yang kadang bikin puyeng, karena setelah curhat dikasih masukan apa pun akan mental, ibaratnya harus siap menjadi tong sampah atas semua kegalauannya.
“Ga…. , Ga…
Iga Jauhari yang paling cantik sedunia..” tulis Meyla
“Ya.. Meyla yang lebih cantik daripada akyuuuu “ jawabku
“Rugi lho kamu keluar dari pekerjaan, ada cowok ganteng turun dari HRD tadi..” tulis Meyla.
“Aku sudah punya pacar Mey.. ndak minat sama cowok ganteng turun dari HRD.. “ balasku cepat
“Namanya Novandri Satria.. Lulusan S2 , mobilnya BMW masih single..” cecar Meyla.
“Kok kamu tahu kalau dia naik mobil BMW dan masih Single?” Tanyaku cepat sekaligus heran.
“Aku tadi terlambat jadi mesti laporan ke HRD , nah.. disaat itu aku ketemu dia, trus aku sempat melihat kunci mobilnya, kalau masalah single… di jarinya kan ga ada cincin..” jawab Meyla.
“Itu mobil pinjaman lagi… “ sergahku.. “Lagian belum tentu dia single seratus persen, mungkin saja dia sudah punya pacar”
“Tidak punya kok… tadi ada yang iseng sudah punya istri apa belum, dijawab sama pak Nova, InsyaAlloh semoga dipercepat setelah saya pindah ke kota ini.. Gitu Ga.. Lagian kalau punya pacar, aku maklum deh, soale dia memang cakep, tapi kan masih pacar.. belum istri. “ cerocosnya
“Ya deh.. terserah kamu.. Nanti kalau kamu patah hati jangan nangis ke aku ya.. “ aku mulai malas menanggapi WA nya.
Ohya, tiba-tiba jadi teringat seseorang yang bisa membantuku masalahku. Aku mulai menghubungi Pandu yang biasanya hafal teman-teman SMA, dengan segera aku mengontak Pandu, meminta info teman yang memiliki usaha perkebunan. Akhirnya kudapatkan juga nomer kontaknya Bagas Prasekti.
“Halo.. bisa bicara dengan orang sekti mandraguna?” selorohku langsung begitu mengenali nada suara Bagas.
“Oh.. Halo.. maaf ini dengan siapa ya? Tanya Bagas ragu.
“Sekarang sudah berkurang kesaktiannya ya , tidak sekti lagi yaa…, jadi lupa suaraku ya..” kataku menggoda.
“Sebentar… Kamu Iga?” tanyanya ragu.
Aku terbahak, “Iya benar Gas, aku Iga, kamu ini lho.. sudah sibuk bertapa terus di gunung sampai lupa punya teman kaya aku..”
“Gas.. aku mau minta tolong deh sama kamu.. aku mau berguru sama kamu”
“Mau belajar ilmu nyantet sama aku Ga? Aku ndak bisa pliss.. bener deh.. “ gurau Bagas.
“Kamu itu lho.. aku kan mau belajar bagaimana bisa jadi petani sukses kaya kamu, biar kamu bertambah amal ibadahnya dengan membantu pengangguran kaya aku..” rayuku.
“Bukannya kamu udah punya pekerjaan yang lumayan?” Tanya Bagas heran.
“Minggu kemarin, aku resign Gas, pengen ganti pekerjaan sekaligus jadi muridmu..” jawabku cengengesan.
“Wait.. ini aku ditunggu customer tuh, kita lewat chattingan saja ya bicaranya ya..” kata Bagas.
“Oke, nomerku di save ya Gas..”
“Yap.. sudah dulu ya..” sahut Bagas, sambil memutuskan hubungan.
Tiba-tiba aku merasa sangat sendirian, sambil memandangi kopi yang sudah terlanjur dingin, kuputuskan untuk segera pulang, apalagi sebentar lagi jam istirahat kantor, pastilah foodcourt ini akan dipenuhi karyawan yang ingin melepaskan kebosanan pada situasi kantor.
Aku bergegas pulang sambil membeli lauk pauk untuk orang-orang tercinta di rumah. Siang sudah begitu terik. Untunglah jalan-jalan belum begitu ramai, hanya dalam waktu 15 menit aku sudah sampai dirumah.
Begitu sampai dirumah, aku langsung mengecek handphone untuk mengetahui apakah ada WA yang masuk. Ternyata ada chattingan dari Bagas, segera saja setelah mencuci tangan dan mengganti baju aku membalas chattingan tersebut.
Bagas memberi daftar barang-barang apa saja yang aku perlukan untuk membuat semacam nursery kecil dirumah, dia bahkan menawarkan diri menyediakan beberapa jenis tanaman sekaligus memberiku pelatihan agar menjadi lebih mahir dalam memelihara tanaman.
Tak terasa sudah 1 bulan aku sibuk mondar-mandir dari perkebunan Bagas, sambil sibuk mengecek persiapan pernikahanku. Ya.. salah satu alasanku untuk resign adalah karena aku akan segera menikah. Berkerja dari rumah merupakan salah satu pilihanku, agar nantinya kami berdua mempunyai waktu bersama. Dan setidak ada 1 yang tidak terlalu terfokus mengejar karier, dan bisa menyeimbangkan waktu jika ingin berlibur bersama.
