Halloween adalah hari yang menyenangkan bagi anak-anak. Setiap tahun di bulan oktober, anak-anak mengetuk dari rumah ke rumah, untuk mendapatkan permen.
Seorang gadis berusia delapan tahun bernama Marie, hanya melihat dari balik jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Ia asik menatap para anak-anak yang mengenakan kostum Halloweeb mereka.
Marie sangat asik membaca buku dongennya, kedua orangtuanya adalah pustakawan. Membuat Marie memiliki begitu banyak bacaan di kamarnya, hingga ia tidak pernah mau meninggalkan kamarnya. Sampai suatu hari, Halloween pada tahun selanjutnya.
Ia untuk kali pertamanya, pada usia sembilan tahun. Mengikuti acara malam Halloween, tidak bersama anak-anak yang lain. Melainkan Marie berjalan sendiri untuk mendapatkan permen.
Kunjungannya dari rumah ke rumah satunya, membuat baskom plastik yang Marie bawa cukup penuh dengan permen.
Marie merasa belum puas, ia segera berjalan menuju rumah di ujung jalan. Rumah yang penuh dengan hiasan labu. Marie berfikir, mungkin pemilik rumah yang ia kunjungi itu sangat antusias dengan perayaan Halloween, dengan kata lain, Marie mungkin akan mendapatkan lebih banyak permen.
Tok... tok... tok
Marie mengetuk pintu, lalu seseorang keluar dengan jubah hitam dan mengenakan penutup kepala labu. Terdengar dari suaranya bahwa dia adalah seorang pria tua.
"Malam, anak manis, paswordnya?" Tanya pria kepala labu itu.
"Trick or Treat?" Jawab Marie.
Pria dengan penutup kepala labu, memberikan satu buah permen coklat, sambil berkata, "Aku akan memberikanmu lebih banyak permen jika kamu mendengarkan tiga dongeng dariku dan menjawab teka-tekinya."
Marie merasa tertantang dan menurutnya menyenangkan, ia segera menjawab, "Baiklah."
"Gadis pintar, aku akan memulai," Jelas pria dengan penutup kepala labu, mereka berdua berada di teras depan rumahnya. Segera ia melanjutkan, "Pada suatu ketika, ada kedua kaka beradik, ia mengikuti jejak permen masuk kedalam hutan yang berliku-liku dengan pepohonan yang lebat, mereka terus berjalan melewati hutan sambil mengambil permen-permen yang berserakan di tanah. Pertanyaannya adalah... Jika kamu menjadi salah satu tokoh dalam dongengku, apa yang akan kamu lakukan, mengambil semua permen yang mengarahkanmu pada suatu jalan, atau kamu memilih mengambil hanya beberapa permen favoritmu saja?"
Marie berfikir mempertimbangkan jawaban, lalu ia menjawab, "Mungkin aku hanya akan mengambil beberapa peremen yang kusukai saja."
Pria itu tertawa, terkekeh. Berkata, "Bagus-bagus..." Ia memberikan segenggam permen soda ke dalam baskom plastik yang Marie bawa.
Marie terkejut, karena benar permen soda adalah kesukaannya.
"Baiklah, kita lanjutkan kembali... Kedua kakak beradik itu, diikuti oleh kelinci gemuk yang sangat menyukai permen... Mereka berdua yang hanya mengambil permen favorit mereka, tanpa disadari, sisa permen yang tidak mereka ambil, dimakan oleh kelinci itu sepanjang perjalanan. Pertanyaannya adalah, apakah baskom plastik yang kamu bawa memiliki lubang atau tidak?"
Marie ingin menoleh kearah baskom pastik yang ia bawa untuk menampung semua permen. Tetapi, pria itu menarik dagu Marie menatapnya, berkata, "Kamu harus menebaknya."
Marie berusaha meyakinkan dirinya, bahwa memang baskom plastik miliknya tidak berlubang. Ia sadar karena sepanjang perjalanan ia memakan setiap permen yang tidak ia sukai, agar menyisakan permen soda saja. Ia menjawab, "Tidak."
Pria itu meminta Marie segera mengecek alas luar baskom milik Marie, ternyata memang tidak berlubang sama sekali.
"Bagus anak pintar," Ucap pria itu, kembali memberikan permen apel. Marie sangat tidak menyukai permen apel. Sepanjang perjalanan ia mendapatkan permen, ia sudah menghabisi cukup banyak permen apel.
