Tak apa sendiri. Aku masih menikmati nafas yang sedang kuhirup saat ini.
Begitu aku menghirupnya kuat-kuat, aku sudah merasa lega karena rasa pappermint masuk ke dalam paru-paru. Lega rasanya. Seakan-akan aku tidak membutuhkan dunia untuk ku perhatikan lagi.
Tempat sepi yang selalu aku kunjungi ini bukanlah tempat sembarangan seperti kuburan atau rumah kosong. Melainkan taman hiburan yang sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Bukan tanpa alasan.
Aku selalu ingin sendiri seperti ini.
"Ini lebih menyenangkan." Gumamku perlahan.
"Apa semenyenangkan itu?"
Terperanjat. Aku bangkit dan menjelajahi setiap tempat dengan mataku. Aku mencoba menelusuri sumber suara itu.
"Apa yang sedang kau cari?" Suara itu berbisik tepat di telingaku. Aku terdiam.
Bersiap melayangkan kaki ku untuk menendang orang breng*** itu dengan teknik tendangan kebelakang.
Kupikir aku berhasil.
Ternyata dia menahan kaki ku dengan cepat. Tepat sebelum aku mengenai salah satu bagian tubuhnya.
"Lepas." Kataku.
Dia memang melepasnya tapi, dia tidak melepas pandangannya. Itu membuatku terganggu. Aku lebih memilih mengalihkan pandanganku. Dan disitulah aku baru sadar bahwa aku menjatuhkan benda yang bisa menciptakan pappermint ke dalam paru-paru ku.
Padahal aku mempunyai sisa satu batang lagi. Sisa yang lain telah disita. Oleh sekolah yang menyebalkan. Aku mendengus kesal.
"Apa mau mu?" Tanyaku.
"Seharusnya wanita pada umunya tidak melakukan hal itu." Katanya dan tak mengindahkan pertanyaan ku. "Dan... kau seorang perokok?" Tanya pria itu.
Apa yang sebenarnya dia inginkan? Mencampuri urusanku seperti orang kebanyakan? Aku sungguh tidak mengerti dimana kesalahan ku sehingga membuat mereka berceloteh apa yang benar dan salah.
Padahal dalam hidup mereka, mereka masih kesulitan dengan jalan hidup mereka. Apa permasalahan mereka. Dan apa yang salah dalam diri mereka.
"Tenanglah..." katanya. "Aku disini bukan untuk menasehati atau berbuat buruk. Mungkin." Sambungnya sambil melihatku.
"Cih, terserah." Aku berbalik dan berjalan membelakanginya. Lalu kaki ku berhenti setelah dia mengucapkan,
"Aku akan menunjukkan sesuatu yang kau inginkan."
Memang apa yang ia tahu dengan apa yang aku inginkan? Apa urusannya denganku?
"Hah! Kau pasti 'sales' yang putus asa! Pergi dan jangan cari aku. Aku tidak punya uang atau apapun." Aku berbalik menatap tajam padanya.
Dia masih saja tersenyum. Apa keadaanku yang sekarang kurang jelas baginya tuk melihat orang sesengsara diriku?
"Hidupku hancur. Kau mencari orang yang salah." Jelasku.
"Aku... memang 'sales' yang putus asa. Bukan berarti aku akan menawarkan asuransi jiwa atau apapun." Lalu dia mendekat sedikit padaku.
"Dan aku mencari orang yang tepat." Sambungnya.
Aku memutar mataku dan menyilangkan tanganku di dada.
"Apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" Tanyaku.
Dia diam dan mempertahankan senyumannya. Mengangkat tangan dan menjentikkan jarinya. Kupikir dia bermain-main denganku. Tapi, setelah itu aku dapat merasakan pengapnya pasar malam.
"A-ap-- i-ini..." mencoba mencerna apa yang terjadi, aku lebih memilih untuk tidak berteriak.
"Aku sudah bilang bahwa aku akan menunjukkan mu sesuatu." Katanya. "Mau mencoba beberapa permainan?" Tawarnya kemudian.
"Hah-haha... luar biasa. Bagaimana caramu melakukannya? Siapa kau?" Aku kagum dan berputar-putar untuk melihat sekeliling.
Menakjubkan.
"Kau akan tahu nanti." Katanya.
Aku menerima tawarannya. Yah, bisa dibilang tak sia-sia aku melakukan keputusan yang seperti ini.
Kami bersenang-senang. Mungkin. Mencoba ini dan itu dan segala jenis permainan ataupun makanan. Awalnya dulu aku tak menyangka akan menikmati semua ini lagi. Sejak sebelas tahun yang lalu. Dimana semua hancur begitu saja.
"Jadi, bagaimana? Apa kau bersenang-senang?" Tanya nya padaku.
Kami sedang duduk-duduk di kincir ria. Memang pemandangan dari atas selalu memukau.
"Kurasa." Sambil tersenyum, aku menjawabnya.
Aku lupa satu hal. Namanya tak pernah ia sebutkan. Lalu aku bertanya dan dia malah mengatakan,
"Kenapa tidak memanggilku dengan sebutan kakak, paman atau... ayah, barangkali?"
"Heh! Tidak." Kataku. Aku memalingkan wajahku pada pemandangan malam.
"Kenapa... tidak?" Tanyanya padaku.
"Aku menolak." Kataku singkat. "Apa tadi kurang jelas?" Tanyaku balik.