WA meyla selalu datang menyapa, memberiku informasi tentang manajer baru, dan akhir-akhir ini ia bercerita tentang gebetan barunya Andri, Aku selalu meng iya kan dan mendukung ceritanya. Karena satu hal yang kusadari setelah sekian lama berteman dengan Meyla, ia hanya ingin didengarkan, karena aku sibuk, aku hanya membaca sambil lalu semua WA darinya.
“Ga… hari ini aku berbunga-bunga deh .. Kayaknya pujaan hatiku itu bakalan sebentar lagi meminangku..” lapor Meyla dengan emot love.
“Oh iya.. kok bisa tahu?” tanyaku menanggapi.
“Dia menyodorkan kartu undangan kosong, sambil bertanya mbak Meyla mau menikah? Ini ada banyak contoh kartu undangan, bisa dipilih. Gimana Ga.. Aku deg-degan jadinya, cuman mengangguk saja.. Padahal aku mau bilangnya biar dia saja yang pilih Ga…”
Aku terdiam membaca membaca chattingannya, itu artinya bisa ngajak menikah atau memang hanya sekedar ingin menunjukkan saja kartu-kartu undangan tersebut. Tapi aku benar- benar tidak konsen, sehingga hanya memberikan emoticon jempol. Dan kemudian menyibukkan lagi dengan menata kembali tanaman-tanaman yang baru saja datang, sambil menghafalkan nama dan jenis tanamannya.
Mungkin karena aku tidak terlalu antusias membalas chattingan dari Meyla, akhirnya dia berhenti men-chatku, dalam hatiku aku merasa sedikit bersalah, tapi aku benar-benar sibuk, aku hanya berpikir jika nanti dia menikah aku akan memberinya kado yang sangat special sebagai pengganti karena aku sudah mengabaikan segala curhatannya, lagi pula jika sekarang dia sudah punya pacar, tentu Meyla pasti sudah merasa bahagia dan tidak merasa galau lagi seperti yang sudah-sudah.
---
Beberapa hari ini mas Andi sangat sibuk, bahkan chattingan atau video call-an kami hanya diwaktu malam hari, dia berkata untuk menyiapkan semuanya agar selesai tepat pada waktunya dan tidak mengganggu acara pernikahan kami yang semakin dekat. Tentu saja hal ini aku semakin rindu, karena itu pagi-pagi sekali aku datang memberi surprise ke rumahnya untuk menyerahkan bekal sarapan sekaligus untuk menitipkan Kartu Undangan kami. Dan tak berapa lama setelah aku membunyikan bel rumahnya, mas Andi membukakan pintu, ia terlihat sedikit terkejut tapi segera ia menarik tanganku untuk masuk ke rumahnya.
“Ada apa Yang.. tiba-tiba mendadak datang ke sini pagi-pagi?” Tanya Mas Andi.
Aku merasa aneh dengan pertanyaan itu, “Apa aku mengganggumu?” tanyaku langsung. Mataku mengawasi ke ruangan yang tidak begitu besar itu, tidak ada tanda-tanda ada orang lain di sini.
“Tidak… aku hanya terkejut, lagi pula untung kau datang sekarang, 10 menit lagi aku pasti sudah berangkat” sahutnya.
Segera saja aku mengawasi, oh.. ternyata mas Andi sudah memakai baju rapi dan sudah siap untuk pergi ke kantor, tinggal memakai sepatu, bahkan aku bisa melihat laptopnya tampak masih hidup. “Apa kamu sudah sarapan?” tanyaku iba, setelah kuamati dia terlihat sedikit kurus.
“Belum sempat, nanti aku makan di kafetaria kantor saja…” jawab mas Andi
Aku mengangsurkan bekal makanan yang kubuat pagi-pagi sekali hari ini. Mas Andi tersenyum, disambutnya tas bekal makanan, “Terima kasih ya sayangku.. Akhirnya aku bisa merasakan lagi masakanmu, kamu kan sekarang super sibuk..”
“Apa bukan kamu yang super sibuk? Setiap ku chat, mesti jawabnya nanti dulu ada klien, nanti dulu ada meeting?” semburku
“Aku sibuk.. tapi kamu malah jalan-jalan ke pegunungan, iya kan.. sama Bagas, postinganmu terlalu sering bersama dia..” jawabnya tenang.
“Bukannya aku setiap pergi ke tempat Bagas laporan dulu ke pak Bos?” tanyaku
“Iya.. tapi aku kan ya terkadang merasa iri, calon istriku sering terlihat berdua dengan lelaki lain..” jawabnya.
“Apakah kau cemburu?” kataku sedikit menggoda,
“Sedikit “Mas Andi menatapku dalam sambil mengusap kepalaku.
“Aku kok merasa mas Andi agak aneh ya?” protesku langsung.
“Ah.. tidak, itu hanya perasaanmu saja Iga…” dipeluknya aku. “Aku akan segera berangkat kerja, maaf ya.. atau kamu mau disini dulu?” tawarnya.
“Tidak, rasanya aneh kalau berada di rumah ini, lagi pula kita kan belum resmi, takutnya kita dikira kumpul bebek” jawabku mencoba bercanda, ada rasa sedih karena tidak bisa berlama-lama dengannya. Mas Andi cuman tersenyum kecil.
“Aku pulang dulu, semangatlah bekerja pak Bos, carilah uang yang halal sebanyak-banyaknya untukku..” kataku sambil tertawa ringan dan melambaikan tangan dari pintu. “Ohya, aku titip kartu undangan pernikahan kita untuk teman-temanku ya.. “ sambil menunjuk tumpukan kartu yang kutaruh di atas meja tamu.
