"Paman ... Nanti kalau Hana besar, Hana mau nikah sama paman." Hana kecil yang masih berumur lima tahun berkata ke Galvin.
Hana sangat menyukai Galvin, sepupu jauh ibunya. Ia sangat baik dengan Hana sehingga Hana sangat menyukainya. Setiap kali ia datang ke rumah, ia selalu membawa hadiah untuk Hana. Kadang boneka, kadang alat masak-masakan, kadang mainan lain. Ia juga sering mengajak Hana kecil jalan-jalan.
Perasaan itu terbawa sampai Hana remaja. Saat Hana tahu siapa sebenarnya yang ia panggil paman itu.
"Hana duduk ... Ayah dan Ibu mau membicarakan sesuatu." Ayah Hana menyuruh Hana untuk duduk.
"Ada apa, Yah?"
"Ayah dan ibu mau bilang. Kalau Galvin itu selain sepupu jauh ibumu, ia juga ayah kandungmu."
"A-Apa maksud ayah?"
"Galvin saat itu masih muda, masih SMA kalau nggak salah. Ia dan pacarnya melakukan hubungan di luar nikah. Pacarnya, yaitu ibu kandungmu hamil."
Hana shock.
"Tapi ... Ibumu meninggal setelah melahirkanmu. Saat itu ayah dan ibu meminta ijin ke Galvin untuk bisa merawatmu. Galvin mengijinkan karena saat itu ia belum bisa bertanggung jawab atas dirimu."
"Kenapa baru cerita sekarang?" Hati Hana terasa perih. Ia mencintai Galvin seperti seorang wanita mencintai prianya tapi kenyataannya Galvin itu ayah kandungnya dan tidak mungkin ia menikah dengan Galvin.
"Ayah dan ibu belum siap untuk bercerita. Tapi saat ayah dengar dari ibu kalau kau sangat mencintai Galvin, ayah merasa ini saatnya. Hana ... Maafkan ayah dan ibu."