"Kita lanjutkan bagian ketiga... Kedua bersaudara itu datang ke sebuah rumah permen yang membuat mereka langsung memakan permen itu. Mereka tidak peduli bagaimana rasa permen itu, selama itu manis dan terlihat seperti permen... Mereka menggroggotinya seperti rayap... Sang pemilik rumah datang, seorang penyihir cantik. Segera penyihir itu menangkap kedua anak nakal yang memakan rumah permennya, mengikatnya dan memasukanya kedalam kuali untuk dijadikan permen. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali seseorang melanjutkan kelanjutan ceritanya. Pertanyaanku adalah, Kamu adalah tokoh siapa, di dalam dongeng yang ku ceritakan? Jawablah dengan bijak dan hati-hati." Jelas pria itu terkekeh.
Marie berfikir mencerna dongeng aneh yang di ceritakan pria tua itu. Ia berfikir, jika memungkinan bahwa Marie adalah tokoh kedua bersaudara itu. Tetapi, ia tidak mau mati menjadi permen... Sangat jelas bahwa orang yang akan selamat dalam cerita ini adalah si penyihir. Atau jika kakak beradik itu memberikan perlawanan?
Marie segera bertanya kepada pria itu sebelum menentukan jawabanya, "Apakah jawabanku akan memiliki kelanjutan cerita?"
"Tentu saja, selalu ada kelanjutan." Jelasnya.
Marie mulai menetukan, lalu menjawab, "Aku adalah si penyihir."
"Kenapa kamu memilih penyihir?" Tanya pria tua itu.
"Ini soal tokoh yang akan selamat dan tidak selamatkan?" Jelas Marie.
Pria tua itu tertawa, terdengar mengerikan bagi Marie. Ia kembali berkata, "Benar... Selamat dan tidak selamat, atau siapa yang mati dan bertahan. Atau munkin juga, tidak keduanya... Kelanjutan cerita ini adalah..."
Marie merasa seakan berdiri di depan sebuah kuali besar di atas tungku. Di dalamnya ada dua anak, laki-laki dan perempuan, mereka menangis menjerit meminta tolong. Marie merasa tidak asing dengan wajah kedua anak di dalam kuali, seakan mengenalnya. Marie tetap memasukan beberapa mangkok gula dan perasa buah-buahan. Anak laki-laki itu menendang bagian dalam kuali hingga terjatuh, Marie terdorong jatuh masuk kedalam perapian menjerit kesakitan terbakar.
Anak laki-laki itu bagian tubuhnya nyaris menjadi permen, sementara si anak perempuan sudah menjadi merah layaknya permen gula. Mereka segera berlari keluar rumah permen meninggalkan Marie yang sebagai seorang penyihir terbakar, ia menjerit kepanasan. Api menjalar membakar rumah permen itu. Begitu aneh bahwa cairan gula dapat membuat api lebih besar.
Saat kedua kakak beradik itu melewati hutan, tempat mereka datang. Mereka tidak tahu arah jalan pulang.
Terlihat disana ada kelinci gemuk yang lalu melompat meniban anak laki-laki itu, memakannya hidup-hidup. Si Anak perempuan hanya menjerit takut, tidak tahu bagaimana ia harus menolong saudaranya. Kelinci yang selesai memakan anak laki-laki itu, lalu memakan anak perempuan yang tubuhnya sudah seperti permen, mengunyahnya bagai retakan permen gula.
.
Pagi itu, usai malam Halloween. Ada sebuah tragedi, seorang suami istri pustakawan yang membakar anak gadisnya sendiri di dalam perapian rumah mereka. Setelah itu mereka berdua mengakhiri hidupnya dengan masuk kedalam tungku yang berisikan cairan gula panas yang sekarang sudah mengering membatu.
Masyarakat terkejut akan kejadian mengerikan itu. Karena masyarakat tahu bahwa keluarga itu adalah keluarga yang baik dan harmonis. Tidak pernah ada keributan atau semacamnya.
Saat polisi menyelidiki rumah itu. Seorang polisi melihat seekor kelinci putih gemuk, memiliki mata merah.
Polisi lain menegurnya, "Hei, ada apa?"
Polisi yang melihat kelinci itu menoleh kepada rekan kerjanya, lalu mengatakan, "Ada seekor kelinci disana."
Saat mereka berdua melihat ketempat dimana kelinci itu berada sebelumnya. Kelinci itu sudah tidak ada. Hinga rekan kerja si polisi yang melihat kelinci itu, berkata, "Mungkin hanya halusinasimu saja."
Kelinci itu berjalan di halaman rumah, tertawa terkekeh, suaranya begitu tidak asing. Seperti pria tua yang menceritakan dongeng dan teka-teki kepada mendiang Marie.
Tamat.