Hari itu seperti biasa sibuk, tapi entah mengapa aku merasa sangat bahagia bisa membuatkan sarapan untuk mas Andi, nasi, lauk pauknya kubuat sepenuh hati, agar perasaanku padanya tersampaikan. Khusus hari ini memfokuskan untuk mengecek persiapan pernikahan kami, lagipula usahaku sudah mulai berjalan, aku merekrut seorang karyawan laki-laki lulusan SMK yang baru saja lulus. Setidaknya pekerjaanku lebih ringan dan tinggal memberi sedikit arahan dan cukup untuk memperbaiki yang kurang-kurang saja. Souvenir pernikahan kami sudah ambil, mug bergambar foto kami berdua, kami berharap walau sederhana mug ini memberi manfaat bagi semua. Seperti kami berharap pernikahan kami juga bermanfaat bagi kehidupan kami selamanya.
Tak terasa sudah hari sudah menjelang senja, aku melihat kea rah handphone tidak ada tanda-tanda mas Andi memposting sarapanku, atau setidaknya memuji masakannku walau hanya sekedar basa-basi. Walau aku sangat yakin sekali masakanku tidaklah mengecewakan, walau jelas tidaklah sebanding dengan para chef.
Karena Nurserry sudah tutup jam 18.00 tadi aku dan mulai merasa rindu, aku men-chat mas Andi. Entah mengapa, hanya terlihat centang 1. Aku akhirnya membuka status teman-temanku, merasa sedikit terhibur dengan status mereka yang lucu dan aneh.
Tapi.. entah mengapa ketika aku melihat status Meyla yang diposting jam 08.30 tadi aku merasa ada yang aneh, dan aku merasa familiar dengan postingan itu. Aku mencoba mengamati kembali foto yang diposting oleh Meyla.
Foto itu menunjukkan isi bekal makanan dengan emoticon love yang besar sekali. Aku men-zoom foto tersebut, wait….. itu adalah bekal makanan yang aku siapkan untuk mas Andi!!
Aku berpikir keras,tanganku terasa bergetar, seluruh tubuhku terasa sangat dingin , merasa sangat lemah. Aku langsung mencoba menghubungi mas Andi untuk mempertanyakan tentang bekal makanan yang kuberikan padanya. Dan tidak tersambung. Rasanya begitu sedih sekaligus panik.
Aku mengambil nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan hati dan pikiranku, apakah mas Andi berhianat padaku? Bahkan sekarang pun dia tidak bisa dihubungi, aku merasa sangat kacau, terlebih lagi aku mengingat betapa dia terasa tidak terlalu bergembira bertemu denganku seperti biasanya. Air mataku sudah mengambang dan akan menetes, aku mencoba untuk menahannya.
‘Tenang… kau harus berpikir jernih.., mungkin ini hanyalah salah paham’ pikirku. Setelah merasa agak tenang aku mulai men-chat Meyla, untuk menanyakan tentang postingannya pagi ini.
“Wah.. yang dapat bekal makanan penuh cinta…” aku ingin mengujinya, sekedar ingin tahu bagaima Meyla merespon chat ini, terasa sedikit sesak dan merasa agak munafik, karena aku benar-benar tidak ingin menuliskan kata-kata ini.
“Iya nih… Aku ga nyangka .. ternyata dia beneran perhatian sama aku, bahkan aku diberi bekal makanan khusus” jawabnya dengan emoticon love yang banyak sekali, sampai melukai hatiku dan membuatku terisak.
“Kau tahu siapa yang ngasih sarapan cinta itu?” tanyaku lebih jauh.
“Tentu saja, pak Novandri.. aku kan sempat lihat menenteng tas bekal makanan yang sama dengan ini, dan aku lihat dia keluar dari ruangan ini kok,terus.. setelah itu ada bekal makanan tepat di mejaku, tentu saja dari dia..” tulisnya dengan emoticon love lagi.
“Dia tidak meninggalkan yang lainnya, surat misalnya..?” padahal aku ingin bertanya tentang kartu undangan ini, tapi hatiku tidak sanggup untuk mengungkapkannya.
“Oh.. coba ku pikir.. kayanya tidak ada, mejaku bersih dan yang ada hanya bekal makanan cinta ini..” tulis Meyla.
Aku langsung memutuskan untuk menghentikan chat ini, rasanya sangat pedih, perasaan bahagiaku hilang, kurang dari sebulan waktu yang ditentukan semua hancur lebur, sudah. Aku sudah berulang kali mencoba menghubungi mas Andi, sama sekali tidak tersambung.
Aku menangis sendirian di balik selimut, bingung bagaimana mengungkapkan pada semuanya, semua sudah selesai perencanaan pestanya. Dan terlebih, aku bingung bagaimana menyampaikan hal ini kepada kedua orang tuaku.
Sengaja hari ini aku bangun pagi-pagi, mengompres kedua mataku yang bengkak dengan air es, agar tidak ketahuan oleh kedua orang tuaku. Lumayan bengkaknya tidak lagi terlihat begitu parah, walau begitu ibuku masih sempat bertanya kenapa mataku terlihat sembap dan aku hanya menjawab kalau semalam aku begadang nonton drakor yang sedih sampai menangis.
“Owalah nduk..nduk” Ibuku hanya tertawa kecil sambil mengusap kepalaku “Kamu itu lho.. sudah mau menikah kok kaya abg nonton drakor ga pernah puas-puas”
Rasanya aku ingin memeluknya dan menangis sekeras-kerasnya, rasanya begitu sakit dan begitu pedih. Kukepalkan tanganku kuat-kuat, menahan rasa sesak di dada.
