Sedih rasanya hidup jauh dari keluarga, memang sedih sekali, tapi mereka masih beruntung yang hanya jauh beberapa kilo meter jauhnya, sedangkan aku, tidak sampai beberapa kilo melainkan beribu-ribu kilo atau bisa juga tidak terhitung.
Aku dan ibuku berbeda dunia, aku di bumi dan ibuku di syurga, hidup tanpa Keluarga memang sangat lah menyakitkan. Apalagi di hari spesial ini, semua temanku bersama keluarganya merayakan hari kelulusan.
Mereka membawa kado bunga dan lainnya untuk anaknya, sedangkan aku, sehelai bunga saja tidak ku genggam dan sebuah kado pun tidak aku dapatkan, jujur, aku tidak membutuhkan semua itu, yang membuat aku iri pada mereka bukanlah sebuah bunga dan kado melainkan pelukan hangat seorang ibu.
Mereka dapat pelukan hangat dari ibunya, diriku mendapatkan pelukan dingin dari angin yang berhembus menyelimuti badan ku. mereka dapat ucapan selamat dari ibu dan keluarganya.
diriku benar-benar sendiri, yang mengucapkan selamat saja tidak ada.
Aku menginginkan semua itu ada dalam kelulusan ku saat ini, namun itu sangatlah mustahil bagi ku, Ibu tidak mungkin bisa hadir, ayah tidak mungkin muncul, nenek, kakek, mereka pun sama.
Mataku berkeliaran melirik mereka yang senyum bahagia bersama keluarga nya, Rintihan jiwaku semakin menginginkan mereka datang, namun apalah dayaku, aku hanya bisa berdo'a dan berdo'a.
"Ya Allah, Semoga kau mendengar rintihan ku ini, aku ingin mereka datang ke padaku meski hanya sebentar, aku ingin Ucapan selamat dari mereka aku ingin semua itu. Ya Allah jika kau tidak sanggup mendatangkan mereka semua, aku hanya ingin meminta salah satu dari mereka, yaitu ibu. maafkan aku ya Allah aku sudah menentang padamu, datangkan lah ibuku meski hanya sekejap, aku sangat membutuhkannya😭"
"Aku butuh pelukannya 😭, aku butuh semangat darinya😭, dan aku butuh waktunya untuk mengeluarkan semua yang ku pendam ini😭, aku mohon padamu, kabulkan do'a ku ini, aku mohon ya Allah 😭😭"
Rintihan itu sampai membuat Tatan terjongkok lemas dan menunduk meratapi semuanya, ia menangis tersedu-sedu.
"Andai saat aku menangis seperti ini, ibuku mengelus kembali kepala ku, persis saat aku bersujud waktu aku meminta restu pergi meneruskan pendidikan ku😭, namun itu sangat lah mustahil"
Seketika tangisannya berhenti saat merasakan eliusan seseorang di kepalanya, dengan cepat Tatan mengangkat kepalanya dan menatap sesosok wanita yang ia inginkan saat ini.
"Ibuuu..😭" langsung memeluk erat ibunya, ibunya membalas pelukan itu dengan pelukan hangatnya.
"Ibu, aku yakin kau pasti datang, dan benar kau datang padaku 😣, ibu, aku mohon jangan lepaskan pelukan ku ini, aku sangat merindukanmu, aku tidak ingin kehilangan mu lagi, aku ingin ibu selamanya bersama ku, aku mohon Bu, jangan lepaskan pelukan ku ini😭😖"
"Nak, ibu tidak jauh darimu, setiap hari ibu ada di sisimu, namun kamu yang tidak bisa merasakan bahwa ibu selalu ada untuk mu, ibu tahu ini sangat sakit bagimu, tapi maafkan ibu, ibu tidak bisa hidup bersama mu. ibu yakin kau adalah anak yang pintar, anak yang kuat, anak yang hebat, kau bisa mandiri, kau bisa sukses dengan usahamu sendiri, ibu yakin kau pasti bisa, ingatlah nak, ibu selalu ada di sisimu" Mencoba melepaskan pelukan itu.
"Jangan Bu, jangan lepaskan pelukan ini aku mohon, jangan" Teriak Tatan yang mencoba di sadarkan oleh temannya.
"Tatan sadar Tatan, kau kenapa!! Tatan" Suara mereka menyadarkan dirinya, Tatan langsung membuka matanya dan melihat sekelilingnya, tidak ada sesosok ibu di depannya, dan yang ia peluk juga itu bukanlah ibunya, melainkan sebuah bayangan yang Tatan anggap ibunya.
"Di mana ibuku!!" Mencari di sekitaran, lalu temannya kembali menyadarkan Tatan.
"Cukup Tatan, kau di sini sendiri tidak ada ibumu di sini"
"Tidak😭, Tadi ibuku ada di sini tepat di sini, aku yang memeluk erat tubuhnya, kenapa ibu bisa meninggalkan diriku lagi, kenapa 😭😭!!"
Mereka semua ikut menangis dan merangkul Tatan dengan bersamaan.
"Tenang Tatan kami di sini menjadi keluargamu" Ucap salah satu teman perempuan nya.
"Hiks,,hiks,, Ibuuu😭😭" Sambil terus mendapatkan pelukan hangat dari temanya itu.
{Ternyata ini adalah Halusinasi ku saja, tidak mungkin orang yang sudah meninggal bangkit kembali, aku benar-benar sudah tidak waras, aku menginginkan yang mustahil menjadi nayata}
Rintihan dalam hatinya sambil terus mengeluarkan air mata uang tak henti mengalir membasahi pipinya.