"Aku hanya ingin tahu... kenapa kau bilang bahwa hidupmu hancur."
Hancur? Aku? Lalu kenapa...!
"Jangan ingatkan aku! Jangan ingatkan aku pada kejadian sebelas tahun yang lalu!" Teriak ku tanpa jelas padanya.
Hening sejenak.
Dia meminta maaf. Seharusnya aku yang minta maaf padanya karena aku berteriak tidak jelas. Tapi, dia menolak pemikiran itu. Hanya hening kembali.
"Sebenarnya siapa kau?" Memecah keheningan. "Kenapa kau menghiburku?" Tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan berkata,
"Apa kau ingat rasa manis dari permen kapas?"
Aku hanya menggeleng dan menatap penjual permen kapas. Membeli satu dan memberikannya padaku. Aku kurang yakin apa yang ia maksud.
"Cobalah gigit." Katanya.
Aku memakannya dan air hangat mengalir dari kedua mataku.
Kenapa?
Kenapa aku menangis?
Aku mencoba mencerna apa yang terjadi. Tapi, aku malah perlahan menelan satu gigitan manis itu dan tidak berhenti mengeluarkan air mata. Lalu dia berkata,
"Sama seperti kehidupan, sesuatu yang manis belum tentu bertahan selamanya. Dan belum tentu menghilang lalu tidak pernah kembali."
Apa? Lalu bagaimana caranya agar aku menghentikan ini? Air mata ini tak berhenti sama sekali. Si*l! Aku menghabiskannya dan melihat wajah yang mengukir senyuman tiada akhir itu.
Ah... kenapa terasa sangat sama? Sama seperti kejadian sebelas tahun yang lalu.
Tangisku berhenti ketika dia mengenggam tanganku. Aku tidak bisa berpikir jernih. Isi kepalaku melayang pada kejadian itu. Kejadian yang tak mungkin terlupakan.
"Ehm... kurasa aku harus pulang. Padahal aku belum membayar uang kos dan menyebut itu sebagai rumah." Aku menengadah.
Malam ini adalah malam terbaik.
"Tapi... yah, begitulah rumah. Rumah tetaplah rumah." Sambungku.
Dia lalu menawarkan untuk mengatarku pulang. Aku berkata bahwa dia tidak perlu sampai mengantarkanku. Dia menimpalinya lagi dengan berkata tidak baik kalau wanita jalan sendirian. Dan aku berkata,
"Bukankah kau juga termasuk orang yang harus dicurigai?" Aku mengangkat sebelah alis. "Kau 'kan orang asing?"
Dia hanya tertawa dan mengelengkan kepalanya. Aku tidak mengerti kenapa tawanya dapat memancing empat pria menakutkan.
"Hey! Kau!" Teriaknya. "Semua ini salahmu!"
Senyuman tadi langsung menghilang dan menatap dengan keterkejutan yang pertama kali aku lihat. Atau mungkin? Aku hanya terdiam disana. Sama terkejutnya dan memilih untuk diam.
Pria itu menuduhnya telah menipunya dengan sejumlah uang yang besar. Aku tahu dia sales, tapi sales macam apa sampai pria itu harus kehilangan banyak uang?
Mulutnya terbuka ingin membela diri dari argumen tersebut. Tapi, sayangnya kepalan tangan milik pria itu lebih cepat dari suaranya yang masih tertinggal di tenggorokan.
Pukulan satu demi satu melayang padanya. Diikuti pukulan dari rekan pria tersebut. Aku hanya jatuh terduduk lemas setelah mencoba menyelamatkannya.
Hasilnya tidak imbang. Aku masih tetap lemah. Dulu begitu, sekarang sama saja.
"Apa yang terjadi di sana?" Teriak seseorang. Kupikir harapanku hilang setelah meringis kesakitan. Pihak berwajib mendatangi kami. Lantas mereka lari dan meninggalkan bekas luka. Atau... tidak.
Itu bukan lagi bekas luka. Tapi benda tajam yang ditinggalkan pada jantungnya.
"Eugh! Kenapa... kenapa harus seperti ini?!" Aku menahan amarah dan berusaha susah payah mendekat pada tubuhnya.
Kejadian yang sama. Rasa sakit yang sama. Dan,
Trauma yang sama.
"Se-karang... mungkin... tidak akan ada... kesempatan... yang sama..." suaranya hampir seperti berbisik. Tangannya meraih wajahku yang kian basah.
"Diam! Aku tidak akan kehilangan sesuatu lagi! Tidak!" Baru saja aku mengeluarkan air mata. Lagi-lagi aku tak bisa menahannya.
Semua orang kini berkerumun. Mereka hanya memandang tanpa tahu rasa sakit apa yang kami alami.
Samar-samar aku mendengar bisikan mereka. Ada yang mengatakan 'pria yang malang.' Ada juga yang mengatakan 'bukankah gadis itu masih kecil?'
Perset**! Memang aku sekecil apa?!
Aku melihat tanganku yang berlumuran noda merah darah miliknya. Kenapa tanganku sekecil ini? Lalu, meski aku sudah sedekat ini aku tidak tahu kapan dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Sebenarnya, siapa kau ini?
Dan aku melihat sekeliling.
"Seorang ayah mengorbankan nyawanya untuk anaknya. Sungguh sangat menyentuh." Kata salah seorang diantara kerumunan itu.
Tidak. Tidak. Tidak!
Kau... ayahku?