“Ibu.. aku ingin menginap di tempat Bagas” aku meraih tangan ibuku meminta restunya, aku tidak bisa disini terus, karena pertahananku pasti akan ambrol aku tidak siap bercerita pada kedua orang tuaku.
“Kamu itu lho.. bentar lagi mau menikah kok malah menginap di rumah laki-laki, Andi nanti ngomong apa..” ibu tampak keberatan.
“Mas Andi sudah ngasih ijin bu..” dustaku “Lagian dia ada di luar kota..” lanjutku lagi, berbohong.
Ibu mengawasi aku dengan seksama,” Ada masalah nak?” tanya beliau kemudian.
“Ndak kok bu.. “ aku memalingkan wajahku, mengerjapkan mataku yang berair berharap tidak menjuntai jadi tangisan.
“Iga cuman pengen melihat tanaman Bagas, yang baru saja dikembangkan bu, ada anggrek langka bu..” kataku setengah merengek, aku harus meyakinkan ibu. “Lagian cuman sehari kok bu.. Boleh ya..boleh yaa..” dalam hati aku nanti tinggal nambah hari kalau masih ingin menginap di sana, yang penting ijin keluar dulu.
“Baiklah, Cuma 1 hari kan, sudah ijin sama Andi?” akhirnya beliau memberi restu. Aku hanya mengangguk, tidak ingin berucap apa pun.
Aku segera mempacking baju dan semua yang kubutuhkan, aku membawa perlengkapan untuk 3 hari, karena aku merasa 1 hari saja tidak akan cukup untuk menguatkan hatiku mengungkap semuanya pada kedua orang tuaku.
Bagas terheran-heran melihat kedatanganku berurai air mata. Pada akhirnya ia hanya terdiam tidak bertanya apa pun bahkan tidak berkomentar dengan tas besar yang ku bawa.
“Kamu minggat ya..” tanyanya menggoda ketika melihat aku sudah agak tenang.
“Iya.. minggat sama kamu, kamu mesti tanggung jawab sama aku lho Gas” jawabku tak kalah enteng, sambil terbahak. Bagi orang lain yang mendengar gurauan kami mungkin akan salah paham.
“Aku hanya mau menjawabmu.. ga mau menanggungmu, makanmu kan banyak bisa bangkrut aku.. hahaha” sergah Bagas.
“Semprulll “ aku tertawa terbahak mendengar jawabannya. Aku merasa bahagia karena Bagas sama sekali terlihat santai dengan kedatanganku, ia menyiapkan kamar buatku yang biasa dipakai oleh adik perempuannya, yang sesekali datang berlibur.
Sore itu ditemani dengan secangkir teh yang masih mengepul aku duduk diberanda depan rumah Bagas, yang tentu saja tersambung dengan taman yang indah.
Aku sangat menikmati cuaca sore itu yang mulai menyebarkan hawa dingin, mengganti kehangatan sinar matahari siang tadi. Itulah enaknya berada di kaki pegunungan kalau siang tidak akan merasakan panas yang begitu menyengat, walau sinar matahari terlihat terik, tapi angin tetap menghembuskan hawa sejuk.
Bagas datang menghampiriku sambil membawa kopi hitam kegemarannya, dari gestur tubuhnya, ia pasti akan menanyakan maksud kedatanganku. Dan sekarang perasaanku sudah lebih sedikit tertata, jadi jika Bagas bertanya aku tidak bakalan menangis berlebihan. Aku merasa sangat lebai jika menangis di depan Bagas tentunya.
“Gimana? Sudah baikan?” tanya Bagas to the point. Aku merasa senang dan tidak terintimidasi dengan pertanyaannya, bagiku itu lebih terlihat tulus, tidak berbasa-basi. Aku tersenyum dan mengangguk.
“Terima kasih, sudah menerimaku disini dan tidak meminta bayaran menginap pak..” aku mencoba sedikit mengajak bergurau.
“Eh.. belum tentu aku tidak minta bayaran penginapan plus akomodasi, plus mengobati hati yang terluka..” ejek Bagas. Aku hanya tersenyum mendengar ejekannya dan tidak merasa sakit hati, karena itu memang benar, aku pergi ke sini untuk sedikit menata hatiku yang benar-benar kacau sebelum menghadapi kenyataan. Aku lalu menghela nafas dan mengambil nafas panjang, setidaknya aku harus memberikan penjelasan kepada Bagas tentang kedatanganku yang mendadak ini, untunglah Bagas selalu di temani dengan pembantu yang mengasuhnya dari kecil, bi Minah, sehingga kami tinggal tidak hanya berdua saja. Tentu saja hal ini untuk menghindari fitnah… walaupun tetap saja prasangka buruk akan tetap terjadi.
Aku pun mulai menceritakan apa yang menjadi kegelisahanku, kesedihanku dan rasa kecewa karena merasa dikhianati. Bagas hanya diam mendengarkan ceritaku, terlihat ia sedang termenung. “Ini masih harus dikonfirmasi sama Andi, kau jangan mudah menyimpulkan begitu saja..” sarannya.
“Aku sudah berusaha mencoba menghubunginya berkali-kali, mungkin sudah puluhan kali, tapi tetap saja tidak bisa tersambung..” ujarku menahan sesak, aku hampir menangis.
