disuatu tempat pinggiran kota yang kumuh, terdapat manusia kelas bawah yang biasa disebut dengan gelandangan oleh orang orang disana..
Terlihat di sore hari ini, mereka tengah sibuk mengurusi barang bekas yang baru mereka ambil saat siang hari..
Kini kita terfokus pada laki laki yang berumur sekitar 19 tahun, ia memakai baju biru dan terdapat tampalan dibelakang bajunya yang berwarna merah..
" Mak.. aku permisi mau keluar sebentar, aku mau menjual barang bekas ini dulu.." teriak laki laki berbaju merah itu kearah rumah kayu yang sedikit miring, hanya kerena kayu besar berjejer yang menopang rumah itu dari samping agar tidak roboh
" Jangan pulang malam ya Gilang.., oo iya.. jangan lupa sekalian beli mie isi dua 1 aja buat kita makan malam nanti...." saut seorang wanita dari dalam rumah kayu itu dengan nada tinggi juga agar terdengar
" Oke mak.., Gilang pergi dulu..." Ujar Gilang sembari membawa dua karung besar berisi barang bekas yang akan dijual
Sore hari yang sangat damai dilingkungan tempat Gilang tinggal, masyarakat disana hampir 70% bekerja sebagai pengumpul, pembeli, dan pengolah barang bekas..
Karena keterbatasan lowongan pekerjaan dan sampah yang berserakan diluar tempat mereka, jadi karena itulah mereka harus berfikir kritis dan kreatif untuk sumber daya yang ada didekat mereka, contohnya mengubah barang bekas menjadi berang berguna kembali..
5 menit Gilang berjalan dari tempat kediamannya, akhirnya ia tiba disebuah rumah yang bermaterial semen, disamping rumah itu terdapat banyak orang yang terlihat sedang sibuk dengan barang bekas yang akan ditimbang beratnya..
" Ini pak.. dua karung besar hari ini.., yang satu isinya kardus bekas, yang satunya lagi isinya kaleng bekas..." Gilang menyapa salah satu orang yang ternyata pemilik rumah sekaligus pemilik tempat pengepul disana
" Yaa tentu bekas to nak Dilang.. kalo baru ya mahal harganya..hahaha..." Canda pemilik tempat pengepul barang bekas
" Giiilang to pak totong.., hehehe" Gilang membenarkan namanya sembari membalas
" Tong tong to Dilang..." Ujar pak tong tong
" Danang..., Kemari sebentar.. timbang dulu dua karung besar ini..." Lanjut katanya pada orang yang tak jauh dari mereka berdua, tak lama kemudian orang yang dipanggil Danang itu mendekati mereka berdua dan langsung mengambil dua karung yang ada ditangan Gilang lalu menimbangnya....
“ dilang, ini uang buat kamu jajan. Ini ambil.” Ujar pak tong tong tiba tiba setelah mengambil sejumlah uang yang ada didompetnya.
“ eh, tak usah to pak totong, hutang yang kemaren kemaren aja belum gilang bayar..” tolak gilang dengan pelan mendorong kembali tangan pak tong tong.
“ iihh.. Kalo dikasih ya dikasih, urusan utang ya utang.. Jangan disama samain to dilaang.. Ayo cepet ambil.” Ujar pak tong tong dengan sekali lagi menyodorkan uangnya.
“ hm... Iya iyaa pak totong, makasih yaa...” ujar gilang seraya mengambil uang pemberian pak tong tong tadi
“ danang, berapa semuanya..?” tanya pak tong tong pada danang yang tadi diminta menimbang berat barang belas yang dibawa gilang.
“ semuanya 13 Kg, jdi uangnya 30 ribu bos..” jawab danang setelah menjumlahkan semuanya
“ ini dilang uang dari barang bekas tadi, 30 ribu semuanya ya..” pak tong tong kembali mengambil uang didompetnya dan memberikan uang 30 ribu untuk barang bekas yang dibawa gilang tadi.
“ Sekali lagi makasih pak totong, pamit dulu ya.., pamit juga mas danang..” gilang berpamitan setelah mengambil kembaali karungnya dan berjalan kembali menuju rumahnya..
Dalam perjalanan gilang baru teringat untuk membeli mie yang dipesan ibunya tadi, maka langsung saja dia kewatung terdekat untuk membelinya.
“ bu, beli mie isi 2 nya 1.” Kata gilang setelah sampai diwarung, tak lama mie yang dipesan ibunya berhasil ia dapatkan dan langsung kembali berjalan menuju rumahnya..
“ mak.. Gilang gilang pulang.” Teriak gilang sembari berjalan masuk kedalam rumahnya.
“ udah pulang, tidak lupa beli mie kan..?” tanya ibunya
“ ini mak..” kata gilang sambil memberikan mie yang dibeli tadi
Ibu gilangpun langsung menuju dapur untuk memasak mie tadi, dan sekitar 10 menit memasak dan menyiapkan hal yang lainnya, ibunya memanggil gilang untuk makan
“ gilang ayo makan..” ujar ibunya
“ iya mak.” Teriak gilang dari ruang tengah, gilang langsung cepat ke dapur karena memang dia sudah lapar
“ ayo, nanti dingin jafi tidak enak lagi.” Kata ibunya kembali sambil menyiapkan piring dan mengambilkan nasi untuk gilang
“ maaf ya gilang, makanan kita ini ini saja.” Tiba tiba ibunya berkata
“ tidak apa apa mak, maafkan gilang yang belum bisa memberikan yang terbaik untuk emak.” Kata gilang membalas.
Tiba tiba ibunya memeluk gilang dan menangis sejadi jadinya. “ maaf emak mu ya gilang, andai saja usaha emak tercapai, mungkin hidup kita akan sedikit lebih baik dari sekarang ini. Hiks hiks...”
“ maksud emak jadi TKA, tidak mak, gilang tidak mau emak pergi jauh..” Ujar gilang menyatakan isi hatinya.
“ biarkan gilang yang berusaha keras sampai merubah kehidupan kita mak, emak duduk manis saja dirumah, gilang akan bekerja sebaik mungkin untuk mendapatkan uang yang banyak, biar saja usaha emak tidak kesampaian. Aku, anak emak gilang yang akan mengubah kehidupan keluarga ini..”
“emak lihat saja..” lanjut pernyataan gilang seraya menahan tangis