“Mungkin saja HPnya rusak total, kecemplung kamar mandi atau sebagainya” kata Bagas memberi pandangan lain.”Dan kamu… nangisnya jangan keras-keras, dikiranya aku menghamili kamu,trus kamu minta aku tanggung jawab, hahahahaha “sambung Bagas menggoda.
Bantal sofa yang ada didekatku langsung saja kulempar ke arahnya, sambil tertawa sekaligus menahan tangis, dia memang pandai mengalihkan perhatianku membuatku tidak terlarut pada kegelisahanku. Tetapi sedikit dalam hatiku berharap, bahwa ini memang hanya kesalahpahaman, ada juga kemungkinan tentang rusaknya handphone mas Andi, aku benar-benar berharap.
“Lagian kalau ga jadi samaAndi kan bisa cari yang lain..” ejek Bagas.
“Memange ada yang buang tinggal nyomot?” sergahku, ya .. tetap ada kemungkinan bahwa ini bisa menjadi kenyataannya. Bagas cuman nyengir mendengar sahutanku.
“Sudah malam, sudah kamu hubungi orang tuamu biar mereka tenang..” kata Bagas.
Aku mengangguk tadi sekitar jam 3 sore aku sudah menelpon ibuku, memberitahu kalau aku sudah sampai di tempat Bagas dengan selamat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Seperti biasa sinyal di daerah pegunungan tidak terlalu bagus, tetapi khusus untuk saat-saat ini, aku tidak membutuhkan sinyal yang bagus, cukup suasana yang tenang dan pemandangan yang indah untuk menenangkan hati.
---
Pagi ini aku terbangun disertai suara kicauan burung, terasa begitu menyentuh hatiku diantara hawa dingin dan kicauan burung, membuatku merasa begitu beruntung masih bisa menemui dan menikmati saat-saat seperti ini. Aku segera beranjak keluar dari selimutku pergi ke belakang, cuci muka dan menggosok gigiku. Setelah itu segera membantu bi Minah yang ada di dapur.
Kulihat dia sedang menyiapkan sarapan pagi, dia menoleh ke arahku. “Sudah bangun Non..” sapanya hormat, “Sudah bi.. Bik Minah bangun jam berapa?” tanyaku walau sekedar berbasa-basi. “Ah.. saya mah biasa bangun jam 4 Non..” sahutnya. “Oh ya.. wah.. pagi sekali ya… Bibi mau masak apa ini?” tanyaku sambil mendekat. “Oh.. ini sedang membuat nasi goreng Non.. Mas Bagas pengen nasi goreng. Non Iga mau yang lain? Nanti bibik buatkan.” Tanyanya ramah. “Tidak bik, sama nasi goreng saja tidak apa-apa” sahutku cepat, dalam hatiku aku berpikir, kalau aku sampai aku minta yang aneh-aneh, namanya tamu tidak tahu diri, aku nyengir sendiri dengan pikiranku sendiri.
“Bagas, sudah keluar ke perkebunan Bik?” tanyaku sambil membantu meracik bumbu untuk nasi goreng. “Kayaknya sudah Non..Pagi-pagi tadi mas Bagas sudah dijemput sama Anom” jawab bik Minah. Ternyata semua pekerjaan di sini dikerjakan pada pagi-pagi sekali, bahkan matahari belum sepenuhnya terbit, semua sudah mengambil pekerjaan masing-masing, rasanya sangat berbeda dengan keseharianku.
Setelah selesai membantu bik Minah, aku memilih untuk berjalan-jalan menyusuri halaman depan rumah Bagas, sambil melihat-lihat berbagai jenis tanaman yang di tanam disana, ternyata ada berbagai macam bunga dan ada strawberry. Aku merasa sangat senang sekali, karena ada beberapa buah strawberry yang sudah terlihat matang, merah sempurna.
“Gas, aku minta strawberrinya ya..”kataku “Iya, ambillah yang banyak aku ikhlas kok..” jawabku sendiri sambil terkekeh. Tanya-tanya sendiri, dijawab juga sendiri. Aku memetik beberapa buah strawberry yang besar-besar, aku tidak sampai hati untuk mengambil sebanyak-banyaknya, tamu itu harus tahu dirikan..
Setelah puas berkeliling dan lebih puas karena sudah memetik buah strawberry langsung. Aku berjalan menuju rumah, sesampainya diberanda aku duduk, sambil meletakkan buah yang tadi sudah aku petik.
“Mau sarapan sekarang Non?” tanya bik Minah yang tiba-tiba muncul dihadapanku. Aku tersenyum, “Nanti saja bik, sekarang saya belum lapar, nanti kalau sudah lapar saya ambil sendiri sarapannya, Bibik tidak usah khawatir..” jawabku cepat. Aku harus sesedikit mungkin merepotkan bik Minah. Bik minah hanya mengangguk dan kemudian pergi masuk ke dalam. Aku kemudian menyusul ke dalam, untuk mengambil air minum putih hangat.
Ternyata setelah aku kembali ke depan, Bagas sudah ada disana, sambil membawa Anggrek Dendrodium Black Papua dan Dendrobium Pink Princess, terlihat sangat kontras. Hitam dan warna pink.
“Wah… bagus sekali Gas, anggreknya… “ seruku kagum. “Jelas.. ini produk andalan kami saat ini, banyak dimintai dari perkantoran-perkantoran sebagai penghias ruangan. Nanti dua anggrek ini bisa kamu bawa pulang sebagai sampel, jadi kalau ada yang order tinggal kabari aku, nanti aku kirim dari sini.. “ terang Bagas.
Aku pura-pura merengut, “Kamu itu lho.. pagi-pagi sudah membahas masalah bisnis”
“Ya haruslah.. kalau ndak, mau makan apa? Pengusaha itu waktu adalah uang. Makanya kamu patah hati jangan lama-lama. Memangnya mau minta uang terus sama orang tua?” ejek Bagas.
Aku memukul Bagas dengan bantal sofa, “Semprul kamu… hahaha” aku tertawa terbahak, tapi langsung terdiam ketika tidak ada tanggapan dari Bagas, dan aku melihat sosok lain yang datang. Aku segera memalingkan wajahku melihat dengan jelas sosok itu. Mas Andi! Senyumku menghilang langsung, dan aku mulai gelisah dan tegang.
“Iga..” panggilnya tenang tegas, walau jelas aku melihat dia tampak kacau, aku juga merasa kacau.
“Ini .. mas Andi ya? Silakan duduk mas..” sapa Bagas tenang “Sebaiknya kalian bicara berdua dengan tenang” ujar Bagas sambil beranjak untuk masuk ke dalam rumah.
“Tidak.. kita bertiga harus berbicara hari ini” jawab Mas Andi sedikit menekan emosi, aku melihat dia mengepalkan tangannya, berusaha menahan diri. Bagas menatapku, aku hanya mengangguk, Mas Andi berpikir aku menghianatinya dengan Bagas, hal ini harus diluruskan terlebih dahulu, sebelum kami membahas masalah lain.
Kami bertiga terdiam dalam ketegangan sesaat, setelah duduk. Bagas hanya diam, dia ingin aku yang menjelaskan, sedang aku bingung harus mulai darimana.
“Kamu berselingkuh dengan dia?” tanya Andi sedikit emosi.
“Hahahahaha..” entah mengapa rasanya aku tertawa terbahak, mendengar kata-kata mas Andi, rasanya konyol. Bagas sedikit kesal dengan sikapku, “Kami tidak hubungan apa-apa, kami murni berteman, tidak lebih” ujar Bagas mantap dan aku pun terlihat sama sekali tidak salah tingkah, hal ini menyebabkan Andi setengah percaya.
“Betul begitu Iga?” mas Andi bertanya dan merasa tidak begitu emosi. Aku mengangguk.”Kami memang berteman saja, tidak lebih. Gas.. sana kamu masuk saja, aku mau omong sama mas Andi”. “Lalu mengapa kau hilang tanpa kabar apa pun..” tanya Andi memburu..
Aku merasa sedikit kesal, “Kamu tahu mas, kenapa aku tertawa ketika kau bertanya apa aku berselingkuh dengan Bagas? Rasanya ironis… seharusnya itu yang kutanyakan padamu. Bukankah kamu yang berselingkuh? Ingin membatalkan pernikahan kita?”
Andi terdiam terkejut, “Darimana pikiranmu itu…, kamu itu hanya mengada-ada”.
“Bukankah kartu undangan kita belum kamu berikan ke teman kerja di kantormu?” tanyaku menyelidik.
“Iya memang.. aku terlupa, karena tertinggal dirumah.. lalu apa maksudmu aku berselingkuh hanya karena kartu undangan belum aku sampaikan ke orang kantor? Tanyanya bingung.
“Lalu bekal makanan yang kubuat apakah kau makan?” tanyaku lagi sedikit emosi.
“Ah.. itu maaf ya dimakan sama teman kantor, soalnya ketinggalan kusuruh saja dia memakannya takut basi kan mubadzir, lagian aku kan bisa kau masakkan lagi” jawabnya cepat.
“Alasan!!!” bentakku keras. Aku marah, semua terasa hanyalah alasan, ketinggalan yang itulah yang inilah, emosi hampir menguasaiku, tapi aku langsung berusaha menahan diri. Disini bukan rumahku, aku tidak boleh membuat keributan di rumah Bagas.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!” sergah Andi sedikit keras.
“Ini! Aku menunjukkan screenshoot postingan Meyla. Handphoneku diraih Mas Andi. Ia tampak merenung, sedikit berpikir sambil memperhatikan foto itu. “Ini status siapa? Tanyanya heran.
“Ke ka sih mu, Meyla!” jawabku tegas.
“Kekasih siapa? Meyla? Cewek centil itu? Amit-amit, kamu itu sedang kesurupan apa? Bisa-bisanya kamu mengira aku punya hubungan dengan dia… Kita kan sudah tahap serius, kurang sebulan lagi menikah, aku tidak punya pikiran untuk menduakan atau menggagalkan acara kita.” Jelas Andi
“Tapi jelas-jelas ketika kutanya, sarapan itu dari mana dia menjawab bahwa itu kekasihnya yang memberikan!” sahutku cepat dan merasa sangat gemas.
“Sebentar, aku ingat-ingat dulu kejadiannya, Selasa kemarin aku sampai di kantor pukul 07.30 langsung ke bagian staf marketing, mau nitip kartu undangan untuk dibagi, sampai disana kubuka tas ku kartu undangannya lupa belum aku masukkan, aku balik ke mobil, mencari kartu undangannya mungkin sudah kutaruh di mobil, nah.. diperjalanan ke parkiran , aku bertemu dengan pak Bandi. Dia mengajakku bertemu klien jam 08.00 di hotel Famoust. Aku langsung meng-iyakan ajakan beliau, nah.. tengah-tengah meeting aku baru ingat, kalau bekalmu ketinggalan di ruang marketing” terang Andi.
“Tapi kenapa bisa diklaim kalau spesial khusus dari kamu??” tanyaku cepat.
“Aku memberi tahu Netta, stafku, kalau bekalku ketinggalan, dan kata Netta sudah dimakan sama teman kantornya, aku kan pasti bilang, ya ndak papa kan, masak kuminta kembali..” terang Andi lagi sambil meraih tanganku.
Aku tidak menarik tanganku dari genggamannya, tapi tetap saja aku merasa tidak puas. “Kamu di kantor pasti tepe-tepe sama cewek-cewek itu, sampai akhirnya disalahpahami..” tuntutku.
“Yang.. tidak mungkin aku tebar pesona sama mereka, aku itu orang baru di kantor.. aku harus membuktikan kemampuanku, mana sempat aku melakukan itu.. Pak Bandi saja langsung memberi target penjualan yang tinggi ke tim ku, lagian aku harus bekerja keras, kan aku mau minta cuti bulan madu..” rayu Andi.
“Lalu kenapa Handphonemu tidak bisa dihubungi?” tanyaku lagi,
“Ah.. itu, karena aku naik mobil pak Bandi , chargerku tertinggal di mobil, Hpku mode silent kumasukkan ke dalam tas .. dan ada tragedi, hpku terjatuh dari lantai 5, hasilnya setengah remuk. Nih… aku terpaksa beli baru.. “ Andi menunjukkan hp barunya padaku.
“Aku sudah mencoba memperbaikinya tapi entah mengapa hpku lowbat, aku tidak bisa mencas, dan terus mencari sinyal.. Bagaimana? Kita sudah selesai salah pahamnya kan?” Andi menarikku ke pelukannya.
“Belum, kau masih harus menjelaskan secara langsung kepada Meyla, bahwa kau tidak punya perasaan apa pun kepadanya” tuntutku. “Iya..iya..” jawab Andi langsung.
“Kita pulang sekarang ya..”rayu andi. “Ogah.. aku masih mau nginap di sini..” jawabku pura-pura masih sedikit marah.
“Cie..cie..cie yang sudah baikan.. ga tahu kalau aku disini..” ejek Bagas.
“Kamu mengganggu saja..” ujarku sambil menahan malu.
“Apa.. aku mengganggu!, ga sadar diri ya kamu.. Siapa yang datang, muka mewek sampai aku ga tega ngusir?” tanyanya mengejek sambil tertawa-tawa. Mukaku merah padam karena malu. “Makanya punya masalah itu, dihadapi dulu dengan tenang bukan langsung kabur..” ejeknya lagi.
“Aku ga kabur kok, aku kan minta ijin dulu sama ibu bapak..” tangkisku.
“Iya.. kamu ga pamit sama aku.. sampai aku di rumahmu bingung, bagaimana menjawab ibu, karena merasa kamu pergi karna punya masalah sama aku..” kupingku dijewer mas Andi pelan.
“Mau pamit gimana? Hpmu ga bisa dihubungi sama sekali kok..” sergahku cepat.
“Iya.. maaf bu Bos.. itu benar-benar murni kecelakaan, hpku uji nyali menghantam ke bumi dan hasilnya tidak berdaya..” ujar Andi setengah bergurau.
Akhirnya, aku menelpon ibu di rumah mengabarkan kalau sore ini, aku akan segera pulang bersama mas Andi. Ibu merasa lega mendengar kabarku. Beliau hanya mengucapkan hati-hati selama perjalanan pulang nanti.
Kami akhirnya bersepakat untuk segera pulang dan menuntaskan masalah Meyla keesokan harinya. Karena tak tahan dengan pikiranku tentang Meyla, aku memutuskan untuk segera bertemu dengannya malam ini tanpa ditemani dengan mas Andi tentu saja, aku memberitahunya tentang masalah ini, dan sebenarnya dia berniat untuk menemaniku. Tapi aku menolaknya, aku tetap harus menenggang perasaannya bila melihatku berdua dengannya.
Meyla tentu saja heran dengan keinginanku bertemu, walau belum begitu malam ketika aku mengajakknya, saat itu pukul 20.00. kami bertemu di sebuah kafe yang terletak di dekat tempat kerja kami, karena itu lebih dekat dengan rumah Meyla.
Untung suasana malam ini tidak begitu ramai, mungkin karena bukan hari weekend jadi lebih sedikit pengunjung yang datang. Aku sudah datang terlebih dulu di sana, memesan 2 cappucino, tadi Meyla memintaku untuk memesankannya minuman itu.
“Hai.. apa kabar, yang mau menikah… bahagia ya..” sapanya begitu melihatku.
“Kok kamu tahu, aku kan belum kasih tahu sama siapa pun di kantor dulu?” tanyaku bingung.
“Ihh kamu jahat.. kok aku tahunya dari Reyna..” Jawab Meyla.
“Kok Reyna bisa tahu?” tanyaku lagi. “Lagian Reyna itu siapa?”
“Kamu ga kenal Reyna? Trus dia tahu darimana ya..?” Meyla bingung. “Trus.. ada apa kau ingin bertemu denganku, kelihatan sangat penting, sampai bisa ditunda.”
Aku agak degdegan, merasa sedikit bersalah, tapi masalah ini harus segera diselesaikan aku sudah tidak tahan. “Ini.. aku mau memberi kamu kartu undangan nikahku Mey..”
“Selamat ya…” kalimatnya terpotong dia memperhatikan nama dan foto yang terpampang di kartu itu. Terlihat dia agak shock. “Apa maksudmu Ga!” suara bergetar agak emosi.
“Maksud bagaimana Mey.. calon suamiku Mas Andi, manajer baru di kantormu..” aku pura-pura tidak mengerti.
“Kau.. kau mempermainkan aku ya.. Jelas-jelas kau tahu aku menjalin hubungan dengannya” tuntut Meyla.
“Maaf Mey.. kami sudah menjalin hubungan serius sudah hampir setahun, 3 bulan yang lalu dia sudah melamarku dan sebentar lagi kami menikah, trus kapan kalian menjalin hubungan?” terangku berusaha tidak emosi.
“Seminggu setelah dia bekerja di kantor, kami sudah sangat akrab, sering bersama-sama” jawabnya tegas.
“Ohya? Apakah mas Andi sudah menyatakan perasaannya padamu? Kalau sudah, aku siap meninggalkannya!” tantangku, dan lagi kalau itu yang benar terjadi, aku benar-benar akan meninggalkan mas Andi walau aku merasa sangat sedih.
“Iya, dia sudah mengungkapkan perasaannya padaku!” jawab Meyla Emosi.
Aku menahan diri dengan emosi yang bergejolak, mengambil nafas panjang, “Baiklah kalau begitu, kalau kamu yakin dia sudah menyatakan perasaan padamu. Aku akan meminta mas Andi untuk datang ke sini. Dan aku akan meninggalkan Mas Andi “ aku mengambil handphone dan mencoba menelponnya.
Handphone direbutnya, “Dia tidak menyatakan secara langsung! Kau juga tahu, dia memberikan bekal makanannya padaku! Kau juga tahu itu” suaranya meninggi.
Aku melihat ke sekeliling ada beberapa orang yang melihat ke arah kami. Berusaha untuk tidak terlihat lebih gaduh. Aku tersenyum, “Ooh..itu, tahu tidak … bekal makanan itu aku yang menyiapkan untuk sarapan mas Andi. Dan aku bertanya langsung kepadanya kenapa bekal makanan itu bisa sampai ketempatmu,ternyata karena buru-buru dia diajak pak Bandi bertemu klien, dia melupakan bekal makanan yang ditinggalkan di meja kerjamu.” Terangku
“Kau bohong!” tuntutnya.
“Tidak, aku tidak bohong. Dan seharusnya bukan bekal makanan yang ada dimejamu tetapi kartu undangan pernikahan kami, mas Andi ke ruangan mu untuk menitip kartu undangan agar diberikan kepada staf yang lain. Entah kamu percaya atau tidak” terangku lagi.
“Kau berdusta! Lalu kenapa setiap chattinganku kau meng-iyakan, membiarkan aku mempunyai perasaan ini!” tuntut Meyla.
Aku termenung, tiba-tiba aku menyadari selama chattingan kami, aku selalu memberi dukungan atau menyemangatinya aku tidak memperhatikan kalau Andi dan Andri adalah orang yang sama, karena aku terbiasa memanggil namanya Andi . Kalau begitu aku juga mempunyai andil dalam hal ini. Aku betul-betul terdiam, tidak bisa berkata apa pun.
“Kau tahu.. kau adalah teman terjahat! Ketika aku sudah mulai berbahagia kau menusukku dari belakang!” sembur Meyla, dan langsung meninggalkan aku.
Aku betul-betul merasa sedih, dan merasa dia ada benarnya, walau itu memang bukan niatanku dan itu sebuah ketaksengajaan.
Aku pulang dari kafe, merasa sedih walau sedikit lega, karena semua sudah jelas, bahwa mas Andi memang tidak ada hubungan apa pun dengan Meyla. Sesampai di rumah aku segera masuk ke kamar dengan perasaan sedikit bersalah.
Tak berapa lama ada panggilan masuk dari Mas Andi. Aku segera menjawab dan menceritakan seluruhnya padanya. “Aku minta maaf ya mas.. ternyata ini semua terjadi karena kelalaianku, seandainya saja aku benar-benar memperhatikan semua curhatan Meyla , hal ini tidak akan terjadi..” sesal ku.
“Iya.. dimaafkan sayangku.. Memang sebagian kamu salah, tapi kesalahan terbesar bahwa Meyla meyakini halusinasi yang diciptakannya sendiri. Ia berhalusinasi aku jatuh cinta padanya, padahal aku cuma bersikap ramah padanya, bahkan aku ramah tidak hanya padanya tapi kepada orang lain”.
“Oh ya mas kenal yang namanya Reyna?” tanyaku penasaran.
“Oh.. dia, dia memang akrab denganku, kenapa memangnya?” tanya Mas Andi Heran.
“Meyla sudah tahu kalau aku akan menikah, itu pasti karena kamu yang memberitahu ya mas..” sahutku.
“Benar, soalnya aku berniatan mengajukan cuti, padahal aku kan masih anak bawang, jadi aku tanya-tanya dulu sama dia..” jawab mas Andi. “Sudah.. kamu segera tidur, besok biar segar dan bisa beraktiftas lagi”.
“Oke mas”. Aku segera bersiap untuk bergelung dibalik selimut dan berpikir tentang Meyla, mungkin manusia memang membutuhkan halusinasi sejenak, untuk tetap berdiri tegak diantara banyak kenyataan, tetapi halusinasi tetap saja khayalan. Kita tetap harus selalu siap menghadapi kenyataan seberapa pun pahitnya.